
"Ya Allah,,,! Cantiknya," gumam Rudi dalam hatinya. Hilang sudah rasa sakit di kakainya, ketika tatapan matanya memandang mata Nattly yang begitu bulat di padukan dengan lengkungan alis bak bulan sabit yang menawan hati.
Nattaly yang kini berada di pangkuan Rudi pun hanya terdiam sambil matanya menatap lurus dengan mata lelaki yang kini sedang menahannya agar tak terjatuh.
"Astagfirullahal'dziim!!," ujar Rudi ketika tersadar dari rasa kagumnya pada pesona Nattaly.
"Nona Nattaly, ma'afkan saya." sambung Rudi seraya meluruskan tubuh Nattaly agar tegak berdiri. Sementara Nattaly hanya diam mematung bak arca tak bercawa. Rupanya ia pun terpukau dengan kepolosan dari wajah Rudi.
"Gak apa - apa, justru gue yang harusnya ngucapin terima kasih, andai gue gak lo tahan mungkin sekarang tubuh gue udah jatuh ke lantai." jawab Nattaly datar seraya membenahi pakainnya yang sedikit kusut.
"Apa sekarang gue boleh masuk," ijin Nattaly yang suaranya kini berubah lembut.
"Tentu Nona, tapi Nona tunggu saja di ruang tengah biar saya kasih tau Mas Zhain 'nya terlebih dahulu." ujar Rudi sambil mempersilahkan masuk Nattaly. Keduanya pun masuk secara bersama'an.
"Silahkan duduk Nona." titah Rudi dengan sopan seraya membungkukan badan. Tak lama ia pun berlalu untuk menuju ruang rapat.
"Ya Tuhan, dia benar - benar baik yernyata." puji Nattaly pada Rudi. Rupanya Nattaly sadar bahwa sikap Rudi padanya hanya sebatas menjalankan tugas sebagai bawahan.
"Nona Nattaly, ada apa gerangan datang ke tempat kami?," tanya Zhain ketika sudah tiba di depan Nattaly yang masih duduk di atas sofa ruang tengah.
"Apa Mas Zhain sudah tak sibuk lagi?," tanya balik Nattaly. Rupanay ia tak mau kehadirannya menganggu aktifitas dari kekasih sahabatnya itu.
"Sebenarnya sibuk, tapi tak apa 'lah toh rapat juga sedang di tunda beberapa menit." jawab Zhain dengan nada ramah.
"Ada yang mau ketemu sama Mas Zhain, apa Mas ada waktu luang sejenak?," tanya Nattaly dengan bahasa formal.
"Apa Nona Ross yang mau bertemu dengan saya?," tanya balik Zhain, rupanya ia yakin dengan hal itu.
__ADS_1
"Betul Mas, katanya dia mau meminta ma'af atas kejadian tempo hari." ujar Nattaly apa adanya.
Medengar itu, mimik muka Zhain yang tadinya biasa saja kini berubah menjadi bersemu merah lantaran menahan malu atas kejadian tempo hari di depan Mushola mini di dalam rumahnya.
"Di mana Nona Ross 'nya sekarang?," tanya Zhain dengan suara lembut. Rupanya Zhain sedang meminimalisir rasa malunya agar tak nampak di mata lawan bicaranya.
"Tunggu sebentar," ucap Nattaly yang masih duduk di sofa ruang tunggu di dalam gedung Markas Pengendali Keamanan Pasar Raya.
Lekas ia pun meraih gawainya dari dalam tas kecilnya. Sementara Zhain duduk di sofa yang terletak di samping kanan Nattaly, kira - kira berjarak satu meter.
("Cepat kesini"), sms dari Nattaly untuk Ross.
("Mas Zhain 'nya ada?"), jawab Ross dari sebrang sana, yang masih duduk berdua dengan Ritta di dalam mobilnya.
("Ada, lo jangan pangling lihat dia. Tau gak dia sekarang pakai baju apa?")
("Kenapa emang?")
("Sial,, jaga mata 'mu Natt, dia punya aku.")
("Aku segara datang"), sms dari Ross lagi tanpa menunggu balasan sms sebelumnya.
Geges Ross pun turun dari mobilnya bersama Ritta.
"Masya Allah, apa yang harus kulakukan," kata hati Zhain bermonolog. Bagaimana tidak, ia yang kini berdiri mematung ketika sekitar sepuluh detik melihat dengan seksama wajah cantik nan menawan dari seorang gadis berwajah orientalis, dari ujung kepalanya yang berhijab hingga ujung bawah gamisnya yang elegan membuat dada bidang Zhain tiba - tiba berdesir aneh. Ya, dialah Ross yang menyebabkan jantung Zhain berdetak kencang, kini Ross tengah berdiri dengan tampilan bak Dewi Kwan In yang turun dari kayangan namun dengan versi yang berbeda, kini Ross mengenakan gamis panjang yang serasi dengan bentuk tubuhnya yang ramping, di tambah ikatan kecil di pinggangnya yang berbahan kain dengan warna merah marun, serta menyisakan ikatannya terurai ke bawah membuat si gadis yang memakainya terkesan imut dan menggemaskan namu terkesan elegan.
Dugh dugh dugh!!, begitulah bunyi detak jantung Zhain menyaksikan keindahan penampilan dari seorang gadia bernamakan Rossdiana Putri Devindra. Sang Putri pewaris utama perusaha'an terkemuka PT DC (Devindra Corporasions).
__ADS_1
"Si - si - silahkan duduk," ujar Zhain dengan gugup seraya merentangkan satu tangannya ke arah sofa.
Sementara tubuhnya berpindah ke arah sofa panjang, entah apa yang menyebabkan Zhain jadi salah tingkah hingga tanpa ia sadari kedua sofa di antara meja yang di peruntukan hanya satu orang telah di duduki oleh Ritta dan Nattaly, mau tak mau akhirnya Zhain pun duduk berdua di soffa panjang berdampingan dengan Ross.
"Mas Zhain gak sibuk kan?," tanya Ross memulai pembicaraa. Sementara tatapannya memandang lurus ke arah Zhain.
"Insha Allah gak sibuk, untuk Nona akan kucoba meluangkan waktu meski sesibuk apapun." ujar Zhain seraya memalingkan wajah seakan enggan menatap si gadis puja'an hatinya.
"Sebenarnya aku ke sini ingin meminta ma'af atas kejadian tempo hari di rumah Mas Zhain," ucap Ross masih tetap memandang wajah Zhain. Sementara yang di pandang hanya menatap keluar melalui kaca tembus pandang yang terpampang di dinding gedung.
"Kenapa harus meminta ma'af?, lagi pula kejadian itu tidak di sengaja. Dan saya sudah melupakannya." ungkap Zhain apa adanya.
"Tapi aku merasa bersalah Mas, jadi aku tetap harus minta ma'maf," jawab Ross lagi.
"Ya sudah kalau Nona memaksa, saya tidak akan mema'afkan Nona." ujar Zhain menggoda. Ya, Zhain sengaja mengucapkan itu karena ingin memberi pelajaran pada gadis yang kini memakai hijab itu.
"Maksud Mas?," tanya Ross meperjelas.
"Ya, saya tidak akan mema'afkan 'mu jika -," ucap Zhain menggantung lantaran Ross tiba - tiba dengan agresifnya memegang telapak tangannya.
Melihat reaksi kekasih hatinya yang berlebihan jantung Zhain tiba - tiba kembali berdetak kencang. Bagaimana tidak?, ia yang baru saja di kejutkan dengan penampilan baru Ross yang berubah seratus delapan puluh derajat kini malah di pegang telapak tangannya hingga membuat Zhain kembali salah tingkah.
"Jika apa Mas?," katakan perbuatan apa yang sekiranya akan membuat Mas gak bisa mema'afkan aku?," tanya Ross dengan cepat seraya menggenggam tangan Zhain dengan begitu erat.
"Parah ni anak, mulai dah dia gak bisa ngontrol diri," ucap Nattaly dengan lirih seraya menap Ritta. Meski Ritta tak mendengar ucapan sahabatnya itu namun ia tau maksud tatapan matanya seakan memberi kode bahwa apa yang di lakukan Ross sudah berlebihan.
"Dasar gadis absurt, selalu saja lepas kendali," batin Ritta bermonolog.
__ADS_1
"Ji - jika Nona bertemu kembali dengan saya tanpa mengenkan hijab, maka saya tidak akan pernah memafkan Nona." jawab Zhain kemudian. Meski sdikit terbata lantaran gugup namun akhirnya ia bisa menyelesaikan kalimat itu dengan baik.
Usai mengucapkan kalimat itu gegas Zhain menarik tangannya, bahkan kini posisi duduknya sedikit menjauh ke pembatas sofa.