Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 14 Derry dan Junaidi


__ADS_3

''Eh iya maaf Mas." ujar Ross tersipuĀ  malu. "Kalau gitu Saya pamit dulu, Assalamualaiku." kata terakhir Zain terucap dari bibirnya yg sedikit kemerahan lantaran tak meroko.


"Wa'alaikumsalaam." jawab Ross. Pembicaraan merekapun berakhir dengan menutup telpon masing-masing.


Di Rumah Junadi/Bang junet (mantan ketua preman).


Brug!!, suara pintu mobil yang di tutup oleh seorang laki-laki berwajah sangar, ada sebuah goresan(codet) di bawah dagunya, itu adalah bekas luka ketika dulu ia berebut area kekuasaan dengan musuh-musuhnya. Dia 'lah Bang Junet, nama kebesarannya yang terkenal seantero kota. Rupanya ia baru menjemput anaknya yang sudah di nyatakan sembuh oleh Abah Dul, beliau adalah ahli pengobatan alternatif khusunya menangani masalah urat dan tulang.


Dengan berjalan santai Junaidi memapah anaknya turun dari mobil Pajero sportnya, meski ia tak suka dengan karakter anaknya yg tempramental dan tidak bisa mengendalikan emosianya, namun kasih sayangnya tak pernah luntur. Karena ia sadar bahwa watak anaknya mungkin duplikatnya dulu sewaktu ia masih muda.


"Lain kali kontrol emosimu jika menyikapi suatu masalah, karena jika kamu tak bisa mengendalikan emosimu, kau hanya mampu menggunakan ototmu tapi tidak dengan akal sehatmu." kata Junaidi memulai berdialog dengan Derry, setelah Ayahnya membantu Derry duduk di atas sofa ruang tamu di dalam rumah yang megah berlantai dua. Rumah itu Junaidi bangun dari penghasilanya bsebagai ketua Preman.


"Aku tau, mungkin pandangan Ayah salah tentang sikapku, tapi apakah Ayah tak berfikir kalau aku juga mau seperti Ayah?, memiliki anak buah yang begitu banyak, di segani banyak orang." ujar Derry merespon pembicaraan Ayahnya.


"Ayah bukannya tidak mau memberikan jabatan itu, tapi Ayah tau dan yakin sekali, kalau kamu tidak akan mampu Nak." ucap Junaidi dengan lembut.


"Kenapa Ayah tutur katanya bgitu lembut, tak seperti biasanya kasar dan segala jenis bintang di keluarkan dari mulutnya, karena aku tau, sebenarnya ayah sedang marah padaku." gumam Derry, membandingkan sikap ayahnya antara dulu dan kini.


"Sudahlah Nak, jangan kau mempermasalah kan masalah ini lagi. Ayah yakin suatu saat nanti Zain akan memberikan jabatan itu untuk kamu meski ayah tak meminta itu padanya." timpal Junaidi.


"Tapi samapai kapan Yah?, aku sudah menantikan hal itu sejak lama." jawab Derry penuh penekanan. Tak terjeda kalimat itu langsung di sambung Sang ayah dengan mimik muka yang begitu Marah.


"Sampai kamu mampu merubah sikapmu yang selalu bertindak gegabah. Istirahatlah mungkin sebentar lagi istrimu datang." ujar Junaidi dengan suara sedikit keras kemudian berlalu meninggalkan putranya.


Rupanya ia menuju musholah kecil di lantai satu, yang dulunya ruangan itu ia gunakan untuk mengerjakan beberapa laporan keuangan pajak dari para pedagang. Namun kini ruangan itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat, yang kini menjadi Mushola mini untuknya bermunajat kepada Allah. Pria yang kini berusia hamipir enam puluh taun itu yang kini selalu mengenakan baju koko, sarung dan peci hitam itu pun memasuki ruang kecil di mushhola itu untuk berwudhu. Rupanya ia akan menjalankan sholat sunnah dhuha, karena kebetulan waktu menunjukan pukul sepuluh pagi.

__ADS_1


Sementara Derry tercengang matanya ketika ia melihat ibunya datang menghampiri sambil membawa minuman jus melon. Ya itulah minuman kesukaan Derry sejak kecil.


Ia kaget lantaran penampilan sang bunda yang berbeda dari biasanya yang kini mengenakan pakaian syar'i.


"Derry gimana kabarmu Nak?" tanya Rosa, ibunda Derry. Wanita berusia kurang dari lima puluh tahun itu yang kini mengenakan baju gamis dan hijab panjang, memberikan gelas minuman pada anaknya.


"Ma,ini bener mama?".tanya Derry, dengan intens matanya menatap bundanya. Ia masih belum percaya dengan penampilan Bunda 'nya yang kini memakai hijab beserta baju gamis yang cukup longgar.


"Kamu itu kebiasaan, kalau di tanya bukannya jawab malah balik nanya." jawab Rosa, kemudian ia duduk di samping putra pertamanya itu.


"Masih agak sedikit sakit sih ma, tapi lumayanlah sudah bisa digerakan walau sedikit. Ini semua gara-gara keponakan kesayangan ayah Ma." ujar Derry, ia menekankan kalimat akhir seakan ia masih tak tetrima dengan hal itu.


"Derry, cobalah mulai bersikap dewasa dalam menanggapi suatu hal. Ibu juga tidak menyalahkan ayahmu kenapa jabatan Ketua pengendali Keamanan Pasar tidak di berikan kepada 'mu?, karena dalam hal ini kamulah yang tidak bisa mengambil hati ayah 'mu." ucap Rosa pada anaknya.


"Ma, kenapa sih mama membenarkan keputusan ayah?. Apa mama sudah gak sayang lagi sama Derry." cicit Derry manja seperti anak kecil.


"Maksud mama?" tanya Derry penasaran.


Tak lama sebuah mobil datang dan behenti di depan rumah mewah berlantai dua itu.


"Sudahlah. Mama yakin suatu saat kamu mengerti. Itu istrimu datang, sambutlah dia. Mama mau bantu si Embo dulu masak." ucap Rosa seraya berlalu menuju ke arah dapur.


"Assalamualaikum Mas." ucap Fatma pada suaminya. Wanita berhijab syar'i berwajah teduh itu menyambut uluran tangan suaminya dan mencim takzim punggung suaminya.


"Ngapain lo kesini, lo seneng kan dengan kondisi gue saat ini?" ujar Derry usai ia bersalaman dengan Fatma, istrinya.

__ADS_1


Bukannya marah atau apa dengan respon suaminya, Fatama malah tersenyum menampakan senyum terindahnya. Baginya sudah kebal dengan kata-kata culas dari suaminya.


"Saya hanya ingin menjenguk dan menjemputmu Mas, dan maaf aku gak bisa full menemanimu di tempat pengobatan, karena aku juga harus kuliah.


"Halah, persetan dengan kuliahmu." timpal Derry dengan.


"Astagfirullah. Mas, kenapa sih kamu selalu kasar denganku,naku ini istrimu mas. Aku sadar mas, kalau mas gak cinta sama aku karena kita korban perjodohan. Tapi setidaknya jangan mas tunjukan rasa bencimu padaku di depan keluargamu mas. Apa kata Ibu dan Ayahmu jika mereka mendengar pertengkaran kita?. Mas boleh marah atau benci sama aku tapi aku mohon jangan di lakukan di rumah ini." ucap Fatma dengan suara lembutnya. Karena tak ingin melanjutkan pertengkaran itu Derry kemudian berucap.


"Uadahlah, gak usah banyak bacot lo, sana bantuin mama di dapur." kata Derry penuh penekanan memberi perinta pada istrinya.


Mendengar ucapan dari suaminya seperti itu, ia pun bergegas menuju dapur untuk membantu Rosa yang sedang memasak dengan Si embo ART keluarga Junaidi.


Flash back


"Fatma Ayah mohon kamu jangan menolak perjodohan ini." ujar Ayah Fatma dengan suara lembut. Yang kala itu sang anak sedang menempuh pendidikan di Pesantren salafi Roudhotul ilmi, yang di mana di situ pula Zain Al - Ghifari belajar agama.


"Abah, masalahnya bukan pada mau atau tidaknya, tapi aku sama sekali gak kenal dengan pria yang mau Abah jodohkan itu." ucap Fatma lembut, tak lebih tinggi dari suara Ayahnya.


"Namanya Derry Nak, dia anak sahabat Ayah, orangnya lumayan ganteng dan kata Ayahnya dia sudah bekerja." ujar Ayah 'nya Fatma.


"Tapi Yah, apa gak secepat ini Fatma nikah?,kuliah aja fatma baru semester satu Yah." timpal Fatma.


"Justru karena kamu baru masuk kuliah nanti calon suamimu bisa membantu biaya kuliahmu. Mau ya Nak, dan nanti ayah bisa minta modal usaha sama calon mertua kamu. Kamu tau, sahabat Ayah itu cukup kaya." ucap Sang ayah melanjutkan.


"Aku tau belum bisa membahagiakan keluargaku, terutama kau Ayah, tapi apakah harus dengan cara seperti ini yang harus aku tempuh. Ya Allah jika ini jalan terbaik untuku permudahkanlah, namun jika ini buruk di matamu, tolong berilah hamba kekuatan." guamam Fatma dalam hatinya. Lantas ia pun berucap.

__ADS_1


"Baiklah ayah, izinkan Fatma bertemu dengan calon suami Fatma, setelah itu Fatma serah 'kan semua keputusan pada Ayah.


"Alhamdulillah, kalau begitu nanti ayah kabari kamu kapan kalian akan di pertemukan." jawab ayahnya dengan senyum mengembang tanda bahagila.


__ADS_2