
"Tapi adek suka 'kan?" tanya Derry kemudian. Sambil mengusap air mata istrinya dengan lembut.
"Sejak kapan mas manggil aku kaya gitu?" tanya Fatma manja.
"Sejak aku jatuh cinta sama istriku." jawab Derry jujur. Namun tiba- tiba ?????
"Uweeek, huweeeek!!." suara muntahan Fatma ketika perutnya merasakan mual sambil berlari menuju kamar mandi lalu melangkah ke arah wastafel.
"Sayang kamu kenapa?." tanya Derry khawatir sambil berjalan cepat menyusul istrinya dengan rasa was - was. Lekas ia memegang tengkuk leher sang Istri lantas memijat 'nya pelan.
"Hueeek" ucap Fatma lagi.
"Sayang kenapa begini?."
"Mas sana cepat mandi, aku gak kuat bau alcohol di badanmu." ungkap Fatma memohon.
"Ya uda mas akan mandi, tapi bagimana denganmu dek?." tanya Derry lagi.
"Issh, kamu sana mas jangan deket - deket, nanti aku tambah mual." jawab Fatma sambil kedua tangannya mendorong tubuh suaminya.
Tanpa pikir panjang Derry pun lekas menuju kamar mandi lainnya.
"Ya Allah, rupanya seperti ini rasanya orang hamil. Tolong kuat 'kan hamba ya Allah." doa Fatma membatin di sela - sela muntahnya.
Di kamar.
"Mas mau ngapain?" tanya Fatma ketika suaminya tiba - tiba memeluknya dari belakang sewaktu ia sedang berias.
"Pengen nengok si dede, boleh ya?" tanya Derry dengan manja.
"Gak, gak mau." ujar Fatma pura - pura menolak.
"Lho katanya taku di laknat malaikat, di mana istri sholehah 'nya Mas ini." ucap Jerry sambil mencubit manja hidung istrinya.
"Bukan aku gak mau Mas, tapi mas kan udah janji."
"Hah, janji, janji apa 'an?," tanya Derry bingung.
"Tuh kan belum apa - apa udah lupa, katanya mau belajar sholat." ujar Fatma seraya membalikan badannya menghadap Sang suami.
"Eh iya Mas lupa." ucap Darry sembari menggaruk keplanya yang tak gatal sementara kedua bibirnya tersenyum dalam keterpaksa 'an.
"Mas udah bisa cara wudhunya?"
"Belum, hehehe." ujar 'nya sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.
"Ya udah kita praktek sekarang aja yuk."
Tak lama merakpun menuju kamar mandi utuk melakukan ritual TAHARAH (bersuci). Usai itu Fatma menjelaskan secara terperinci tentang tata cara sholat dari niat hingga salam, serta ia menjelaskan pula mana yang sunah dan mana yang wajib hukumnya dalam melaksanakan sholat. Khusunya sholat isya yang kini akan suaminya kerjakan. Derry pun deng khidmat dan khusu melakukan sholat isya sendirian, semantara sang istri memperhatikan dari atas kasur sembari duduk, lantaran ia sudah melakukanny sejak sore tadi.
Setelah sholatnya rampung tiba - tiba Derry dengan cepat naik ke atas kasur hendak memeluk istrinya.
"Eh Mas entar dulu dong." cegah Fatma sedikit terkejut.
__ADS_1
"Lho kenapa?, kamu kan istri aku Dek." ucap Derry sambil mengerutkan keningnya.
"Mas kalau habis sholat itu sunnah melakukan beberapa wiridtan dulu, jangan lantas meninggal 'kan sajadah, itu su'ul adab namanya. Dan Allah gak suka itu."
"Hah, su'ul adab, apa itu Dek?" tanya Derry penasaran.
"Su'ul adab itu artinya gak sopan, ke sesama manusia aja kita di haruskan sopan masa sama Allah kamu gak sopan Mas." ujar Fatma menjelaskan namun dengan nada yang lembut agar sang suami tak merasa di ajari atau pun tersinggung.
"Terus dzikirnya seperti apa?" tanya Derry lagi.
Lantas Fatma pun menjelaskan tata caranya dari beriatigfar memohon ampuna kepada Allah sampai ke hal yang lainnya. Usai pelajaran yang di jelaskan oleh istrinya Derry pun segera memeluk istrinya.
"Mas tutup dulu pintunya." titah Fatma, ketika sang suami sudah berada di atasnya.
"Sayang kenapa mesti malu?."
"Mas meski kita pasangan yang sah kita wajib menjaga aib kita. Kalau ada pembantu lewat gimana?." ucap Fatma lagi.
Derry pun lekas turun dari ranjangnya dan segera menutup pintu. Setelah itu terjadilah sebuah gerakan panas di antara keduanya. Ya, gerakan panas yang tentu sudah berstatus halal dan sah di mata agama dan negara.
////
Pagi ini yang begitu sejuk dan nyaman. Telah duduk dengan nyaman pula sepasang suami istri di meja makan mereka.
"Ma Ross mana." tanya Devindra pada istrinya Anjani.
"Mungkin lagi siap - siap. Eh Pi tau gak, tadi pas waktu subuh Mama liat dia sholat di kamarnya." ucap Anjani dengan mimik serius.
"Hah serius Ma?"
"Bukan gak percaya Ma, kita kan tau kalau putri kita itu seperti apa. Tumben aja gak ada angin gak ada badai dia bisa berubah seperti itu." ujar Devindra, sesekali ia menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Lho Papi gak seneng atas perubahan putri kita?"
"Lho ko Mama ngebahasnya ke situ sih, cuman Papi penasaran aja pasti ada sesuatu yang terjadi dengan putri kita sampai ia bisa berubah secara drastis begitu."
"Yaah kita doakan saja Pi semoga aja Ross istiqomah dalam perubahannya." ujar Anjani yang di sambut dengan kat "Aamiin" oleh suaminya.
Tak lama setelah itu datang Ross dengan menuruni anak tangga. Kini ia memakai pakaian syar'i dengan gamis dan hijab yang sangat indah di pandang mata. Sambil berlari kecil mendekat pada kedua orang tuanya, sementara tangan kirinya memegang ujung bawah gamisnya seakan pemandangan itu terkesan imut di mata Anjani dan Devindra.
"Assalamualikum Ma, Pi." sapa Ross lekas ia mencium pipi Anjani dan Devindra secara bergantian.
"Wa'alaikumsa-". ucap Devindra terjeda sambil mulutnya menganga seakan heran.
"Ya Allah ini beneran putri Papi?" ujar Dev, mata 'nya terbuka lebar seakan takjub dengan penampilan putrinya.
"Lho Papi gimana sih, ya ini Ross lah putri Papi satu - satunya." ucap Ross seraya membuka kedua tangannya seakan ingin menunjukan penampilannya yang berbeda dari biasanya.
"Ma, mama masih punya 'kan no Yaysan yatim piatu yang pernah kita santuni." ucap Dev dengan wajah sumringah seakan bahagia teramat sangat.
"Ada, emang kenapa Pi?" tanya Anjani pada suaminya.
"Mama tranfer sekarang juga, dan jangan kurang dari seratus juta." titah Dev kemudian.
__ADS_1
"Kenapa medadak sekali Pi?"
"Itu tanda syukur Papi atas perubahan putri kita. Ini yang Papi nanti - nantikan selama ini Ma." ujar Dev masih dengan wajah bahagianya, sementara kedua matanya tak henti memandang kecantikan alami dari putrinya yang seakan hijab yang tengah di kenakan putrinya menambah aura kejelitaannya.
"Papi jangan berlebihan kayak gini deh, Ross kan jadi malu Pi." ucap 'nya seraya tertunduk malau sementara kedua pipinya berubah menjadi semu kemerahan. Ya Ross malu lantaran sambutan dari Ayah 'nya yang tak di sangka - sangka olehnya.
"Ni Papi isi aja sendiri nominalnya." ujar Anjani sambil menyerhakan gawainya pada Dev, yang sebelumnya ia telah membuka aplikasi m banking 'nya.
Usai Dev selesai melakukan transaksi yang menggunakan gawai istrinya, kini mereka bertiga duduk bersama di meja makan untuk melanjutkan sarapan yang sempat tertunda karena kehadiran Ross, sang putri pewaris utama PT Sanjaya Corporations.
"Nissa, nanti malam gak ke mana - mana 'kan?" tanya Devindra kemudian.
"Kayaknya enggak Pi, lagian hari ini gak ada jam kuliah. Emang kenapa, ada sesuatu yang penting?" tanya balik Ross.
"Iya ini sangat penting, dan Papi mohon nanti malam kamu tetap di rumah."
"Hah." timpal Ross dengan menaikan kedua alisnya seakan tak mengerti.
"Iya, kamu jangan ke mana - mana, nanti malam Papi akan mengenalkanmu dengan calon suamimu."
Degh!!, hati Ross benar - benar shock dengan perkataan Devindra.
"Pi, papi kenapa sih masih kekeh dengan perjodohan itu, lagian Ross juga udah mau berubah Pi." protes sang putri dengan suara sedikit di naikan. Sementara wajahnya berubah menjadi sendu.
"Ini keputusan Papi yang tidak ada hubungannya dengam perubahanmu. suka atau tidak suka kamu harus mau." ujar Dev dengan suara baritonnya yang tegas.
"Tapi pih, Ross udah punya calon."
"Apa,,,?, jadi selama ini kamu pacaran. Katakan siapa pacarmu?" tanya Dev dengan pandangan menghakimi.
Kini suasana ruang makan begitu menegangkan tak seperti barusan ketika Ross baru datang dari lantai atas. Bahkan kedua pembatunya kini tengah berdiri tak jauh dari mereka.
Rupanya kedua pembantunya takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan tehadap Nyona mudanya.
Sambil terisak kecil lantas Ross menjawab pertanyaan Sang Ayah.
"Xixixi, dia,,," ucap Ross terbata - bata sambil menangis.
"Katakan,, siapa pacarmu?" tanya Dev lagi dengan mata memerah seakan marahnya sudah di ubun - ubun.
"Sudah Pi jaga emosi mu!" cegah Anjani seraya menarik kepala putrinya dan memeluknya hangat.
"Ma, papi gak pernah mengajarkan dia untuk berpacaran, kalua soal berteman teserah dia mau berteman dengan siapa pun. Tapi kalau soal pacaran Papi tidak ridho, Papi gak mau putri kita berbuat yang malampaui batas karena pacaran itu jelas Haram hukumnya Mi." ujar Dev yang kini volume suaranya sudah mulai terdengar lembut.
sementara Ross masih terisak di pelukan Anjani.
"Katakan Ross siapa lelaki itu?" tanya Dev lagi dengan tatapan mata berubah sendu, seakan ia menyesal karena emosinya yang hamipr lepas kontrol.
"Kata temen - temen Ross dia,,, dia ketua perman di Pasar Raya.
"Apa,,, dia ketua preman?,, keterlaluan kamu." ucap Dev kembali dengan intonsi suara di naikan.
O'ow,,,!, santai bro! Jangan terlalu tegang ya...
__ADS_1
Apa yang akan di putuskan Devindra terhadap Ross?,,,,,jawabannya,,next part selanjutnya.