
“Mera, apa yang sedang kau lakukan? Kita tidak boleh membunuh ibu tiri Via, kau mau di penjara?”
Meri merampas botol cairan tikus dari tangan saudaranya itu. Wajah marah Mera tidak terima merampas kembali botol lalu berlari menuruni anak tangga.
“Mera tunggu! Jangan Mera!” panggil Meri.
Ketika keduanya berhenti di depan pintu kamar ayahnya, dari dalam terdengar suara teriakan Via. Mera mencegah Meri yang akan berniat membantunya. Dia menutup mulut Meri mengintip melihatnya ketakutan ibu tiri Via memegang perutnya.
“Tolong!” jeritnya.
“Meri! Jangan kau bantu dia! wanita itu merampas ayah dari ibu. Ayo kita tinggalkan saja dia!” bisik Mera menariknya pergi.
Di dalam ruangan pribadi, seperti pada malam indah lalu yang di rasakan Paijo merenggut kehangatan dari sosok ratu ular tipuan Rambe yang menjelma sangat cantik jelita. Tanpa dia sadari, hawa murni perlahan di renggut hingga badan Paijo kurus keris kulit menghitam. Cekung mata melengkung, urat darah di mata menonjol dan tubuh terasa dingin.
“Apakah kau menyukainya Paijo?” bisik hantu Rambe.
“Ya! Ahahah! Terimakasih ratu ku.”
Indra pendengarannya di tutupi Rambe sehingga tidak mendengar suara teriakan Via. Begitu pun para pekerja yang berlalu lalang. Via menyeret tubuhnya yang lemas, dia menuruni anak tangga dengan suara serak minta tolong. Pelayan yang melihat membantu wanita itu.
“Nyonya Via!”
Para pekerja panik, mereka membawa wanita itu ke kamar lalu memanggil si mbok sebagai pengurus pekerja sesepuh di rumah itu. Si mbok cekatan menyuruh pak supir menjemput dokter pribadi keluarga Paijo, mengganti baju Via dan memerintahkan pekerja lainnya untuk memarkirkan mobil Paijo ke dalam Garasi.
“Mbok, kalau mobil ini sudah berada di halaman berarti tuan besar sudah pulang. Tapi kenapa dari tadi aku tidak melihat tuan?” tanya salah satu penjaga rumah.
“Bukan urusan mu! cepat masukkan mobil itu.”
Setelah siuman, Via melihat di sampingnya ada si mbok. Dia minta ijin pamit ke kembali ke kamarnya. Via masih penasaran mendengar suara Paijo di lantai atas. Dia keluar kamar di lirik si mbok yang membuntuti mengendap-endap sampai tepat di depan pintu hitam.
__ADS_1
“Mas Paijo!” panggil Via.
“Mas! Kau di dalam kan?”
Via mempercepat langkah mengambil sekotak kunci di dalam brankas. Dia mencoba satu-persatu kunci sampai satu jam berlalu pintu terbuka memperlihatkan Paijo tanpa sehelai benang tidur dengan ular besar di atas ranjang berselimut merah.
“Mas Paijo!” jeritnya.
Ular besar melata mematuk perut Via, dia melilit tubuhnya sampai denyut nadinya berhenti. Paijo menjerit memohon agar si ratu ular itu melepaskannya. Paijo memakai baju lalu membawa Via keluar.
“Tuan, maafkan si mbok yang tidak bisa menghentikan nyonya besar" ucap si mbok yang menghampiri dari balik pintu.
“Sudah lah, cepat atau lambat pasti dia mengetahuinya. Cepat gembok pintu itu mbok, pegang kuncinya dan suruh supir menyiapkan mobil.”
...----------------...
Sandika dan Beben terkejut mendengar kabar kematian pak Babat. Pos siskamling sepi, hanya beberapa orang saja yang berjaga disana. Melihat kedatangan Sandika dan lainnya, mereka menyambut senyuman dan berjabat tangan. Sandika bersikap sopan mencium punggung jangan para warga yang usianya lebih tua darinya itu.
“Jika bapak tidak keberatan, kami menawarkan sawah dan perkebunan di ganti menjadi rumah yang layak huni” ucap salah satu warga.
“Tidak hanya itu pak, saya berharap surau tidak di ganti dengan masjid. Maksudnya Masjid tetap di bangun di kampung ini dan surau juga tetap ada.”
Banyak permintaan lain para warga yang mereka sampaikan. Sandika menganggukkan kepala, dia menampung semua pernyataan tersebut dan meminta sekertaris Lana untuk mencatatnya. Setelah pertemuan itu berakhir, Sandika dan lainnya bermalam di rumah pak Kadi dan Ima.
Sebuah rumah yang isinya tidak pernah berubah sebelum dan sesudah mereka pergi. Nostalgia duduk menghadap jendela menanti cahaya kunang-kunang di malam hari. Sebuah cerita lama masih mesih menjadi misteri. Dia tidak melupakan kepergian Gama, Arya dan Herman secara tragis.
Mengenang tingkah konyol Gama, kesakitan Herman yang di tusuk oleh Bondan dan kehilangan Arya tanpa jejak. Hal yang paling menyentuh di hatinya akan kepergian mbah Baron dan mbah Fatma yang menganggap mereka seperti cucu sendiri.
“Semua sudah pergi tapi bekas tidak bisa hilang dan perasaan tidak bisa berubah. Begitupun aku yang selalu menatap mu Murga” gumam Sandika.
__ADS_1
“Dueerr!”
Beben tidak berhasil mengagetkannya, malah dia yang terkejut melihat sosok terbang di dekat jendela.
“San! Cepat tutup jendelanya!” ucap Beben bernada gemetaran.
“Astaghfirullah al’adzim.”
“Tidak ku sangka kampung ini tidak pernah berhenti dari makhluk halus yang bergentayangan. Jangan-jangan teman-teman kita itu juga sudah menjadi hantu! Arggghh!”
“Astaghfirullah Ben, bukannya mendoakan mereka malah ngomong yang tidak-tidak.”
“Maaf! Oh ya, aku teringat masa kita praktek ilmiah disini, drama percintaan mu dengan hantu si rambut panjang itu. San, kau harus melupakannya demi keselamatan dirimu.”
Di sepertiga malam, dia memohon ampun kepada sang Khalik akan keputusannya yang meletakkan hati pada sosok makhluk lain. Dia mengetahui ada sosok mengerikan di balik wajah cantik hantu Murga, tapi Sandika tidak bisa mengabaikan bahwa dia benar-benar jatuh hati pada hantu yang selalu menolongnya itu.
Banyak tipu daya setan menyesatkan, kekhawatiran pada dirinya sendiri setelah malam itu seperti sosok insan yang menentang kehendak takdir Illahi.
Angin membanting jendela terbuka dan tertutup di tambah aungan suara serigala.
Sandika beristighfar menghela nafas menutup pintu dengan ucapan bismillah. Dia mendengar semilir angin meniup suasana di bebatuan raksasa, Sandika meraih senter yang berada di tangan Beben. Pria itu tidur ayam melirik sipit pergerakan Sandika.
“Jangan ada yang mengikuti ku” ucapnya kepada para penjaganya.
Saat dia sudah tidak terlihat lagi, Beben membangunkan Kadi memberitahu Sandika di dekati sosok hantu penghuni Telaga. Kedua berlari mengejar Sandika, pria itu di tarik paksa saat kaki sudah memasuki area terlarang perbatasan hutan.
“Sandika! Kau mau cari mati? Ini wilayah yang tidak bisa di lewati manusia. Bukan kah di masa lalu kejadian itu menjadi pelajaran untuk kita?”
“Nak Sandika, bapak sarankan kita kembali pulang.”
__ADS_1
Sandika tidak menjawab perkataan keduanya. Sepanjang perjalanan pulang, dia menoleh ke belakang melihat sosok Murga berbaju merah menatapnya.
“Seperti di masa lalu, aku tertipu kedua kalinya. Kau bukan lah Murga” batin Sandika.