Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 42 Ross Bertemu Gurunya Zhain


__ADS_3

"Nak Zhainab, saya rasa jawaban dari pertanyaan itu lain kali saja di jawab 'nya. Alangkah baik 'nya kita menikmati hidangan saja terlebih dahulu." cegah Fatimah ketika Zhainab hendak menjawab pertanyaan Ross.


"Kenapa calon ibu mertua melarang Ustadzah untuk menjawab pertanyaan 'ku?, apa beliau keberatan dengan pertanyaan itu?" isi hati Ross berbicara seendiri.


"Baiklah, tidak apa - apa 'kan kalau pertanyaan saudari saya jawab nanti?" ucap Zhanab dengan tatapan teduh pada Rossdiana.


"Oh iya, tidak apa - apa." jawab Ross sekenanya, padahal hati 'nya bertanya - tanya, ada apa dengan calon mertua 'nya itu?.


Akhir 'nya acara jamuan pun berjalan seperti biasa 'nya. Padahal acara perjamuan biasa di laksanakan usai sesi tanya jawab.


Usai acara jamuan selesai, para jema'ah pun satu per satu bersalaman denga Ustadzah Zhainab, memohon ijin hendak menuju pulang ke rumahnya masing - masing. Kecuali dua wanita paruh baya tadi, rupa 'nya mereka masih penasaran dengan gadis yang mengantar Fatimah ke pengajian dengan mobil mewah 'nya itu.


"Mbak Ustadzah, kenapa jemputannya belum datang?, bukan 'kah biasa 'nya di jeput?." yanya wanita yang berkalung emas hingga ke dada.


"Iya Bu, tapi entahlah kenapa belum ada yang datang." jawab Zhainab dengam sopan.


"Gimana kalau saya antarkan Mbak Ustadzah 'nya, lagian Mbak kan belum jawab pertanyaan saya, jadi bisa kan nanti Mbak jelaskan di dalam mobil?" tanya Ross seraya menawarkan pertolongan.


"Apa tidak merepon kan?, saya rasa lebih baik menunggu jemputan datang saja." jawab Zhainab sungkan.


"Eh tunggu sebentar, Nona Ross kan belum jawab pertanyaan kami, jangan pulang dulu lah. Betul kan Jeng Sri?" ucap wanita paruh baya yang memakai gelang cukup banyak.


"Iya betul itu, kami ingin kenal lebih jauh lagi tentang Nona Ross." jawab ibu Sri.


"Saya rasa nanti saja cerita 'nya, toh ini juga bukan yang teakhir nak Ross ikut pengajian, jadi lain waktu saja ya." ucap Fatimah menimpali.


Mendengar itu kedua wanita berpenampilang ngjreng itu pun memanyun 'kan bibir 'nya masing - masing, seakan keberatan dengan usul Fatimah. Namun di tengah - tengah obrolan mereka, gawai Zhainab tiba - tiba berdering.


"Assalamualaikum Pak." jawab 'nya ketika gawi 'nya sudah ia tempelkan di telinga kananya yang berbalut hijab.


"Wa' alaikum salam, Non Ustadzah saya mohom maaf, mungkin jemputan 'nya agak telat. Soalnya tiba - tiba ban mobilnya bocor, jadi saya harus nambal dulu Non." Ucap supir keluarga Kh Samsudin ayah dari Zhainab. Di seberang telepon.


"Ya sudah tidak apa - apa Pak, saya akan menunggu." jawab Zhainab pasrah.

__ADS_1


"Nak Zhainab, alangkah baik 'nya tawaran Nak Ross di terima saja, daripada buang - buang waktu." ucap Fatimah setelah Zhainab menutup telepon 'nya.


"Apa tidak merepotkan saudari Ross?" ucap 'nya masih merasa sungkan.


"Sama sekali tidak Mbak, justru saya berharap Mbak Ustadzah mau menerima tawaran saya." ucap Ross dengan sopan.


Akhir 'nya usai kepergian kedua wanita paruh baya yang berpenampilan ngjreng itu, Fatimahh, Ross beserta Zhainab menaiki mobil Audi yang terparkir taku jauh dari halaman Majlis Tak'lim.


"Pak sopir, ke Pon - pes Roudhotul ilmi dulu ya, kita antarkan Nak Zhainab dulu." titah Fatimah kepada Didit yanag stand buy di balik kemudi.


"Siap Bu." jawab Didit singkat.


"Jangan ngbut - ngebut ya Pak Didit." ujar Ross yang kini duduk di samping kiri pak sopir.


"Iya Nona Muda." timpal Didit lagi.


Sementara Zhainab kembali membuka gawai 'nya untuk mengrim pesan kepada supir 'nya agar tak usah menjemput 'nya.


Setelah beberapa menit perjalanan Ross kembali membahas perihal pertanyaan yang belum di jawab Ustadzah Zulaikha.


Ya, karena Fatimah tau bahwa Ustadzah muda itu sangat mencintai putra 'nya. Rupa 'nya ia tak mau jika Ross keceplosan hingga mengtakan bahwa pria yang di maksud adalah Zhain putra 'nya yang di cintai pula oleh Zhainab.


"Bunda, apa Bunda keberatan jika saya menjawab pertanyaan saudari Ross?" tanya Zhainab yang merasa ada yang janggal dengan pernyataan Fatimah.


"Sebenarnya ridak, hanya saja ada waktu yang lebih tepat untuk membahas hal itu." ucap Fatimah. Ia terpaksa mengutarakan keberatannya agar Ross tak ngotot meminta jawaban.


"Jika Mbak Ustadzah tidak mau menjawab sekarang, saya tidak keberatan ko, mungkin lain waktu kita bisa membahasnya kembali." ujar Ross kemudian. Rupa 'nya ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda dari calon ibu mertua 'nya.


"Kenapa Bunda Fatimah mendadak sensi?, apa sebenar 'nya hubungan Ustadzah Zhainab dengan Bunda Fatimah. Seperti 'nya ada yang harus aku selidiki dengan mereka." gumam Ross membatin.


Sejak saat itu hening di antara mereka, bahkan cendrung tidak ada percakapan di antara ke empat 'nya, kecuali Fatimah pada Didit yang memeberi tau jalan kepada sang sopir.


Tak lama setelah 'nya, mobil pun sampai di halaman sebuah pesantren.

__ADS_1


Turun dari mobilnya Ross merasa takjub dengan kondisi pesantren yang cukup besar dan nyaman, di tambah di setiap bangunan pondok yang terbuat dari bambu yang berdindingkan bilik, ada sebuah taman di depannya dengan aneka macam bunga.


"Mari saudari Ross kita ke dalam sebentar, sepertinya Abi saya juga sedang tidak mengajar, sekalian saya kenalkan dengan beliau." ajak Zulaikha ketika ia dan Fatimah sudah turun dari mobil mewah milik Ross.


"Apa tidak mengganggu jam istirahat beliau Mbak?" tanya 'nya kemudian.


"Tentu tidak, karena setiap tamu wajib kami layani dengan baik." jawab Zhainab debgan senyum ramah.


"Baiklah kalau memang demikian." jawab Ross lagi.


Usai itu mereka bertiga pun masuk kedalam rumah Kh Samsudin sang Kiyai pemilik pon - pes Ruodhotul ilmi. Ross dan Fatimah pun duduk lesehan di permadani yang telah di sediakan, sedang Zhainab masuk ke dalam untuk menemui Abi beserta Umi 'nya.


"Assalamualaikum." sapa Kh Samsudain pad kedua tamu 'nya.


"Wa' alaikumsalam." jawab kedua 'nya dengan kompak.


"Bu Fatumah saya tidak menyangka kalau ibu akan datang hari ini." ujar H Samsudin.


"Maaf Kiyai, kalau kedatangan kami kesini tek memberi kabar terlebih dahulu, karena memang tadinya kami hanya niat mengantarkan Ustadzah Zhainab pulang, namun kami tidak enak hati jika tak menyempatkan singgah barang sebentar." jawab Fatimah kemudian.


"Tidak apa - apa Bu Fatimah, justru saya sangat senag sekali tiba - tiba kedatangan tamu, seorang ibu dari salah satu murid saya. Oh iya, bagaiman kabarnya Nak Zhain sekarang, apa dia bisa menjalankan Amanah dari paman 'nya itu?" tanya si empunya rumah panjang lebar.


Degh!!, mendengar ucapan Kiyai itu mendadak perasaan Ross tak menentu, pertanyaan - pertanyaan yang ada di benak 'nya kini sedikit sudah mulai terkuak.


"Alhamdulillah Kiyai, putra saya baik - baik saja, dan seperti 'nya sekarang dia sudah mulai menikmati kesibukan 'nya sebagai ketua pengendali keamanan pasar. Saya rasa ini juga berkat do'a Kiyai sebagai guru 'nya." ujar Fatimah menanggapi.


"Hah, jadi Kiyai ini gurunya Mas Zhain?, jadi kalau ia pernah menimba ilmu di sini, itu artinya Mas Zhain kenal juga dong dengan Ustadzah Zhainab." kata hati Ross bermonolog.


"Syukurlah kalau bagitu, sejak awal saya sudah yakin kalau Nak Zhain akan mampu menjalankan amanah itu. Dan saya berharap itu akan berpengaruh positif untuk paman 'nya. Oh iya, kalau yang ini siapa ya? sepertinya baru kali ini saya melihatnya." ucap Kiyai seraya mengalihkan pandangan 'nya kepada Ross.


"Hah?." ucap Ross panik. Ya ia tiba - tiba panik karena pandangan sang Kiyai tertuju padanya. Rupanya Ross merasa belum pantas berbicara dengan lelaki sepuh namun barkharisma itu, di tambah ia sekarang tau kalau lelaki sepuh itu adalah guru dari pria yang di cintai 'nya.


Apa yang terjadi dengan Rossdiana si gadia absurt?

__ADS_1


Apakah kepanikan 'nya akan membut 'nya kembali bertingkah konyol?.... Sedang ia tak mau terlihat buruk di mata H Samsudin yang notabene adalah guru dari Zgain Al - Ghifari, satu - satunya pria yang di cintainya.,,,, next part selanjurnya..


__ADS_2