Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Harapan yang Semu


__ADS_3

Jebakan yang telah lama di persiapkan Man dan Kiki untuk membunuh Bondan akhirnya terlaksana. Mereka menyuruh Rito menemui Bondan dengan mengatakan bahwa dia membutuhkan keris keramat untuk masuk ke hutan terlarang. Kabar mengenai sosok hantu yang bisa memberikan emas dan berlian, geger membuat mata si pria serakah dan gila itu tergiur dengan perkataannya.


“Benar kah yang kau bisikkan tadi pada ku?” ucap Bondan menatap tajam.


“Ya tuan, pak Man dan Kiki juga akan menyusul setelah menginstruksi para pekerja.”


“Cepat jangan buang waktu, kau bawa dua obor untuk menerangi jalan ku.”


Di sepanjang perjalanan, pria itu tertawa terbahak-bahak membayangkan tumpukan harta yang akan dia dapatkan melalui keris itu. Ketika memasuki garis area terlarang, Rito berpura-pura terjatuh sehingga salah satu obor padam.


“Arggh ada hantu tuan!” teriak Rito.


“Mana? Aku tidak melihatnya?”


“Di arah sana tuan.”


Bondan dengan sombongnya mengeluarkan keris ke arah atas bersikap seperti menantang. Langkah mendekat ke jebakan lubang. Dia terjatuh masuk berteriak sekuat-kuatnya. Rito meninggalkannya begitu saja, dia membawa satu obor yang masih menyala.


“Rito! Dimana kau? cepat bantu aku keluar dari sini!” teriaknya.


Di dalam lubang itu sudah di isi ular-ular kecil oleh Man dan Kiki. Senjata makan tuan adalah pepatah yang cocok untuk pria muda itu. Dia meregang nyawa di santap ular berbisa yang masuk ke dalam rongga hidung, mulut dan telinganya. Tawa Man dan Kiki menyaksikan kematiannya dari atas, lubang itu di tutup rapat-rapat dengan tanah yang sudah di gali dan dedaunan di atasnya.


“Hahaha, akhirnya kita bisa menguasai seluruh hartanya!” ucap Man.


“Ya, kesempatan emas ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Harta itu kita bagi dua dan secepatnya meninggalkan kampung ini” kata Kiki.


Berharap keajaiban kembali pada anaknya supaya selamat kedua kalinya. Dia menyadari kaitan Telaga Berkabut tidak akan pernah bisa terlepas dari hidupnya. Penggadaian nyawa yang di laying pada masa silam malah terganti Faras. Menyeka air mata di dalam lamunan panjang, wanita itu merindukan berusaha tegar.


“Nyonya, jalur manakah yang harus kita ambil?” tanya pak Denis.


“Jalur kiri pak, jangan lupa rumah itu bercat warna hitam.”


“Baik nyonya.”


Luntang lantung meminta bantuan pada sosok dukun yang di percaya bisa menyembuhkan Herman bahkan melepaskan segala ikatan dari Telaga Berkabut. Harun memberanikan diri masuk sendiri ke dalam rumah itu. Di dalam sana sudah di sambut sosok pria berpakaian hitam tersenyum menyeringai padanya.

__ADS_1


“Selamat datang, silahkan masuk. Ahahah.”


“Pak, langsung saja saya utarakan keinginan saya ini” ucap Harun.


“Jangan terburu-buru, saya akan memberikan apapun yang anda minta. Asalkan anda menuruti persyaratannya. Ahahah.”


Harun mendapatkan alamat itu dari salah satu staf pegawainya yang sangat dekat dengan Lina. Sosok wanita yang sangat membenci dirinya. Alamat dukun cabul yang di berikan kepada staf pegawai untuknya. Lina teramat benci akan kesuksesan Harun, terlebih lagi amarahnya kebencian di masa lalu akan Faras sosok pria yang dia cinta malah memilih Harun sebagai istrinya.


“Harun, sekarang kau kena sendiri batunya! Rasakan pembalasan ku, ini baru permulaan! Ahahah” ucap Lina di dalam ruangan kerjanya.


Dubrakk. (Suara bantingan pintu)


“Lina! Apa maksud dari perkataan mu?”


Warid melotot memukul meja, dia ingin menampar wanita itu akan tetapi mengingat hubungan akrab keluarganya membuat dia menahannya.


“Warid, kau jangan ikut campur urusan pribadi ku! Wanita itu harus di beri pelajaran. Aku mengetahuinya, Faras meninggal karena ulahnya menggadaikan nyawa di tempat terkutuk itu!”


“Tidak kau salah besar! Semuanya salah ku, jika saja aku tidak membawanya ke sana__”


“Cepat katakan apa yang sudah kau lakukan pada Harun? Atau__”


“Atau apa?”


“Atau aku tidak segan-segan melakukan hal yang sama pada mu”


“Sekalipun aku memberitahunya maka kau sudah terlambat menyelamatkannya dari cengkraman si dukun Orak!”


“Aku sangat kecewa pada mu Lina.”


Warid berlari masuk ke dalam mobil, dia membawa beberapa penjaga menuju lokasi. Dia mendapatkan alamat itu dari salah satu kaki tangan Lina yang sudah dia percaya sebagai sumber informasi.


Bayaran tinggi dan sebagai mata-mata di antara dua keluarga itu. Hingga kini hanya dia yang mengetahui bahwa mereka adalah saudara tiri. Ayahnya menyimpan rahasia rapat-rapat dari ibunya dengan berselubung kedekatan kedua keluarga yang terjalin dengan baik.


“Wanita itu semakin licik saja!” batin Warid.

__ADS_1


...----------------...


Harun menyodorkan foto Herman, dia menyampaikan semua keluhannya pada pria itu. Namun padangan mata si dukun malah tertuju pada bagian depan tubuh hingga Harun merasa risih menutup pahanya dengan tasnya.


“Pak, jadi apakah bapak bisa membantu saya?”


“Tentu saja, ayo ikut saya ke dalam. Semua harapan mu akan terwujud. Ahahah”


Si dukun menarik paksa Harun masuk ke dalam kamar. Harun menolak merontah-rontah di abaikan dengan cengkraman kuat sambil menatap wajah dan tubuh yang membuat dukun Orak tidak sabar hingga menyemburkan mantra membuat dia pingsan. Kesalahan Harun terlalu memberanikan diri masuk sendiri tanpa membawa para penjaga.


Nasib baik masih berpihak padanya, Warid datang tepat pada waktunya. Dia menghajar si dukun hingga babak belur lalu memerintahkan para ajudannya membawa ke pihak yang berwajib. Harun adalah wanita yang tidak penah bisa lupakan seumur hidupnya. Warid ikut merasakan penderitaan yang seang di alaminya, dia mencari cara membantu kesulitan wanita itu meskipun nyawanya sendiri taruhannya.


“Aku sudah memukul si dukun cabul yang sakti itu dan mencobloskannya ke penjara. Aku harus bersiap jika akan di santetnya di kemudian hari” gumam Warid.


......................


“Dimana aku?”


“Harun jangan banyak bergerak. Tubuh mu sangat lemah, dokter baru saja memeriksa mu.”


“Aku mau ke rumah sakit, Herman pasti menunggu ku”


“Biar aku yang mengantar mu.”


“Tidak usah. Sstthh.”


Harun berjalan sempoyongan memegang kepalanya.


Warid membopongnya kembali ke kasur, dia memberikan segelas air kemudian memintanya untuk tenang. Terlihat raut wajah trauma ketakutan atas perlakuan si dukun cabul yang hampir saja melakukan hal buruk padanya.


“Aku tau si dukun cabul itu ingin memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Kenapa engkau tidak membawa teman atau body guard masuk kesana?”


“Pikiran ku yang sudah kalut ini hanya berfokus demi Herman.”


Setelah merasa baikan, Harun kembali ke Rumah Sakit bersama para penjaganya. Dia menimbang rasa amarah pada Warid yang sekarang menjadi penyelamat hidupnya. Seolah kejahatannya di masa lalu ingin di bayar di masa kini. Tapi tetap saja keadaan itu tidak bisa di ubah, terutama kutukan dan kematian musibah yang menimpa hidupnya. Faras tidak bisa hidup kembali dan semua penderitaan ini tidak akan berlanjut menyiksa batinnya.

__ADS_1


__ADS_2