
Para arwah penasaran melihat kepergian mereka. Rumah besar dan mewah yang di bangun dekat hutan itu sebelumnya gubuk yang di huni oleh sebuah keluarga pada ratusan tahun lalu. Sandika duduk di belakang bersama Rina dan Cerry. Sepanjang perjalanan dia berzikir di alam hati. Lingkar mata panda kehitaman tidak bisa tertutupi. Semua mimpi-mimpinya mengganggu, penampakan, gangguan serta segala macam hal keganjilan.
Hantu Rambe yang sangat membencinya, sosok para arwah bergentayangan dan kecurigaannya yang timbul para kedua para pekerjanya. Dia meminta pada Egen mencari tau mengenai seluk beluk lokasi rumah persinggahannya itu. Di tengah perjalanan, mereka berhenti mendadak melihat sosok pria tua membawa cangkul berdiri di depan mereka. Penampilannya tidak berubah ketika pertama kali di hutan saat dia bersama temannya dahulu.
“Orang tua ini sebenarnya hantu atau manusia? Mata batin ku merasakan dia sosok penghuni lain” gumam Sandika.
“Siapa dia San?” tanya Rina.
“Tunggu disini saja.”
Sosok pria tua pembawa cangkul itu melotot melihat ke dalam mobil. Cerry ketakutan memalingkan wajahnya memeluk Rina. Senyuman, perlakuan Sandika sopan pada pria itu tapi di balas tatapan sinis dan jawaban yang kosong. Dia berjalan dengan berjinjit meninggalkannya. Sandika ingat perkataan almarhum ayahnya bahwa hantu tidak suka dengan sinar matahari dan tidak menapakkan kaki di bumi.
Lantas kenapa hantu bisa keluar di pagi hari?
Rahasia alam yang tidak semua di ketahui manusia. Punggung pria itu tetap mengeluarkan cacing dan belatung pada bekas lukanya yang membusuk.
“Penyakit Beben mirip sama penyakit yang di derita kakek itu. Aku jadi sangat mengkhawatirkannya” gumam Sandika.
“Siapa sebenarnya pria tadi? Apakah kamu mengenalnya?”
“Dia sosok yang pernah memperlihatkan diri saat di hutan bersama para mahasiswa lain” jawab Sandika yang masih berdiri di samping mobilnya.
Setelah memastikan semuanya aman, dia masuk kembali ke dalam mobil. Hitungan hari ganjil tepat dimana pengobatannya di pindahnya. Setiap perkembangan kesehatan beben di laporkan Egen padanya. Hingga hari ini dia mengingat riwayat catatan terakhir sahabatnya itu. Luka yang membusuk tak kunjung sembuh, suhu tubuh yang tinggi dan kaki yang mengalami kelumpuhan.
Sesampainya di Rumah Sakit.
Beben menunggunya duduk di atas kursi roda, di belakangnya sudah ada Egen bersiap menunggu perintah Sandika selanjutnya. Sandika memperkenalkan Rina dan Cerry padanya, raut wajah kebingungan Beben melihat anak perempuan yang sangat dekat dengan Sandika.
“Ayah aku takut."
__ADS_1
“Tidak apa-apa, dia om Beben sahabat ayah. Beben, anak ku cantik bukan?”
“Jika kau baru menikah maka terhitung anak mu tidak sebesar ini” jawab Beben.
Gelak tawa memenuhi ruangan, Beben masih bisa tersenyum walau rasa sakit. Di dalam harapannya, Sandika akan terus bertekad membantu menyembuhkan Beben. Tanpa terasa obrolan mereka tanpa sadar melihat Cerry sudah tidak ada di samping Sandika.
“Cerry sini naik, seru deh!” ucap Tata.
“Tapi janji tangkap aku ya Ta.”
“Ya aku janji. Ayo cepat! Ahahah.”
Pak Egen memotong pembicaraan mereka, dia mengatakan Cerry berada di lantai atas sambil merentang tangan.
“Ayo cepat mas, sudah dua kali Cerry melakukan hal seperti ini” ucap Rina berlari mendahuluinya.
“Cerry jangan bergerak nak, dengar kan perkataan ayah.”
Pak Egen berada di sisi kiri sedangkan Sandika di sisi kanan. Secepatnya gerakan tangan Sandika menarik Cerry yang enggan di gendongnya.
“Ayo mas kita pulang.”
......................
Natih menemui seorang dukun penerus ilmu ki Gendeng. Dia mengabarkan arwah Lina masih penasaran hingga dia tetap merasa seperti hidup menjalani aktivitas manusia di dalam rumah. Dia juga memberi tahu menantunya banyak di kelilingi makhluk tidak kasat mata. Salah satu hantu yang selalu melindunginya. Sosok dari Telaga kutukan yang tidak akan pernah melepaskan siapapun yang berani menginjakkan kakinya.
“Lalu bagaimana dengan cucu ku Ki?”
“Cucu anda banyak di incar makhluk yang berkaitan dengan Telaga berkabut. Dia terkena rantai kutukan itu karena sudah pergi dan baunya sudah di kenal para makhluk itu.”
__ADS_1
“Tolong bantu aku menjauhkan dari mereka, tolong selamatkan cucu ku! Berapapun biaya akan aku penuhi. Aku juga mau bertanya apakah cucu ku mempunyai indera keenam? Kenapa dia tidak bisa melihat kehadiran Lina?”
“Anak mu itu terkena ilmu mata setan. Salah satu orang tua mu pernah melakukan ritual penyembah setan hingga mereka hanya mengatakan tumbal jatuh terakhir cukup pada mereka saja. Tidak sampai ke anak cucu. Meski kalian hidup, perjanjian setan tetap harus di jalankan.”
“Aku tidak percaya!”
“Percaya atau tidak maka kau harus menerima kenyataannya! Kini aku bertanya sejak kapan cucu mu bisa melihat hantu? Apakah dari kelahirannya yang memberi tanda-tanda keganjilan?”
Pertanyaan terakhir dari si dukun mengingatkan tempo dulu semasa kehamilan Rina yang penuh duka. Menantu pertamanya mengalami kecelakaan tragis saat Cerry akan lahir. Kehamilan Rina juga sering di teror makhluk pengganggu. Dia ingat pertama kali kelahiran cucunya yang tidak mengeluarkan suara tangis dengan leher membiru.
“Awal kelahiran Cerry, aku berjuang menyiram air yang aku dapat dari Ki Gendeng untuk membuat bayi itu menangis. Di usia nya yang beranjak enam tahun, dia sering berbicara sendiri dan melakukan hal-hal aneh. Pada waktu tengah malam, wajahnya terkadang berubah wujud menyeramkan.”
“Sekarang kau bawa jimat ini, satu tanam di dekat rumah dan satunya lagi kalungkan ke cucu mu.”
......................
Arwah ki Gendeng yang sudah mendiami tubuh Toyo melakukan persemedian selama empat puluh hari. Dia mencium aroma tubuh yang khas di sekitar wilayah perkampungan. Ki Gendeng berjalan keluar mencari aroma tubuh dari sosok wanita yang dia incar. Baunya berhenti di sebuah rumah kosong dekat pinggir hutan. Dari dalam, mata penghuni lain bahkan dua jelmaan sosok menyerupai manusia melihat kedatangannya.
Melihat sebuah mobil memasuki halaman, dia bersembunyi di balik pohon. Bau khas wanita yang dia cari tepat pada tubuh Rina. Wajahnya menyeringai, keberadaannya di lihat Cerry, anak kecil itu mengejar Ki Gendeng dengan langkah pendeknya.
“Cerry tunggu ibu!”
Rina berlari di susul Sandika dan pak Egen, Sandika menarik kakinya namun wajah Egen di tendang menggunakan kekuatan dalam setengah setan manusia yang hidup lagi itu. Ki Gendeng berusaha menutupi wajahnya. Dia secepatnya berdiri, lari memasuki hutan di kejar kembali Sandika.
Dari arah belakang, Sandika di tangkap oleh dua pria pengikut ki Gendeng. Pak Egen mencoba menolong tapi kepalanya di pukul keras dari belakang.
Brughhh.
Prraghh.
__ADS_1
Sandika di ikat di bawah pohon di tengah-tengah hutan. Rina sudah pingsan di baringkan di atas tanah beralas selembar kain berwarna hitam. Sosok arwah Lina baru menyadari pertukaran jiwa itu pada saudara kandungnya sendiri. Setengah tubuh Lina di masa hidup pernah melakukan ritual dengan perjanjian dengan iblis. Hatinya sudah berselubung sosok lain. Dia tidak merasakan rasa kasihan atau belas kasih. Wajahnya menunjukkan kebahagiaan menunggu ki Gendeng menjalankan ritual.