Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 8 Zain dan Rossdiana


__ADS_3

Tiba di parkiran mereka pun memasuki mobilnya masing-masing.


"Ross inget ya, kalau lo butuh tempat curhat telopon gue." ucap Nataly, sebelum menjalankan mobilnya.


"Ok sip!" jawab Ross singkat. Kemaudian ia pun masuk ke dalam mobilnya.


Merekapun menjalankan mobilnya masing-masing.


Ross pun menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan area kampusnya.


Sepuluh menit perjalanan, tiba - tiba mobil Ross oleng, syukurnya ia masih bisa mengendalikan mobil 'nya karena kecepatannya tidak terlalu kencang. Perlahan ia pun menghentikan mobilnya di sisi kiri jalan. Tak lama gadis yangg mengenakan kaos lengan pendek dan super ketat itu pun keluar dari mobilnya.


"Astaga!!, kenapa hari ini gue sial banget sih." cicit Ross. Beberapa kali kakinya ia sepakan ke ban mobilnya yang telah kempes.


"Awww!!'' pekiknya, rupanya meski kempes ban itu masih cukup keras untuk ukuran kekuatan sepakannya.


Ia pun membuka sepatunya, rupanya jempolnya sedikit bengkak karena tak ia sadari sepakan 'nya begitu kencang hingga jempol kaki kanannya sedikit membengkak. Dengan kaki sediki pincang ia pun kembali masuk ke dalam mobilnya, lekas ia meraih gawainya.


Tit tit tit tit!!..


"Astaga, kenapa dari tadi gak ada yg mau angkat sih, ga Papi ga Mami, kompak banget sih mereka." dengus Ross semakin kesal.


"Oh iya, hampir lupa." Ross mengingat sesuatu.


"OMG!!" kenapa hari ini bener-bener sial banget buat gue?" gumanya seraya ia lempar gawainya ke jok samping kiri lalu kedua tangannya memukul-mukul setir kemudi mobilnya. Rupanya barusan ia menghubungi bengkel langganannya, namun dasar 'nya sedang sial, kembali telponnya tak ada yang menjawab.


"Kalau gue paksain jalan nanti rusak mobil gue, lagian bahaya juga kalau di paksa jalan." batinya berbicara dalam hati.


"AHA!!" ujarnya kemudian sembari telunjuknya ia acungkan ke atas seakan telah menemuakan sebuah ide yg berlian. Kemudian ia pun turun dari mobilnya sambil menunggu kendaraan yang lewat, rupanya ia ingin meminta pertolongan pada pengendara lainnya, namun naas baginya sudah berkali-kali ia menyetop kendaraan yg lewat namun tak ada satu pun yg menghentikan kendaraannya.


"Sial sial bener-bener sial." ucapnya seraya tangannya mengusap - usap kepalanya hingga tak ia sadari rambut panjangnya sudah tak rapi lagi, seakan kekesalannya sudah di ujung tanduk. Meski kini tak ada kendaraan satu pun yang lewat, ia tak putus asa, lantas ia menunggu berharap ada kendaraan yang lewat dan menghentikan kendaraanya dan membantunya. Namun hampir lima belas menit tak ada satupun kendaraan yg melewatinya. Ia pun bersandar di mobilnya sambil sesekali matanya melirik jam kecil yang ber tengger di pergelangan tangan kirinya.


"Ya ampun, sudah jam empat sore, masa gue nginep di jalan melem ini." batin Ross.


Perlahan ia mengangkat kepalanya dan menengadahkan tangannya ke atas seraya berucap.


"Ya Allah kirimkan 'lah mahluk Mu kali ini saja untuk menolong hamba Mu ini, agar hamba bisa segera pulang."


Rupanya dalam keadaan genting ia ingat akan Tuhannya.


"Aamiin." Ross mengahiri doa 'nya sambil mengusapkan kedua telapak tangannya ke muka cantiknya. Dan ajaib setalh itu, sebuah suara mengejutkannya.

__ADS_1


CHHIIITH!!!.


Ia pun menoleh ke sumber suara, sebuah motor Ninja telah berhenti di belakang mobilnya.


Seolah yakin dengan doa 'nya ia pun merasa gembira dan berusaha mendekati motor itu.


Tak lama seorang pria bertubuh tinggi, memakai jaket suiter sambil mengenakan helm turun dari motornya.


"Hai mas, selamat sore." sapa Ross bibirnya menyunggingkan senyum paling imut 'nya.


Namun si pria hanya diam mematung malah kepalanya ia gerakan ke samping kanan,seakan tak mau memandang gadis itu.


"Lah kenapa ni orang, malah diem ga jawab sapaan gue, mau nolingin gue kagak sih?" gumam Rross membatin.


"Astaga!!, jangan-jangan dia mau nyelakain gue lagi." ucap 'nya berminolog.


Karena prasangka buruk 'nya mendominasi kepala 'nya ia pun berbalik badan hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Tunggu!!" ujar si pria.


Ross pun menghentikan langkah 'nya, berbalik badan melihat pada si laki-laki yang masih berdiri mengenakan helm 'nya. Tak berselang lama pria itu pun membuka helm 'nya, seraya berucap.


"Assalamualikum." sapa pria itu.


Seorang pria berwajah tampan, dengan alis yang cukup tebal, bibir tipis 'nya yang kemerahan karena tak pernah menyentuh rokok, rahang 'nya yang tegas dan kokoh seakan maenampak 'kan ke-macho annya, seakan terlihat sempurna di mata Ross. Rambut pendeknya yang begitu hitam dan tebal mencerminkan pesona tersendiri bagi Ross. Hati 'nya berdesir aneh memandangi pria itu.


Melihat tak ada reaksi yangg berarti, pria itu pun mendekati gadis itu, sambil tangan kanannya ia goyang-goyangkan di depan muka gadis itu, namun pandangan 'nya tak mengarah pada gadis itu.


"Halo Nona, Assalamualaikum." sapa si pria lagi.


Ross pun tersadar dari lamunnya, lantas ia pun menjawab.


"Wa, - Wa'alaikumsalaam." jawab 'nya tebata seolah gugup.


"Nona sedang apa di sini, atau mungkin ada yang bisa saya bantu?" tanya si pria kembali.


Bukan 'nya menjawab Ross malah menjulurkan tangan kanannya kedepan.


"Oh ya, maaf tadi gue hak fokus. Kenalin nama gue Rossdiana, panggil aja Ross." ucap Ross ingin berkenalan.


Melihat hal itu si pria menautkan ke dua alisnya, merasa aneh dengan sikap gadis itu.

__ADS_1


"Oh ya, saya Zain." ucapnya, sementara kedua telapak tangannya ia tangkupkan di depan dadanya, seakan meminta maaf sembari matanya melihat ban belakang mobil gadis itu yang telah kempes.


Lekas Ross pun menarik kembali tangannya. "Kenapa dia gak mau salaman sama gue sih, sialan di kiranya tangan gue gak steril apa?" batin Ross, bibir bawahnya ia gigit menandakan ia sedikit kesal dan malu.


"Apa Nona Ross ada konci dan ban serepny?" tanya Zain menyambung pembicaraan.


"Oh ya, ada, ada di bagasi." jawab Ross masih belum hilang rasa gugup 'nya.


"Bisa nona buka bagasinya?, biar saya bantu gantikan ban mibilnya." sambung Zain menawarkan pertolongan.


Bukan menjawab Khai malah diam mematung.


''Ya Tuhan, gue rela tiap hari ketiban sial asal tetep bisa ketemu manusia kayak gini, udah ganteng, baik pula. Mimpi apa gue semalem." gumam Ross membatin.


"Nona, Nona Ross!!." ucap Zain sedikit meninggikan intonasi suaranya.


"Oh yaya,maaf,tunggu sebentar." ucap Ross kembali.


Ross pun membuka pintu depan mobilnya, lekas memasukan sebagian badannya ke dalam mobil hendak menekan tombol on, agar bagasi mobil 'nya terbuka secara otomatis.


sementara Zain menelan salivanya, iaa susah paya menetralisir persaannya. Betapa tidak, ia melihat bokong si gadis yang menungging di luar pintu mobil, semantara badan si gadis sebagian di dalam mobil. Bokong yang kencang karena jeans yang di kenakan begitu ketat.


"Astagfirullah, maaf 'kan hamba atas zina mata ini ya Allah, hamba benar-benar tidak sengaja ya Allah." batin Zain, matanya ia alihkan pandangan dengan segera ke arah lain.


"Sudah mas." ucap Ross yang sudah berdiri di depan pintu mobil 'nya yang masih terbuka.


Tak lama bagasi blekang mobil itu pun terbuka dengan sendiri 'nya.


"Ya sudah Nona silahkan tunggu, saya akan ganti ban 'nya sebentar. Insha Allah tidak akan lama." ucap Zain hendak menuju bagasi. Namun langkahnya terhenti.


"Mas, tunggu!!" cegah Ross dengan suara lembut 'nya.


Zain pun menoleh ke samping karena sudah memungnggungi Ross.


"Kenapa Nona?" tanya Zain kemudian.


"Bisa gak, mas jangan panggil gue Nona?, panggil Ross aja, atau Adek gitu, biar lebih akarab." cicit Ross, muka 'nya bersemu merah sambil *******-***** kedua tangannya sendiri.


Dasar gadis tak tau malu.


"Oh begitu ya?'' respon Zain sambil tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya menuju bagasi belakang mobil Ross.

__ADS_1


Next,,, part 9.


__ADS_2