
Ross, ayo!!" ucap Nataly sambil menarik tangannya Ross.
Sementara Rita sudah berlalu menuju tempat pendaftaran, tujuannya hanya sekedar menanyakan di mana posisi keluarganya berada.
"Lo susul aja Rita sana, tar gue tlpon lo." ucap Ross, sedang matanya tetap menatap obyek yang ia sedang perhatikan.
"Udah lo sana gue ada urusan sebentar." dengus Ross, tangannya mendorong bahu Nataly agar segera menjauh darinya. Setelah itu ia pun segera pergi ke sisi kanan mushhola, seakan hendak bersembunyi. Ia tidak perduli dengan hiruk pikuk orang yang berlalu lalang, karena hari itu kebetulan pengunjung yang hendak berobat lumayan ramai.
"Gila tuh anak, ada angin apa dia tiba-tiba ke Mushola?, kenapa dia mendadak tobat?" gumam Nataly membatin. Karena takut kehilangan jejak Rita, ia pun segera berjalan untuk menyusulnya.
Sementara Zain sudah masuk ke dalam Mushola untuk melakukan Ibadah sholat Ashar.
"Gue nunggu di sini aja lah, dari pada kehilangan jejak tuh cowok ganteng." isi hati Ross. Rupanya ada sesuatu yang ia rencanakan untuk Zain pujaan hatinya itu. Usai sholat dan berdoa sebentar, Zain pun keluar perlahan dari Mushola, duduk di teras Mushola sambil memakai sepatunya. Namun ia di kejutkan dengan suara tepukan di bahunya.
Dasar Ross gak tau malu sok kenal sok dekat, padahal ia baru petama betemu dengan Pemuda beparas ganteng itu.
Puk!!, satu tepukan tangan ke pundaknya Zain.
"Lagi ngapain Mas?" tanya Ross, bibirnya tersenyum manis bak gula jawa.
"Atagfirullah!!" raeaksi Zain merasa shock. Semantara si pelaku malah duduk si samping Zain dengan posisi cukup dekat,.meski tidak bersentuhan.
"Nona sedang apa di sini?" tanya Zain, kedua tangannya begerak mengikat tali sepatunya masing-masing.
"Mas kalau di tanya jangan balik tanya dong, gimana sih." protes Ross.
Sementara wajah Zain bersemu merah karena merasa malu dengan situasi utu, karena kini mereka jadi objek pandangan orang-orang yang berada di tmpat itu.
__ADS_1
''Maaf Nona Ross, saya sedang buru-buru. Assalamualikum." ujar Zain, ia lekas berdiri lalu berjalan hendak meninggalkan Ross. Rupanya rasa malunya cukup mendominasi kepalanya, oleh karena itu ia segera pergi agar tidak menjadi pusat perhatian orang.
Tapi apakah Ross akan menyerah?, tentu tidak bukan Rosdiana namanya kalau tidak berbuat nekat.
Ross pun lekas berdiri dan segera menyusul Zain. Tangannya lekas meraih lengan Zain dan berucap.
"Mas bisa gak sih gak ngehindarin gue?, ni cepet ketik no hp mas." ucap Ross sembari menyerahkan gawainya yang sebelumnya sudah ia buka kunci layarnya dengan menghadap 'kan ke wajahnya. Namanya juga orang kaya, canggih bener kan hp nya. Karena tak mau terlalu lama di perhatikan orang,Zain pun menerima gawai itu, namun sebelum ia mengetik no handphon 'nya, lekas ia berucap.
"Saya akan berikan, tapi janji jangan ikuti saya lagi." ujar Zain dengan suara lembutnya, namun penuh penekanan.
"Ok tenang aja, gue janji. Suuer!!" timpal Ross dengan tersenyum seakan tak merasa salah sedikit pun. Sementara kedua jari kanannya ia acungkan ke atas, deekat dengan telinga kananya.
"Ini, jangan ganggu saya lagi, saya sedang sibuk. Permisi." ucap Zain. Kemudian ia pun segera berlalu hendak menuju ruang perawatan Derry.
"Yes, akhirnya dapet juga." gumam Ross membatin.
"Hallo Nat lo di mana?" tanya Ross melalui saluran telepon.
"Ok gue langsung ke situ." ucap 'nya, lalu ia berjalan ke arah meja pendaftaran.
"Permisi pak, kalau ruangan no 7 dimana ya?" tanya 'nya pada petugas pendaftaran.
"Non jalan aja ke arah lorong kiri, nanti di situ terlihat angka 7 di atas pintunya." jawab petugas pendaftaran.
"Kalau bgitu terima kasih Pak." timpal 'nya. Ia pun lekas berjalan menuju ruangan tersebut.
Namun sebelum ia tiba di ruangan ke tujuh, ia mendengar suara dari ruangan enam yang tak asing di telinganya. Karena penasaran Ross pun menghampiri pintu yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Gue gak sabar pengen cepet sembuh Rat, supya bisa bales dendam ama tuh cewek songong." ucap seorang gadis yang bernama Siska yg pernah di hajar oleh Ross, lantaran ia suka membuli gadis lemah di kampus tempat mereka kuliah.
"Kalau lo mau bales dendam ama si Riss, ngapain nunggu lo sembuh, belum tentu lu berobat di sini juga bisa cepet sembuh, buktinya berobat ke dokter aja masih belum ada perubahan." ujar Ratih mempropokasi, ia teman dekatnya Siska, yang karakter 'nya sebelas dua belas.
"Maksud lo apa?, lo gak suka liat gue sembuh?" jawab Siska kesal. Di leher 'nya telah terpasang sebuah alat penahan gerak. Rupa 'nya setelah dokter memeriksa lebih dalam urat leher Siska ada yang bermasalah, karena di saat Ross menjambak rambut Siska, kepala 'nya tertarik ke belakang hingga menengadah dan membuat urat lehernya tekilir.
"Lo jangan salah faham dulu dong Sis, mksud gue knpa gak lo pake uang jajan lo buat bayar orang?, spya lo bisa bales dendam ke tu cewek." timpal Ratih melanjutkan propokasi 'nya. Mendengar itu Siska yang sedang bersandar di ranjangnya membuka mata lebar-lebar, seolah ide temannya itu cukup berlian, karena memang ide itu sama sekali tak terpikirkan olehnya.
"Bener juga apa yg lo bilang, tapi gue gak punya kenalan orang itu." ucap Siska sambil matanya melirik ke arah Ratih.
"Lo tenang aja, gue punya kenalannya ko, lo siapin aja duitnya. Gimana?" tanya Ratih mempertegas.
"Ok,.gue tunggu kabar dari lo, tapi gue gak mau ada kata gagal." ucap 'nya dengan lirih karena ia sebenarnya masih belum bebas begerak, hingga membuat gerak bibirnya terbatas.
"Oo, jadi lo belum kapok juga ya?. Ok gue tunggu aksi lo." gumam Ross mebatin. Kaki 'nya yang jenjang melangkah untuk menuju ruang no 7.
"Lo ke mana aja sih Khai, sebenernya lo habis ngapain?" ucap Nataly, dengan sifat keponya yang mendarah daging.
"Sorry guys, gue ada urusan.'' jawabnya sambil cengengesan, meski tak melunturkan kecantikannya.
"Kamu kebiasaan Riss, kalau masuk tuh salam dulu, jangan main selonong aja." ujar Rita sahabatnya denga lembut.
"Hehehe, sory Rit gue gak sengaja. Ya udah Assalamualaikum." ucapnya, mengikuti saran sahabat sholehahnya. Ia pun menyalami satu persatu orang yang ada di dalam, di awali dengan Rita, Ayah Rita dan Ibu 'nya Rita yang tengah berbaring di ranjang pasien.
"Lo gak nyalamin gue?,.sentiman banget sih lo ma gue." dengus Nataly sambil memanyun 'kan bibirnya karena kesal.
"Sudah jangan bertengkar nanti yang sakit mersa tergangu." ujar Ayah Rita dengan suara baritonnya, namun tetap bersahaja.
__ADS_1
Usai menanyakan tentang kejadian dan kondisi terkini Ibu Rita, Ross pun pulang dengan Nataly. Namun sblum 'nya ia berjanji akan membantu biyaya pengobatan ibu dari sahabatnya itu.
Next,,, part 13.