
Setengah hati Beben masuk ke dalam hutan. Di hanya berani melangkah sampai pada tiga meter dari perbatasan kemudian berlari terbirit-birit keluar. Melihat dua ajudan berada di dekat rumah warga, Beben memanggil mereka memerintahkan agar menemaninya masuk kembali ke hutan.
“Untuk mempersingkat waktu maka kita kau sendiri ke jalur kiri sedangkan aku bersamanya di jalur kanan."
Di tengah perjalanan Beben lupa memberitahu jalur perbatasan hutan yang tidak boleh di masuki oleh siapapun. Setelah si juru kuncen tiada dan keris keramat menghilang, hutan zona angker sering memakan koban.
“Duh, aku kok pikun banget. Semoga si botak tidak masuk ke wilayah terlarang itu” gumamnya menepuk kepala.
Tempat asal muasal sosok itu adalah Telaga berkabut. Dia kembali lagi ke tempat itu, wajahnya murung memahami tidak akan pernah bisa terlepas dari kutukan air yang bersimbah darah. Jika tengah malam menjelang, air berubah menjadi darah. Tulang belulang naik ke permukaan, arwah-arwah hantu penasaran, suara merintih kesakitan menggema sangat kuat. Ini sudah hampir senja, Murga minta Sandika menjauh dari Telaga itu.
Di dalam ransel besar dan berat, Sandika mengeluarkan tenda kecil. DIa menegakkannya di dekat tumbuhan liar yang rimbun. Tenda itu di tutupi daun-daun berukuran besar. Tidak ada api unggun atau penerangan, hanya sebuah senter berada di dalam tenda. Sandika juga mengelilingi tenda dengan garam. Mengingat ular yang bisa datang kapan saja, semula dia pernah mengabaikan perkataan juru kuncen pertama yang pernah berpesan mengenai garam yang harus di bawa saat memasuki hutan.
“Secara logika garam ini menghindari atau penangkal ular dan hewan reptile lainnya” gumam Sandika.
Perutnya keroncongan, sudah dua hari menahan rasa lapar. Dia hanya meneguk air sebagai penghilang dahaga sampai hari ini dia terpaksa mengisi lambung mengajak Murga ikut makan sisa sebungkus roti bersamanya.
“Sandika, kau terlihat sangat pucat. Habiskan saja roti ini.”
“Kita makan bersama-sama. Jangan cemas, aku tidak apa-apa.”
“Aku belum sempat mengucapkan terimakasih atas pemberian ikat rambut yang aku kenakan. Di kehidupan pertama atau yang kedua ini, engkau lah yang pertama kali memberikannya.”
“Kalau kau menyukainya akan aku belikan ikat rambut indah lain untuk mu.”
......................
Di sisi lain Rambe masih mencari Murga. Terbang di atas perumahan warga, tanpa sepengetahuannya Misdi melihatnya saatt berada di teras rumah. Pria itu masuk ke dalam menutup pintu memberitahu Ika.
“Mana hantunya pak? Aku mau minta dia mengembalikan bayi kita! Hiks” ucap Ima.
“Sudah bertahun-tahun anak kita tiada bu.Dia hantu terganas di Telaga berkabut, kalau dia melihat ibu sama saja ibu menyerahkan diri untuk dia habisi. Tunggu disini bapak mau mengabarkan ke pos siskamling.”
Rumah yang berdekatan dengan pos, para penjaga tertidur suara dengkur keras tidak mengetahui kehadirannya. Misdi memukul kuat kentungan, sontak kedua penjaga pos terbangun gelagapan.
__ADS_1
“Ada apa pak?”
“Aku pikir tadi ada kebakaran.”
“Pak Edi, pak Tedi, sosok penghuni Telaga menampakkan wujudnya kembali.
“Astagfirullah! Aku pamit pulang dulu memberitahu anak dan istri ku!” ucap Edi.
“Bagaimana dengan mu pak, apakah engkau tidak pulang?”
“Tidak pak, rumah ku sudah di beri penangkal jimat.”
Sosok Rambe berhenti di salah satu rumah warga, dia menyamar sebagai pak Tedi. Setelah Ririn membuka pintu, dia menyambut suaminya itu dengan tersenyum. Perut besar di usapnya, tidak biasanya dia mengusap perut gerakan memutar hingga menekan bagian tengah.
“Uh sakit mas, kenapa di tekan kuat? Anak mu di dalam pasti kesakitan.”
“Bayi ini sudah waktunya keluar, ayo cepat masuk ke dalam kamar.”
“Tapi usia kandungan anak kita baju tujuh bulan tepat di hari ini. Tanda-tanda aku akan melahirkan juga belum terasa” jawab Ririn.
“Arggh! Sakit! Argghh!”
Bayinya lahap habis tepat di depan mata Ririn, tangisan wanita itu histeris dia menjerit sekuatnya. Para tetangga masuk mendapati keadaannya yang Tragis.
“Argghh!”
“Innalillahi wa innailaihi rojiun, bu Ririn”
“Tragis sekali bu Ririn!”
Para warga menyaksikan jasad dan bayinya yang menghilang. Pak Romi berlari ke posko memberitahu kabar kematian istrinya. Pria iru sgera berlari melihat sang istri yang terbujur kaku. Bayinya menghilang, isi perut terburai dan organ lainnya juga menghilang. Dia menangis menyesal tidak mendengarkan perkataan pak Misdi tadi.
“Maafkan aku Ririn, andai aku pulang pasti kau masih hidup.”
__ADS_1
Dia menyegerakan proses pemakaman istrinya. Ustad Musta menyerakan pada hari itu juga agar melakukan doa bersama terutama mengirim do’a pada bayinya.
......................
Ajudan bertubuh tinggi berjalan langkah ke jalur perbatasan hutan terlarang. Tubuhnya yang biasanya selalu berkeringat berubah dingin menggigil. Mengusap kedua telapak menghembus kemudian meneruskan langkah. Seorang perempuan bergaun merah menarik tusuk sanggul menggerai rambutnya yang panjang hingga ke tanah.
“Mas botak kemari, bantu aku melepaskan gaun ku yang tersangkut” panggilnya.
Dia melupakan tugasnya berjalan menghampiri wanita itu. Si algojo berjongkok melepaskan ujung gaun sedikit tersobek.
“Duh rusak kan gaunnya. Mas! Kamu gimana sih!”
Gelagat menggoda jelmaan sosok Rambe berjongkk memerkan setengah buah dadanya. Dia sengaja menurunkan sedikit gaun merah seksi itu. Pria itu terangsang menyentuh melemparkan mata nakal.
“Jangan disini mas, di dekat Telaga saja lebih sunyi” bisiknya.
“Dasar manusia berkelakuan setan! Mudah sekali kau masuk perangkap ku!” gumam Rambe.
Mereka bergandengan tangan sampaike pinggir Telaga. Tanpa pria itu sadari kakinya sudah di ujung air. sosok Rambe melepaskan bajunya, dia mendorong pria itu masuk ke dalam air. Lebih dalam sampai ke dasar Telaga berkabut. Teriakan di dalam air tidak terdengar siapapun. Tubuhnya bagai makanan segar di santap berebutan oleh para penghuni di dalam dasar Telaga. Sisa tulang tengkorak terbenam.
Sementara Beben dan ajudan yang mendampingi kembali ke pintu masuk hutan. Mereka menunggu ajudan yang mengambil jalan sisi kiri akan tetapi tidak kunjung kembali.
“Cepat susul dia, ingat jangan masuki perbatasan terlarang hutan. Aku dan pak Warid menunggu kalian di mobil.”
“Ya tuan saya akan mengingatnya.”
Jalur kematian yang di katakana Beben hanya di anggap enteng belaka. Tepat di depan pintu masuk, sosok wanita berbaju merah terduduk kesakitan menekan kaki kirinya.
“Duh sakit. Tolong!”
“Mbak, ini jalur terlarang. Kenapa mbak bisa disini?”
“Tolong saya mas, saya tersesat.”
__ADS_1
“Ayo kita keluar dari jalur terlarang ini mbak.”
“Jangan mas, rumah saya di dekat sana. Apakah mas bersedia mengantar?”