
Suara ketukan pintu keras mengagetkan Jesi, dia mengepal tangan membuka bersiap memukul. Tidak ada siapapun, dia kembali sedikit kesal mendengar kembali suara itu terdengar kembali. Jesi membuka lagi melotot terkejut melihat bentuk tangan menempel pada pintu. Dia mencium bau darah, menjerit berlari mencari Paijo. Keanehan pada rumah besar itu tampak sepi bagai tidak berpenghuni, dia tidak melihat satu pun orang di dalam rumah.
“Kenapa tidak ada orang satu pun disini?” gumamnya.
Ramai suara langkah kaki anak-anak mondar-mandir di pada anak tangga. Dia menoleh melihat banyak anak-anak kecil merangkak dan berlari kesana kemari. Mata mengeluarkan tangisan darah, baju anak-anak itu sangat kotor terlihat rambut di penuhi hewan-hewan kecil di atasnya.
“Arrgghh! Tolong!”
Lorong kamar sepi yang kosong, udara lembab di sertai suara aneh menggema di seluruh ruangan. Dia berlari bersembunyi di bawah kolong meja. Dari bawah sosok makhluk berbaju merah terbang melayang meringkik. Jesi menutup rapat mulutnya, dia ketakutan bermandikan keringat. Dari belakang dia di jambak salah satu anak kecil yang di lihat tadi, tarikan sangat kuat seolah rambutnya akan terlepas dari kepalanya.
“Arghhh!”
Saat dia berhasil melarikan diri, di ruangan dapur si mbok berdiri memegang pisau besar tampak sibuk memasak sesuatu. Dia menghampiri meminta tolong padanya.
“Mbok, tolong saya mbok! Ada anak kecil yang__” perkataannya terhenti melihat wanita tua itu memotong bagian anggota tubuh manusia.
“Ada apa non?” tanyanya bernada datar.
“ahhh.”
Mencari pintu keluar rumah namun pintu depan itu terkunci rapat. Dia berlari ke pintu belakang Nampak terbuka lebar. Di luar sana tangan-tangan melayang mencekiknya sampai dia tidak sadarkan diri.
Terhanyut masuk ke dalam alam mimpi, dia berjalan di gelapnya malam mencari tempat bersembunyi yang aman dari gangguan makhluk yang mengganggunya tadi. Keanehan terjadi susana berganti, dia tiba-tiba saja berada di dalam kamar peninggalan Cantika.
Foto besar yang sudah di lepas itu berada di tempatnya lagi. Mata Cantika mengeluarkan darah, tempat tidur berputar. Bantal, kasur bersimbah darah menetes mengenai wajahnya. Dia bergetar menekuk tubuh ke sudut dinding. Sosok makhluk merangkak masuk ke dalam tubuhnya.
“Non, bangun non.”
Si mbok memberikan usapan minyak angin pada hidungnya. Saat tersadar, Jesi berlari menjauh dari wanita yang menyeramkan itu. Wajahnya yang mencurigakan, di mengangkat sedikit bibirnya mendekati Jesi.
“Apa aku masih bermimpi?” gumam Jesi.
“Nyonya di panggil tuan besar” ucap si mbok.
__ADS_1
Paijo dan keempat wanita lainnya menunggu di ruang makan. Semua mata tertuju padanya, piring-piring di atas meja makan kosong. Ada yang aneh disana, terdapat tudung saji jaring lebar keluar ulat menggeliat dari dalam. Si mbok meletakkan sepiring daging mentah, dia mempersilahkan Jesi yang masih berdiri mematung untuk duduk.
“Hei kau wanita ******, siapa yang menyuruh mu duduk di kursi ku!” teriak suara asing yang tidak berwujud.
“Arghh! tolong!"
Jesi berlari seperti orang gila keluar rumah, di melepas bajunya sendiri. Di pandangannya, bajunya di penuhi ulat dan cacing yang menempel. Dia merobek bajunya, begitupun mengacak-acak rambut merasa di seakan hewan kecil melata itu menempel di atasnya.
Para warga yang lewat berhenti menyaksikan tingkah wanita itu. Dia di lempari dengan batu dan di teriaki orang gila. Pak Misdi meminta agar berhenti melempari, salah satu wanita mendekat lalu menarik rambutnya sangat kuat.
“Kau semalam sudah memperlakukan ku di rumah itu seperti hewan. Lihat lah diri mu kini. Apakah kau tidak mengakui kesalahan mu?”
“Jangan main hakim sendiri!”
“Sudah, kita tinggalkan saja dia.”
Jesi melarikan diri dari warga yang terus-menerus mengerumuninya. Tanpa sadar dia masuk ke hutan, telapak kaki berlumpur bercampur luka. Perih yang sudah tidak lagi di rasa, pandangan yang tidak fokus. Dia terjatuh ke dalam jurang posisi tubuh telungkup menghantam batu besar.
Kematiannya di sambut riang gembira oleh para penghuni alam lain. Saling berebut mendapatkan mangsa, darah yang mengalir itu di nikmati hingga tak tersisa.
Pintu kamarnya terbuka lebar. Tidak ada tiupan angin atau gempa bumi yang datang, pernak pernik dan semua benda yang dia atas meja rias berjatuhan di lantai. Dia menoleh melihat bayangan sosok wanita, di dalamnya. Floren berlari ketakutan, dia menabrak salah satu pekerja yang sedang membawa sebuah vas bunga.
Prangg.
“Maaf non, maaf.”
“Cepat kau lihat di kamar sana, seperti ada sesuatu” perintah Floren.
“Maksud non, kamar mendiang nyonya Cantika?”
“Ya! Cepat periksa dan tutup kamarnya!”
Semua para pekerja mengetahui menjelang malam pasti di kamarnya terdengar suara rintihan, jeritan kesakitan di dalamnya. Floren masuk ke kamar Paijo. Aroma kemenyan menyengat, dia mencari dimana pria kaya raya itu. Floren menggeledah setiap laci dan lemari hingga tas yang tersusun di dalamnya.
__ADS_1
“Dimana pria tua itu menyimpan uangnya?” gumam Floren.
Di sudut dinding berdiri sosok makhluk menyerupai Paijo, dia melayang di langit-langit kamar sambil menetap tajam Floren. Tangannya menjuntai mendorong wanita itu sampai keluar kamar.
“Arghh!”
“Hei Floren, sedang apa kau di dalam kamar mas Paijo? Apakah kau sudah mencuri sesuatu?”
“Jaga ucapan mu Keke! Aku melihat ada hantu mirip mas Paijo”
“Itu Cuma alasan mu saja!”
Pertengkaran panjang mereka di dengar bunga yang mencoba menenangkan dengan menawarkan beberapa botol minuman keras.
...----------------...
Luka-luka Sandika masih basah terlebih lagi luka itu berasal dari serangan makhluk halus. Masalah hadir kembali mendengar proyek pembangunannya tertunda. Kabar alat berat yang tidak bisa di jalan kan dan laporan para pekerja yang mendapat teror penampakan hantu.
“Aku yakin sekali bukan Murga pelakunya” gumam Sandika.
Warid memperhatikan pria yang sibuk di depan layar laptop. Di dekatnya penuh lembaran berkas kerja. Warid mendekat membantu merapikan sampai mengambil alih laptop dari tangannya.
"Paman, aku masih sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk membangun perkampungan itu."
"Bukannya istirahat tapi engkau sepele dengan semua luka-luka mu itu. Kalau kau mengijinkan, biar paman saja yang pergi mengurus masalah disana."
"Aku tidak mau merepotkan paman. Lusa aku akan kesana."
"Baiklah, paman tetap ikut dan membawa beberapa penjaga."
Rumah mewah beserta isinya yang di wariskan untuk Sandika menjadi kepahitan di hatinya. Dia tidak bisa menerima semua itu begitu saja atau memakai demi keperluan pribadi. Setiap hari jumat, dia selalu menginfakkan harta Harun untuk menyantuni anak yatim piatu, pembangunan masjid dan orang-orang gelandangan di jalanan.
Sampai pada suatu hari seorang anak kecil berlari mendekati Sandika yang sedang duduk di kursi taman kota.
__ADS_1
"Kakak! kakak!" ucapnya menunjuk ke arah belakang.