
"Hah?." ucap Zhain, ia terkejut ketika sedang berjalan di cegat oleh sosok wanita berbadan semok, sintal dan berisi. Ya dia lah Ce Lala seorang janda pemilik etalase nomor 9 yang menjual berbagai produk kecantikan.
"Mas ganteeeng, mau kemana?"tanya Ce Lala dengan suara mendayu manja, yang sudah berdiri satu meter di depan Zhain.
"Ma - maaf Ce Lala, saya sedang buru-buru." jawab Zhain gugup, bukan ada rasa pada Ce Lala rasa gugup itu melanda, pasalnya ia malu lantaran semua mata tertuju pada keduanya.
"Huh dasar janda gatel, kalau liat pria ganteng aja langsung nyosor." ujar seorang Ibu yang menjual pakaian di etalase no 12.
"Wajar sih dia langsung nyosor, wong saya aja kalu gak punya suami pasti godain tuh brondong." ucap seorang ibu pula yang sedang nimbrung di etalase no 12.
"Yah lo mah sama aja centilnya kayak Ce Lala." jawab Ibu si penjual baju.
"Habis gantengnya itu lho gak ada banding seantero pasar." ujarnya seraya matanya tak berkedip memandang pesona seorang Zhain Al - Ghifari.
Sementara itu.
"Emang mau ke mana sih peke buru-buru segala?. Gimana kalau Mas ganteng saya pesanin kopi aja, mau ya?" tanya Ce Lala Si Janda semok. Tanpa menunggu persetujuan Zahin, ia lekas menarik tangan kanan Pemuda berparas bak Putra Mahkota kerajaan Timur Tengah itu secara mendadak.
Karena gerakan Ce Lala yang begitu cepat Zhain pun tak sempat menghindar, terpaksa ia mengikuti gerakan Janda yang berusia 31 tahun itu.
"Duduk sini ya Mas." titah Ce Lala seraya menyiapkan bangku kecil yang berbahan pelastik yang biasa di duduki oleh calon pembeli barang dagangannya, tepat di sisi depan etalase.
"Eit!!, nanti dulu, jangan buru - buru pergi gitu aja dong." ucap Ce Lala, sambil menekan kedua pundak Zhain ketika ia hendak berdiri kembali dari duduknya. Rupanya Janda genit itu tak rela jika berondong incarannya itu kabur meninggalkannya.
"Astagfirullah!!." gumam Zhain dalam hatinya, ketika ia melihat gundukan gunung kembar yang cukup besar terpampang di depannya dengan jarak yang cukup dekat. Ya di saat pundak Zhain di tekan tadi dengan kedua tangan Ce Lala dengan posisi yang saling berhadapan tentu menyisakan jarak yang sangat intim.
Deg, deg, deg!!, hentakan jantung Zhain sungguh tak terkendali. Bahkan keningnya yang putih mulus sudah basah oleh keringat dinginnya.
"Ya Tuhan jadi Ketua preman ini benar-benar perjaka ting-ting." gumam Ce Lala membatin. Tentu ia tau bagaimana respon seorang lelaki apabila ia goda, ia mampu membedakan mana laki-laiki yang berpengalam atau tidak dalam bercinta.
"Mas Zhai mau kopi, teh manis atau SU-SU?," ujar Janda berusia 31 tahun itu dengan lembut. Parahnya ketika ia ucpkan kata susu dada besarnya ia busungkan kedepan hingga semaki dekat dengan wajah Zahin yang sedang duduk.
__ADS_1
"Ti - tidak perlu repot-repot Ce." ucap Zhain terbata. Lekas ia palingkan wajahnya ke arah lain. Namum detik selanjutnya...
"Lho liat sini dong ganteng,," ungakap Ce Lala seraya memegang kedua pipi Zhain dengan kedua tangannya, agar tatapan Ketua preman itu kembali terarah padanya. Dengan situasi hati yang tengah tak menentu Zhain sungguh kehabisan ide untuk lari dari ulah Janda Shemok nan Centil itu.
"Mas pesen susunya dua ya." perintah Ce Lala pada tukang kopi yang biasa mangkal di situ. Namun ketika Ce Lala mengalihkan pandangen ke tukang kopi itu, Zhain menemukan ide, karena kebetulan ada kecoa tengah bergerak di bawah etalase, gegas tanpa rasa jijik Zhain pun menangkap kecoa itu dan melemparkan dengan cepat ke dada yang menyumbul milik si Janda Centil.
"Aaaaaaawwwk." teriakan Si Janda menggema seketika, seraya kakinya ia hentakan di lanta berkali-kali, sementara kedua tangannya menepuk - nepuk tubuhnya yang mengenakan baju model super ketat. Melihat hal itu Zhain tak menunda kesempat itu, ia begegas meninggalkan Ce Lala yang masih panik dengan kecoa yang sekarang entah berada di mana.
"Makanye kalau jadi jande tuh jangan kegatelan begono, udah berumur masih aje godain berondong." ujar seorang Ibu pengunjung Pasar dengan logat betawinya"
"Iya Sus, dikiranya Ketua Keamanan yang sekarang lelaki gampangan apa. Heh!!, Ce Lala perlu lo tau ya, Mas Zhai itu seorang Ustad, sedari kecil dia sudah di titipkan di sebuah pesantren oleh Pamannya yaitu Bang Junet." ungkap seorang ibu tetangganya Zhain, yang kebetulan sedang berbelanja kebutuhan pokok.
Dengan raut lesu dan malu, akhirnya Ce Lala masuk ke dalam kiosnya untuk bersembunyi dari cibiran orang-orang. Semantara Zhain terus melakah untuk menuju kantor perwakilan para pedagang, ia akan membicarakan penggalangan dana untuk anak-anak yatim piatu di tempat tinggalnya.
#####
Udara pagi yang berhembus begitu sejuk dan segar menyapa warga kota yang sudah mulai di sibukan dengan aktifitasnya. Tak terkecuali dengan Ross, pagi ini ia sungguh terlihat begitu ceria, bukan tanpa sebab keceriaanya kali ini, pasalnya menurut info yang ia dapat dari teman-temannya, bahwa Rita sahabat baiknya bertetangga dengan lelaki pujaan hatinya. Rupanya ia akan mengorek informasi dari Rita tentang pria yang kini bertahta di hatinya itu. Ya siapa lagi kalu bukan Zhain Al - Gifari
Selesai sarapan dan memohon iji pada Anjani dan Devindra, Ross lekas keluar dari rumahnya dengan penampilan elegan dan seksi. Masuk ke dalam mobilnya dan gegas menuju kampus tempatnya menuntut ilmu.
"Wiiih mantep bener penmapilan lo, kayaknya ada yang lagi happy ni." ucap Nataly sekenanya.
"Kenapa, emang ada yang beda dari aku?"tanya Ross,sambil jalan beriringan dengan Miss keppo.
"Nah itu, salah satunya cara bicara lo."
"Aku cuma ingin membiasakan aja, lagian suatu saat pasti aku akan sering berinteraksi dengan my herro ku."ucap Ross dengan yakin.
"Hah, maksud lo Mas Zhain?. Pede bener lo jadi cewe. Tapi kalau menurut gue sih lo bakalan kesulitan buat deketin dia." ucap Nattaly lagi.
"Terserah kamu lah Natt. Eh BTW kamu liat Rita gak?." tanya Ross sambil menghentikan langkahnya di depan Nattaly. Satu buah buku tebal ia dekap di dadanya.
__ADS_1
"Kayaknya dia udah di kelas deh." jawab Nataly jujur.
Tanpa ba bi bu Ross lekas menarik salah satu tangan Nattaly.
"Eh jangan buru-buru dong!, santai kenapa sih." cicit Nattaly kesal, namun ia tetap mengikuti tarikan tangan Ross.
"Udah kamu ikutin aja, bawel bener sih jadi orang." timpal Ross lagi. Sambil menyeret sahabatnya itu.
Usai masuk ke dalam kelas Ross dan Nattaly langsung mendekati Rita yang tengah duduk sembari memegang buku yang ada di atas meja.
"Hai Rit, aku mau nanya sesuatu. Boleh gak?" tanya Ross tanpa basa basi.
"Hah?."ucap Rita heran. Matanya menatap Ross dan Nattaly bergantian.
"Tau tuh Rit, kayaknya dia lagi jadi detektif dadakan deh." dengus Nattaly sedikit kesal.
"Kamu bisa diem gak sih!!." titah Ross seraya membuka matanya lebar seakan marah. Lantas melanjutkan kalimatnya.
"Katanya kamu tetangganya Mas Zhain ya, apa bener?." tanya Ross pada Rita
"Hah, emang kamu kenal dengan Mas Zhain?atau jangan-jangan bukan Mas Zhain tetangga aku yang kamu maksud." ujar Rita dengan suara khasnya yang lembut.
"Oya, jadi bener kamu punya tetangga namanya Zhain?." tanya Ross dengan muka ceria seakan menambah kecantikannya.
"Kamu kenapa sih Roas, ko mendadak keppo begini, emang ada apa dengan Mas Zhain tetanggaku itu?" ucap Rita balik bertanya. Namun....
"Ehem,ehem." suara deheman Dosen matematika.
Ya Khai tidak sadar kalau Dosen killer itu sudah berdiri di belakangnya. Sementara Nattaly dan yang lainnya sudah duduk manis di bangkunya masing-masing.
"Kenapa gak bilang?." bisik Ross, ketika hendak duduk di belakang Nattaly.
__ADS_1
"Gue juga baru ngeh." jawab Nattaly pelan.
Kira-kira Riss kena hukuman gak ya??