Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Berkaitan


__ADS_3

Apa yang di dapat dari sosok makhluk halus yang menyesatkan manusia itu? Dia binasa di dalam kematian yang tidak wajar.


Bunga memberontak sekuat tenaga melarikan diri dari cengkraman pria itu. Dia meraih batu di dekatnya, memukul keras kepala Paijo. Dia kesakitan menekan kepalanya yang mengeluarkan darah. Bunga berlari bersembunyi di salah satu pepohonan sekitar pekarangan halaman.


"Bunga keluar kau! wanita sialan! aggrhh!"


Paijo menyorot senter ke sekeliling. Nafas Bunga memburu ketakutan, dia menutup mulutnya sendiri rapat-rapat menekuk tubuh berharap pria itu tidak menemukannya.



Rambe menampakkan wujud asli menerkam Bunga dari belakang melahap setiap tetesan aliran darahnya. Decap suara temukan tulang belulang, Paijo menyaksikan siluman ular yang selama ini dia puja ternyata sangat berbeda jauh dari kecantikan yang dia perlihatkan.


"Itukah wujud ratu ular sesungguhnya?" dia membatin terduduk tidak menyangka mengingat berulang kali tidur dengan sosok tersebut.


Rambe terbang mengulurkan cucu tajam mencabut organ tubuhnya. Letak jantung bolong berurai darah. Dia meninggal mengeluarkan darah dari lubang telinga, hidung sampai pada *****.


Rambe membanting jasadnya ke ruang rahasia. Tumbuhan yang merambat menjalar menutupi rumah megah dan mewah itu. Tidak ada celah sedikit pun. Akar sangat kuat menempel. Warga yang mencoba melepaskan akar hingga membakarnya berujung terkena musibah tanpa di duga-duga.


"Kemarin Edi mencoba membakar rumah pesugihan itu. Api tidak kunjung menyala, angin seolah menghembusnya. Keesokannya Edi bermimpi buruk di susul demam tinggi" ucap salah satu warga yang berbincang-bincang di pos siskamling.


"Anak-anak yang berlalu lalang melewati tempat itu suka di teror penampakan dan gangguan mistis lain. Aku jadi khawatir anak-anak kita di sembunyikan seperti kejadian Gemi tempo lalu."


"Ya, bagaimana kita mengatasi rumah berhantu itu? kampung pedalaman ini sangat jauh dari perkotaan. Sangat di sayangkan pembangunan besar tuan Sandika tertunda akibat gangguan dari makhluk halus penghuni perkampungan Telaga Berkabut."


"Tapi walaupun ditunda, tuan Sandika memberikan dana bantuan secara merata untuk seluruh warga kampung."

__ADS_1


"Ya benar, kita sangat beruntung."


...----------------...


"Murga!" panggil Sandika.


Sosok yang sudah berubah menjadi setengah manusia itu tidak memiliki kekuatan apa-apa. Dia hanya bisa menunggu, bersembunyi menoleh melihat pria yang menepati janjinya itu kembali datang mencarinya. Murga berlari memeluk Sandika, kali ini dia berpikir tidak akan melepaskan pria itu sekalipun dalam kondisi yang genting.


"Aku sangat lama menunggu mu, Sandika. Bawa aku keluar dari sini, kita harus pergi sebelum Rambe menggunakan kekuatan sihir hitamnya."


"Murga, aku tidak pernah melepaskan mu. Maafkan aku, kendaraan yang akan membawa kita pergi terpaksa aku tinggal karena Beben dan paman Warid mengejar ku."


"Aku tidak memperdulikan semua itu, asalkan engkau kembali maka aku merasa aman dan bahagia."


Murga dan Sandika berjalan mencari jalan keluar. Sosok yang belum terbiasa menggunakan kedua kakinya itu kembali lagi menapak berjalan sesekali terjatuh. Dengkul terluka, Murga berusaha berdiri di topang Sandika.


"Sandika tidak biasanya aku merasakan rasa panas yang membawa ketika bersentuhan dengan kulit mu, apakah engkau jarang melantunkan ayat atau tidak ingin membakar ku? sungguh aku adalah wanita pembawa kesesatan bagi mu."


Ucapan Murga mengenai hati dan pikirannya. Langkah terhenti, Murga membisikkan sesuatu berharap dia berpikir ulang untuk berada di sisinya.


"Jauh di dalam harapan ku yang terbaik untuk kehidupan mu. Pikirkan lah sekali lagi sebelum kita jauh melangkah dan tidak bisa kembali."


"Murga, sekalipun sekarang aku pergi meninggalkan mu sama saja aku pria yang tidak bertanggung jawab"


"Aku tidak mengatakan engkau seperti itu. Sandika pergi lah, aku merasakan aroma Rambe semakin mendekati kita!"

__ADS_1


Sandika berlari sambil menggendong Murga, dia menghembuskan lafazh ayat pendek di sepanjang jalan. Di sela bacaan itu, Murga menahan rasa perih kesakitan seperti terbakar bara api. Setelah beberapa menit berlalu Sandika berhenti di salah satu pohon besar yang akarnya membentuk seperti sudut ruang cekung.


Sandika meletakkan posisi duduk Murga dengan lembut. Kulitnya merah melempuh, dia menghembus luka-luka pada tangan Murga.


"Maafkan aku, cuma itu satu-satunya cara agar Rambe tidak menemukan kita" ucap Sandika.


"Aku baik-baik saja. luka ringan ini pasti akan segera sembuh."


Di malam yang larut, Sandika terjaga menatap sekeliling hutan. Hewan liar mengintai dari balik celah pepohonan. Mata menyala di balik kegelapan, Sandika menggenggam tangan Murga memasang posisi siaga siap membawa melarikan diri jika terjadi sesuatu yang mencurigakan.


Murga merasakan rasa panas kembali, kulitnya terbuka lebar mengeluarkan nanah. Dia mengabaikan rasa sakit itu. Meletakkan kepalanya di pundak Sandika sambil memejamkan mata.


"Dia adalah pria baik yang memperlakukan ku dengan penuh rasa hormat meski wujud ku setengah manusia dan setengah hantu" gumam Murga.


Pemandangan kedua makhluk yang berbeda memaksa kan diri bersatu dalam ikatan cinta.


Sandika merasakan tangan Murga yang basah dan kasar. Dia melihat menggunakan senter tampak tangan wanita itu bernanah kulit terkoyak luka bakar mengeluarkan darah.


Sandika mengambil kotak P3k dari dalam ransel. Dia membalut luka Murga sesekali menipunya. Sosok di hadapannya terbilang kuat menahan luka berat ini.


"Sandika, jangan tinggal kan aku" lirih suara kecil sosok itu masih memejamkan mata.


"Murga, apakah engkau sedang bermimpi? sekarang wujud Murga sebagai manusia di hadapan ku. Apapun wujud mu, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu."


Rambut panjangnya yang kusut di ikat menggunakan ikat rambut yang sengaja dia bawa di dalam ransel itu. Sandika ingat cara bu Harun mengikat rambutnya dahulu. Dia mempraktikkan di rambut murga, mengambil daun kering yang menempel.

__ADS_1


Sandika melepaskan genggaman tangannya meneruskan bacaan ayat berharap sosok Rambe tidak menemukan mereka.


__ADS_2