
Setelah pertemuan keduanya. Tak lama setelah itu akhirnya acara pernikahan pun di gelar di rumah sederhana milik keluarga Fatma. Alasan Derry menerima perjodohan itu karena ingin mengambil hati ayahnya, agar suatu sa'at Sang ayah menyerahkan jabatan Ketua Pengendali keamanan atau ketua Preman Pasar Raya kepadanya.
Flash back off.
Di kantor Devindra Corporation.
Seorang lelaki paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya, ia sedang memegang gawainya hendak menghubungi sahabat baiknya. Ya dialah Sanjaya pemilik sekaligus Presiden direktur PT. DC. Yang ternyata ia sudah lama bersahabat dengan Junaidi dan Ayahnya Fatma. bahkan sewaktu muda mereka memiliki julukan oleh teman-teman lainnya,yaitu Trio JAD.
J. Adalah inisaial dari Junaidi, pamannya Zain.
A. Arman ayahnya Fatma dan
D. Devindra ayahnya Ross. Dari ketiga sahabat itu Devindra 'lah yang paling sukses dalam berkarir, sedang yang paling bawah ekonomi 'nya di antara merka adalah Arman.
"Assalamualaikum Net." sapa Devindra, mengawali pembicaraan setelah panggilannya di jawab oleh Junaidi di sebrang sana.
"Wa'alaikumsalam." jawab Junaidi singkat.
"Apa kabarnya ni Bang junet?. Gimana masih tugas di pasar aja ni?." tanya Devindra basa-basi, dengan suara baritonnya yang khas.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Kamu sendiri gimana kabarnya, sehat kah?." timpal Junaidi balik bertanya.
"Syukurlah kalau begitu. Net kita reunian yuk!.Oh iya,gimana kabarnya dengan Arman?." tanya Devindra
"Arman baik-baik aja kayaknya, sekarang dia sudah buka toko kelontongan di depan rumahnya. Kalau soal reunian ya di atur aja kapan waktunya." ucap Junaidi lagi.
"Wih tumben ni kamu ada waktu buat ketemu, biasanya kan kamu selalu sibuk dengan keamanan pasarmu itu. Mm gimana kalau kita ketemu di kaffe tempat biasa dulu kita sering kumpul?" ucap Devindra kembali.
"Ma'af San, bukannya saya nolak ketemuan di kaffe. Tapi gimana kalu saya usul, kita ketemuan di rumah saya aja. Gimana?" ajak Junaidi kepada sahabat lamanya itu.
"Boleh, kayaknya lebih seru tuh!. Trus gimana dengan Arman?, aku gak punya nomornya soalnya." ucap Dev lagi.
"Tenang saja biar saya yang ngomong ke dia, kamu kan tau kalau kita tetenggaan." lanjut Junaidi kembali.
"Terus jam berapa ni kita kumpul?." tanya Dev.
__ADS_1
"Ba'da isya saja, saya tunggu di rumah, kalu siang saya yakin kalian sibuk. Gimana, kamu stuju?." ujar Junaidi memberi usulan.
"Ok, saya setuju aja. Baiklah kalu begitu saya pamit dulu, soalnya ada beberapa berkas yang harus saya tanda tangani." ucap Dev ijin pamit memutuskan sambungan.
"Ya sudah saya juga belum sholat ashar." jawab Junaidi.
Usai Dev mengucapkan salam dan Junaidi menjawab salamnya, telepon pun di tutup masing-masing.
Esoknya, malam sebelum kedatangan kedua sahabatnya. Junaidi melakukan sembahyang sholat isya dan beberapa roka'at sholat sunah. Setelah itu Ia keluar dari masjid usai bersalaman dengam jema'ah lainnya. Karena rumahnya tak jauh dari Masjid, tak lama ia pun sudah tiba di rumahnya.
"Assalamualaikum." ujar Junaidi di depan pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Rosa istrinya. Tak lama pintu pun terbuka dan nampak lah istrinya yang masih mengenakan mukena. Rosa pun berjalan mendekati suaminya lalu bersalaman mencium punggung tangan suaminya dengan takjim.
"Banyak jema'ahnya yah?." tanya Rosa.
"Seperti biasa mah, paling juga ada satu baris, itu pun masih orang yang sama dengan yang kemaren. Memang amal ibadah sholat itu sesuatu yang berat jika tidak di biasakan sejak kecil, makanya akan sangat berat untuk melakukannya." ujar Junaidi, lekas ia duduk di sofa lalu melepas peci hitamnya di atas meja kecil di samping sofa.
"Kalau Ayah kenapa sekarang rajin sholat?, padahal Mamah tau kalau Ayah dulu sering ninggalin sholat." kata istrinya.
"Kalau Ayah kasusnya lain mah, yaah mudah-mudahan aja kalau taubat suamimu ini masuk kedalam bagian taubatan nasuha." timpal Junaidi kembali.
"Kenapa mamah gak langsung tanyakan sama dia waktu itu?." ujar suaminya balik tanya.
"Situasinya tidak memungkinkan waktu itu yah, dia bilang buru-buru makanya gak sempet mamah tanyakan." jawab Rosa jujur.
"Ya sudah nanti ayah tanyakan ke gurunya Zain, kalau bisa Mamah juga ikut. Sekalian kita silaturahmi." ujar Junaidi terjeda sejenak lalu melanjutkan kalimatnya.
"O ya mah,ngomong-ngomong makanannya sudah di siapkan belum?, untuk menjamu kedua sahabat Ayah." tanya Junaidi.
"Sudah dong Yah, kita tinggal nunggu mereka datang aja." jawab Rosa dengan jelas.
Tak lama suara bel pintu berbunyi.
Ting tong,ting tong.
__ADS_1
"Sepertinya itu mereka yah." ujar Rosa.
"Iya mah. Ya sudah mama ganti baju gih sana, biar Ayah yang menyambutnya." kata Junaidi.
Rosa pun bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju.
Sementara Junaidi menuju pintu depan rumahhnya yang cukup megah.
"Assalamualikum besan." ucap Arman setelah terbukanya pintu oleh tuan rumah.
"Wa'alaikumsalam besanku. Ayo mari masuk, kita ngobrol di sofa." sambut Junaidi dengan tutur kata yang lembut.
"Maaf kalau tadi siang saya telat baca sms dari kamu Net." ucap Arman pada Junaidi atau Abang Junet ketika keduanya berjalan menuju sofa.
"Santai saja, yang penting kan sekarang kamu sudah ada di sini." timpal Junaidi. Setelah duduk mereka pun ngobrol ringan berdua. Namun tak berselang lama kembali pintu bel berbunyi.
Ting tong!.
"Sepertinya itu Dev." ucap Arman.
"Biar saya saja yang bukakan pintunya Yah, kalian ngobrol aja dulu." ucap Rosa yang tiba-tiba muncul dengan memakai baju gamis dan hijab panjang.
"Assalamulaikum." sapa Dev, ketika melihat Rosa sudah membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam, mari pak sudah di tunggu di ruang tamu" jawab Rosa, sambil kedua tangannya di tangkupkan, tanda bersalaman jarak jauh, usai itu ia berbalik menuju ruang tamu, sementara Devindra meneyusul dari belakang.
Usai Sanjaya bersalaman dengan kedua sahabatnya, ia pun duduk di sofa dan memulai npembicaraan.
"Arman apa kabarmu sekarang?, lama juga kita tidak bertemu." tanya Dev.
"Alhamdulillah baik, dan berkat besanku ini saya sekarang sudah punya usaha sendiri." ucap Arman
"Wah mantap tuh,usaha apa memangnya?" tanya Dev lagi.
"Saya buka toko kelontongan dan sahabat kita ini 'lah yang memberikan saya modal. Dan syurlah sekarang mulai ada pelanggan." ucap Arman, sambil pandangan matanya tertuju pada Junidi, sahabat sekaligus besannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bilang Net, kalau Arman akan memulai uasaha?, andai saya tau dia mau buka usaha baru, pasti saya akan memberinya modal." ucap Dev, matanya juga tertuju pada Junaidi, hingga Junaidi di pandang kanan kiri oleh kedua sahabatnya itu.
Penasaran kan,siapa kira-kira yang akan mereka jodohkan?, pembaca setia JZAG pasti tau.