Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 38 Taman Yang Romantis


__ADS_3

Setelah selesai percakapan mereka di ruang tamu, kini si empunya rumah mengajak para tamunya untuk makan malam yang sudah di sediakan di meja makan oleh kedua ART 'nya. Namun di tengah - tengah kegiatan mereka sa'at bersantap bersama, kembali Ross berulah dengan pertanyaan yang membuat semua orang yang ada di situ menatap ke arahnya, tapi tidak dengan Zhain ia tetap fokus dengan makanan 'nya meski hati 'nya ingin sekali menegur gadis konyol nan cantik itu yang selalu bertahta di hati 'nya.


"Pih, terus kapan kita nikah 'nya?" tanya Ross setelah ia memasukan satu sendok nasi ke dalam mulut 'nya.


"Hah." sontak suara seluruh yang hadir di situ tertegun keheranan secara bersamaan.


"Bukannya tadi kamu kekeh menolak, kenapa sekarang mau?, bahkan terkesan ingin di segerakan." tanya Anjani yang duduk berdampingan dengan Devindra.


"Itu kan salah Papi kenapa gak ngasih tau kalau yang mau di jodohin sama Ross adalah Mas Zhain." ucap 'nya tanpa rasa malu sedikit pun.


"Lho ko Papi yang di salahin, kamu kan gak nanya tentang lelaki yang akan Papi jodohin sama kamu, jadi Papi gak salah lah." ucap Dev matanya lurus menatap putri 'nya.


"Iya, iya, Papi gak salah." celoteh Ross pada Ayah 'nya.


"Pak Devindra boleh 'kah saya bicara sesutu?." tanya Zhain pada calon mertua 'nya.


"Oh tentu, silahkan apa yang ingn kamu sampaikan?." ujar Dev menanggapi.


"Begini Pak, mohon maaf sebelumnya, saya belum bisa menerima perjodohan ini di karena kan saya tidak bisa memutuskan sendiri. Ada Ibu saya yang perlu saya mintai pendapat. Di lain sisi Ross juga sudah bicara dengan Ibu saya terkait hubungan saya dan putri Bapak." ucap Zhain panjang lebar, sejatinya Zhain tak mau kekasih 'nya salah paham dengan apa yang ia katakan.


"Ooo jadi anak Papi ini sudah mencuri start terlebih dahulu ya, pintar juga kamu ya." ujar Dev menggoda putri 'nya.


"Ko Papi ngomongnya gitu sih, Ross kan cuma berusaha Pih." timapl 'nya dengan nada mendayu manja.


"Memang pembicaraan seperti apa antara kamu dan Ibunya Zhain?" tanya Dev kemudian.


"Papi gak perlu tau, ini urusan perempuan." jawab Ross sekena 'nya.


"Pah, Mah, Om Junet boleh kan saya bicara empat mata dengam Mas Zhain?," sambung Ross lagi meminta ijin.


"Anak kamu memang agresif Dev." ujar Junaidi seraya tersenyum kecil.


"Bukan agresif Om, tapi usaha, takut 'nya kalau gak gitu nanti keburu di comot orang." ucap Ross polos sementara kedua matanya tak lepas menatap Zhain sang kekasih hati.


"Saya mau saja bicara dengan Putri Bapak, tapi saya tidak bisa melakukan itu jika purti Bapak tidak ada yang menemani dari pihak keluarga. Bukan kenapa - napa hanya saja saya tidak ingin terjadi fitnah antara putri Bapak dan saya." ujar Zhain menjelaskan.

__ADS_1


"Kau bena - benar pemuda yang berbeda dengan pemuda lain 'nya, di saat pemuda yang lain berharap tidak ada yang mengawasi ketika berhubungan dengan wanita yang di incar 'nya, tapi kamu malah meminta di awasi agar tidak terjadi fitnah ke depan 'nya. Sungguh kau ber'akhlak mulia. Kau 'lah pemuda yang selama ini aku cari untuk mendampingi putri kesayangan kami." ujar Dev bermonolog dalam hati 'nya.


"Ya sudah, Mah tolong dampingi Ross." titah Dev pada istri 'nya.


Tak lama Ross dan Anjani brjalan ke belakang rumah 'nya untuk menuju taman yang tak jauh dengan kolam renang, sedang Zhain mengikuti 'nya dari belakang.


"Mah udah, Mamah di sini aja." cegah Ross pada Anjani ketika mereka tiba di sisi kanan kolam renang.


"Nak Zhain, gimana ini?, bukannya kamu yang meminta Ross untuk di temani, nah sekarang Malah Ross yang melarang." ucap Anjani pada calon mantu 'nya.


"Tidak apa - apa Bu, Ibu di sini saja. Mungkin Ross tidak mau pembicaraan kami ada yang mendengarkan. Yang penting Ibu masih bisa melihat kami." ucap Zhain pada Aryani.


"Kamu benar - benar pemuda yang menjaga kehormatan 'mu, pantas suamiku ingin sekali menjadikan 'mu sebagai menantu kami." ujar Anjani dalam hati 'nya.


"Mas kenapa kita harus di awasi?" tanya Ross ketika keduanya sudah duduk di bangku panjang di bawah pohon bonsai yang tidak begitu tinggi, sedang cahaya temaram dari lampu taman menyinari taman hingga terkesan romatis bagi siapaun yang melihatnya.


"Ada beberapa hal yang pelu kamu ketahui Ross, tentang batasan - batasan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim 'nya." ucap Zhain seraya memandang lurus ke taman bunga.


"Maksud Mas?" tanya Ross yang kini posisi mereka berjarak sekitar dua meter.


"Kita ini belum ada ikatan apa - apa. Jadi, agama kita sudah mengatur siapa saja yang hendak menjalin hubungan. Intinya, islam membolehkan antara lelaki dan perempuan berkomunikasi meski mereka bukan muhrim 'nya, hanya saja harus ada saksi dari keluarga pihak wanita agar tak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." ujar Zain menjelaskan, mata nya ia alihkan menatap kolam renang yang tak jauh dari bangku taman.


"Kita tidak boleh melakukan itu, kecuali jika kita sudah menikah, artinya hubungan kita sudah di akui sah secara negar dan agama."


"Kapan Mas mau menikahi aku?," tanya Ross tanpa rasa malu.


"Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, dan Mas berharap hanya sekali seumur hidup untuk menikah. Maksud Mas, bukan berarti Mas menolak permintaan Ayah 'mu untuk menjadikan 'mu istri. Namun karena pernikahan itu sesuatu yang istimewa bahkan ada yang mengatakan sebagai penyempurna agama yang kita anut. Maka dari itu kita harus memikirkannya seca matang, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari setelah kita berumah tangga." ucap Zhain dengan lembut. Sementara kedua mata 'nya masih memandang objek lain di banding wanita yang kini duduk di samping 'nya.


"Aku ngerti maksud Mas, kalau memang hubungan kita ini memerlukan waktu untuk berproses, aku akan sabar menunggu kesedian Mas untuk menikahi 'ku." ujar Ross dengan bijak.


Mendengar hal itu, Zhain semakin kagum dengan gadis yang ada di samping 'nya itu.


"Aku tidak salah memilihmu Ross, ternyata meski sikapmu terkadang absurt, namun ada kedewasaan di sisi hatimu yang lain." kata hati Zhain bermonolog.


"Maka dari itu jagan lupa minggu besok, Adek juga harus datang untuk memenuhi syarat dari Bunda Mas. Bagaimana apa Adek sanggup?" tanya Zhain dengan lembut.

__ADS_1


"Mas bisa gak jangan panggil aku adek?"


"Kenapa, adek keberatan?" tanya 'nya lagi namun tetap tak memandang gadis yang duduk di sebelah 'nya.


"Bukan, bukan keberatan mas." ujar Ross dengan cepat seraya mengeleng - gelengkan kedua telapak tangan 'nya beserta kepala 'nya yang berbalut hijab.


"Lalu adek mau Mas panggil apa?" tanya Zhain yang mata 'nya kini memandang kearah pot bunga yanga di atas 'nya tertanam bunga mawar.


"My honey mungkin." jawab Ross seraya menunduk malu, namun terkesan imut bagi seorang Zhain.


Mendengar kalimat dari pemilik bibir tipis nan merah itu Zhain hanya tersenyum kecil seakan sedikit lucu dan menggemaskan.


"Tidak mau." tolak 'nya.


"Ko Mas gitu sih." tanya Ross lagi.


"Because you my heart." jawab Zhain jujur.


"What?, Mas you can speaking english?" ujar Ross dengan mata terbuka lebar seakan kagum dengan calon suami 'nya itu.. Ingat Ross!!, Maher itu baru calon lho jangan samapai kamu kalah cepat dengan Zhainab...


"Katanya Mas cuma lulus SD tapi kenapa Mas ngeriti dengan apa yang Ross ucapkan tadi?"


"Belajar itu tak melulu di sekolah Ross. Buat Mas siapa pun yang ingin banyak tau, syaratnya ia harus rajin belajar dan membaca." ucap 'nya menjelaskan.


Karena kesal menunggu Anjani memanggil sang putri.


"Ross sudah belum ngobrolnya?" tanya Anjani karena merasa sudah trlalu lama mengawasi mereka, hingga ia memanggil dengan suara sedikit lantang.


"Iy Mah, sebentar lagi." jawab Ross dgengan suara sama lantang 'nya.


"Ya sudah kita balik ke mereka yuk!." ajak Zhain yang sudah hendak berjalan. Namun....


"Mas," seru Ross dengan cepat.


"Ya." jawab Zhain singkat.

__ADS_1


"Kira - kira syarat apa yang akan Bunda Mas berikan?"


Yg penasaran tunggu bab selanjutnya.,,,,next part 39 Ross bertemu Zhainab.


__ADS_2