Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 25 Do'a Yang Menyentuh Hati


__ADS_3

Degh!!, jantung Ross tiba - tiba berdetak lebih cepta hingga membut raut wajahnya yang sudah mulai tenang kini kembali sedikit memerah. Ya ia malu andai pria pujaan hatinya itu tau apa yang ia katakan pada Calon Ibu Mertuanya.


"Mmm, anu Mas, mmm apa ya?,," ucap Ross terbata karena gugup melanda hatinya.


"Cepetan ngomong, jangan bilang lo gak berani ya?." ledek Nattaly sambil matanya melirik aneh ke mata Ross.


Karena tak mau Zhain tau kalimat apa yang menyababkan Ibu dari pria yang ia cintai itu pingsan, akhirnya Ross punya ide untuk menghindar dari kejadian itu. Ross pun lekas berdiri...


"Bunda, apa boleh saya numapang sholat di sini?," tanya Ross dengan nada cepat seraya mengalihkan pandangan ke arah Fatimah.


"Tentu Nak, sebuah kehormatan untuk Bunda jika ada seseorang mau numpang sholat di rumah kami." ucap Fatimah dengan senyum mengembang.


"Rita, aku bisa pinjam mukenamu?," tanya Ross kemudian. Namun sebelum Rita menjawab malah Fatimah yang mendahului jawabannya.


"Punya, nan -," ucap Rita menggantung.


"Di ruang khusu tempat sholat Bunda ada dua mukena, silahkan Nak Ross pakai salah satunya." ucap Fatimah menyela omongan Ritta.


"Ggimana kalau aku juga numpang sholat Bun?," tanya Ritta seraya melirik jam tangannya. Rupanya waktu sudah menunjukan jam enam belas tiga puluh atau jam setengah lima sore.


"Ya sudah, berjama'ah akan lebih afdol," jawab Fatimah menimpali.


"Betul sekali Bun, karena dengan berjama'ah maka fahala yang di dapat 27 kali lipat dari pada sholat sendirian." jawab Zhain menanggapi ucapan Sang Bunda.

__ADS_1


Gegas kedu gadia yang berlainan karekter itu pun masuk ke dalam rumah untuk menunaikan sholat ashar.


"Kenapa Bunda dan Mas Zhain gak ikut sholat?" tanya Nattaly dengan sopan.


"Bunda sudah sholat, ketika bebrapa saat sebelum kalian datang kemari." jawab Fatimah.


"Saya juga sudah, sebelum menerima telpon dari Rita di kantor."


"Ajaran agama kalian sungguh indah," ujar Nattaly lagi.


"Kenapa begitu?" tanya Zhain santai, namun seperti biasa ia tak memandang wajah lawan bicaranya. Terkesan tidak sopan mungkin bagi pandangan orang - orang awam, padahal apa yang Zhain lakukan adalah sebuah perintah yang tertulis dalam Al - Qur'an bahwa ; Hendaklah kalian menjaga pandangan dari seseorang yang bukan muhrimnya.


"Jujur, saya salut dengan cara beribadah umat islam yang dalam dua puluh empat jam saja kalian di haruskan untuk menyembahNya sebanyak lima kali. Dan itu mecirikan bahwa Umat Islam sangat dekat dengan Tuhannya." ungkap Nattaly panjang lebar.


"Bunda, Aku mau mandi dulu ya." ujar Zhain memotong obrolan mereka namun dengan nada suara lembut.


"Nona Nattaly, saya permisi dulu," ujar Zhain kembali memohon ijin pada tamunya. Gegas Zhain pun berjalan masuk kedalam rumahnya.


Ketika Zhain hendak menuju kamarnya tak sengaja ia melihat 2 wanita tengah melaukan sholat Ashar di mana Rita yang menjadi imam sedang Ross selaku makmum.


"Ross,,! Kau sebenarnya wanita yang tidak sulit untuk di arahkan, namun sifat membangkangmu itu terlalu menguasai pikiranmu. Tapi aku akan mencoba sebisa mungkin untuk menjadi pelita di saat kegelapan melanda hatimu, di saat dirimu butuh sentuhan kasih dari pria yang kelak sudah halal bagimu, namun untuk menuju ke arah itu mungkin butuh proses yang harus kita lalui. Aku tidak ingin memacarimu Ross, tapi aku ingin menikahimu." batin Zhain bermonolog sembari memegang daun pintu yang sedikit terbuka. Gegas ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya. Ketika ia keluar dari kamarnya untuk menuju kamar mandi yang terpisah dari kamarnya, dengan handuk yang ia lilitkan di leher, kembali ia tak sengaja mendengar sebuah untaian do'a dari bibir mungil Ross. Rupanya kamar mandi yang berada di bagian dapur melewati Mushola kecil itu.


"Ya Allah, aku tau kalau aku bukanlah wanita yang sempurna, namun apakah salah kalau hambamu ini mengharapkan salah satu cipta'anmu yang begitu indah. Hamba tersentuh dengan sambutan Ibunya yang benar - benar memuliakanku meski ini adalah yang pertama kali buatku bertamu ke rumahnya. Semoga pertemuan ini menjadi jalan di mana Kehalalan itu akan mengikat kami dalam ikatan pernikahan nan suci di bawah naungan RhidhoMu,,, Aamiin." ungkap Ross dengan suara lirih, namun ia tak sadar kalau semua harapan yang baru ia ucapkan begitu tersengar jelas di telinga Zhain Al - Ghifari.

__ADS_1


Semantara Rita, ia sudah keluar terlebih dahulu dari mushola kecil itu.


Takut dirinya di ketahui oleh si empunya do'a, Zhain lekas meninggalkan ruangan itu untuk menuju kamar mandi.


Sepuluh menit telah berlalu Zhain keluar dari kamar mandi rumahnya yang sederhana namun asri itu.


"Aahh,,,! Segar," ucap 'nya semabari mengerakan kepalanya ke kiri dan kanan, hingga membuat rambutnya yang sedikit panjang namun lurus itu memercikan sisa - sisa air di rambutnya. Sematara kaos oblong yang ia kenakan sebelum mandi kini tak tau entah di mana. Yang jelas ia kini tengah bertelanjang dada yang bagian bawahnya hanya di tutupi handuk sebatas lutut.


"Aaaaaw,,,!" lengkingan suara seorang wanita muda nan cantik mengejutkan Zhain yang tak sengaja berpapasan. Rupanya Zhain mengira Ross sudah keluar dari mushola mini itu, hingga ia melewati temapt itu dengan santai.


"Hah,!" ujar Zhain seraya diam mematung bak patung kayu yang tak bergerak. Ya Zhain syok dengan kejadian itu hingga otak dan anggota tubuh lainnya tak berfungsi secara normal.


"Mas, kenapa lewat sini?" tanya Ross sambil menutup kedua matanya. Namun jari tengah dan jari manis tangan kanannya ia renggangkan sesikit seakan mengintip.


Bukan 'nya menjawab Zhain masih tetetap diam tak bergerak.


"Ya Allah, ma'af kan aku, ampuni segala salah dan hilafku. Ini bukanlah kehendaku Ya Allah, tapi,,,! Masya Allah indah sekali tubuhmu Mas." batin Ross bermonolog, jemarinya salah satu tangannya bergerak - gerak beberapa saat. Usai itu...


"Hah,,!, Astagfiruullah,!!," ujar Zhain tersadar dari rasa syoknya. Lekas ia pun lari terbirit - birit untuk menuju kamarnya.


Brug,,,!, suara pintu di tutup dengan cepat dan keras, sementara si pelaku yang sudah di dalam kamarnya, ia menyandarkan punggunnya di balik daun pintu bagian dalam.


"Ya Allah, kenapa dia tiba muncul di depanku." ucapnya berbicara sendiri dengan dada bidangnya yang naik turun. Malu, kesal, dan merasa bersalah itulah yang terbesit di hatinya sa'at ini.

__ADS_1


Sementara itu Ross dengn berjalan cepat menuju keluar pintu untuk menemui Calon Ibu Mertuanya beserta kedua sahabatnya.


"Ross, Lo kenapa?," tanya Nattaly kala melihat sahabatnya datang dengan tersenyum kecil. Rupanya kejadian tadi membuat Ross terkesan lucu dan menggemasakan di matanya.


__ADS_2