
"Setiap hari minggu Bunda ikut pengajian di salah satu Majlis di kampung sebelah. Dan Bunda harap kamu mengikuti pengajian itu bersama bunda sampi kamu di anggap layak untuk menikah dengan anak Bunda. Bagimana?" tanya Fatimah lagi.
"Hah,, ikut pengajian?"
"Iya apa Nak Ross bersedia?"
"Jadi yang di maksud syarat itu ikut pengajian?" tanya Ross kembali. Seakan ia bingung dengan syarat itu.
"Iya, seperti itu 'lah kira 'nya." jawab Fatimah datar.
"Bagimana apa Nak Ross tidak sanggup dengan syarat itu?" sambung Fatimah, kembali ia memberondong 'kan pertanyaan pada calon mantu 'nya.
"Bu - bukan, bukan begitu Bun, maksud saya, apa tidak ada syarat yang lain selain itu?" jawab Ross asal. Ya, ia asal mengucap kalimat itu, hingga tanpa ia sadari kalau kalimat itu seakan menagagap sepele tentang syarat itu.
"Apa syarat yang ini terlalau ringan buat Nak Ross?"
"Bu - bukan begitu juga Bun!," jawabnya lagi, gugup.
"Aissh!!, kenapa bibir ini asal jeplak aja sih, kan jadi salah faham. Ross kendalikan hatimu. Pelase!!." gumam 'nya bermonolog dalam hati.
"Ya sudah, kalau Nak Ross memang serius mencintai anak Bunda, maka Nak Ross harus menyanggupi syarat itu-" ujar Fatimah menggantung.
"Saya sanggup, saya sanggup Bun." timpal Ross dengan cepat sebelum Fatimah menyelesaikan kalimat 'nya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Seperti 'nya beberapa menit lagi pengajian 'nya akan segera di mulai."
"Baik Bun."
"Biasanya Zhain yang mengantar 'kan Bunda, tapi entah kenapa kali ini dia berangkat ke pasar pagi - pagi sekali." ucap Fatimah ketika sudah berdiri hendak memakai alas kaki di tangga teras.
"Naik mobil Ross saja Bun." jawab Ross memberi usul.
"Apa tidak terlalu mencolok, soalnya Bunda belum pernah ke pengajian di antar oleh mobil, apalagi mobil semewah ini." ujar Fatimah seraya takjub memandangi mobil Audy yang terpakir di bawah pohon rambutan yang rindang.
__ADS_1
"Saya rasa tidak mengapa Bun, toh gak tiap heri juga kan."
"Ya sudah kalau memang mau Nak Ross begitu."
Usai itu Fatimah dan Ross pun masuk ke dalam mobil di bagian jok belakang, yang sebelumnya Didit telah membukakan pintu bagian belakang.
Akhir 'nya mobil Audy berwarna hitam mengkilap itu pun berjalan perlahan untuk menuju Majlis ta'lim di mana acara pengajian yang Fatimah ikuti di setiap pekan 'nya.
Ts terasa mereka pun sampai ke tempat tujuan.
"Silahkan Bun." ucap Ross setelah membukakan pintu untuk calon ibu mertua 'nya, ketika mobil telah sampai di depan Majlis yang sudah mulai ramai di kunjungi para jema'ah khusus 'nya ibu - ibu.
Sementara Didit yang menyaksikan itu hanya senyum - senyum sendiri lantaran terkesan lucu dan aneh atas sikap Nyonya muda 'nya itu.
"Trima kasih Nak." ucap Fatimah setelah berdiri di dekat pintu mobil yang masih terbuka. Lekas Ross pun menutup kembali pintu mobilnya dengan perlahan.
"Ya sudah ikuti Bunda yuk." ajak Fatimah kemudian. Namun sebelum mereka berdua berjalan untuk masuk kedalam Majlis, dua ibu - ibu yang berpenampilan ngejreng menyapa mereka dengan ceria.
"Waaah, Bu Fatimah ini beneran ibu?" tanya si ibu dengan hijab berwarna merah menyala dan kalung emas panjang hingga ke dada.
"Eh, iya lupa. Wa'alaikumsalam." jawab Ibu Sri sembari senyum cengengesan.
"Bu Fatimah, tumben nih di anterin pake mobil. Kayak 'nya baru dapet gusuran ya?" tanya si ibu berhijab biru dengan gelang yang cukup banyak di pergelangan tangan 'nya hingga menimbulkan suara seperti kecrek (alat musik dangdut).
"Ini mobil Nak Ross. Oh iya Jeng Sri, Jeng Dewi, kenalakn ini Nak Ross pemilik mobil yang sudah mengantarkan saya kesini, dan sepertinya Nak Ross juga mau ikut pengajian di sini." ujar Fatimah memperkenalkan calon menantu 'nya.
"Kenapa gak bilang calon mantu aja sih Bun, itu kan lebih indah kedengeran di telinga Ross," kata hati 'nya membatin.
"Rossdiana, panggil saja Ross." ucap 'nya ketika ia menyalami kedua perempuan paruh baya itu.
"Masya Allah,, cantik sekali." kamu pasti anak orang kaya, siapa orang tuamu Nak?" tanya Jeng Sri seraya mata 'nya terbuka lebar memperhatikan Ross dari bawah hingga atas. Begitupun dengan Jeng Dewi, mata 'nya terpana dengan penamilan Ross seakan baru kali ini ia melihat wanita secantik itu.
"Suadah Jeng nanti saja ngobrol 'nya, seperti 'nya pengajian 'nya akan segera di mulai. Kami permisi masuk lebih dulu ya." ujar Fatimah seraya menarik tangan Ross dengan lembut dan berjalan masuk ke dam Majlis yang sudah banyak para ibu - ibu duduk bersender di dinding.
__ADS_1
Sementara di bagian depan ada sebuah meja kecil di mana ada seorang wanita cantik berhijab abu - abu yang senada dengan gamis 'nya tengah duduk menghapa pada meja kecil tersebut. Ya dialah Zhainab teman masa kecil Zhain ketika menimba ilmu di pondok pesantren, di mana si pemilik pesantren adalah ayah dari pada Zhainab. Ya Zhainab gadis yang mencintai Zhain sejak kecil hingga kini, namun sayang seribu kali sayang rasa cinta 'nya yang begitu besar tak sebanding dengan sambutan yang di berikan oleh Zhain, ya Zhain hanya menganggap 'nya sebagai adik tak lebih dari itu.
Sementara Fatimah dan Ross bersalaman mengitari sisi diding Majlis yang di mana para jema'ah lain 'nya sudah duduk bersandar di dinding Majlis. Usai bersalaman, Fatimah duduk tepat di sebelah kanan Zhainab yang masih kosong dan di susul Ross di sebelah 'nya.
"Bunda apa kabar?" sapa Zhainab usai memberi tempat duduk pada Fatimah.
"Alhamdulillah Bunda baik - baik saja." jawab Fatimah dengan nada lembut.
"Siapa perempuan cantik ini?, kenapa dia begitu akrab dengan calon ibu mertua?," gumam Ross membatin.
"Syukurlah kalau begitu." jawab Zhainab kemudian.
Tak lama Zhainab pun memulai pengajian 'nya dengan membuka satu kitab kuning yang biasa ia bawa ketika dedang mengajar.
"Siapa sebenarnya wanita ini? selain akrab dengan ibu dari Mas Zhain rupanya ia juga seorang Ustadzah. Luar biasa, sudah cantik, pintar, anggun dan tutur bahasa 'nya sopan dan penuh wibawa." kembali kata hati Ross bermonolog.
Tak terasa pengajian pun usai yang di mana pengajian kali ini membahas tentang bab Taharoh (bersuci). Dan tibalah kini sesi tanya jawab dari para jema'ah.
Di luar dugaan Ross memberanikan diri untuk bertanya, sampai Fatimah tak percaya melihat 'nya. Ya bagaimana mungkin seorang jema'ah yang masih baru dan paling muda di antara jema'ah yang lain, ia sudah berani berta 'nya pada sang Ustadzah.
"Mbak Ustadzah, boleh 'kah saya berta 'nya meski pertanyaan saya di luar tema pengajian ini?" ucap Ross dengan mengangkat jari telunjuk 'nya.
Mendengar yang bertanya tak jauh dari 'nya yang hanya terhalang oleh tubuh Fatimah, Zhainab pun menengok ke arah kanan untuk mengetahui siapa gerangan yang berta 'nya.
"Oh, iya silahkan, apa yang akan saudari tanyakan?, dan sebutkan nama saudari." jawab Zhainab dengan lembut.
"Nama saya Rossdiana. Jadi begini Mbak Ustadzah, Ada seorang wanita yang boleh di katakan jauh dari kata shalihah, namun ia mencintai seorang pria yang sangat sholeh di mata 'nya. Pertnyaan saya. Apakah pantas wanita seperti itu mengharapkan calon suami seperti yang di cintai 'nya?, andai agama membolehkan hal itu, apa yang harus di lakukan oleh si wanita itu agar bisa di katakan pantas bila bersanding dengan pria itu?" tanya Ross panjang lebar.
Sementara seluruh mata para jema'ah yang terdiri dari para ibu - ibu itu tertuju pada gadis yang tengah berta 'nya itu. Selain mereka kagum dengan kecantikan gadis itu yang berbeda dari yang lain, mereka juga kagum dengan keberanian gadis itu untuk berta 'nya langsung pada sang Ustadzah.
Namun ada yang terusik hati 'nya dengan pertanyaan gadis itu. Ya dia lah Fatimah, ia merasa pertanyaan itu tak perlu semua jema'ah tau karena ia yakin pria yang ada di kalimat Ross yang di tanyakan, adalah putranya sendiri.
"Nak Zhainab, saya rasa jawaban dari pertanyaan itu lain kali saja di jawab 'nya. Alangkah baik 'nya kita menikmati hidangan saja terlebih dahulu." cegah Fatimah ketika Zhainab hendak menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan hati Fatimah, kenapa ia mendadak sensitif dengan pertanyaan Ross...
Next,,,part 42 Ross jadi murid Zhainab.