Takdir Hidupku

Takdir Hidupku
Perjalanan Alia menuju rumahnya


__ADS_3

Danu menyesali semua yang telah terjadi ia telah mempercayai mamanya yang bersalah ia juga sudah bertindak yang kasar terhadap Alia.


Maafkan aku Alia aku sudah membuatmu sakit hati. Lirihnya dalam hati. Danu pun pergi dari tempat itu menuju arah rumahnya.


Alia sudah berada dalam bus, ia merasa lega karena Bayu sudah di temukan walau hatinya masih sakit mendapat perlakuan kasar dari Lisa dan Danu. Baru saja Sinta menghubunginya ia meminta maaf dan menceritakan semua nya pada Alia. Alia memaafkan semuanya yang telah terjadi tanpa rasa dendam pada keluarga Danu.


Hanya ia sedikit kesal pada Danu kenapa terlalu mudah diperdaya mamanya. Selama perjalanan Alia terlelap ia tidak sadar kalau ia sudah hampir sampai terminal di kotanya. Ia dikejutkan oleh seseorang anak yang memintai ia uang receh.


Alia tersentak. Ia melihat dengan samar-samar bayangan anak kecil itu. Pandangan Alia berubah buram, "Bayu...!"


ucapnya. Langsung memeluk anak itu. Alia mengira kalau anak itu Bayu anak itu bingung ia pun menjawab.


"Nama saya Haikal Tante... bukan Bayu," ucapnya.


"Oh ya, Maaf adek. Tante salah sangka." Alia melepaskan pelukannya.


"Saya mengamen di sini Tante, samua sudah memberi. Tante saja yang belum," ucapnya lagi. Anak itu sebaya dengan Bayu mungkin umurnya sama dengan Bayu. Alia jadi kangen anaknya.


"Oh maafnya Adek, tante ketiduran. Ini buatmu." Alia memberikan selembar uang seratus ribu pada anak itu.


"Maaf Tante, tidak ada kembaliannya haikal belum dapat banyak. Ini besar sekali jumlahnya."


"Itu rejeki kamu. Ambilah...!" ucap Alia terseyum. Haikal juga pun membalas terseyum. "Makasih Tante...," ucap nya ingin beranjak pergi.


"Tunggu Dek... apa kamu tinggal disekitar sini?" tanya Alia ingin tau.


"Tidak aku tinggal di desa, aku di sini bekerja sebagai pengamen," ucap Haikal.


Alia menyebutkan namanya pada anak itu. anak itu bersalaman dengan Alia.


"Salam kenal, Tante cantik," ucap anak itu tersenyum.

__ADS_1


Alia kaget mendengar ucapan anak itu. Itu kan panggilan Bayu padaku.


Alia pun meraih tangan anak itu lagi dan memeluknya lagi.


"Tante apa yang terjadi padamu? Kenapa memelukku?" tanya Haikal kebingungan.


Alia memeluk erat tubuh anak itu. "Maaf ya Adek." Alia melepas kembali pelukannya. "Kalau boleh tau kamu tinggal di desa mana?" tanya Alia.


"Di desa ujung kota ini Tante... Jaraknya sekitar satu jam kalau jalan kaki," jelasnya.


"Jadi kamu jalan kaki pergi ke sini?" Alia terbelalak.


"Kadang-kadang, tapi kalau ayah turun aku ikut dia."


"Kamu tinggal sama ayah?"


"Iya Tante, sama mama juga... Tapi mama tiri."


"Mama sudah pergi untuk selamanya, sekarang dia ada di langit sana...," Haikal memandangi langit seolah melihat mamanya di sana.


Alia pun ikut sedih, "Maaf ya Adek sudah membuatmu sedih.


"Gak apa-apa kok Tante, lagian Mama sudah lama pergi, saat haikal masih berumur lima tahun," jelasnya.


"Emang umur Haikal sekarang berapa tahun?" tanya Alia.


"8 tahun Tahun Tante...," sahut Haikal.


Tebakan ku benar, anak ini seumuran dengan Bayu. Anak sekecil ini sudah bisa mencari uang, ini benar-benar menyedihkan buat ku. Alia jadi sedih.


Setelah mengobrol banyak dengan Alia anak itu pamit pergi. Alia pun menginjinkan nya pergi. Alia kagum pada anak itu ia adalah anak laki-laki yang kuat, di umurnya yang masih kecil sudah berani berjalan sendiri pergi mencari uang untuk membantu keluarga. "Anak itu sungguh luar biasa," ucap Alia salut.

__ADS_1


Alia sudah sampai ia menelpon supir nya untuk menjemputnya di terminal. Tidak lama kemudian, sebuah mobil mendekati Alia itulah mobil jemputan Alia. Alia pun pergi ke arah mobil itu ia kanget supir mobil itu bukan Jimi tapi Arif. Alia ingin menghindar tapi sudah tidak bisa Arif meraih tangan Alia dan menyuruhnya segera masuk.


"Arif ngapain kamu ada di sini! Aku suruh Jimi kenapa kamu yang datang," Alia memanas.


"Jimi sedang sibuk Alia, lalu aku yang menjemputmu."


"Sejak kapan Jimi sibuk, ini pasti akal-akalan mu saja!" Alia mencetus.


"Alia tolong! jangan marah-marah gitu dong... Niatku baik kok ingin menjemputmu."


"Sejak kapan kamu dengan lancangnya memakai mobil itu Rif kenapa kamu bisa tau kalau aku minta jemput." Alia bingung.


"Beberapa hari ini aku ada di rumahmu Tante Sarifah sudah meminta aku menemaninya. Tolong jangan salah paham aku hanya ingin membantu Tante aku aja gak bermaksud lain suer...," ujar Arif membuat Alia. semakin jengkel.


"Alasan kamu saja...!" cetus Alia.


Dengan terpaksanya Alia pun naik ia tidak mau duduk di samping Arif, ia memilih duduk di belakang Arif pun jadi cemberut.


"Alia kenapa duduk di situ didepan kan kosong?" tegur Arif menoleh ke arah Alia.


"Diam! jangan banyak tanya!" cetus Alia memperingatkan. Sontak Arif diam seribu bahasa.


Mau bicara saja tidak boleh sabar. . sabar... Arif mengelus dadanya.


Alia duduk dengan memandang ke arah luar tidak mau menoleh ke arah Arif yang menatapnya.


"Arif cepetan jalan, jangan bengong saja!" ucap Alia.


Iya Sayang, jangan judes gitu dong... ucap Arif.


Iya pun menjalankan mobilnya dan melaju membawa Alia. sepanjang jalan mereka diam-diaman hingga sampai rumah. Alia langsung mengetuk pintu rumahnya dan bibik membuka pintu untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2