Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Hari akhir


__ADS_3

“Dasar pria gila! Lepaskan istri ku!” teriak Sandika.


“Ahahah, wangi sekali aroma tubuh istri mu. Bolehkah terlebih dahulu aku menjamahnya? Ahahah!”


“Kurang aja kau! sehelai saja rambutnya kau sentuh maka aku akan membunuh mu!”


“Mas Sandika! Hiks.”


Di depan Sandika, pria berkelakuan hewan itu memuaskan hasrat nafsu setan hingga memperkosa Rina berkali-kali. Rina menangis terkulai lemas, dia tidak berdaya. Sandika tidak ikut menitik air mata merontah mencoba melepaskan ikatan. Sementara dua penjaga lain sibuk merampok dan menangkap Cerry. Seluruh uang dan barang berharga yang mereka curi di masukkan ke dalam mobil. Salah satu pengikut ki Gendeng mencari tempat persembunyian Cerry, dia menarik anak kecil yang bersembunyi di bawah meja itu.


“Argghh Ibu! Ayah! Kakak!” teriak Cerry.


“Ayah dan ibu mu sudah mati”


“Hei kita sikat saja anak kecil ini. Ahahah”


Keduanya di banting sosok Murga, hantu yang berubah sangat mengerikan itu mencekik leher keduanya hingga terdengar suara retakan pada leher. Cerry menangis ketakutan, Murga memeluknya membawa terbang ke Telaga berkabut.


“Hikss, kakak! Dimana ayah sama ibu?”


Dia memeluk tubuh Murga yang terasa sangat dingin. Cerry ketakutan melihat sosok wanita berbaju merah yang wajahnya tidak kalah menyeramkan seperti Murga.


“Kakak jangan tinggalkan aku ya.”


Murga mengangguk, dia membawa Cerry masuk ke Telaga berkabut. Kini Cerry menjadi penghuni Telaga kutukan itu. Murga tidak bisa menolong Sandika ataupun Rina. Tangis darah Murga melihat jasad Sandika. Dia berjanji akan membalas dendam atas kematian cintanya itu.


Taburan bunga, pemakaman di iringi kabut putih di dalam gerimis. Natih menangis keras memeluk batu nisan anaknya. Dia berharap keluarga kecil anaknya kembali dengan selamat malah pulang dengan jasad yang kaku.

__ADS_1


Waktu ritual sebelumnya.


Setelah membunuh kedua pengikut Ki gendeng. Murga terbang ke hutan untuk menyelamatkan Sandika. Pria itu terlihat menangis melihat wanita yang sudah di nikmati Ki Gendeng dengan gelak tawanya. Wanita memprihatinkan itu berantakan menangis tersedu-sedu. Dia sudah di kotori oleh pria bau tanah yang sukmanya tetap hidup karena ilmu kekebalan yang dia miliki. Meski bisa berpindah tubuh ke Toyok, tetap dia adalah mayat hidup berkelakuan iblis.


Dia menggunakan energi setan setelah mendapatkan empat puluh tumbal organ tubuh manusia. Kekuatan yang tidak bisa tertandingi, Ki Gendeng melempar api ke tubuh Rina agar Lina bisa menggantikannya tapi di tepis oleh badan Sandika.


“Arghh!” dia muntah darah, menghembuskan nafas di pelukan Rina.


“Tidak! Mas Sandika!” teriak Rina.


Wanita yang tidak pernah di cintainya itu ikut mati bersamanya. Dia meraih pisau lalu menusukkan sendiri ke dalam perutnya.


“Kenapa kau lakukan ini Rin!” batin Sandika.


Nafasnya terputus-putus menatap ke arah Murga. Sosok yang sangat dia cinta mengeluarkan cakaran siap menyerang ki Gendeng. Namun Sandika menggelengkan kepala, binary matanya masih tetap sama. Menatap hantu si pembawa kunang-kunang penuh cinta.


“Dia adalah ibu dari anak ku Cerry. Murga cepat pergi! Tolong jaga Cerry untuk ku!”


......................


Orang-orang yang berkaitan dengan Telaga berkabut mendapatkan kutukan yang tidak ada penawarnya. Darah, kebencian dan air mata masih tersebar di dalam kabar kabut putih yang merata menyelimuti Telaga yang penuh misteri.


..._END_...


Salam Santun, keluarga, persahabatan dan pertemanan di udara. Terimakasih atas dukungannya, Terimakasih sudah memahami segala kekurangan author. Jangan lupa tetap kasih penyemangat biar author rajin up-date ya. Tekan rate bintang lima, vote, mawar, segelas kopi dan komentar. BarakaAllah…


...🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿...

__ADS_1


-Asa di hari Senja-


Ini tentang mimpi-mimpi Sandika yang tidak pernah sampai. Banyak yang mengatakan kata ikhlas, mengikhlaskan yang sudah tertanam di dalam jiwa tidak selamanya di terima dengan ingatan yang menyakitkan.


Selagi dia masih belum menutup mata, dia bertekad bagaimana pun caranya dapat bersama sosok tersebut. Sandika di kejar masa lalu, mimpi yang tidak bisa di anggap remeh di sela kata suram dalam kepahitan. Dunia tidak runtuh jika jatuh cinta itu di tolak tapi dunia bagi di pemilik hati sudah benar-benar merasakan bencana berkepanjangan.


-Hari-hari sulit Sandika di persembahkan untuk kehidupan Murga-


Dia membangun rumah khusus untuk mengenang sosok wanita penghuni Telaga Berkabut. Tentang cahaya kunang-kunang hadir di setiap malam. Setiap hari-hari tertentu, bunga mawar putih tanda cinta yang tulus bercampur luka itu di letakkan oleh pak Egen di pintu masuk menuju hutan. Setelah hari ini, kemungkinan akan nada mawar-mawar segar dan bekas-bekas putik mawar kering bertumpukan di terpa angin.


-Mengulang ingatan masa lalu-


Di rumah kebesaran yang tidak berpenghuni itu terpajang sebuah lukisan berukuran besar. Foto sosok Murga yang sudah jauh hari di lukis oleh seorang pelukis yang sengaja di sewa oleh Sandika. Dia menyebutkan secara detail penggambaran goresan wajah dan bentuk tubuhnya.


-Kuburan Sandika bersemayam bersama tulang tengkorak Murga-


Cinta mereka bagai sehidup semati. Air mata, darah mengalir di sela mata tulang tengkorak yang tidak utuh lagi. Kemunculan tulang tengkorak Murga di Telaga berkabut sehari sebelum dia memberi mimpi sebagai petunjuk pak Egen agar menyatukan tulang tengkorak miliknya bersama jasad Sandika. Hal ini sangatlah di langgar Agama namun terlihat pak Egen sangat terpaksa melakukannya.


Dia menepis, mengelak atau mengabaikan mimpi dan bisikan itu, hingga gangguan yang mengerikan hampir mematikan nyawanya. Sepanjang hidup pak Egen seolah di kejar rasa bersalah. Setelah menyatukan kedua jasad, dia merasa bersalah menyalahkan diri sendiri. Dia tidak pernah hidup tenang, kesehatan pak Egen semakin menurun hingga dia memberi tanggung jawab dan beban hitam yang harus di pikul anak laki-lakinya.


-kutukan Telaga berkabut-


Cerita pengantin berdarah di masa lalu menjadi sebuah kutukan Telaga Berkabut putih. Setelah mengetahui sosok manusia penyambung kenangan berpisah dengan sang adik, tampak Rambe semakin menjadi makhluk brutal meneror perkampungan. Kutukan berlanjut bagi mereka yang menginjakkan kaki disana.


-Buku cerita kelam pada generasi berikutnya-


Cerry hidup di dua alam yang berbeda. Hingga saat ini penampakan anak kecil itu terlihat di hutan atau di sekitar Telaga. Banyak para warga ketakutan, mereka menutup jalan menuju ke hutan dan Telaga berkabut. Garis hutan terlarang di tutup pembatas kawat berduri, akar-akar pohon besar dan jimat-jimat aneh bergantungan yang mereka yakini makhluk pemakaman darah manusia tidak meneror. Murga menjadi sosok bagi kakak dan ibu bagi Cerry, sosok anak kecil itu tumbuh dewasa di Telaga berkabut. Dia melakukan kebiasaan yang selalu di contohkan oleh Murga di alam yang berbeda. Jiwanya di isi setengah jin. Riwayat orang hilang atau jika benar Cerry meninggal bahkan sampai kini belum ada yang bisa menemukannya.

__ADS_1


__ADS_2