Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 18 Permintaan Paman Yang Kedua


__ADS_3

"Aawww!, ampuun." teriak Si Pria jahat terdengar memekik telinga.


"Di bayar berapa lo sama Siska hah?." tanya Ross dengan tangan masih memegang kumis si pria jahat. Tak ada jawaban dari pria jahat itu, ia menunduk segera ketika Ross melepaskan genggaman tangan dari kumisnya.


"Ehemm." suara deheman Zhain mengalihkan perhatian Ross.


"Eh mas ganteng. Makasih ya udah nolongin aku." ucap Ross seraya menampakan senyum termanisnya.


"Lo kenapa ni anak?, sama yang lain dia bilang 'gue' kenapa dengan cowok keren ini dia bilang 'aku'. Oo jadi ini maksud genit yang beda itu. Jadi cowok ini yang spesial di hati 'nya?" gumam Nataly membatin.


Sementara Zhain kondisi hatinya benar-benar tak menentu. Di tambah tiba-tiba Ross dengan agresifnya memegang tangan kanan Zhain, wajah 'nya yang putih dan mulus memerah dengan sendirinya.


"Ya Allah,, maafkan hambamu ini, ini bukan kehendaku Ya Allah. Aku tau gadis ini bukan muhrimku, aku juga tau bahwa Kau melarang aku untuk bersentuhan dengannya, tapi jika ku singkirkan tangannya aku takut dia akan tersingung, tapi aku juga lebih takut akan siksaMu jika aku melanggar segala aturanMu." gumannya dalam hati. Zhain benar-benar dilema berhadapan dengan gadis cantik nan imut namun absurt itu. Dengan pertimbangan itu, akhirnya ia terpaksa mundur menjauh kurang lebih stengah meter dari tubuh Ross.


"Kenapa menjauh Mas?."tanya Ross tanpa malu seraya tersenyum manis


"Ma - maaf Nona Ross saya tak ada maksud menjauh atau apapun. Mm - mm anu, kita kemanakan pria ini?"ujar Maher dengan gugup, lekas ia memegang pundak si pria jahat. Rupanya ia benar-benar di buat salah tingkah karena kelakuan wanita pujaan hatinya itu, sampai pertanyaan yang tak penting buatnya terlontar dari bibirnya begitu saja.


"Kamu benar-benar lelaki yang menjaga kehormatan di mata Tuhanmu. Andai aku berbuat seperti ini di kampus, aku yakin sratus persen semua teman lelakiku akan sangat senang menerimaku, tapi kamu sungguh berbeda Mas " gumam Ross membatin.


"Ya itu terserah mas lah, toh kita udah tau siapa dalangnya, buat aku itu ga penting. Yang penting sekarng kita gimana?" tanya Ross lalu maju satu langkah mendekati Zhain. Dasar Miss gresif sungguh terlalu kau Ross.


"Hah!!, kita?" tanya Zhain namun pandangannya ia palingkan ke objek lain.


"Iya kita, kita berdua dan gak ada yang lain. Mas kan udah nolongin aku dua kali, sedang aku sekalipun belum pernah membalas kebaikan mas, yaaah minimal makan malam atau sejenisnya." ucap Ross terdengar lembut di telinga Zhain. Bukan 'nya menanggapi perkataan Rissdiana, Zhain malah berpaling pada Rudi dan Pria jahat yang masih dalam kondisi tangan terikat.


"Budi, lepaskan dia!!. Dan kamu jangan pernah mengulangi perbuatan ini lagi." ucap Zhain tegas. Usai ikatan tangan Si Pria jahat di buka, lalu Zhain kembali memakai sabuknya. Namun Ross kembali berulah.


Bugh, bugh, bugh!!!. Bunyi suara tendangan kaki Ross di bokong si pria jahat seakan Ross mengiring pria itu utuk pergi. "Pergi lo, pergi!!." ucap Ross yang masih memendam kesal.


Si pria jahat pun akhirnya berlari kecil menuju mobilnya sambil tangan satunya menyentuh dagunya yang memar akibat pukulan berkali-kali dari tangan Zhain. Sementara Maher dan yang lainnya hanya tersenyum geli melihat tingkah gadis berwajah imut itu. Usai itu Ross berbalik dan mendekati Zhain kembali.

__ADS_1


"Gimana mas?," tanya Khai nasih dengan senyum termanisnya. Kali ini ia yakin kalau ajakannya akan di terima oleh Zhain. Namun..


"Maaf saya tidak bisa makan malam atau sejenisnya denganmu Nona Ross"


"Loh kenpa mas? ini udah dua kali mas nolak ajakan aku. Please ya please." cicit Ross dengan melengkupkan kedua tangannya di depan dada seakan memohon.


"Bos udah terima aja bos." ujar Rudi sambil mengdipkan matanya genit ke arah Zhain.


"Iya terima aja mas, kasihan nanti dia tambah bucin kalau gak di turutin." ucap Nataly menambahkan.


"Diem lo Miss keppo." sergah Ross sambil matanya meleotot ke arah Nataly.


"Kenpa saya tidak menerima ajakan Nona krana saya ada alasannya." ucap Zhain


"Alasan, kenapa harus ada alasan sih mas?. Ayoo!!." ajak Ross, kemudian lekas ia meraih lengan Zhain. Namun...


"Tunggu!!!." jawab Zhain tegas, rupanya ia sudah merasa kesal dengan tingkah absurt 'nya gadis itu, hingga rasa gugupnya menguar entah kemana.


"Saya akan terima ajakan Nona, kalau Nona bisa menjalankan semua syarat yang saya berikan tempo hari, dan nyatany satu syarat pun tidak Nona penuhi." ujar 'nya kemudian.


"Itu menurut Nona, tadi saat Nona bicara dengan orang selain saya kenapa Nona masih bicara 'lu' atau 'gue' ?, dan itu belem memenuhi syarat pertama buat saya. Jadi mohon maaf, Nona belum bisa menjadi teman saya apalagi jalan berdua, dinner atau sejenisnya." ucap Zhain tegas, namun kata hatinya menyesal ia mengatakan itu, ia takut rasa cinta di hati gadis berwajah imut itu akan berubah kepadanya lantaran perkataannya.


"Ok, aku minta maaf dan janji akan merubah cara bicaraku." ujar Rossdiana bak pengemis cinta seraya menangkupkan tangannya di depan dada.


"Emang syarat keduanya apa sih mas?jangan bikin aku penasaran deh." tanya Khai manja sambil menurunkan kedua tangannya.


"Syarat kedua Nona bisa tanyakan pada Rita." jawab Zhain.


"Hah!!! Dita?." timapal Ross dan Nataly bersamaan.


"Ya sudah kami mau pulang dulu. Assalamualaikum." ujar Zhain tanpa basa-basi. Usai Khai dan Nita menjawab salam, Zhain dan Budi pun menghampiri kendaraannya masing-masing. Lalu bergegas pergi kedua gadis itu.

__ADS_1


Sementara Khai dan Nita pun masuk ke dalam mobil yang sama utuk melanjutkan perjalanan pulangnya.


###


Malamnya di depan teras sebua masjid usai mereka melakukan sholat isya berjama'ah,seorang paman dan keponakannya sedang berbincang ringan seakan layaknya anak dan ayah.


"Zhain!!, jangn pulang dulu, ada beberapa hal yang ingin paman tanyakan sama kamu." ujar Junaidi. Ia duduk di anak tangga keramik paling atas yang berjumalh tiga undakan dari pijakan sendal pengujung masjid. Sedang Zhain ia pun lekas duduk sama persis dengan sang Paman berhadap - hadapan yang berjarak sekitar satu meter. Ketika itu Zhain baru keluar dari dalam Masjid .


"Bang Junet, mas Maher saya pulang dulu." ujar tetangga Maher, jema'ah yang paling akhir keluar dari dalam masjid.


"Oh iya silahkan." jawab Junaidi.


"Bagimana kabar Derry Paman?, apa dia baik - baik saja?" tanya Zhain memulai obrolan.


"Alhamdulillah, setau paman dia baik-baik saja. Satu hal yang membuat paman kagum sama kamu yaitu kamu bisa memberi dia pelajaran." ujar Junaidi serius.


"Maksud paman?" tanya Zhain lagi.


"Sebenarnya Paman sudah muak dengan tingkah arogan dan gegabahnya dalam menyikapi masalah." sambung 'nya lagi.


"Jadi Paman tidak marah dengan apa yang sudah saya lakukan pada Derry." tanya Sang Keponakan lagi.


"Untuk apa Paman marah?, justru Paman sangat berterima kasih pada 'mu, karena Paman tidak bisa menyakitinya untuk memberinya pelajaran, senakal apa pun dia, dia tetap anak Paman. Paman cuma bisa berdo'a untuknya, semoga yang terjadi di antara kalian bisa merubah sifat arogannya Derry." ucap Junaidi seraya menghembuskan nafasnya perlahan, lalu menyambung kalimat kembali.


"O ya, kapan kamu akan menikah?."


Deg,,!, pertanyaan itu membuat Zhain sedikit terkejut, lalu ia berkata.


"Menikah?, entahlah Paman masih banyak yang belum bisa saya raih tentang apa yang saya cita-citakan, terutama kebahagiaan Ibu." ucap Zhain dengan lirih.


"Justru dengan kamu menikah, kamu bisa membahagiakan Ibumu dengan cara segera memberikan cucu untuknya. Bagimana kalau Paman mengenalkanmu dengan seorang gadis?, dia putri sahabat paman." ucap Junaidi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hah?," timpal Zhain sedikit bingung.


semono bae dikit,Authore rada ngantuk..hehehehe


__ADS_2