
Gelar pesta mewah tiga hari tiga malam di laksanakan meriah di kediaman rumah Paijo. Setelah mempersunting Ika sebagai istri kedua, pria itu seakan mengoleksi istri dengan menikahi wanita muda lagi bernama Via.
Tirai tenda biru berkibar di hias bunga-bunga segar yang sengaja di pesan dari kota. Makanan fresh dinner terisi penuh di lengkapi berbagai macam buah-buahan. Tidak hanya itu, banyak macam jus dan kue yang tersaji di setiap sudut meja.
Mera dan Meri menjerit menangis tidak terima karena sang ayah menikah lagi. Mereka harus mempunyai ibu tiri dan terpisah dari Ika. Kedua anak perempuan itu tetap tidak mau berpisah dengan ibu kandungnya. Mereka menghentikan tangisan berlari memeluk Ika yang sudah bersiap masuk ke dalam mobil.
“Ibu, kami tidak mau berpisah dari ibu! Hiks, hiks.”
“Kalian harus tetap bertahan disana. Ayah kalian harus menyekolahkan kalian sampai cita-cita kalian tercapai. Di sisi lain, kalian harus merawat ayah kalian dan menjaga kesehatannya” pesan Ika.
Dia berlapang dada menyadari semua kekuarang yang ada pada dirinya. Mengingat Via lebih cantik dan bisa membahagiaan Paijo. Bisik tetangga yang mengabarkan bahwa suaminya itu memakai pesugihan di tepis karena sudah melewati bertahun usia pernikahan tidak ada satupun anaknya yang di jadikan tumbal.
“Suami ku sangat baik, dia mencukupi semua kebutuhan ku. Tidak ada tumbal ataupun pesugihan, aku harus mengikhlaskannya karena Via adalah wanita pilihannya” batin Ika.
Walau berat melepaskan kedua putrinya, dia tidak bisa tinggal satu atap dengan istri muda suaminya. Ika memilih mengalah keluar dari rumah itu. Iringan musik terdengar di telinganya, dia menahan tangis di sela rasa hangat memeluk kedua anaknya.
“Suatu hari, ibu akan menjemput kalian. Telpon ibu jika terjadi sesuatu” ucap Ika.
Pria yang sudah di mabuk cinta melihat wanita lain yang lebih menggodanya enggan memperdulikan nasib anak dan istrinya. Dia bersenang-senang bahagia di atas pelaminan menggenggam erat tangan dan tersenyum bahagia.
...----------------...
Sosok kanjeng ratu di balik wujud asli Rambe, wanita itu sudah puasa melahap darah daging para pekerja yang di pilih sebagai tumbal. Tidak pada tahun berikutnya, kehamilan Via akan mengibarkan bendera kuning di depan rumah Paijo.
Mereka belum menyadari jika si jabang bayi akan menjadi tumbal berikutnya. Paijo kembali menggelar pesta yang semakin meriah sebagai kehamilan istri muda yang sangat dia cintai itu.
“Paijo adalah pria konglongmerat terkaya di kampung ini, lihat lah dalam satu malam semua keperluan perlengkapan pesta sudah selesai” bisik warga.
Sebelum pesta itu di mulai, malam sebelumnya Via mengalami mimpi buruk yang mengganggu pikirannya. Dia terbangun di dalam suasana ruangan yang gelap, sosok hantu berbaju merah menyeringai gigi raring panjang terbang menyentuh perutnya.
__ADS_1
Saat dia membuka mata, bayinya menghilang di dalam perutnya. Dia berteriak minta tolong tapi di dalam rumah besar itu tampak tidak ada satu pun orang sekalipun para pekerjanya. Dari balik dinding, muncul sosok anak kecil menangis minta tolong.
“Argghh!”
Bermimpi di alam lain, tersadar masih berada di alam lain pula lalu membuka mata lagi. Via berkai-kali masuk tenggelam sampai dia tidak bisa membedakan dirinya masih berada di alam tidur atau nyata.
“Bangun non”
“Mbok, dimana saya? Apakah saya masih bermimpi?” bola mata Via membelalak lalu memegang perutnya.
“Nyonya sepertinya sedang bermimpi buruk.”
“Apakah pak Paijo sudah pergi kerja mbok?”
“Tuan besar baru saja pergi satu jam yang lalu non. Beliau berpesan pulang larut malam karena ada rapat di luar kota non.”
“Aku hampir melupakan salah satu persyaratan dengan si ratu ular” gumam Paijo.
Di dalam rapat yang masih berlangsung, dia meminta ijin untuk pergi sehingga semua para staf yang hadir melihat ke arahnya. Salah satu staf berlari menghampirinya, di rapat penting ini pria itu menahan Paijo untuk meninggalkan rapat begitu saja.
“Pak rapat ini menyangkut kerjasama antar lima perusahaan yang ternama, jika bapak melewatkannya maka perusahaan bapak akan di hapus dan menjadi daftar tingkat perusahaan paling rendah.”
“Saya sangat buru-buru. Saya mohon undur diri pak, apapun hal penting lain, biar sekertaris saya yang mengurusnya.”
Paijo melajukan mobil sekencang-kencangnya. Dia meninggalkan para body guard dan sekertarisnya begitu saja. Para pengendara lintas hampir mengalami kecelakaan, aksi kejar-kejaran Paijo dengan para patroli aparat kepolisian pun tidak terelakkan.
“Ibunda ratu, bantu aku agar terbebas dan segera ke kamar rahasia itu” ucap Paijo berulang kali.
Rambe mendengarkan seruannya, dia menyeringai tertawa melihat manusia sesat itu yang terlalu percaya akan semua tipuannya.
__ADS_1
“Dasar kau manusia lemah dan penuh dusta!” seru Rambe menyorot mata setan dari atas bukit bebatuan raksasa.
Rambe menyebarkan ribuan kelelawar menghalangi mobil polisi tersebut. Paijo pun akhirnya lolos sampai pulang ke rumah kemudian berlari memasuki ruangan rahasianya.
-l
......................
Di alam tidur Via
Ini mimpi kesekian kalinya setelah menutup mata, dia melihat sosok anak perempuan kecil bermain bersama dua anak perempuan lainnya. Wajah mereka pucat, masing-masing memegang boneka di tangannya. Baju putih yang mereka kenakan bersimbah darah, ketika salah satunya menoleh kea rah Via. Dia menangis mengeluarkan air mata darah di susul yang lainnya.
Tempat yang tidak asing itu terletak di lantai paling atas. Via membuka mata lalu berjalan menaiki anak tangga sampai pada sebuah pintu berwarna hitam.
Dari bawah pintu, ruangan itu seperti sudah di tempati oleh seseorang di dalamnya. Terlihat lampu yang terang hingga sampai keluar. Bayangan orang berjalan dan suara aneh yang terdengar saat dia menempelkan telinganya pada pintu.
“Seperti suara mas Paijo” gumamnya.
“Non, kenapa non disini?” tanya si mbok.
“Mbok, siapa yang menempati ruangan itu mbok?”
“Di dalam tidak ada siapa-siapa non. Disini banyak debu dan kotoran karena jarang di bersihkan, nanti non dan bayi non bisa flu.”
Para pekerja lama itu berpura-pura tidak melihat Paijo yang sudah ada di dalam. Dia mengetahui sang majikan menggunakan kamar rahasia itu dan segala hal yang bersifat ganjil tentang kematian para pekerja yang tidak wajar.
Via kembali ke kamar, pikirannya yang masih tidak bergerak mencari apapun rahasia yang telah di sembunyikan suaminya. Dia yakin sekali semua mimpi yang seperti petunjuk yang harus dia lihat. Via membongkar isi lemari pakaian dan semua brankas milik Paijo. Namun dia tidak menemukan petunjuk apapun. Sampai tiba-tiba terdengar suar jeritan anak kecil yang berasal dari bawah kolong tempat tidurnya.
“Arhhhh, arghh!”
__ADS_1