
"Saya dengar kamu menyebut salah satu nama kalau saya tidak salah denger, siapa nama itu?" tanya Dosen killer, pandangan 'nya tajam menatap wajah Ross
"Di - dia calon suami akau." ucap Ross dengan terbata dan cepat, lantaran panik tanpa sadar terucap dari bibir tipisnya yang merah.
"HAH?" kompak beberapa mahasiswa nampak kebingungan.
"Parah lo Ross." ucap Nattaly pelan namaun masih terdengar di telinga Ross. Sementara Rita Si Gadis berhijab yang letak duduknya paling depan hanya tersenyum kecil karena terkesan lucu.
"Calon suami?. Hebat ya, ternyata satu mahasiswa di kampus kita ini sudah mau menikah, oh iya kapan tanggal pernikahannya?" tanya Dosen pria berwajah serius itu.
"Eh, mmm anu pak, kita baru mau rencana, ya kita baru berencana." ucap Ross masih di landa panik hingga kata itu keluar berulang kali. Kepalanya manggut-manggut sedang bibirnya menampakkan senyum keterpaksaan.
"Kalau kabar ini benar, maka kamu tidak akan mendapat hukuman. Namun jika berita ini bohong maka kamu wajib saya hukum." ujar Pak Dosen dengan suara baritonnya.
"Lho ko begitu Pak?." tanya Ross protes. Kepalanya menengadah memandang ke atas, karena Pak dosen tepat berdiri di depannya.
"Itu hukuma bagi siapa pun di saat jam pelajaran saya masih ada yang membahas suatu hal. Apalagi soal cinta-cintaan, saya tidak suka." tegas Pak Dosen seraya berjalan ke arah mejanya.
"Tapi Pak, jam pelajaran kan belum di mulai. Bapak nya aja baru datang." intrupsi Ross kembali.
"Kamu mau sekarang hukumannya?. Atau kamu saya coret saja dari jam kuliah saya." geram Pak Dosen dengan suara di naikan beberapa oktaf.
"Waduuh, jangan Pak, baiklah saya ikut apa kata Bapak." ucap Ross lirih, seakan pasrah dengan ke adaan. Sementar mahasiswa lainya hanya terdiam. Ya meraka kagum dengan keberanian Ross Si Gadis absurt yang memprotes keputusan Sang Dosen yang terkenal galak, meski tak membuahkan hasil yang memuaskan untuknya.
Tak terasa jam pelajaran pun usai. Inilah waktu yang paling di tunggu untuk Ross, pasalnya ia akan mengintrogasi sahabat karibnya yang berhijab itu. Kini mereka sudah berada di kantin langganan mereka. Ya meja no 8, meja yang tak pernah satu mahasiswa pun berani menempatinya jika tak mau berurusan dengan Ross, Si Gadis bar-bar, cantik penuh pesona, cuek dan absurt.
"Rita jadi bener kan kamu tetangganya My Herro ku." ucap Rossdiana memulai pembicarakan.
"Ya ela ni anak, pesan makanan dulu kenapa sih, gak sabaran banget." dengus Nattaly protes.
"Udah, jangan ribut. Natt, kamu ke sana gih pesen seperti biasa aja." titah Rita dengan lembut. Lekas Nattaly pun beranjak dari tempat duduknya.
"My Herro mu itu siapa Ross?." tanya Rita dengan suara Khasnya yang lembut.
"Mas Zhain dong, siap lagi kalau bukan cowok macho itu."
"Bisa jelaskan dengen spesifik ciri-cirinya?" tanya Rita kembali.
"Ganteng udah pasti, kulitnya putih iya, badannya tinggi, mmm." ucapnya terjeda, lantas ia lanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Ya, satu lagi kumis tipisnya itu lho, bikin aku meleleh." ujar Ross dengan menghitung jarinya satu persatu, di kalimat akhir ia dekapkan kedua tangannya di depan dadanya seperti orang yang sedang kedinginan.
"Ada yang lain lagi yang kamu ketahui selain ciri-ciri yang kamu sebutkan tadi?" tanya Rita kembali memperjelas.
"Mmm, apa ya?," ujar Ross sembari meletakan kedua jari antara telunjuk dan ibu jari yang mengapit dagu mulushnya.
"Aha!!, ucap Ross sambil mengacungkan jari telunjuknya seakan ia telah mengingat sesuatu.
"Menurut informasi dari teman-teman, My Herro ku itu keponakan dari seorang Ketua Preman yang mengendalikan ke amanan pasar di kota ini." lanjut Ross menjelaskan.
"Maksudmu Bang Junet?" tanya Rita lagi dengan raut muka seakan berharap langsung di jawab. Namun...
"Taraaa." kata Nattaly yang tiba-tiba sudah datang membawa nampan berisikan menu paforit mereka.
"Ini buat lo, dengat sambal super hot. Ini buat lo, cuma bakso tanpa bihun dan sambal, nah yang ini buat gue." ucap Nattaly sambil membagi 3 mangkuk bakso pada dua sahabat dan dirinya.
"Natt, kamu tuh gak peka banget sih. Aku tuh lagi serius ngobrol sama Riita, jdi buyar deh obrolan kita." dengus Ross kesal.
"Ya ampun Ross kita kan bisa lanjutin sambil makan." jawab Nattaly sekenanya.
"Udah, udah!!. Bisa gak sih jangan ribut mulu." protes Dita seraya menatap wajah kedua sahabatnya itu. lantas ia melanjutkan kalimatnya.
"Ross kalu kamu mau tau tentang Mas Zhai aku bisa anterin kamu ke rumahnya."
"Tapi masalahnya, apa pantas kita bertamu ke rumah laki-laki yang bukan apa-apa nya kita?, kayaknya kurang elok deh." ucap Rita seakan menarik ucapannya.
"Eh!!, tunggu dulu deh, tadi kenapa kamu sebut My Herro 'ku dengan sebutan Zhai?," tanya Nattaly Si Miss keppo.
"Lho, iya juga ya, kenapa di manggilnya dengan nama sedikit berbeda, jangan - jangan itu panggilan sayang dia buat My Herro 'ku," batin Ross bermonolog. Rupanya ia sedikit cemburu pada sahabatnya itu.
"Zhai itu panggilan sayang Mas Zhain kalau Bu Ustadzah Fatimah memanggilnya saat kami masih kecil.
"Oo, gue pikir itu panggilan sayang lo sama Mas Zahin." ungkap Nattaly kemudian.
"Isssh!!, kamu bisa gak sih jangan mancing - mancing aku buat cemburu?." cicit Ross memprotes seraya memukul kecil lengan kiri Nattaly.
"Hahah, jadi lo beneran cemburu?, parah lo Ross, bucin lo sama Mas Zahin benar - benar akut.
"Ya Tuhaan, ternyata Ibunya juga seorang Ustadzah. Pantasesan dia selalu mengalihkan pandangan ketika aku mentapnya." batin Ross bermonolog.
__ADS_1
"Halah, masa bodoh dengan semua itu,
yang penting kamu harus anterin aku.. titik gak pake koma." sambung Ross kemudian seakan tak ingin di bantah.
"Ya ampun Rossdiana,,,,,! lo itu bucinnya udah bener-bener akut ya." cicit Nattaly menanggapi.
"Ya kalau kamu kan jomblo sejati, jadi mana tau rasanya kasmaran." timpal Ross yak mau kalah.
"Emang lo yakin kalau My Herro mu itu bakalan nerima cinta lo?" jawab Nattaly tak mau kalah pula.
"Stooop!!, ujar Rita terjeda beberapa detik.
"Kaliaan bisa gak sih kalau ketemu gak usah ribut, kayak Tom end Jerry aja beranteeem mulu kerjaan kalian. Udah ayo makan, keburu dingin ini baksonya." protes Rita. lekas merekapun menikamti hidangan bakso menu paforit mereka. Usai dengan kegiatan makannya, lalu mebayar pada kasir merekapun gegas menuju parkiran utuk menuju rumah Fatimah, Ibunda dari Zhain Al - Ghifari.
"Ross, lo yakin mau ke rumah My Herro mu?." tanya Nattaly ketika mereka di dalam mobil yang tengah berjalan.
"Emang salah kalau kita bertamu ke rumah My herro ku?" tanya Ross, yang kedua tangannya bertumpu pada kemudi yang ia kendalikan.
"Bukan gitu Ross, maksud gue masih banyak warga negara kita yang masih berpegang teguh pada adat ketimuran. Untuk sebagian orang hal yang akan kita lakukan ini masih di anggap tabu Ross." ujar Nattaly sok bijak.
"Natt, apa kamu gak denger spa yang aku bilang di kantin tadi, aku bilang masa bodoh ya masa bodoh. Emang dengan kita bertamu ke rumah My Herro ku warga kita ada yang di rugikan?. Kagak kan Natt?" ungka Ross panjang lebar.
"Mualiai deh mulai deh, lama-lama aku bisa mati berdiri dengan tingkah kalian ini. Apa kalau kalian gak berdebat kalian akan meriang hah?, minimal selama perjalanan ini kalian diem. Bisa pecah gendang telinga aku." Ucap Ritta di sebelah kiri Ross. Baru kali ini ia bicara sedikit keras. Rupanya kekesalan di hatinya sudah begitu memuncak.
Hening setelah Rita menghentikan kalimatnya. Hanya suara deru mobil yang terdengar oleh ketiga gadis itu.
Tak membutukan waktu satu jam, mereka pun kini sudah sampai di depan rumah Rita yang bersebelahan dengan rumah Aminah. Perlu di ketahui bahw rumah Aminah terletak di tengah dua bangunan lainnya. Yaitu di sisi kiri berdiri Majlis ta'lim tempat Zhain mengajar, sementara di sisi kanan berdiri rumah keluarga Rita yang sama sederhananya namun tak menghilangkan sisi keasriannya.
"Gimana Ross kamu mau ke rumah aku dulu atau langsung ke sana?" tanya Rita, pandangannya ia arahkan ke rumah Fatimah.
"Nah itu yang lagi ngangkat jemuran baju siapa?" bukan menjawab Ross malah balik bertanya.
"Kayaknya itu calon mertua lo deh." jawab Nattaly seraya menutup pintu mobil dari luar. Ia keluar paling akhir dari dalam mobil.
"Aisssh, kenapa kamu yang jawab dodol, aku tuh nanya sama,,,,,," ujar Ross terhenti ketika melihat Rita sudah masuk kedalam rumahnya untuk menyimpan tas.
"Astaga malah ngilang tu anak." sambung Ross lagi.
Tanpa berfikir panjang Ross lekas melangkah mendekati Fatimah yang tengah sibuk mengakat jemuran baju di depan rumahnya.
__ADS_1
"Hah,, aduh benar-benar nekat ni anak." gumam Nattaly, gegas ia menyusul sahabatnya itu dengan rasa cemas.
Hayooo!!, kekonyolan apa lagi yang akan di lakukan Ross kali ini?? next..... part 24.