
"Kata temen - temen Ross dia,,, dia ketua perman di Pasar Raya." ucap Ross sedikit takut.
"Apa,,, dia ketua preman?,, keterlaluan kamu." ucap Dev kembali dengan intonsi suara di naikan.
"Tapi dia buakan preman Pi." jawab Ross kekeh.
"Mana mungkin dia bukan preman kalau dia 'nya sendiri menjadi ketuanya. Sudah 'lah Papi gak mau berdebat.
"Ma, Papi berangkat dulu. O iya jaga putri kita jangan sampai dia kabur, bisa - bisa berantakan acara 'nya kalau itu sampai terjadi." ujar Dev memberi ultimatum pada istrinya.
Devindra pun melangkahkan kakinya tanpa mencium kening istrinya yang seperti biasa ia lakukan, ia berjalan tanpa menoleh untuk menuju mobilnya yang di mana supirnya sudah menunggu.
"Ma aku gak mau di jodohin, hix hix hix." ucap Ross sambil terisak namun masih dalam dekapan Anjani.
"Kamu yang sabar sayang, Papi pasti punya alasan tersendiri kenapa kekeh mau jodohin kamu Nak." ujar Anjani seraya mengelus kepala putrinya dengan lembut.
"Tapi Ma, Ross sayang sama dia. Dan demi Allah Ma Ross gak pacaran sama dia, hix hix hix." ucap Ross lagi masih dengan isaknya yang mulai berkurang.
"Trus kenapa kamu bilang sudah punya calon, Mama juga kaget waktu kamu bilang begitu. Apalagi Papi Nak."
"Itu hanya sekedar do'a Mah. Dan gak ada kaitannya dengan pacaran atau tidak." jawab 'nya lagi
"Ya sudah, kamu ikuti saja dulu Papi 'mu, toh lelaki yang mau di jodohin sama kamu juga belum tentu mau." ujar Anjani sekenanya. Mendengar ucapa Anjani yang seakan meledek, Ross segera menarik kepalanya dari pelukan sang Bunda, dan lekas mengusap air matanya.
"Ko Mama ngomong gitu sih." protes Ross dengan mata menatap Anjani sendu.
"Lho kalian 'kan belum ketemu jadi bisa saja hal itu terjadi." timpal Anjani lagi.
"Kenapa Mama meragukan kecantikan aku?" tanya Ross dengan nada manja.
"Lho yang bilang putri Mama jelek siapa?"
"Ma, semua temen pria aku di kampus aja pernah mengatakan cinta ke aku, jadi gak menutup kemungkinan pria itu juga pasti suka sama aku." ucapnya terjeda seraya menepelkan ujung telunjuk ke pipinya yang mulus, sakan ia sedang berfikir.
"Mmm, gimana kalau kita teruhan?." sambungnya lagi sambil mengedip - ngedipkan kedua matanya yang lentik. Seakan mempunyai dua keperibadian ganda dari sedih berubah menjadi manja.
"Hah,, taruhan!!, Apa maksud 'mu sayang?." ujar Anjani dengan nada lembut, namun dengan raut muka penasaran.
"Iya kita taruhan,, kalau cowok itu menerima perjodohan ini, itu artinya dia suka sama aku Mah. Jadi Mama harus beli'in mobilb keluaran terbaru buat aku. Gimana?"
"Kalau dia gak suka sama kamu, apa yang akan kamu berikan sama Mama?" tanya Anjani seakan tak mau kalah. Rupanya Ia jadikan kesempatan dengan taruhan itu, agar sang putri mau menerima perjodohannya.
"Emang Mama maunya apa?, yaah walaupun Ross pikir kemungkinan itu sangat kecil." ucap 'nya dengan jumawa.
"Kalau dia gak suka sama kamu, ya kamu harus mau menerima perjodohan ini. Gimana?" ujar Anjani dengan mengulurkan tangannya. Tak mau kalah Ross pun lekas meraih tangan Sang Bunda.
"Deal." ucap keduanya bersamaan. Sadar ada sesuatu yang janggal denga pejanjian itu, Ross lantas kembali berucap.
__ADS_1
"Tapi Ma, kalau dia gak suka sama aku, ya bagus dong. Itu artinya Ross gak mesti nikah sama dia kan?." ucap 'nya dengan raut gembira.
"Kata siapa?, ya kamu tetep harus nikah sama dia 'lah" jawab Anjani tak mau kalah.
"Hah,, ko gitu Mah.?" ucap Ross sambil mengernyutkan keningnya seakan ada yang aneh.
"Kata Papimu dia itu lelaki sholeh, jadi kemungkinan besar dia akan menerima permintaan pamannya itu lantaran dia gak mau buat pamannya kecewa, meskipun dia gak cinta sama kamu." sambung Anjani lagi.
"Paman, maksud Mama paman siapa?"
"Ya pamannya cowok itu 'lah, Ayah 'mu itu sudah bersahabat lama dengan pamannya lelaki itu.
"Mah kita batalin aja deh taruhannya." ujar Ross dengan lirih seraya menelungkuokan kedua tangannya seakan memohon.
"Enak aja di batalin, gak bisa lah sayang. Ini kan ide 'nya kamu juga." timpal Anjani seakan ia memegang kendali permaninan.
"Ma,,, ayo 'lah!!, aku gak mau nikah sama dia." ucap Ross merajuk, seperti anak kecil yang tak di beri mainan, seraya mengoyang - goyang 'kan tangan Anjani.
"Nak Mama mohon ketemuan aja dulu, siapa tau di antara kalian ada kecocokan." ucap Anjani kembali membelai kepala putrinya yang kini berbalut hijab.
"Terserah Mama 'lah, gak Mama gak Papi, sama aja." dengus Ross dengan memanyunkan bibir tipisnya yang kemerahan. Lantas ia berdiri dan menghentakan kakinya kemudian berjalan menuju kamarnya. Ya ia kesal dengan keputusan kedua orang tuanya.
"Ross jangan ngambek dong." ujar Anjani.
"Bodo" jawab Ross dengan nada kesal, lantas ia membalikan badanya.
"Astagfirullahal 'adziim. Punya anak satu aja selalu bikin jantungan apalagi banyak." guamam Anjani seraya mengulas dada.
@@@
Di kantor, tepatnya di ruang Presiden Direktur Pt SC.
"Assalamualaikum." sapa Devindra, ketika sambungan teleponnya di jawab di seberang sana.
"Wa'alaikumsalaam. Gimana kabarnya sehat kah?" jawb Junaidi di sambungan telepon.
"Alhamdulikah sehat, tak kurang suatu apapun. Eh gimana nih Net tentang lelaki yang mau di kenalkan degan putri saya?" tanya Dev to the point.
"Wah udah gak sabaran kayaknya ni pengen cepet punya mantu." ucap Junaidi.
"Ia lah Net, masa saya kalah sama kamu, kamu aja udah punya mantu." timpal Dev lagi.
"Ia Dev, bahakan sebentar lagi saya udah mau punya cucu." ujar Junaidi sembil tersenyum riang di sebrang sana.
"Eh serius Net, wah kamu benar - benar beruntung Net. Giamana kalau kita ngopi bareng?, sekalian ngomongin tentang lelaki itu." ajak Dev kemuduan.
"Kayaknya gak perlu deh Dev, soalnya saya mau ke rumah Derry, dia lagi ngadain syukuran atas kehamilan istrinya."
__ADS_1
"Oh,, gitu ya." jawab Dev singkat.
"Gini aja, kapan putrimu besedia untuk di ketemukan dengan keponakan saya?" tanya Junaidi lagi.
"Gimana kalau malam ini, kebetulan putri saya sedang tidak ada kegiatan hari ini." usul Dev kemudian.
"Boleh, sepertinya lebih cepat lebih baik. Di lain sisi acara di rumah Derry juga gak nyampe sore ko."
"Waah, bener - bener seperti di mudahkan ya, dan kayaknya mereka memang berjodoh." ungkap Devimdra lagi.
"Aamiin," jawab Junaidi menimpali.
"Ya sudah kalau gitu sampai ketemu nanti malam. Dan jangan lupa undang juga Arman, biar rame." ujar Devindra, tak lama segera ia menutup telepon yang sebelumnya pamit dengan mengucapkan salam.
@@@
Di kantor, Markas Pengendalian Keamana Pasar Raya.
"Bang kalau Rahmat Allah itu maksudnya apa sih." tanya Lukman pada Zhain ketika ia mengantarkan teh hijau kesukaan bosnya yang tengah duduk di meja kerjanya.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" ujar Zhain seraya matanya masih menghadap pada lap top 'nya.
"Gini Bang, belum lama ini saya nolongin seseorang, trus istri dari orang yang saya tolong itu mengucapkan teima kasih. Dia bilang "SEMOGA RAHMAT ALLAH MENYERTAI KALIAN", jadi maksud Rahmat yang menyertai itu seperti apa dan bagaimana?" tanya Lukaman seraya duduk di depan meja berhadapan dengan bosnya. Rupanya ia tak mau carita siapa pria yang di tolongnya lantaran ia tau kalau bosnya itu rival 'nya Derry, pria yang sudah di tolong 'nya.
"Jadi begini." ujar Zhain terjeda, lekas ia meminum teh hijau yang sudah tersedia.
"Rahmat Allah itu suatu anugrah yang di berikan olehNya kepada sesiapapun yang di kehendakiNya.
Bahkan siapapun bisa meraihnya dengan usahanya. Dan tentunya itu tak bisa di nilai dengan papun. Contohnya sekarang kamu juga sudah mendapatkan Rahmat itu." sambung Zhain menjelaskan.
"Maksud abang?." tanya Lukaman tak mengerti.
"Iya, kamu sekarang sudah tidak lagi menjadi pengedar narkoba, itu artinya kamu sudah medapatkan RahmatNya. Karena baik secara sadar ataupun tidak kamu sudah menjauhi sesuatu yang Allah melarangNya. Ngerti kan?" tanya Zhain seusai menjelaskan.
"Oh, jadi maksudnya sesuatu yang baik buat diri kita itu artinya Rahmat dari Allah?"
"Yes, benar sekali." jawab Zhain sambil mengacungkan ibu jarinya tanda setuju.
"Wah,,, berarti orang yang saya tolong itu benar - benar beruntung ya." timpal Lukaman.
"Ko begitu?" tanya Zhain memperjelas.
"Ya kan punya istri yang mengerti tentang agama bos." jawab Lukaman seknanya. Di sela - sela obrolan mereka tiba - tiba gawaI Zhain pun berbunya pertanada ada seseoramg yang meneleponnya.
Siapakah yang menghubungi Zhain?
Jangan - jangan Zhainab gadis yang mencintainya stengah mati..udah lah gak usah keppo.
__ADS_1
jawbannya....next part selanjutnya...