
Pria yang sholeh itu kini benar-benar tergoda oleh salah satu penghuni Telaga Berkabut. Cinta terlarang mereka di mulai pada lembar kelam tidak berujung.
...💀💀💀...
Paku besar tertancap tepat di punggung makhluk itu, dia tidak bisa terbang menghilang atau menghindar. Sandika menggesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke bebatuan yang permukaan kasar. Setelah terbuka, dia secepatnya membuka ikatan pada tubuhnya. Para ajudan di hajar habis-habisan olehnya, begitu pula Warid terkena pukulan dari pria itu. Warid tidak menyangka Sandika mempunyai ilmu seni bela diri. Dia mengejar Sandika yang berlari bersama sosok hantu itu ke arah perbatasan hutan terlarang.
Mereka kehilangan jejak saat melewati wilayah lumpur hidup. Menyadari daerah rawan itu tidak di samping suara aneh yang mengganggu. Warid memutuskan meninggalkan hutan dan kembali ke perkampungan. Namun, sudah bermil-mil dan berjam-jam lamanya, mereka belum juga menemukan jalan keluar.
......................
“Arrgghh! Arghh!” teriakan Murga kesakitan.
Dia menekan punggungnya, darah hitam mengalir keluar memandikan tubuhnya. Murga mendorong Sandika berulang kali, dia menjauh jalan tertatih kesakitan menghindari pria itu mendekatinya. Dia tidak bisa terbang ataupun menggunakan kekuatan sihirnya. Tubuhnya perlahan berubah, jemari panjang menjuntai, wajahnya berubah mengerikan, tubuh sedikit membungkuk merangkak mengeluarkan suara yang aneh.
“Murga! Murga!” panggil Sandika.
“Jangan mendekat!” teriak Murga.
“Murga, aku tidak akan meninggalkan mu.”
Meski sosok Murga menolak hingga dia mencengkram kuat lengan pria itu hingga terluka, tetap saja Sandika membantunya berdiri bergerak menuju ke arah yang dia kehendaki. Samar dari kejauhan lengkingan suara sosok Rambe, dia mengibarkan kain kafan hitam siap membungkus siapapun yang sudah menyakiti saudaranya itu. Sosok brutal Rambe keluar dari gia setan mencari lengkingan suara Murga yang terdengar kesakitan.
‘Murga!” panggilan suara Rambe terdengar oleh keduanya.
Semula gerakan hantu yang kesakitan itu menjauh kini Murga tertatih menarik Sandika untuk bersembunyi di salah satu bebatuan raksasa.
__ADS_1
“Cepat pergi! Selamatkan dirimu! Aku tidak mau engkau di bunuh oleh kakak ku!” pekik Murga.
“Tidak! Aku tidak tega meninggalkan mu sendiri dengan keadaan seperti ini. Murga bertahanlah, aku akan mencarikan obat untuk mu.”
Teriakan Rambe semakin dekat, Murga meminta Sandika melumuri tubuhnya dengan lumut yang menempel pada bebatuan dan menahan nafasnya. Sementara Murga membungkus tubuhnya menggunakan bajunya yang bersimbah darah.
Di dalam diam, dia menahan rasa sakit seolah menarik paksa seluruh organ tubuhnya yang telah mati secara paksa. Rambe terbang berteriak mencari sosok Murga, di atas bebatuan raksasa, keduanya tidak terlihat olehnya. Melihat Rambe sudah pergi, Murga melanjutkan langkah di papah Sandika mendekat ke Telaga berkabut.
Mugra masuk ke dalam air, di sekeliling yang di selimuti kabut tebal itu para mata setan mengincarnya sosok Manusia yang menanti hantu itu. Sebelum menceburkan diri, dia berpesan agar menunggu nya di permukaan. Menunggu hingga Matahari tergelincir, pria yang penuh kekhawatiran itu membuka lasa kaki masuk ke dalam Telaga berkabut.
Dari dasar air, kaki Sandika di tarik sebuah tangan yang kasar. Di sisi kanan dan kiri berputar kepala tengkorak menggertakkan gigi seolah akan memakannya. Murga secepat kilat menarik Sandika naik ke permukaan menggunakan sisa kekuatannya.
Setelah keluar dari air, Murga meminta sekali lagi agar Sandika meninggalkannya. Dia tidak menjawab perkataan sosok tersebut.
Paku yang tertancap di punggungnya merubah diri menjadi manusia kembali. Murga yang jarang tampak di siang hari kini lebih leluasa menikmati sinar terik mentari. Tapi, tidak bisa di pungkiri jantungnya yang sudah menghitam itu tidak berdetak meski terlihat berwujud manusia.
“Aku bisa melihat wajah mu dengan utuh, bagaimana pun bentuk mu aku tetap mencintai mu dengan tulus” ucap Sandika.
Murga tersenyum di kala pria itu mengusap ujung pelipisnya yang masih basah. Dia seolah bermimpi indah merasakan kebahagiaan yang pernah terkubur di hidupnya.
“Sandika, aku berharap semua ini bukan semu belaka. Aku telah lama menanti hari berdua menggapai mimpi kita.”
“Aku akan membawa mu ke kota, apapun itu akan ku lakukan agar engkau bisa menjalani hari baik. Murga, menikahlah dengan ku.”
Sandika menyematkan cincin ke jari manis sosok yang menjelma berubah menjadi manusia itu. Air mata Murga menetes, secepatnya Sandika menghapusnya mengabaikan air mata darah yang keluar dari ujung pelupuk mata.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka engkau sampai sejauh ini mempersiapkan segalanya” ucap Murga.
Wajah ayu, kulit putih, alis mata bagai semut beriring dan rambut hitam panjang indah panjang tergerai. Cincin itu sangat pas di jari manis Murga, dia memeluk Sandika erat masih tidak percaya dengan kenyataan takdir hidup yang kini dia terima.
“Entah ini takdir baik atau buruk, aku bahagia mengenal mu” gumam Murga.
Terdetak patahan ranting, burung gagak berterbangan keras mengitari mereka. Angin menggulung membanting tubuh keduanya pula dengan dedaunan kering dan ranting pepohonan. Pertanda buruk akan terjadi, simbol darah dari burung hantu putih penghuni kekuatan sihir semasa keluarga Murga dan para saudaranya hidup. Mengingat Sandika telah masuk ke dalam Telaga berkabut. Dia sudah mendapat semat kutukan berantai yang terdapat di dalamnya. Sandika mengabaikan perkataan Murga yang memintanya agar tidak masuk ke dalam air.
“Murga tunggulah disini, aku akan mengambil uang dan keperluan lainnya di dalam mobil dan membawa mu ke kota, aku sengaja menyembunyikan mobil itu di dekat perbatasan hutan” kata Sandika.
“Apakah engkau benar akan kembali?”
“Ya, janji adalah hutang. Aku akan secepatnya menjemput mu.”
...----------------...
Di hutan, Warid, Beben dan para ajudan mencari Sandika dan makhluk yang mereka incar.
“Anak itu sudah gelap mata, dia lebih memilih sengsara dari pada hidup bahagia menikmati semua fasilitas peninggalan Harun” gumam Warid menunjukkan raut wajah amarah.
“Paman, kita sudah berkeliling hingga memasang kamera tersembunyi, tapi Sandika tidak di temukan. Aku takut dia berakhir seperti sahabat-sahabat lainnya” kata Beben.
“Sandika tidak akan di bunuh makhluk itu, sekarang yang terpenting adalah kita sudah berhasil menanamkan paku di punggungnya. Menurut ki Gendeng, sosok itu akan berubah memperlihatkan wujud asli dan kehilangan kekuatannya. Sekarang tugas kita adalah mencari dan membakarnya, Cuma itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk memusnahkannya menjadi debu."
Manusia berdampingan dengan makhluk lain, sebenarnya kebanyakan dari makhluk itu tidak akan mengganggu jika tangan jahil dan rasa keingintahuan manusia yang berlebihan mengusik ketenangan penghuni lain dan sekitarnya. Sehingga menimbulkan masalah bertubi-tubi, pro dan kontra saling menyalahkan.
__ADS_1