
“Haduh! Bagaimana ini mang?”
“Kita susul saja mbok.”
“Tapi rumah tidak boleh di tinggal, kalau ada barang yang hilang nanti kita yang di tuntut dan di curigai. Mang, disini rawan kejahatan. Kalau si mbok di tinggal sendiri terus ada perampok bagaimana? Biar si mbok saja yang menyusul nyonya Rina.”
Pekerja yang sudah susah berjalan jauh itu menyeka keringat di dahi. Dia memanggil nama Rina dan Cerry. Hutan belantara, ketika sampai di perbatasan wilayah terlarang dia mendengar suara pekikan sosok makhluk penghuni hutan.
Kalau sudah malam hari, suara yang terdengar familiar itu menakuti warga kampung. Penampakannya sering menggoda sampai mencuri anak-anak kecil. Tempo hari pernah salah satu anak kecil berusia tujuh tahun hampir di sembunyikan penunggu hutan karena melewati garis batas terlarang. Anak mang Kurat memang bisa selamat dari sana tapi dia jadi sakit-sakitan dan mengalami demam tinggi ketika malam menjelang.
“Nyonya Rina! Non Cerry!” si mbok tersandung patahan dahan pohon yang tumbang.
...💀💀💀...
Cerry menggoyangkan kaki duduk di tepi Telaga berkabut. Dia tertawa memainkan percikan air ke sosok yang sedang menamppakan wujud nya dari dasar. Sosok Murga membalas percikan gadis kecil itu sambil tersenyum. Melewati satu purnama setelah kejadian besar, dia sering bersemedi di gua iblis meninggalkan telaga. Tepat di hari ini, Murga seutuhnya sebagai pemegang kendali penunggu wilayah perkampungan, hutan dan Telaga berkabut.
“Kakak aku disini! Ahahah!” tawa Cerry berlari-lari kecil.
Dia bersembunyi di sebuah pohon, menekuk kaki menunggu di temukan oleh sosok Murga. Semenjak hari itu Cerry lebih sering bertemu dengannya. Rasa khawatir Rina memanggil Cerry, dia mengucapkan istighfar berkali-kali. Air matanya sudah menetes takut kehilangan anaknya.
“Cerry! Cerry dimana kau nak?” panggilnya.
Murga mengetahui Rina sedang mencari anaknya, dia terbang mengangkat Cerry. Dia tersenyum sambil memeluknya.
“Kakak curang! Ahahah!"
Sosok hantu itu semula ingin menyembunyikannya sampai pada tatapan matanya membuat dia tidak tega melakukan hal buruk. Cerry di turunkan di dekat perbatasan hutan. Murga menerbangkan dedaunan kering seperti mengarahkan sebuah petunjuk pada Rina untuk mengikuti arah tersebut.
“Cerry! Kamu dari mana aja sayang! Mama khawatir sekali!”
Rina menggendong belakang Cerry, anak kecil itu tersenyum melambaikan tangan ke sosok Murga yang berada di atas pohon. Senyuman manis membuat Murga kembali tersenyum. Mereka berjanji akan bermain bersama lagi. Si mbok mengusap dadanya berulang kali, dia bersyukur menemukan Cerry dan Rina.
“Alhamdulillah nona Cerry ketemu. Si mbok tadi mau minta tolong warga kampung.”
“Sudah tidak apa-apa kok mbok. Oh ya mbok disana ada Telaga, bagus deh kalau buat rekreasi keluarga.”
“Jangan nyonya, disana ada penunggunya.”
“Penunggu siapa mbok.”
__ADS_1
Koak, koakkk. Waakk.
Suara hewan hutan aneh terdengar. Mereka mempercepat langkah kembali ke rumah. Jalan si mbok sedikit tertinggal, lukanya robek tersandung dahan pohon.
“Pelan-pelan saja mbok” ucap Rina.
Mereka memutuskan obrolan mengenai Telaga yang di tanyakan tadi. Mang Kurat berlari tergopoh-gopoh membantu si mbok berjalan masuk.
“Biar saya saja mang yang mengobati luka si mbok.”
“Jangan biar saya sendiri saja nyonya.”
Cerry di bawa masuk ke kamarnya. Rina mengganti baju, menyisir rambut lalu membawanya turun ke ruangan makan. Dia menyiapkan segelas susu hangat untuknya, meminta agar memberitahu jika akan pergi keluar rumah. Dia menuju ke balkon, merapikan bunga-bunga bonsai tanpa sengaja menemukan sebuah buku gambar.
Pada bagian depan sampul tertulis nama Cerry.
Lembaran pertama berisi coretan sederhana gambar seorang wanita berambut pendek, satunya lagi berambut panjang tampak seperti memakai gaun yang sangat panjang sampai menutupi kakinya. Di tengah-tangah ada anak kecil yang di bawahnya tertulis nama Cerry.
Pada lembar kedua, terlihat gambar pria yang sedang menggandeng seorang anak kecil. Ada dua wanita berada di sisi kiri dan kanannya. Kecurigaan Rina berpikir apakah Sandika mengkhianatinya.
“Siapa wanita itu?” gumam Rina.
“Anah sekali, perasaan aku sudah membuangnya tadi.”
“Bu! Ibu lihat buku gambar Cerry nggak?”
“Maksud kamu buku ini sayang?”
“Ya bu."
“Ini gambar siapa?”
“Ini ibu, Cerry dan kakak.”
“Kakak siapa?”
“kakak cantik temen Cerry.”
Hati Rina semakin was-was, sosok kakak yang di maksud anaknya apakah berhubungan dengan wanita lain atau penghuni hantu yang mulai mengganggu keluarganya?
__ADS_1
Terik mentari, bunga-bunga berguguran, akar pepohonan kering berjatuhan menutupi jalan setapak di depan halaman rumah. Cerry bermain asik bermain boneka berbicara sendiri di kamar. Semula Rina berpikir bahwa boneka-bonek itu hanya sebagai teman imajinasi anaknya. Dia mengintip dari pintu, boneka yang berada tepat di depan Cerry bergerak sendiri. Dia membuka lebar pintu mendapati Cerry tertidur.
Panggilan telepon.
“Mas Sandika, cepat pulang mas. Aku takut berada di rumah ini. Cerry tadi ke Telaga__”
“Halo Rin, suara kamu putus-putus. Aku balik untuk beberapa hari ke kota. Ada meeting penting bersama klien yang harus aku selesaikan.”
“Mas suara kamu nggak kedengeran!”
Malam pertama di rumah dekat hutan.
Rina bermimpi buruk, dia seperti orang ketindihan tidak bisa membuka mata setengah melayang kaki tertekan sosok makluk yang tidak terlihat wajahnya. Suara jeritan tidak bisa keluar, dia melotot mengucapkan istighfar terbata-bata menghentakkan tubuhnya. Berpindah kea lam lain, Rina melihat seisi rumah di penuhi cacing yang menggeliat menempel di dinding dan lantai.
“arggh! Mbok! Mang Kurat!”
Dia berlari ke kamar Cerry, anaknya berdiri di atas jendela sambil merentangkan tangan. Rina menangkap tubuhnya, dia menepuk pelan pipi perlahan Cerry membuka mata.
“Ibu..”
Rina menggendong Cerry menuruni tangga. Listrik yang padam membuat dia sulit melihat. Memanggil para pekerjanya. Dobrakan pintu dan jendela mengagetkan terlintas bayangan terbang di luar.
“Ibu aku takut. Di luar banyak orang berwajah aneh” ucap Cerry.
“Jangan takut sayang, ada ibu.”
Rina membawa Cerry kembali ke kamar. Mengunci pintu dan kamar rapat, Rina menyalakan beberapa lilin.
“Ibu mau ambil air wudhu sebentar ya, Cerry tunggu di depan pintu kamar mandi.”
Dia melaksanakan sholat dua rakaat. Dia membacakan ayat-ayat suci. Seketika bunyi-bunyi aneh dan gangguan berhenti. Dia berjaga sampai pagi sambil memeluk Cerry. Pintu kamar terbuka, si mbok membangunkan Rina yan tertidur di lantai.
“Nyonya, bangun nyonya” ucap si mbok.
“Mbok Nah sama pak Kurat tadi malam kemana?”
“Si mbok di rumah nyonya. Si mbok tinggal meneruskan masakan ya”
Kelakuan si mbok yang aneh. Wajahnya datar dengan tatapan kosong. Rina mengikuti jalan si mbok memasuki dapur. Ketika dia memasuki dapur, si mbok tidak terlihat yang ada hanya bunyi mesin pemotong rumput di luar halaman rumah.
__ADS_1