
"Sudah, cepat kalian keluar. Mungkin ada sesuatu yang tak seharusnya kalian semua tau." ujar Zhain datar namun tak menghilangkan ketegasannya.
"Baik Bang Zhain, kalau begitu kami pamit. Dan untuk Bang Roki kami mohon maaf." ujar Rudi kemudian.
Lekas Lukman dan Rudi keluar dari ruangan bos 'nya.
Ketika kedua 'nya keluar, Roki lekas menutup pintu dan mengunci 'nya seakan apa yang akan mereka bicarakan tak mau ada yang mengetauhi, meski itu dari anggota 'nya sendiri. Lekas ia kembali menatap lap top yang masih terbuka dan menyala di atas meja kerja Zhain.
"Ketua, coba perhatikan gambar tato yang ada di lengan pelaku!" titah Roki yang mata 'nya fokus menatap lap top.
"Bukan kah itu logo Batman?" jawab Zhain menegaskan.
"Betul ketua, dan logo itu adalah lambang dari oraganisasi para preman yang pernah berseteru dengan kita. Dan kebetulan ketua dari organisasi itu adah musuh bebuyutan dari Bang Junet. Apa ketua mengerti apa yang saya katakan?"
"Saya mengerti Bang, tapi apa tujuan mereka menganggu ketertiban pasar, apa mereka akan melancarkan aksi balas dendam?" ujar Zhain dengan raut penuh tanda tanya.
"Saya tidak tau rencana mereka Ketua, tapi bisa saja kemungkinan itu. Dan sebagai antisipasi kit harus meningkatkan kewaspadaan dari setiap anggota." ujar Roki.
"Saya setuju Bang, tapi apa Abang tidak keberatan jika sore ini kita kumpulkan seluruh jajaran dari setiap blok?, untuk memeberi arahan kepada mereka." usul Zhain kemudian.
"Saya setuju ketua, kita perlu memperingtkan seluruh jajaran anggota agar kewaspadaan bisa mereka tingkatkan. Tapi satu hal yang harus ketua ingat, jangan sampai anggota yang lain tau kalau si pelaku pencurian itu bagian dari organisasi yang pernah berseteru dengan kita." ujar Roki dengan wajah serius 'nya, namun tidak menghilangkan kesan sangar di wajah 'nya.
"Kenapa begitu Bang?, apa kehadiran mereka bisa memepengaruhi mental anggota kita?" tanya Zhain lagi.
"Itulah yang saya khawatukan 'kan Ketua. Karena mereka terkenal sadis jika sudah beraksi secara bersamaan." ujar Roki lagi.
"Apa tidak sebaiknya kita beritahu Paman Bang?" tanya Zhain lagi.
"Ya sebaiknya begitu. Gimana kalau kita ke rumah Pamanmu setelah acara miting dengan beberapa jajaran daris setiap blok?"
"Ia Bang saya setuju." jawab Zhain seraya menganggukan kepalanya tanda setuju.
Usai itu Zhain lekas keluar dari ruangan 'nya untuk menemui Rudi dan Lukman.
"Rudi, Lukman, coba kalian hubungi seluruh ketua yang megepalai setiap blok. Kita akan mengadakan rapat dadakan satu jam lagi." ucap Zhain sembari menatap jam tangan 'nya.
"Kenapa mendadak sekali bos?" tanya Rudi kemudian.
"Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang saya perintahkan." ujar Zhain dengan sura bariton 'nya yang tegas.
"Baik ketua." jawab Rudi.
"Satu lagi, siapakan ruangan yang akan di gunakan untuk rapat." titah 'nya lagi.
__ADS_1
"Siap ketua." jawab Lukman dan Rudi secara bersamaan.
Tak terasa waktu sudah menujukan pukul setengah 5 sore. Kebetulan seluruh anggota rapat sudah bejejer di ruangan yang biasa di gunakan untuk rapat para ketua yang mengepalai setiap blok.
"Baiklah karena semua para ketua sudah hadir maka dari itu acara akan saya mualai. Bagiamana Bang Roki?" ujar Zhain terjeda seraya menoleh ke arah kiri di mana Roki tengah duduk tak jauh dari 'nya.
Tak ada sautan kata dari Roki, ia hanya menganggukan kepala tanda rapat boleh segera di mulai.
"Baiklah. Seperti yang kita ketahui bahwa telah terjadi pencurian kendaraan bermotor di area blok c, untuk itu sengaja saya kumpulkan para ketua untuk memperingatkan semua jajaran angotanya agar meningkatkan kewaspadaan dalam bertugas-," ujar Zhain terjeda lantaran dari hujung barisan ada satu anggota rapat yang memberi intrupsi seraya mengacungkan jari telunjuk 'nya ke atas.
"Mohon maaf sebelumnya Ketua. Untuk masalah peningkatan kewaspadaan tentu akan kami lakukan, hanya saja bagaimana dengan kendaraan yang sudah di curi oleh pelaku. Apakah kita akan menggati 'nya?, atau 'kah ketua ada jalan lain untuk menenangkan para pedagang yang lain?, karena dari desas desus yang saya dengar para pedagang tidak mau menjadi korban selanjut 'nya." ujar Joni panjang lebar sambil menanti jawaban dari ketua 'nya.
Mendengar itu Zhain hanya menghembuskan nafas panjang.
"Huuuffh, Baiklah-," ucap Zhain menggantung.
"Tunggu ketua." ujar Roki memotong kalimat Zhain yang hendak menjelaskan.
"Ijin 'kan saya yang memberi penjelasan ketua." pinta Roki pada ketua 'nya.
"Oh iya, silahkan Bang, mungkin Abang punya usul." ujar Zhain mempersilahkan.
"Untuk masalah kendaraan yang hilang, kita tunggu 1 x 24 jam sambil mencari keadaan pelaku. Sedang masalah ke khawatiran para pedagang itu sesuatu yang wajar. Dan saya rasa kalian bisa menangani itu dengan memberi penjagaan ketat kepada aset mereka, karena hanya dengan hal itu kita bisa mengembalikan kepercayaan mereka." ucap Roki dengan raut cukup serius.
"Tapi Bang, saya kurang setuju jika harus menunggu 1 x 24 jam, apa itu tidak menurunkan kepercayaan mereka." ujar salah satu anggota rapat yang lain.
"Kami mengerti ketua." ucap seluruh anggota rapat secara bersamaan.
Tak terasa rapat pun telah usai dengan keputusan bahwa para anggota hanya di harus 'kan meningkatkan kenerja mereka, sementara lainnya Zhain dan Bang Roki yang akan mengurus 'nya.
Usai para anggota rapat membubarkan diri Zhain dan Riko masih duduk di ruang rapat yang hanya meyisakan mereka berdua.
"Saya yakin mereka akan menuntut sesuatu dari kita." ucap Roki kemudian.
"Maksud Abang?" tanya Zhain memperjelas.
"Ini kejadian 'nya sudah cukup lama, dan saya tidak menyaka kalau mereka akan mengungkit kembali tetang hal ini. Dan ini ada hubungannya dengan Derry."
"Saya semakin tidak mengerti paman." ucap Maher seraya mengerutkan keningnya tada tak mengerti.
"Sebenar 'nya Ketua dari mereka sudah lama mati, dan saya tidak menyangka jika ada penerus dari organisasi itu."
"Bang Roki, tolong jelaskan secara terperinci agar saya mudah mengerti dengan apa yang Abang katakan. Dan yang membuat saya bingung kenapa ini ada kaitan 'nya dengan Derry?."
__ADS_1
"Dulu pasar ini di kuasai oleh mereka. Namun karena cara kepemimpinan ketua mereka yang arogan para pedang meminta bantuan Paman 'mu untuk melawan ketua mereka. Saat Paman 'mu berhasil mengalahkan ketua mereka, semua anggota 'nya menyerang pasar yang tujuan 'nya ingin membakar seluruh pasar agar Paman 'mu tak jadi menggati 'kan mereka dalam mengamankan seluruh pasar. Namun ketika semua sudah siap dan ketua mereka hanya tinggal menjatuhkan pematik api dari tangannya, tiba - tiba Derry datang dan menendang ketua mereka dari belakang hingga pemantik api itu jauh terpental tak jatuh di mana genangan bensin berada, hingga bensin itu tak tersulut oleh 'nya. Na'as 'nya tubuh ketua mereka tersungkur jatuh ke atas peti bekas wadah jeruk milik salah satu pedagang. Dan kebetulan pula di atas peti itu ada papan kecil yang cukup runcing mengenai dadanya. Sampai akhir 'nya ketua mereka meregang nyawa karena khabisan darah ketika hendak di larikan ke runah sakit." ujar Riko menjelaskan dengan detail kejadian itu.
"Lalu bagimana dengan anggota meteka yang lain?"
"Mereka semua membubarkan diri ketika tau ketua mereka sudah mati, di lain sisi semua anggota Bang Junet termasuk saya sudah siap sedia jika mereka hendak menyerang pasar. Ya kami benar - benar sudah siap waktu itu, Bahkan anggota kepolisian pun tidak ada yang berani ikut campur lantaran kalah jumlah dengan anggota kami dan musuh." ujar Roki kembali.
"Sekarang saya mengerti Bang, mungkin ketua mereka yang sekarang, ingin membalas dendam kepada Paman."
"Sebenarnya dendam terbesar mereka bukan pada Paman 'mu tapi kepada Derry. Karena yang mereka tau Derry 'lah yang menyebabkan kematian ketua mereka." timpal Roki kembali.
"Ya sudah Bang, saya rasa sudah ada titik terang tentang masalah ini."
"Kamu mau kemana?" tanya Roki ketika melihat Zhain hendak berdiri dari kursi 'nya.
"Sudah waktu 'nya sholat magrib Bang, Saya mau ke mushola dulu." jawab Zhain jujur, karena ia sudah mendengar bunyi suara adzan dari luar gedung.
"Tunggu ketua!" sergah Roki lagi.
"Kenapa Bang?"
"Boleh saya ikut?" tanya Roki dengan suara bergetar.
"Maksud Abang ikut ke mushola?" tanya Sang Ketua dengan raut gembira. Ya tentu ia gembira dengan ucapan Roki, di mana yang ia tau Roki belum pernah terihat memasuki mushola atau sejenis 'nya. Dan selami ini juga ia tidak pernah ingin tau tentang hubungan Roki dan Tuhan 'nya.
"Iya boleh 'kah saya ikut sholat?"
"Tentu Bang, tentu boleh sekali."
"Tapi saya bertato ketua, hal ini 'lah yang membuat saya ragu untuk melakukan hal itu."
"Bang semua orang punya masa lalu, dan jika Abang ingin berubah itu tanda 'nya Allah masih sayang dengan Abang. Mudah - mudahan ini sebuah hidayah untuk Abang, dan itulah anugrah terbesar dari Allah untuk mahluk 'nya. Dan saya yakin Allah telah memilih Abang untuk mendapatka 'nya."
"Benar 'kah ketua?" tanya Roki dengan berbinar, tak terasa di sudut mata 'nya telah keluar cairan bening, pertanda ia sangat terharu dengan ucapan ketua 'nya.
"Ketua tolong bimbing saya!" ucap 'nya seraya memeluk tubuh Zhain yang sudah berdiri.
"Saya perlu pembimbing untuk berubah ketua." ucap Roki sembari terisak kecil di pelukan Zhain.
"Sudah 'lah Bang, kita sama - sama belajar. Insha Allah saya akan melakukan 'nya sebisa yang saya mampu. Sekarang kita ke mushola yuk!, seoertinya Adzan juga sudah berhenti."
"Baiklah ketua." jawab Roki seraya melepaskan dekapan 'nya.
Akhirnya mereka pun keluar dari gedung berlantai dua itu untuk menuju mushola yang ada di area pasar tak jauh dari tempat itu.
__ADS_1
Alhamdulilah tanpa harus bedakwah dengan ekstrim akhirnya Zhain mampu meyadarkan salah satu anggota 'nya.
Tapi itu blm cukup kerna perjuangan Zhain masih panjang untuk membinmbing seluruh anggotanya ke arah yang lebi baik.... next part selanjutnya,,,,Pembuktian Ketua.