Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 20 Dilemanya Zhain


__ADS_3

Wa'alaikumsalaam warohmatullahi wabarokaatuuh." jawab anak-anak serempak. Lekas mereka berebut tangan Sang Guru untuk berslaman dan mencium punggung telapak tangannya.


"Jangan rebutan anak-anak, antri biar tertib dan rapih." ucap Zhain dengan nada lembut, seraya tangan kirinya mengelus setiap kepala anak - anak yang bersalaman dengannya.


Setelah itu satu per satu mereka meninggalkan Majlis. Maher pun berjalan masuk kedalam rumahnya.


"Bagaimana, apa malam ini anak-anak tidak ada yang bikin ulah?" tanya Fatimah Ibundanya Zhain.


"Alhamdulillah Bun sedikit-sedikit mereka sudah muali bisa di arahkan." jawab Zhain.


"Syukurlah kalau memang begitu keadaannya." lanjut Fatimah.


"Tapi ada satu anak yang membuat aku sangat kagum dengan pertanyaannya Bun".


"O ya, siapa anak itu, memangnya apa yang anak itu tanyakan?"lanjut Fatimah dengan alis sedikit di kerutkan ke atas tanda penasaran.


"Si Ucup Bun, dia bertanya tentang salah satu sifat Allah dalam Asma'ul Husna." ungkap Zhain menimpali.


"Yang Ibu tau dia memang pintar. Hanya saja Ibu cukup prihatin dengan keadaannya, sejak dalam kandungan ia sudah kehilangan Ayahnya yang meninggal karena kecelakaan, tapi anehnya sampai sekarang Ibunya tidak mau menikah lagi meski banyak lelaki yang melamarnya." ungkap Fatimah melanjutkan.


"O ya?" ucap Zhain terhenti sesaat lantas melanjutkan kalimatnya.


"Bun aku ada ide, gimana kalau aku mengadakan penggalangan dana untuk anak-anak yatim di kampung kita?, salah satunya ya seperti Si Ucul itu." ucap Zhain dengan wajah ceria.


"Ibu sangat setuju sekali Nak, hanya saja kamu mau mengumpulkan dana dari siapa?"


"Loh, Bunda lupa kalau anak Bunda yang ganteng ini sekarang sebagai apa?" ujar Zhain dengan mengerlingkan matanya seakan menggoda Ibu 'nya.


Fatimah tersenyum kecil melihat sikapa anaknya yang demikian.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu akan mengadakan penggalangan dana dari para preman yang kamu pimpin itu?." tanya Sang Bunda kembali.


"Preman itu hanya sebutan saja Bun, bagi ku mereka sama saja dengan manusia lainnya, tentu di setiap manusia itu ada sisi keperdulian pada manusia lainnya."


"Duh anak Bunda ini ternyata sudah pandai berkata bijak ya." timpal Fatimah lagi.


"Siapa dulu dong Bundanya." sambut Zhain kembali mengerlingkan matanya. Fatimah kembali tersenyum kecil menahan tawa.


"Eh ngomong-ngomong kamu sudah sholat isya belum?" tanya Fatimah mengalihkan pembicaraan.


"Kalau Bunda udah apa belum?" ucap Zhain balik bertanya.


"Justru Ibu nunggguin kamu Nak, gimana kalau kita sholat isya berjama'ah?. Sejak Ayahmu meninggal Ibu gak pernah sholat berjamaah di rumah kecuali selalu Munfarid." ungkap Fatimah dengan raut muka sedikit murung. Namun tak menghilangkan kharisma kecantikan 'nya padahal usianya kini sudah menginjak empat puluh delapan tahun.


"Ya sudah, Bunda wudhu dulu gih, biar saya menyiapkan sajadah 'nya. Lagian tadi setelah magrib sampai sekarang saya belum batal. O ya, kita sholat di Majlis saja ya Bun." ucap Zhain memberi usulan sambil tersenyum. Tak lama Fatimah pun berjalan menuju keran kecil yang ada di depan teras rumahnya. Ya keran itu lah yang di gunakan anak-anak didiknya yang hendak belajar mengaji.


Setelah keduanya berada di dalam Majlis mereka pun melakukan ibadah sholat isya dengan khusuk. Zhain yang menjadi Imam. Kini dengan suara indahnya ia melantunkan nada Qiro'at Ziharqah, konon nada ini lah yang sering di gunakan oleh Nabi Muhammad Sholallohu Alaihiwasalam ketika Beliau Sholallohu Alaihiwasalam menggimami sholat dengan para Sahabatnya Rodiayallohu Anhum.


"Ada apa Bun, kenapa wajah Bunda murung sekali, adakah gerangan sesuatu yang mengganjal di hati bunda?" tanya Zhain memulai pembicaraan. Kini keduanya masih belum beranjak dari sejadah 'nya masing-masing.


"Nak Bunda boleh bertanya sesutu?" tanya Fatimah denga lembut.


"Lo Bunda ini gimana sih, Aku ini anak Bunda, kenapa Bunda mesti meminta ijin dulu kalau mau bertanya.?" ungkap Zhain dengan sopan.


"Begini, apa kamu belum kepiran untuk menikah?"


Degh!!!, ada desiran aneh di dada Zhain dengan pertanyaan Bundanya itu, seakan hatinya bertanya - tanya, kenapa Ibu 'nya tiba-tiba menanyakan hal itu.


"Bunda, anak Bunda ini sudah besar, tentu sebagai lelaki dewasa yang normal, anak Bunda ini juga menginginkan hal itu sama halnya dengan pria dewasa lainnya." ucap Zhain dengan suara teduhnya.

__ADS_1


"Lalu apa kamu sudah memiliki calon pendamping, kekasih, atau pacar misalnya?."


"Astagfirullah Bun, mana munggkin aku melakukan itu sedang aku tau agama kita melarang berpacaran, kalau aku tetap melakukan hal itu, sama saja aku termasuk golongan orang-orang munafik. Naudzubillahi mindzalik Bun." jawab Zhain dengan raut muka sedikit ngeri.


"Syukurlah kalau memang begitu keadaanya. Tapi??." kalimat Fatimah terjeda seakan ragu untuk mengungkapkan.


"Tapi kenapa Bun?" tanya Zhain penasaran.


"Kalau Ibu meminta kamu melamar Ustadzah Zulaikha putri dari Gurumu. Apa kamu mau Nak?".


Duaaar!!!, bak petir di siang bolong, hati Zhain benar-benar shock dengan permintaan wanita yang paling ia cintai itu. Ia gamang ia dilema, bagaimana mungkin dengan waktu yang tak begitu jauh kedua orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya meminta hal yang sama meski permintaan keduanya sedikit berbeda. Ya sama, karena Pamannya meminta ia bertemu dengan putri sahabatnya yang tentunya sang Paman berharap ia jatuh cinta dengan putri sahabatnya itu.


Sementara Ibunya, meminta ia melamar Zhainab. Namun yang menjadi sedikit berbeda karena yang di pinta keduanya adalah gadis yang berbeda pula.


"Tapi Bun, Zhainab sudah ku anggap sebagai adikku sendiri Bun, bagaimana mungkin aku melamar seorang gadis yang sudah ku anggap sebagai saudara." ucap Zhain kini dengan raut sedikut murung.


"Tapi Bunda benar-benar kagum dengan sosoknya Nak, dia cantik, sholehah serta pintar lagi. Apa kamu tau kalau akhir-akhir ini Bunda sering mengikuti kajiannya di kampung sebelah, ia sering menggantikan KH Samsudin jika beliau ada kesibukan lain. Mau ya Nak?," tanya Fatimah seraya menggenggam ujung jemari anaknya seakan berharap.


"Hemmmmh!!," bunyi suara hembusan nafas Zhain sedikit berat seakan bingung apa yang harus ia lakukan.


"Kita lihat saja nanti Bun, ysng jelas kita juga gak tau jangan - jangan Zulaikha sudah mempunyai calon suami." ucap Zhain. Ia terpaksa mengatakan itu karna sebenarnnya ia tau kalau Zulaikha belum memiliki kekasih apalagi calon suami. Karena adik angaktnya itu akan selalu bercerita tentang apapun kepadanya, apalagi itu menyangkut sesuatu yang penting.


"Tapi Ibu yakin dia belum punya calon suami Nak," jawab Fatimah menegaskan.


"Itu kan hanya perkiraan Bunda, belum tentu kenyataannya demikian." ucap Zhain yang sudah mulai tenang.


"Huaaah!!, sepertinya sudah ngantuk Bun." sambung Zhain lagi dengan salah satu tangannya menutupi mulutnya.


"Ya sudah Ibu juga mau istirahat, Bunda cuma berharap kamu menemukan wanita yang baik yang mampu menjaga marwahnya sebagai istrimu kelak." ujar Fatimah lantas berlalu yang sebelumnya ia bicara sambil melipat mukenanya.

__ADS_1


Melihat Sang ibu keluar Majlis Zhain pun tak lama menyusul Bundanya masuk ke rumah. Merekapun masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


__ADS_2