Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 9 Marahnya Derry


__ADS_3

Sambil menunggu pemasangan ban serep mobil 'nya, tanpa di sadari Zain, Ross berkali - kali membidik 'kan kemera handphone 'nya ke arah Zain dan memotret 'nya.


Ckrek,ckrek,ckrek!!.


"Yes!!. Kapan lagi hp gue berisi foto cowok keren secara real dan nyata, bisa ngobrol bareng lagi, udah ganteng, penolong pula.Ternyata bener kata orang di balik musibah pasti ada hikmah 'nya." gumam Ross membatin, seraya bibir 'nya yang tipir tersenyum manis.


Sambil memandangi gawai 'nya, Ross di kagetkan dengan suara bariton 'nya Zain, namun masih terdengar lembut di telinga Ross.


"Kenapa senyum - senyum?" tanya Zain, tak sengaja pandangan mata 'nya melihat bibir mungilnya Ross yang tersenyum manis. Rupanya ia sudah beres menggati ban mobilnya Ross.


"Eh, gak, gak apa - apa kok." jawab 'nya sambil cengengesan, lekas ia memasukan gawainya ke saku celananya.


"Mmm, udah beres ya?, ngomong - ngomong Mas dari mana?" sambung Ross lagi.


"Saya dari pasar dan mau pulang." ucap Zain. Lekas membalikan badan hendak menuju motornya. Namun langkahnya terhenti.


"Eh,, tunggu mas!!" sergah Ross seraya mengangkat tangannya seakan ingin meraih lengan Zain, namun ia urung 'kan.


"Maaf, terima kasih atas pertolongan mas, tapi boleh gak gue minta tolong satu kali lagi, boleh ya please!!!" sambung Ross kembali, kedua tangannya ia tangkupkan di depan dada seakan memohon.


"Tapi saya buru-buru, takut kehabisan waktu, saya belum sholat ashar." jawab Zain jujur.


"Ok!!, sebentar aja ya, ok!," ucap Ross lagi.


Karena tak ingin membuang waktu Ross segera merogoh saku celananya hendak mengambi gawainya, setelah itu ia memberikan gawainya kepada Zain.


"Ini,, tolong simpan no hp mas di hp ini" ucap Ross.


"Untuk apa?" tanya Zain.


"Mas kan udah nolongin gue, karena mas 'nya buru - buru, jadi ga mungkin dong gue bales kabaikan mas sekarang, jadi suatu saat gue ingin bertemu dengan mas dan membalas kebaik mas. Gimana?" tanya Ross lagi.


"Masalah 'nya saya gak punya nomor hp, jadi maaf, saya ga bisa." ucap Zain kemabali.


Sebenarnya pamannya sudah membelikannya gawai, hanya saja sang Paman lupa memberikannya pada Zain, karena waktu itu ia sibuk membawa keponakan 'nya itu keliling pasar, jadi hanya konci motor dan motor itu lah yang di berikan sang Paman.


"Apa?, jadi mas ga punya hp?" tanya Ros sedikit tak percaya.


Zain pun bergegas menaiki motornya seraya berucap.


"Maaf Naona Ross, saya buru-buru, hati-hati bawa mobilnya. Assalamualikm." ia pun segera menjalankan motornya.


Sementara Khai.

__ADS_1


"Wa - wa'alaikumsalam, astaga kenap ni orang susah banget di deketin sih?, udah kalo ngomong gak mau liat muka cantik gue lagi, udah gitu maen pergi aja lagi." dengus Ross sedikit kesal.


Lekas Ross masuk ke dalam mobilnya kemudian melanjutkan perjalanan pulang 'nya.


Ke esokan harinya Zain sedang duduk bersandar di bangku kebesarannya, bangku itu khusus yang biasa di gunakan untuk Junaidi duduk ketika bertugas sebagai Ketua Preman, atau Ketua Keamanan Pasar. Kedua tangannya ia letakan di atas meja.


Sambi menikmati teh kesukaanya yang di sediakan anak buahnya, ia di kagetakan dengan suara pintu depan yg terbuka dengan cukup keras.


Braak!!!.


"Di mana ketua baru itu?" tanya Derry, anak sulung 'nya Junaidi pamannya Zain pada Rudi yang biasa menjaga kebersihan gedung, atau Markas Keamanan Pasar yang berlantai dua itu.


"Ba - Bang Maher ada di dalam Bang." jawab Rudi mersa ketakutan, karena Derry memeng di kenal pemarah dan tempramental.


Mendengar suara ribut di bawah, Zain pun segera keluar dari ruangan 'nya dan langsung turun ke lantai dasar.


"Rudi, ada apa ini?" tanya Zain langsung.


"Ini Bang, Bang Derry nanyain Abang." jawab Rudi, apa adanya.


"Oh,, Assalamualaikum Der. Gimana kabrnya?" sapa Zain kemudian.


Bukan 'nya menjawab Derry malah memasang muka marahnya seraya berucap.


"Gak usah basa basi lo, gue mau ngomong sesuatu sama lo." ucap Derry, penuh penekanan.


Derry pun ikut ke lantai atas memasuki ruangan kerja sang Ketua Preman itu.


"Silahkan duduk." ujar Zqin, sebelum ia duduk di kursi kebesaran 'nya.


Bukan 'nya duduk Derry malah mengebrak meja sang ketua sambil membisikan kalimat.


"Gak usah sok baik lo sama gue, dari dulu gue gak seneng sama lo, karena Ayah selalu memprioritaskan lo. Dan sekarang lo udah berani ngerebut jabatan yang mestinya jabatan itu untuk gue." ucap Derry perlahan, namun di barengi dengan sorot mata yang cukup tajam seakan murka.


Melihat itu, Zain sama sekali tak mersakan takut sedikit pun, baginya kemarahan Derry adalah sesuatu hal yang wajar. Lantas ia pun tersenyum seraya berucap.


"Santai Der, kita bisa bicarakan ini dg baik-baik, karena bagaimanapun kita masih saudara, duduklah dulu, jangan emosi berlebihan." ucap Zain dengan tenang dan berwibawa.


Mendengar hal itu Derry semakin murka karena merasa di ajari oleh sepupu 'nya yang selama ini ia benci. Lantas ia meraih kerah kemeja Zain sambil berkata.


"Dari dulu gue paling benci sama lo, dan sekarang kebencian gue benar-benar gak kebendung. Gue tunggu lo di belakang kantor pemasaran, kita duel siapa yang menang dia yang berhak menjadi Ketua Keamanan di sini." ujar Derry penuh tantangan.


karena merasa di sepelekan, Zain pun menarik tangan Derry agar terlepas dari kerah bajunya, reflek Derry pun melepas genggaman 'nya.

__ADS_1


"Duel?" tanya Zain sambil tersenyum dan menggeleng - gelengkan kepala 'nya, lalu melanjutkan kalimat 'nya.


"Gak perlu kamu beduel dengan saya kalu kamu mau jabatan ini. Tanya saja pada Ayahmu, mau ga Beliau menyerahkan 'nya sama kamu?, kalau Paman setuju, saya dengan suka rela menyerakan jabatan ini ke kamu." ucap 'nya terjeda, kemudian ia melanjut 'kan kalimat 'nya.


"Saya juga gak mau dengan jabatan ini,.bahkan sama sekali tidak terfikirkan di benak saya sebelumnya. Ini murni keinginan Ayahmu, jadi kenapa kamu mesti repot - repot ngajak berduel dengan saya, tanyakan saja langsung dengan beliau." ucap Zain menjelasakan panjang lebar.


"Gak usah banyak bacot lo, sekarang gue tunggu di belakang kantor pemasara." ujar Derry penuh emosi, kemudian ia berlau dari hadapan Zain.


BRUUK!!!


Suara pintu di hentakan dengan keras oleh Derry. Kemudian ia keluar dari ruangan Zain dengan muka kemarahan.


Sedang Zain tetap duduk tenang di kursinya, lalu ia meraih gawainya dari dalam laci bawah mejanya, yang tadi pagi Pamannya sudah memberikannya.


Tak lama ia pun menekan tombol panggilan.


"Assalamualaikum Bang Roki." sapa Zain, membuka pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam ketua. Ada apa ketua menelpon saya?" tanya Roki di seberang sana.


"Biasa aja Bang, jangan panggil saya seperti itu." jawab Zain merasa tak enak hati.


"Tidak ketua, siapa.pun yang menjadi ketua kami, kami harus menghormati :nya, salah satunya dsngan panggilan itu." jawab Roki melanjutkan.


"Ya sudah terserah Abang saja. Oh iya, Gimana keadaan blok yang Abang jaga masih terkendali kan?" tanya Zain kemudian.


"Aman ketua." jawab Roki singkat.


"Bang, tadi saya kedatangan Derry, sepertinya dia tidak senang dengan di angkatnya saya menjadi ketua di sini, tadi dia menangtang saya untuk berduel di belakang kantor pemasaran. Saya hanya minta saran sama Abang, karena Abang orang yang paling dekat dengan Paman saya, selain lebih tua dan lebih berpengalaman dari saya. Apa yang harus saya lakukan Bang?" ucap Zain, namun sedikit pun tak ada nada ketakutan dari suaranya.


"Maaf ketua, Apa ketua takut dengan tantangan Derry?" tanya Roki di seberang sana. Rupanya ia menyangka ketua barunya seorang penakut hingga meneleponnya untuk meminta bantuan.


"Tidak Bang, sama sekali tidak" jawab Zain menegaskan.


"Menurut saya,.kalu ketua tidak takut,.ketua harus menerima tantangan 'nya karena itu menyangkut harga diri ketua, kalau urusan Bang Juned Paman 'mu biar saya yg menjelaskan."timpal Roki di seberang sana.


"Baiklah, saya hanya ingin Abang hadir di tempat itu sebagai saksi,karena saya tidak mau di salahkan andai Paman menyalahkan saya.


"Baiklah Ketua, sekarang juga saya akan menuju ke sana, tapi apakah ketua tidak akan terluka, karena maaf!! bukannya saya menakuti ketua. Setidaknya Derry pernah menjurai pencak silat tingkat kabupaten ketua." ucap Roki kembali menjelaskan.


Mendengar hal itu Zain justru tersenyum seraya mengucap.


"Tenang saja Bang, In sha Allah saya bisa mengatasinya. Y sudah saya tunggu di belakang kantor pemasaran ya Bang." ucap Zqin dengan sopan.

__ADS_1


Setelah mengucap salam Zain pun menutup telponnya.


Next,,, part 10 Menegangkan... Pertarungan demi harga diri.


__ADS_2