
Malam telah tiba, Danu mengajak keluarganya untuk makan malam di luar. Mereka akan makan di sebuah restoran. Danu berusaha menghibur pikirannya agar tidak teringat masalahnya. Sebelum makan ia mengajak Bayu ke tempat bermain anak-anak Danu merasa sedikit terhibur Bayu mengajaknya papanya naik mobil-mobilan.
Keduanya berlomba siapa yang sampai duluan ke garis finis ialah pemenangnya. Permainan itu di menangkan oleh Bayu. Danu menggendong Bayu karena sudah memenangkan lomba.
"Horee Bayu menang...!" ucap Bayu merasa senang karna dapat mengalahkan papanya.
Danu pun ikut bahagia melihat anaknya bahagia.
Danu membiarkan Bayu lanjut bermain lagi, sedangkan ia beristirahat sejenak melepas lelah nya abis balapan dengan anaknya.
"Bayu, papa senang banget bisa melihatmu tertawa. Apalagi setelah papa mengetahui kalau kamu adalah anak kandung papa. Papa janji tidak akan pernah menyia-nyiakanmu Bayu," lirih Danu membatin.
Sinta mengarahkan pandangannya ke arah Danu ia pun pergi menghampirinya.
"Mas kok bengong aja sih dari tadi," tanya Sinta.
"Sinta? aku gak bengong kok, aku sedang memperhatikan Bayu aku teringat masa kecilku sama seperti Bayu juga menyukai mobil-mobilan."
Astaga aku kecoplosan mudah-mudahan Sinta tidak curiga.
"Ternyata kamu dan Bayu banyak kesamaan ya Mas... walaupun Bayu bukan anak kandung kita, tapi dia serasa darah daging kita sendiri apalagi aku sangat menyayangi Bayu," ujar Sinta.
"Aku bahagia banget malam ini Sinta, dapat melihat Bayu ceria seperti itu ia tertawa bahagia aku ingin melihat senyumnya setiap saat."
Mas Danu tampak aneh bukankah Bayu memang selalu ceria anaknya. Dari kecil Bayu memang selalu ceria apalagi diajak ketempat begini," ucap Sinta membatin.
"Iya Mas, aku juga ikut bahagia juga karena kamu selalu ada buat aku dan Bayu," ucap Sinta kagum.
"Sudah seharusnya aku membahagiakan kalian Sinta karna kalianlah semangat hidupku. Aku akan selalu menyempatkan waktuku untuk kalian."
"Makasih mas.. kamu memang suami terbaik.
Tidak seperti laki-laki lain apalagi pria yang di ceritakan Alia dulu. Kasian dia telah kenal dengan lelaki yang tidak bertanggungjawab," Sinta jadi ngelantur malah membicarakan Alia.
Danu terbatuk mendengar Sinta yang tiba-tiba membahas Alia.
__ADS_1
"Emangnya Alia pernah punya suami?" tanya Danu tampak pucat dan gugup.
"Tidak pernah, dia cuma mengenal lelaki itu satu malam pria itu sudah menghamili Alia. Untungnya aku punya suami yang baik hati seperti kamu Mas aku bahagia banget." Sinta memeluk Danu. Danu terdiam mendengar ucapan Sinta.
"Maafkan aku Sinta aku sudah membohongimu akulah pria yang dimaksud Alia itu. Kasian kamu Alia ...," lirih Danu tiba-tiba teringat peristiwa itu.
"Mas kok bengong lagi sih ... ayo main lagi sama Bayu." pinta Sinta.
"Iya Sinta." Danu pun pergi menghampiri Bayu lagi.
Di tempat lain.
Alia masih terbayang saat-saat bersama Bayu tadi siang Rasanya ia tidak mau waktu itu berlalu ia selalu teringat saat Bayu terseyum dan berlari ke arahnya.
"Alangkah.bahagianya hatiku seandainya kamu ada di sini Bayu, mama ingin sekali mengajakmu kesini. Tapi mama tidak berdaya Sayang ..." lirih Alia seorang diri. Alia terus memandangi foto Bayu bersamanya tadi siang.
Suara ketukan pintu membuat Alia tersentak Bik sarifah yang mengetuk pintu kamarnya. Terdengar ia memanggil namanya.
"Ada apa Bibik mengetuk pintu malam-malam begini?" batin Alia.
"Di luar ada tamu Alia, sepertinya dia baru pertama kali datang ke sini." ujar bibik.
"Siapa dia ya Bik? laki-laki atau perempuan?" tanya Alia.
"Dia seorang laki-laki tua," jawab bibik.
"Hah yang benar saja Bik." Alia kaget tidak percaya.
Alia pun jadi penasaran ia pun beranjak turun ke bawah menemui tamu yang dikatakan Bik Sarifah itu. Alia membuka pintu, ia kaget melihat seorang lelaki tua sedang menunggunya di teras."
"Selamat malam?* ucap Alia "maaf ada yang bisa kami bantu?" tanya Alia.
sontak pria tua itu menoleh ke arah Alia dan kegirangan.
"Alia anakku ...!" Seru lelaki tua itu.
__ADS_1
Alia kaget ia mendorong tubuh lelaki itu yang hendak memeluknya.
"Sini Nak, aku adalah ayah mu," ucap lelaki tua itu.
"Tidak mungkin, aku sudah tidak mempunyai ayah lagi. Kata mama ayahku sudah lama meninggal saat aku masih dalam kandungannya," ucap Alia.
"Mama mu telah berbohong Alia, ayah masih hidup ia memang melarang ayah untuk menemui mu. Maaf kan Ayah Sayang, karna tidak menemui selama ini karena mamamu selalu melarang ayah untuk menemui kamu hingga kamu dewasa seperti ini baru kita bertemu. Tapi beruntung saat ini impian ayah sudah tercapai yaitu ingin berjumpa dengan mu Nak," lirih orang tua itu hampir menangis mata ha memerah.
"Katakan sejujurnya siapa sebenarnya dirimu? tolong ... jangan ganggu aku, jika kamu inginkan sesuatu silahkan bicarakan saja saya akan mengabulkan apa pun permintaanmu tapi ku mohon jangan berpura-pura mengaku sebagai ayahku," cetus Alia. Alia hendak menutup pintu sebab ia tidak percaya pada pria tua itu ayahnya.
"Tunggu Nak, ayah bisa membuktikan bahwa aku benar-benar ayahmu. Ini kamu lihat foto ini." tunjuk pria tua itu yang memperlihatkan sebuah foto dirinya dan Melinda pada Alia. "ini adalah aku dan mamamu di masa muda saat kami akan melangsungkan pernikahan. Kamu lihat ini mamamu dan ini ayah Alia... pria itu menyakinkan Alia.
Alia melihat foto pernikahan itu ia pun menangis melihat mamanya memang benar bersama pria itu.
"Jadi kamu benaran ayah ku? tapi kenapa mama bilang kalau ayah sudah meninggal?" tanya Alia.
"Itu karena mamamu sangat membenciku Nak, karena suatu kesalahan besar, papa menikah setelah mamamu mengandung," ujar nya menjelaskan.
"Hah, ayah seorang penghianat! tidak aku tidak mau punya ayah seorang penghianat..!" Alia menutup pintu rumahnya ia tidak mau melihat pria tua itu. Ia menyuruh Bik Sarifah mengusir pria tua itu.
"Alia sebaiknya kamu jangan begitu, bagaimana pun juga dia ayah mu Alia. Karena dialah kamu bisa hadir di dunia ini. Seharusnya kamu bersyukur ternyata kamu masih punya keluarga." ujar Bik Sarifah menggurui.
"Tidak mau Bik, lebih baik aku hidup sebatang kara dari pada harus memiliki ayah seorang penghianat.
Aku tidak punya ayah Bik ayah ku sudah mati." Alia berisi keras tidak mau mengakui ayahnya.
Bik Sarifah menemui pria tua itu.
"Maafkan Alia ya Pak, mungkin ia masih belum menerima kenyataan ini. Maaf aku akan menutup pintu sesuai perintahnya."
"Iya maaf sudah mengganggu, sampaikan maaf ku pada Alia. Maaf apa aku boleh menitipkan ini padamu?" tanyanya.
pria tua itu menunjukkan sebuah foto pada Bik Sarifah. "Tolong berikan ini pada Alia, barang kali ia berubah pikiran mau menyimpan nya sebagai kenangan kalau dirinya pernah mempunyai orang tua yang utuh. Sampaikan juga kalau aku sangat mencintai nya dan sangat merindukan nya."
Bik Sarifah mengambil foto itu dan menyimpannya.
__ADS_1
"Aku pamit." pria itu berlalu. Bik Sarifah menutup pintu kembali. Sedangkan Alia sudah pergi ke kamarnya lagi, sedang meratapi nasibnya yang malang karna pernah mempunyai seorang ayah penghianat dan ia tidak mau mengakui nya.