Takdir Cinta Preman Sholeh

Takdir Cinta Preman Sholeh
Bab 45 Pria Berkaca Mata Hitam


__ADS_3

Usai sholat magrib berjama'ah di mushola pasar, Zhain dan Bang Roki kemudian menuju kendaraan 'nya masing - masing.


"Kita berangkat sekarang Bang!," ajak Zhain kepada Roki.


"Tentu kita berangkat sekarang." jawab Roki menimpali.


Kedu kendaraan itu pun berjalan secara perlahan keluar dari area parkir Markas pengendalian keamanan pasar.


Kurang lebih membutuhkan waktu 30 menit akhir 'nya meraka pun sampai di depan rumah Junaidi yang cukup mewah berlantai dua. Zhain memarkirkan motor Ninja 'nya di dekat garasi mobil milik sang Paman, di susul Roki yang ikut memarkirkan motor Harley Davidson 'nya berdampingaan demgan motor Sang Ketua.


"Assalamualaikum." ucap Zhain seraya memencet bel dekat pintu utama.


"Wa'alaikumsalam." jawab seorang wanita dari dalam sembari membuka daun pintu.


"Eh Nak Zhain tumben datang mendadak. Sendiri atau dengan siapa?" tanya Rosa istri dari sang Paman, Junaidi.


"Saya berdua dengan Bang Roki. Oh iya Bibi, Paman 'nya ada?" tanya Zhain usai bersalaman secara isyarat yaitu dengan menelengkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Ada, kebetulan Paman 'mu sedang santai di taman belakang sambil minum teh. Mana Roki 'nya?"


"Saya di sini Mbak." jawab Roki yang datang usai memarkirkan motor 'nya.


"Ya sudah, mari masuk sepertinya Paman 'mu juga sudah menunggu kalian." ucap Rosa pada kemudian.


"Hah sudah menunggu, maksud Bibi?"


"Tadi Paman 'mu menghubungi Joni, untuk menanyakan keadaan pasar. Ya sudah langsung saja ke belakang, Bibi mau buat minuman dulu."


"Iya Bi, Bang Riko ayo kita ke taman belang!" ajak Zhain kemudian.


"Mari ketua." jawab 'nya singkat.


Tak lama mereka pun sampai di sebuah taman kecil yang cukup asri di belakang rumah sang Paman.


"Assalamualaikum." sapa Kedua 'nya ketika melihat Junaidi tengah duduk dekat dengan kolam ikan hias.


"Wa'alaikumsalam, mari silahkan duduk." ujar Junaidi mempersilah 'kan pada kedua tamu 'nya.


Usai bersalaman Zhain dan Roki pun duduk di sebuah bangku yang di tengah 'nya terdapat meja bundar berbahan kayu pula.


"Bagai mana kabar kalian?" tanya Junaidi memulai pembicaraan.


"Alhamdulilah, seperti yang Paman lihat, kami baik - baik saja. Hanya saja-" ucap Zhain menggantung karena tiba - tiba Sang Paman mengangkan salah satu tanga 'nya.

__ADS_1


"Saya sudah tau, dan saya yakin ini bukan murni pencurian. Roki apa kamu sependapat dengan saya?" ujar Junaidi seraya mengalihkan pandangan 'nya ke arah Riko yang duduk di samping Zhain.


"Betul Bang, saya juga sependapat dengan Abang. Bahkan saya sudah memastikan siapa dalang di balik pencurian itu." timpal Roki kemudian.


"Maksudmu?" tanya Junaidi seraya mengerutkan kening 'nya.


"Jangan terlalu tegang Yah. Maaf ya minuman dan jamuan 'nya agak telat." ucap Rosa yang datang bersama ART 'nya sambil membawa beberapa makanan kecil beserta minuman.


Usai itu Rosa ikut duduk di samping suaminya di kursi yang masih kosong, sementara ART 'nya kembali berlalu dengan membawa nampan kosong.


"Jangan repot - repot Bi, kami juga kesini tidak membawa apa - apa." ujar Zhain merasa sungkan.


"Ngomong apa kamu Zha?, toh kalian juga tidak setiap hari ke sini. Kalian tak perlu sungkan." ucap Rosa dengan ramah.


"Ya sudah silahkan di minum." ujar Junaidi mempersilah 'kan.


Akhir 'nya obrolan mereka pum tertunda sejenak lantaran kehadiran Rosa yang membawa jamuan.


Usai menikamti beberapa cemilan serta minuman Junaidi pun menyambung obrolannya kembali.


"Bagaiman Riko, apa pendapatmu tentang pencurian itu?" tanya Junaidi lagi.


"Saya rasa, ini ada kaitan 'nya dengan musuh Abang beberapa tahun lalu yang sudah meninggal secara tak sengaja karena tendangan Derry waktu itu." ucap Roki dengan raut serius.


"Maksud 'mu Si Codet?, bukankah organisasi mereka telah bubar sejak kematian 'nya?" tanya Junaidi tak kalah serius.


"Awalnya saya juga berfikir begitu,  tapi setelah kami memekrisa CCTV yang tersambung dengan lap top ketua saya jadi beranggapan lain. Yang saya khwatir 'kan mereka akan membuat perhitungan dengan kita atas kematian ketua mereka." ungkap Roki panjang lebar.


"Bukan 'kah mereka semua tau jika kejadian itu bukan di sengaja, dan kalau mereka ingin menuntut balas, kenapa tidak di lakukan sejak dulu?" timpal Junaidi lagi.


"Itu wajar Bang, karena dulu mereka belum memiliki kekuatan setelah kematian ketua mereka, tentu lain dengan sekarang." sambung Roki lagi.


"Lalu siapa yang memimpin mereka sekarang?, dan berkuasa di daerah mana mereka?"


"Entahlah Bang, tentu itu akan kami selidiki." saut Riko kembali.


"Ya sudah, saya percayakan semua 'nya pada kalian. Buat kamu Zha yang tidak ada hubungan 'nya dengan kejadian ini, apa kamu siap jika suatu saat mereka berurusan dengan 'mu?, karena itu tak bisa kamu hindari lantaran kamu sudah menjadi pemimpin di organisasi kami." ujar Junaidi yang mata 'nya lurus menatap sang keponakan.


"Saya tidak akan menerima amanah ini dari Paman kalau saya belum siap dengan kemungkinan buruk yang terjadi. Saya akan hadapi apapun resikonya Paman." ucap Zhain dengan nada tegas dan berwibawa.


"Bagus saya bangga dengan keberanian kamu." timpal Junaidi.


"Yah, lalu bagaimana dengan keselamatan anak kita?" tanya Rosa dengan raut khwatir.

__ADS_1


"Kamu tenang saja Mah, ini urusan laki - laki. Mamah cukup do'a 'kan saja anak kita agar di beri keselamatan." ucap Junaidi seraya mengelus punggung tangan istrinya untuk mengurangi rasa cemas vnya.


"Paman, bagimana jika saya tugaskan beberapa orang untuk mengawal Derry?, agar Derry tidak curiga kita lakukan pengawalan itu secara diam - diam." usul Zhain pada sang Paman.


"Saya setuju Bang, dan hanya itu yang bisa kita lakukan demi keamanan Derry Bang," sambung Roki menyetujui usulan ketua 'nya.


"Ya saya juga berfikir begitu. Nanti saya larang dia untuk ke lapangan sementara waktu. Kalau perlu saya tugaskan dia ke luar kota untuk mengurus beberapa Pom Bensin yang sudah lama beroprasi." ujar Junaidi menambahkan.


"Bagaimana baiknya saja Bang, untuk sementara ini saya menunggu tindak lanjut dari mereka. Karena saya yakin besok akan ada sesutu yang terjadi sebagai tindak lanjut atas kejadian pencurian itu." ujar Roki kembali.


"Baguslah, satu hal yang mesti kalian ingat dan ini berlaku untuk semua anggota bahwa kewaspadaan harus tetap di tingkatkan."


"Itu sudah kami lakukan Paman, Bahkan kami sudah menggelar rapat dadakan agar seluruh jajaran dan anggota meningkatkan kewaspadaan dalam bertugas.


"Ya sudah jika ada perkembangan jangan sungkan untuk menghubungi saya." ucap Junaidi lagi.


Tak terasa obrolan mereka pun usai. Namun kedua tamu mereka tak di ijinkan langsung pulang, lantaran sang tuan rumah mengajak mereka sholat isya berjama'ah di mushola kecil di samping taman.


###


Sementara itu di tempat lain. Seorang pria muda tengah duduk di sebuah kursi dengan kaca mata hitamnnya menghadap pada motor hasil dari pencurian yang di lakukan oleh anak buahnya.


"Bos, apa yang akan kita lakukan dengan motor itu?, dan kenapa kita juga mengorbankan para pedagang yang tidak bersalah?" ucap pria di samping 'nya yang berbadan besar, tinggi, dan berambut gondrong.


Hening sejenak, namun tiba - tiba pria berkaca mata itu berdiri dan dengan cepat menjambak kerah baju pria yang berdiri di samping seraya menatap tajam mata 'nya.


"Kamu tidak perlu mengoreksi apa yang saya perintah 'kan, tugasmu hanya cukup melakukan 'nya dengan baik. Ini adalah awal pembalasan itu, agar arwah ayahku tenang di alam sana. Camkan itu!!" ucap pria berkaca mata hitam sambil melepasakan jambakan 'nya dengan kasar.


"Maaf bos, saya tidak bermaksud-" jawab 'nya menggantung lantaran bosnya kembali berujar.


"Sudahlah!!, jangan banyak protes!!. Besok kau kirim motor ini ke mereka, taro di depan markas mereka. Dan simpan kertas ini di atas jok motor itu. Mengerti?" ujar pria berkaca mata itu dengan suata menekan dan tegas, seraya memberikan sebuah kertas yang di ambil dari dalam jasnya.


"SERAHKAN JERRY ATAU KAMI AKAN BERBUAT SESUATU YANG TAK BISA KALIAN BAYANGKAN"


Itulah kalimat yang tertulis di kertas itu dengan huruf besar berwarna merah darah, seakan kalimat itu adalah sebuah ancaman yang tidak main - main. Tak lupa di balik kertas itu terselip sebuah nomor ponsel.


"Tapi bos apa ini tidak terlalu cepat?" tanya si pria bertubuh besar dan tinggi.


Braaak!!!, suara benturan kursi kayu dengan dinding menggema di ruangan itu. Rupa 'nya pria berkaca mata hitam itu tidak trima dengan intrupsi anak buah 'nya hingga ia melampiaskan kekesalan 'nya dengan menendang kursi itu hingga hancur berkeping - keping karena membentur dinding.


"Sekali lagi kamu mengintrupsi perintah 'ku kau akan mati." ujarnya dengan rahang menekan seakan marah yang amat sangat.


"Baik bos, baik. Saya akan melakukan perintah bos." ucap si anak buah dengan suara terbata, karena merasa takut.

__ADS_1


Siapa pria berkaca mata hitam itu?


Dan ada hubungan apa dia dengan Derry?,,,, next part selanjutnya.


__ADS_2