Takdir Hidupku

Takdir Hidupku
Danu merasa panik


__ADS_3

Saat Lisa melihat Santi dan Danu berjalan menuju meja makan Lisa sengaja berbicara nyaring agar mereka bisa mendengar kalau Lisa tidak suka melihat sikap mereka yang membuatnya menunggu.


"Sejak kapan sih mau sarapan pake acara tunggu menunggu gini, biasanya juga tidak seperti ini" omel Lisa. "lain kali kita gak usah tunggu mereka lagi Bayu, biarin aja kita abisin makanannya sekalian," cetus Lisa lagi. Bayu menghentikan Lisa agar tidak mengomel lagi.


Bayu terseyum melihat Alia dan Danu sudah datang.


Lisa membuang muka malasnya ke arah mereka.


"Maaf Ma. Sudah menunggu," ucap Sinta sungkan.


"Kalian kenapa sih lama sekali?" tanya Lisa sambil berdiri ia memandang sinis ke arah mereka.


"Hem... Nenek. Sudah lah berhenti ngocehnya Mama dan Papa kan sudah datang, jadi lebih baik sekarang kalian makan aja, gak baik lho Nek pagi-pagi marah depan makanan lagi, sudah lah nenek yang sabar yah," ucap Bayu menggurui. Lisa terdiam ia duduk kembali dan mulai mengambil makanan.


"Abis nya nenek kesal lihat kelakuan Mama dan Papamu itu seperti anak kecil saja!" ucap Lisa.


Bayu makin hari makin pintar saja ucap Sinta bangga pada anaknya.


Danu melihat ada makanan kesukaan nya ia jadi semangat untuk makan.


"Wah nampaknya sedap nih lauk nya hari ini," ucap Danu melirik Bayu.


"Pasti enak dong Pa, lauk kesukaan kita..." sambung Bayu terseyum.


"Papa tau tidak? Bayu nambah lho makan nya, iya Kan Nek...!" ujar Bayu pada Lisa.


Lisa memasang senyum pada Bayu tapi tidak dengan Danu.


"Jadi Bayu udah makan?" tanya Danu.


"Hihi... Maaf Pa, abis nya Mama dan Papa makannya pake drama duluan sih, keburu lapar Bayu ya... akhirnya Bayu makan duluan deh," hahaha Bayu menertawai Sinta dan Danu yang ketahuan tengah beradu mulut tadi saat di kamar, lupaya Bayu sempat nguping pembicaraan mereka.


"Nek tau tidak! ada yang jadi anak kecil lagi lho di rumah ini, makan pake paksa-paksa gitu...?" ledek Bayu sambil tertawa kecil mengarahkan pandangannya pada Papanya.

__ADS_1


"Yang benar saja! siapa dia?" Lisa melirik Danu dan Sinta. Mereka jadi menunduk malu ketahuan sedang beradu mulut. Bayu terseyum ke arah papa dan mamanya.


Lisa pun jadi tau kalau mereka ternyata bertengkar duluan sebelum datang sarapan tadi. Pantas saja mereka lama lupanya bertengkar duluan, pikir Lisa.


"Lain kali kalau mau makan, jangan pake drama duluan ya orang menunggu sampe lapar tau! langsung makan saja, kalau ketahuan sama anak kan malu," cibir Sinta sambil memandangi anak dan menantunya itu.


Danu dan Sinta pun jadi malu pada anaknya dan mamanya karena sudah ketahuan bertengkar.


"Sudah lah Nenek, makan saja. Bayu ambil tas dulu ya...," ucap Bayu sambil berlari ke kamarnya mau mengambil tasnya ia siap akan berangkat sekolah.


"Danu, Sinta apa benar kalian bertengkar?" tanya Lisa.


"Bukan bertengkar kok Ma, cuma saling menasehati aja iyakan Sinta," ujar Danu menyenggol bahu Sinta. Sinta pun mengiyakan ucapan Danu karna tidak mau memperpanjang masalah karena Sinta tau kalau mertuanya sudah marah dua hari tiga malam dia masih kuat mengomel makanya selama ini Sinta dan Danu sangat segan pada Mamanya.


"Ya sudah kalau begitu, cepetan makan. Bayu sudah siap menunggumu Sinta. dan kamu Bayu mama mau bicara sebentar dengan mu," ujar Lisa pada keduanya.


Desiran darah Danu mengalir seakan ia ingin beranjak dari tempat duduknya ia tidak mau berbicara dengan mamanya, yang jelas ia sudah tau apa yang akan mamanya bicarakan itu pasti soal tes itu. Setelah Sinta selesai makan ia pun pergi bersama Bayu. "Ma, Mas kami berangkat duluan ya...!" ucapnya berpamitan.


Tinggal Danu dan mamanya masih berada di meja makan itu. Danu merasa serba salah saat itu ia tampak gugup di hadapan mamanya.


Danu bagaimana hasil tes itu, apa sudah keluar?" tanya Lisa.


"Belum Ma, Danu akan berikan pada Mama jika hasilnya sudah keluar."


"Baiklah mama tunggu, mama sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui lebih jelasnya lagi. Selama ini mama tidak percaya kalau Bayu adalah anaknya Alia," ucapnya mencetus.


"Apa yang membuat Mama begitu?"


"Bisa saja kan Alia itu berbohong karena ingin mengincar harta kita mungkin dia hanya ingin memanfaatkan Bayu saja dengan berpura-pura manis di hadapan kalian. Mama tidak akan terkecoh dengan akal bulusnya itu." Lisa bicara dengan sinis.


Danu hanya bisa menarik napas panjang mendengar mamanya bicara seperti itu.


Kenapa Mama tidak suka pada Alia? padahal Alia benar-benar ibu kandung Bayu. Maafin aku ma aku sudah berbohong pada Mama, aku tidak akan memberitahu Mama soal hasil tes DNA itu."

__ADS_1


Danu teringat surat hasil tes itu ia pun balik ke kamarnya mencari hasil tes itu ia mengeledah semua lemarinya. Surat itu tidak ada di kamar.


"Ya ampun kok aku bisa lupa sih...! kamana surat itu?" Danu jadi panik. Ia pun pergi keluar melihat di dalam mobilnya dan ia menemukan surat itu. Danu bernapas lega. "Huh untung saja ketemu." Danu menyimpan surat itu tasnya.


Lisa keheranan melihat Danu kalang-kabut. Ia mendatangi Danu. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lisa.


"Iy-iya Ma, Danu biasa saja kenapa Ma?" tanya Danu gugup.


"Mama lihat kamu tampak tidak tenang. Kenapa kamu bolak balik keluar masuk kamar?"


"Oh itu, aku sedang mencari berkas yang akan di bawa di kampus hari ini Ma, itu lho materi pelajaran buat anak-anak tapi sudah ketemu kok Ma," jelas Danu berbohong.


"Oh syukurlah kirain ada apa lagi." Lisa menghela nafas. Danu pun pamit pada mamanya.


"Danu...! jangan seperti malam kemarin lagi yah pulangnya, kasian Bayu nyariin aku harap kalian jangan egois pikirin Bayu yang ingin waktu kalian juga untuk menemaninya di rumah." pinta Lisa.


"Iya Ma, danu tau kok. Hari ini danu akan balik capat." Danu bersalman dengan mamanya. Ia bernapas lega bebas dari interogasi mamanya.


"Sekarang aku harus cari cara bagaimana agar mama tidak mempertanyakan hasil tes itu. Apa aku buat hasil tes palsu ya...?" Danu menemukan ide. "Apapun caranya akan aku lakukan asal Mama tidak tau kebenarannya. Aku harus menyimpan rahasia ini rapat-rapat bila perlu aku akan merobek hasil tes itu." ucap nya berbicara dengan dirinya sendiri.


Sayangnya Danu tidak langsung merobeknya surat itu masih ada dalam tasnya. Danu pun segera berlalu dari rumahnya. Lisa pun masuk dalam rumah.


Di perjalanan Danu menghubungi Alia lagi. Ia ingin meminta pendapat pada Alia ia harus melakukan apa. Karena ia sudah bingung bagaimana caranya ia akan bertindak agar semua tidak mengetahui semuanya. Danu juga ingin meminta bantuan pada Alia untuk memalsukan hasil tes itu, ia mengajak Alia ketemuan lagi. Tapi Alia menolaknya.


"Sudah berapa kali aku katakan padamu Danu! kalau aku tidak akan pernah menemuimu lagi!" cetus Alia.


"Kenapa Alia? kenapa tolong jangan egois pikirkan aku. Aku bingung Mama yang sudah menyuruhku melakukan tes itu. Aku minta bantu dengan mu Alia bagaimana caranya aku bisa memalsukan hasil tes itu dan memperlihat pada Mama." ujar Danu meminta.


"Jadi Tante Lisa yang sudah menyuruhmu melakukan tes itu? apa dia meragukan kalau Bayu anakku!" Alia kaget.


"Iya Alia, maafkan mamaku ya yang meragukan kamu sebagai ibu kandung Bayu," ujar Danu jadi tidak enak pada Alia.


"Ya sudah, aku akan temui kamu nanti sore alamatnya nanti ku kirim!" ucap Alia mengakhiri pembicaraannya

__ADS_1


"Baik Alia aku tunggu..." Danu menutup ponselnya melanjutkan perjalanan menuju kampus tempatnya bekerja.


__ADS_2