
Keris hasil rampasan yang di banggakan si juru kuncen baru itu mulai menggerogoti jiwanya sendiri. Eni dan Paijo warga kampung yang berputus asa memilih jalan hitam demi mendapatkan uang secara instan. Tepat tengah malam dia mengetuk pintu rumah Kam. Sambutan hangat melayang senyum menyeringai mempersilahkan dia masuk sebelum mengetahui niat dari kedatangan mereka.
“Silahkan bapak dan ibu duduk sembari menunggu saya menyelesaikan ini”
Di dalam ruangan yang remang-remang itu, keris keramat memancarkan sinar merah terbang ke luar jendela. Eni ketakutan beranjak dari tempat duduknya, Paijo menahan sampai suara dentuman mengerikan terdengar keras. Kam menyelesaikan ritual ilmunya, mata terbuka membalas tatapan keduanya dengan mata melotot dan tawa yang terbahak-bahak.
“Ahahah! Aku sudah tau alasan kalian, tapi sebelumnya aku menawarkan keputusan kalian untuk berpikir sekali lagi.”
“Pak Kam, kami sudah bertekad bulat. Bantu kami terlepas dari kesusahan ini.”
“Banyak tantangan yang harus kalian lewati. Semua bisa di dapat tergantung dari perjuangan kalian melewati semuanya.”
......................
Nanar indah merona menghiasi dua alam berbeda menyatu dua makhluk yang berbeda pula. Dari dekat, wajah hantu Murga tidak menyeramkan seperti hantu lain yang di temui di sekitar hutan maupun Telaga Berkabut.
“Apa yang membuat aku terasa begitu dekat dengan sosok ini?” batin Sandika memperhatikan senyumannya.
“Sandika, rongga kosong ku ini sesak tidak bermaya melihat semua yang ada pada diri mu.”
“Murga, aku sempat melihat mu dalam sosok lain di kala itu. Terkadang kehadiran mu seakan mengganggu para warga dan hampir membawa ku terhanyut masuk ke dalam Telaga Berkabut.”
“Aku hanya satu. Walau sering engkau jumpai sosok yang menyerupai ku.”
Murga belum berani mengatakan bahwa sosok lain yang mengganggu itu adalah penampakan Gumamtong dan Rambe. Dia menyembunyikan karena takut Sandika akan pergi menjauh darinya. Di sisi ini membuat pemikiran Sandika berat sebelah menerka akan sosok di hadapannya.
“Sandika, yang perlu engkau tau bahwa aku tidak pernah sedikitpun melukai manusia.”
“Murga, aku ingin mempertanyakan semua keganjilan yang terjadi pada teman-teman ku. Terutama Gama dan Arya, tidak kah semua itu ada kaitannya dengan mu? sosok wanita cantik yang mengganggu.”
“Sandika, semua jawaban itu akan engkau ketahui dengan sendirinya. Coba tanyakan lagi pada hati kecil mu, apakah aku tega melakukan semua itu?”
Gamang hati pria itu mendengar
__ADS_1
dayu merdu suara sosok Murga. Setelah pertemuan panjang dengannya dia semakin berat meninggalkan perkampungan.
Sementara di tempat lain seorang wanita tua menggemparkan warga kampung dengan kehadirannya yang memecah suasana malam. Dia berteriak memanggil nama Arya, cucu kesayangannya itu yang di kabarkan menghilang disana. Nek Ana menangis terisak sambil menaburkan sesuatu di sepanjang jalan.
“Tenang nek, ada yang bisa kami bantu?” tanya Kadi.
Dia masih menabur isi di dalam kantung plastic sampai habis. Wanita itu melingak-linguk memperhatikan semua orang yang menatapnya.
“Apa? Apakah kalian mau membunuh ku? Cepat katakan dimana cucu ku Arya!” teriaknya.
“Tolong sabar nek, mari kita ke pos siskamling dan membicarakan secara baik-baik” ajak Kadi.
Di pos yang beralas tikar itu, nek Ana di persilahkan duduk dekat penyangga sisi kayu. Dia di beri segelas air hangat oleh istri Kadi. Rumah yang letaknya sangat dekat dengan pos tersebut sehingga Ima meminta dia bermalam di rumah mereka.
“Tujuan ku kesini adalah mencari cucu ku Arya. Sudah berbulan-bulan dia tidak pulang, aku yakin sekali pasti kalian menyembunyikannya!”
“Nek, mari dengarkan cerita kami___” Kadi memberikan penjelasan.
Air matanya bertambah deras, tubuh bergetar tergores kesedihan yang tidak bisa di tutupi. Dia adalah wanita tua yang renta, di sisa kehidupannya hanya ingin menyaksikan cucu yang sangat dia sayangi itu bahagia.
“Nenek mau kemana?” tanya tedi.
“Aku mau ke Telaga Berkabut. Jika benar cucu ku di ambil oleh setan maka aku akan ikut dengannya”
“Nek, menuju ke situ harus melewati hutan. Tunggu sebentar kami akan memanggil juru kuncen hutan.”
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”
...💀💀💀...
Tok,tok.
Pintu itu terbuka sedikit, terlihat di dalam sudah ada dua orang menghadap Kam dengan menyatukan tangan di depan dada. Tedi melihat mereka bertiga serius, terutama Kam berkomat-kamit membaca mantra. Tedi tidak berani masuk, ada sosok hitam besar berdiri mengerikan tepat di belakangnya. Dia menutup mulutnya lalu perlahan berjalan mundur.
__ADS_1
Suara ranting yang terpijak, pak Tedi berlari sampai dia terjatuh berkali-kali. Ketakutannya di tambah mendengar suara jeritan memekik keras. Dia bersembunyi di antara semak belukar. Sosok dedemit berbaju merah terbang melewatinya.
“Tahan nafas mu Tedi!” gumamnya menekan rongga hidung.
Melihat sosok tadi menghilang, Tedi perlahan melanjutkan langkah menuju pos. Nafasnya masih tersengal-sengal, dia menepuk dada mengucap istighfar meski terbata-bata.
“Kau seperti baru melihat hantu pak” ucap Edi.
“Aku memang melihat hantu, terutama sosok mengerikan yang berdiri di belakang pak Kam! Belum lagi setan berbaju merah yang biasa meneror warga!”
“Kalau begitu kita sama-sama ke rumahnya. Kemungkinan hantu tadi akan mengganggu pak Kam” kata Edi.
Suara kentungan memanggil warga agar hadir. Sebelumnya Edi meminta ijin pada pak Babat agar membantu nek Ana. Api obor membuka perjalanan malam yang sepi nan mencekam. Sementara di dalam rumah Kam sedang sibuk melakukan ritual pemanggilan arwah salah salah satu penghuni Telaga Berkabut.
Eni dan Paijo meminta pesugihan pada Telaga terkutuk itu. Kam yang menyetujui permintaan mereka memberikan syarat salah satunya memasuki Telaga tepat di malam kliwon yang bertepatan pada malam berikutnya.
“Biar aku yang melakukan semua prosesi sampai selesai pak. Aku tidak mau melibatkan istri ku atau sampai dia terluka.”
“Jangan kau bicarakan tidak ingin mendapatkan rasa pahit setelah merenggut kemanisan. Kau memilih jalan putus asa ini” ucap Kam.
Mereka pulang membawa bungkusan hitam dari pak Kam. Dari kejauhan melihat obor menuju ke tempat mereka, Eni dan Paijo mempercepat langkah meninggalkan tempat itu.
“Cepat pak, takutnya keburu terlihat salah satu dari mereka” ucap Eni.
“Kita ambil jalan potongan saja bu.”
Para warga menerobos pintu gerbang rumah Kam, mereka berdiri di depan rumah menunggu pria itu keluar. Dari atas rumah terlihat keris keramat terbang masuk menembus atap menghilang meninggalkan cahaya kilatan merah.
“Tidak ku sangka kesaktian keris keramat mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat!”
“Pak Tedi, coba kita dua masuk ke rumah pak Kam. Kita sudah lama menunggunya tapi beliau belum keluar juga.”
Edi terus memaksa agar dia mau masuk bersamanya ke dalam rumah Kam. Saat keduanya sudah berdiri di depan pintu, terlihat Kam membuka pintu membalas tatapan sinis ke arah mereka.
__ADS_1
“Si ayam jago akan berkokok menandakan hadirnya fajar. Apakah ada keperluan yang sangat mendesak sehingga semua warga ikut datang?” tanya Kam.