
Jujur Alia mulai tertarik dengan Arif karna sikap pedulinya dan perhatian pada Alia. Arif bahkan setiap saat menelepon Alia hanya sekedar untuk menayakan kabar dan keadaan Alia. Ia tau dari Bik Sarifah kalau Alia tidak keluar kamar sejak pagi.
Malam itu Arif kembali menelpon Alia. Alia pun selalu merespon panggilan dari Arif mungkin saat nya ia harus membuka diri untuk Arif sepertinya Arif juga sangat perhatian padanya. Ia pun langsung mengangkat panggilan dari Arif.
"Alia apa yang sedang terjadi dengan mu? kenapa kamu mengurung diri dikamar?" tanya Arif.
"Aku tidak apa-apa kok Rif, hanya kecapean saja," jawab Alia ngeles.
"Jangan bohong Alia, aku tau kamu sedang berbohong."
"Dari mana kamu tau sih! kalau aku tidak keluar kamar seharian?"
"Sama siapa lagi kalau bukan dari Tante aku," jawab Arif.
"Hem ternyata Bibik udah jadi mata-matamu ya di sini?" Alia melototi Arif.
"Ya iyalah Tante juga sudah merestui hubungan kita kok."
"Apa?" Alia ngegas.
"Jangan ngegas gitu dong, budek telinga ku Alia,"
"Aku bingung sejak kapan sih aku ada hubungan dengan mu?"
"Sejak pertama kali bertemu dengan mu"
"Rif tolong jangan buat aku semakin kesal."
"Iya aku minta maaf. Kamu belum jawab pertanyaan aku kenapa kamu mengurung diri hari ini!" Arif masih penasaran.
Terpaksa Alia bercerita pada Arif karna ia memaksa Alia untuk bercerita. Ia pun merasa lega karena bebannya sedikit berkurang karena Arif selalu memberikan nasihat pada Alia ia juga selalu menghibur Alia.
Semakin lama hubungan Arif dan Alia semakin dekat Alia tidak lagi seperti dulu, ia sudah bisa menerima sikap Arif yang selalu lebay dan selalu menggodanya dengan kata-kata mutiara. Itulah Arif ia akan selalu menyanjung wanita yang ia sayangi setiap saat.
Akhirnya Arif bisa meluluhkan hati Alia. Alia juga akan berusaha untuk menerima semua sikap Arif ia akan segera melupakan masa lalunya bersama Danu dan membuka lembaran baru dengan Arif. Arif berencana akan segera melamar Alia. Alia pun tidak keberatan dengan keputusannya.
Alia akan mendatangi Danu untuk menyelesaikan masalah nya berdua setelah itu ia akan menyerahkan sisa hidupnya bersama Arif. Semua itu Arif sendiri yang memberikan saran itu pada Alia agar ia membereskan semua masalahnya dengan Danu. Setelah beres baru ia akan melamar Alia. Ia tidak mau menjadi bumerang bagi hidup Alia ia akan melamar Alia jika Alia benar-benar sudah siap untuk menikah dengannya tanpa memikirkan masalah lain lagi. Sehingga ia lebih pokus pada hubungan mereka.
Alia pun memutuskan untuk segera menemui Danu.
Bagaimana pun juga ia tidak boleh egois ia harus membereskan masalahnya dengan Danu. Ia akan mengatakan pada Sinta tentang sebenarnya.
Saat itu Alia sudah tiba di kota yang Danu tempati.
Ia menelpon akan segera menemuinya Danu pun dengan semangatnya mengiyakan ucapan Alia.
Sore hari menjelang malam mereka berjanji di suatu tempat untuk bertemu. Danu pun menyiapkan dirinya untuk menemui Alia. Sinta merasa curiga Danu bersikap lain dari biasanya ia tampak gugup saat ditanya Sinta.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Sinta.
"Aku ada pertemuan dengan para dosen dari luar kota malam ini Sinta aku pamit ya?" ucap Danu sungkan.
__ADS_1
"Tumben pertemuan nya malam Mas,"
"Iya kalau siang mereka semua sibuk, gak bisa bagi waktu," jelas Danu beralasan.
"Aku pergi dulu ya Sinta," Danu mengecup kening Sinta dengan mesranya Lalu ia berangkat.
Setelah itu, Sinta pergi menemui putranya dikamar nya. Ia bangga melihat anaknya sudah bisa belajar sendiri tanpa di suruh Sinta pun menghampiri anaknya. "Bayu sedang ngapain?" tanya Sinta.
Bayu merasa malu di dapati mamanya tengah menggambar.
"Bayu sedang belajar gambar Ma...," ucap nya sambil menyembunyikan gambaran nya pada Sinta.
"Hem, kenapa di sembunyikan?" Sinta mengintip gambaran Bayu.
"Bayu sedang gambar siapa sih? tampaknya gambar orang?" tebak Sinta.
Bayu tampak malu-malu menunjukkan gambaran nya pada Sinta.
"Bayu lagi gambar orang-orang yang bayu sayangi," ucap Bayu sambil menunjukkan gambaran ya.
"Wah bagus banget," puji Sinta.
"Ini Papa, Mama, Tante dan Nenek dan ini Bayu," ucapnya sambil menunjuk gambar satu persatu pada Sinta.
Sinta terharu melihat anaknya sudah sepintar itu.
"Bayu pintar banget gambarnya," puji Sinta lagi ia kagum melihat hasil gambaran Bayu anak sekecil Bayu sudah pintar gambar manusia dengan sempurna.
"Iya dong.... Bayu kan kalau besar nanti mau jadi pelukis Ma," ucap nya dengan bangganya.
"Bayu tau tidak kalau Kakek juga suka melukis?" tanya Sinta.
"Baru tau, apa itu benar?" Bayu meragukan ucapan mamanya.
"Iya benar, Kakek dulu sering melukis di kamarnya sama seperti Bayu. Tapi sayang, sekarang pandangan Kakek sudah tidak jelas lagi, ia pun berhenti melukis," ujar Sinta pada Bayu.
"Oh gitu ya, pantas saja Bayu tidak tau ternyata itu dulu."
"Iya," Sinta mengelus-ngelus anaknya dengan kasih sayangnya.
"Kalau Papa hobby apa Ma?" tanya Bayu.
"Pa-pa... Pa-pa juga hobby menggambar sepertinya."
"Oya? Papa kemana Ma...?" tanya Bayu tiba-tiba bertanya keberadaan Danu.
"Papa sedang ada pertemuan dengan teman-temannya," jawab Sinta.
"Oh sayang banget, padahal Bayu pengen ajak dia gambar tadi. Untuk melihat gambaran Ayah, apa dia sehebat Bayu?"
"Kamu kan bisa mengajaknya lain kali."
__ADS_1
"Iya ya... Oya Ma, kira-kira Tante Alia malam-malam begini ngapain ya?" tanya Bayu tiba-tiba kepikiran pada Alia.
"Bayu kangen Tante Alia?"
"Iya Ma,"
"Sini! kita telpon dia tanyain dia lagi apa?"
Sinta pun menghubungi Alia.
"Halo Alia," sapa nya.
"Iya halo ada apa Sin?" tanya Alia gugup.
"Bayu mau bicara denganmu."
"Benarkah? mana dia?"
.
"Tante..., apa kabar?"
"Iya Sayang, kabar baik. Bayu apa kabar?"
"Bayu baik-baik saja, bayu kangen Tante. Kapan menemui bayu lagi?"
"Nanti tante kabari ya," ucap Alia.
"Baik Tante."
Mereka pun saling mengobrol saat mereka tengah mengobrol Danu pun datang menemui Alia.
"Sayang nanti Tante telpon lagi ya, sekarang tante ada kerjaan sedikit," ucap Alia.
"Oh Ya sudah lah tante, da-da Tante...," ujar Bayu.
"Iya Sayang, jangan begadang nya tidur lagi."
"Siap Tante."
Bayu pun mengemasi alat-alat tulisnya ia bersiap akan tidur. Sinta menemaninya sampai tertidur.
Setelah itu, Sinta pun pergi ke dapur perutnya terasa lapar ternyata di dapur tidak ada makanan lagi ia lupa kalau Bibik hari itu pulang kampung. Sinta pun memutuskan untuk mencari makanan di luar.
Sinta mendatangi kamar Lisa untuk berpamitan akan pergi keluar sebentar.
"Ma... apa mama mau pesan makanan? Sinta mau keluar mau beli makanan." ujarnya sambil mengetuk pintu.
"Iya pergilah! mama sudah makan," ujar Lisa.
Sinta pun pergi.
__ADS_1
Sinta mampir ke lestoran ternyata di lestoran di dekat rumah nya ternyata di situ sedang ramai orang ia pun pergi karna tidak mau menunggu terlalu lama. Sinta pindah ke lestoran lainnya yang agak jauh dari rumahnya. Sinta teringat ingin membeli sesuatu di supermarket ia pun mampir. Setelah di supermarket ia mampir di sebuah kafe untuk memesan minuman segar. Karna di supermarket kehabisan minuman yang dia inginkan.
Bersambung...