
Perlahan pintu mobil Jeep itu pun terbuka, di pijakannya ke aspal sebuah sepatu pentopel hitam. Seorang lelaki berjalan perlahan mendekati mobil Ross. Ia memakai jaket dan bawahan serba hitam, sedang sebuah masker berwarna hitam pula melekat diwajahnya, hanya menyisakan tatapan mata yang cukup tajam.
Duk Duk Duk!!, suara ketukan kaca mobil di pintu depan sebelah kanan.
"Cepat buka!!." titah suara bariton seorang lelaki dari luar mobil terdengar meski pintu tertutup rapat.
Sementara dari kejauhan seorang pria menghentikan motor 'nya dialah Rudi, ketika ia mau pulang dari markas Pengendali keamanan pasar melihat kejadian itu. ia merasa ketakutan dan panik.
"Aku yakin pria itu akan berbuat jahat.tapi haruskah aku menolong orang yang di dalam mobil itu." gumam Rudi dalam hatinya. Rupanya rasa takutnya karena ia melihat penjahat yang postur tubuhnya besar dan tinggi, di tambah masker yang melekat menambah kesan seram di wajah penjahat itu. Pikir 'nya ingin kembali ke markas, namun nuraninya ingin menolong dua gadis yang ada di dalam mobil itu.
Dugh, dugh, dugh!!!, pukulan dari luar semakin terdengar jelas oleh Ross dan Nataly.
"Ross gimana nih?." tanya Nataly panik.
"Kita harus keluar." jawab 'nya.
"Lo mau cari mati, jangan keluar kita di dalem aja." ujar Nataly makin resah.
"Ini mobil kesayangan gue, kalau kita gak keluar mobil gue bisa hancur." ujar Ross. Rupanya ia lebih mementingkan mobil mewah 'nya ketimang keselamatan mereka. Usai itu,,.
Dugh, dugh, dugh!!, uara ketukan kaca semakin kencang. Mendengar hal itu Ross segera membuka kaca mobilnya secara otomatis, padahal sebelum itu niatnya hendak keluar.
"Cepat keluar!." ucap pria bermasker, seraya menodongkan sebuah pisau kecil dengan jarak beberapa senti denga leher Ross.
Lekas Ross membuka pintu mobilnya lalu keluar. Sementara pisau yang di pegang pria bermasker itu, segera ia todongkan kembali pada leher Ross dengan jarak hampir menyentuh lehernya.
"Hai!!, brengsek lo siapa?" tanya Nataly meski dengan tubuh bergetar ia mencoba memberanikan diri.
"Diam kau Nona manis." ujar pria bermasker, seringai mata elangnya tajam memandang Nataly yang berada di sisi sebelah mobil. Melihat si pria bermasker itu memperhatikan Nataly, Ross mencoba memanfaatkan situasi.
__ADS_1
Bugh!!!,suara tendangan kaki Ross yang mengenai Burung saktinya Si Pria bermasker.
"Agghh!!, sialan lo." suara teriak kesakitan Si Pria bermasker tedengar cukup menyayat hati.
Melihat hal itu kedua gadis itu mencoba kembali masuk ke dalam mobil. Namun..
"Aaawww." tariakan suara Ross. Rupanya Si Pria bermasker masih sempat menjambak rambut Ross yang hitam legam dan panjang terurai dengan tangan kirinya. segera ia mendekap leher Ross dari belakang.
"Nat tolongin gue!!. Awww, kenapa malah lo masuk?" ujar Ross sesekali ia berteriak kesakitan, karena jambakan itu di rasa semakin kencang. Bahkan ada beberapa rambut Ross yang terjatuh.
"Sorry Ross gue takut." cicir Nataly dari dalam mobil.
Ketika tangan kanan si pria bermasker hendak mendekatkan pisaunya kembali ke leher Ross,
Huup!!!, sebuah tangan yang kekar dan berotot memegang pergelangan tangan si pria bermasker. Rupanya Rudi sempat menelpon Zain agar membantunya menolong kedua gadis itu.
"Lepaskan gadis itu," perintah Zhain dengan suara bariton nya yang khas namun tegas, seraya dengan cepat tangan kiri Zhain meninju kepalan tangan pria bermasker yang masih menggenggam pisau itu.
"Eh Mas ganteng, mau nolongin aku ya?." ucap Ross cengengesan, namun masih menampakan kegembiraan. Padahal posisi lehernya sedang di apit oleh tangan kiri Si Pria bermasker. Cinta, rupanya membuat rasa takut Ross terbang entah kemana, tatapan mata gadis berambut panjang itu tak henti memandangi Pria pujaan hatinya. Bucinmu benar-benar akut Ross.
"Bagiku kau bukan seorang pria tapi Banci yang hanya berani menindas kaum perempuan." ucap Zhain dengan geram, namun genggamannya ia tekankan dengan jemarinya.
"Aaahh".teriak pria bermasker,sambil melepaskan apitan tangan kirinya di leher Ross.
Bugh!!, kemabli dengan cepat Zhain meninju hidung Si Pria bemasker, seakan ia tak memberi kesemaptan untuk menghadang serangannya. Menerima pukulan berkali-kali dari Zhain tak kuasa tubuh Si Pria bermasker pun terjatuh di atas aspal. Sementara situasi jalan tidak terlalu ramai, hanya sesekali kendaraan lewat, namun mereka sama sekali tak perduli apalagi menghentikan kendaraannya.
"Katakan siapa yang menyuruhmu." ujar Zhain dengan suara tegasnya. Kakinya ia pijakan di atas leher si pria bermasker itu.
"A-ampun-ampun." cicit Si Pria bermasker dengan suara begetar seraya kedua tangannya memegang kaki Zhain yang bertahta di atas lehernya. Lekas Zhain pun menarik paksa masker yang melekat di wajah pria itu sambil membungkukan badan 'nya.
__ADS_1
"Awwww." pekikan suara Si Pria bermasker kesakitan lantaran sebelah tali masker itu menyangkut di telinga 'ya yang sebelah kiri.
"Cepat katakan!, siapa yang menyuruhmu atau kami laporkan ke polisi." kalimat Zhain dengan intonasi suara di naikan karena marah.
"Ampun Bang,, ampun," ucap Si Pria jahat yang kini tak mengenakan masker.
Karena Si Pria jahat tak mau bicara jujur, akhirnya Zhain melepaskan sabuknya untuk mengikat kedua tangan Si Pria jahat itu. Melihat situasi itu timbul ide ingin menjaili si pri jahat di benak Ross. Ia yakin dengan caranya si pria jahat akan menceritakan siapa dalang di balaik semua itu. Sedangkan Zhain tanpa di sadari Ross atau yang lainnya, ia sudah menyalakan gawainya selagi ia dalam perjalanan untuk merekam situasi itu hanya dengan mode suara.
"Lo mau buka mulut atau Burung saktimu gue tendang lagi?." tanya Ross ketika ia sudah dekat dengan Pria Jahat itu yang sudah berdiri, namun masih depegangi oleh Rudi dan Zhain di kanan kirinya.
"Burung sakti, a-apa maksudmu burung sakti?" tanya Si Pria jahat dengan ketakutan.
"Lo tadi ngrasain kan sakitnya?."ujar Ross, matanya genit melihat Si Pria jahat. Ketika kaki Ross mulai di hentakan mengarah pada Burung saktinya,,,
"Rasaka ini, hiaat." ujar Ross lekas menghentikan tendangannya yang berjarak hanya beberapa senti saja dari Burung sakti itu.
"Siska, Siska, ya dia yang menyuruh saya untuk mencelakai kalian berdua terutama kamu yang bernama Ross," ucap Si Pria jahat dengan suara bergetar karena takut.
"Apa jadi si putri manja itu yang nyuruh lo?." tanya Nataly, ke keppoannya mulai beraksi.
"Betul dia yang bayar saya, untuk membalas sakit hatinya karena pernah di pukuli sama dia." ucap pria jahat sambil arah pandangannya melirik ke wajah Ross.
"Kapan kalian bertemu, di mana dan berapa jumlah uang yang kamu terima, terus udah semua apa belum uang 'nya?" cerocos Nataly dengan cepat bak kereta Expres buatan Jepang.
"Sudahlah jangan di perpanjang, Rudi lepaskan ikatannya!!," titah Zhain.
"Eh mas ganteng jangan di lepas dong!!. Sebantar deh." ucap Rosa menambah jarak seraya mendekati Si Pria jahat.
"A-a-awww!!," teriak ke sakitan Si Pria jahat dengan suara melengking, karena kumisnya di tarik ke atas oleh Ross.
__ADS_1
Segini dulu yah, butuh istirahat dulu Authorny guys.