Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Waktu Berlalu


__ADS_3

Kepergian Gumamtong di saksikan rembulan merah membentang sayap kelelawar hitam, bertebaran burung hantu di atas Telaga berkabut. Pesan terakhir taburan bunga penggiring kepergiaannya agar dia tidak kembali menjadi arwah penasaran yang haus akan darah daging manusia.


Tangisan kedua sosok itu berhias air mata darah menetes di atas air. Kali ini siapa yang harus di salahkan? Dendam tersemat pada manusia semakin meradang di hatinya yang menghitam. Rambe menegaskan pada Murga agar menjauhi manusia, tapi tetap saja dia menunggu kehadiran Sandika di dalam kesendirian pekat kabut putih malam.


“Kau mau kemana lagi San?” tanya Beben.


Di depan halte mereka bersiap menunggu keberangkatan bus terakhir. Sandika meletakkan ransel dan meminta mereka menunggunya beberapa menit. Pertanyaan Beben tidak di jawab, dia berlari masuk ke dalam hutan menuju bebatuan raksasa.


“Murga!” panggilnya.


Aroma tubuh manusia yang di benci Rambe, dia menahan gerakan Murga yang akan menghampirinya. Di atas Telaga Berkabut sedang berduka kehilangan sosok Rambe. Untuk meredakan sedikit amarahnya, Murga terpaksa mendengar perkataan Rambe dan hanya mengamati Sandika dari balik tempat persembunyian.


“Murga!” panggilnya lagi.


Dia memainkan pianika namun kehadiran sosok wanita itu tidak muncul juga. Sandika pun pergi meninggalkan sekuntum bunga di dekat bebatuan raksasa dekat tepi Telaga Berkabut.


Setelah hari itu mereka berpikir adalah hari perpisahan terakhir tanpa ada kata selamat tinggal.


Setangkai bunga mawar putih untuk Murga.


Sandika meletakkannya di dekat bebatuan besar. Bunga itu seharusnya sudah layu di telan masa. Tidak setelah Murga meniup menggunakan sihir yang dia miliki kemudian merawatnya di alam lain. Bunga simbol cinta putih yang abadi tanpa layu hidup di dimensi lain.


Tanpa kenal lelah, Murga selalu menunggu kehadiran Sandika kembali. Hantu itu tidak pernah menua, bahkan kecantikan paras merubah awet muda di mata manusia terpancar menyembunyikan sosok mengerikan yang sebenarnya. Para hantu penghuni Telaga Berkabut, mereka menunggu mangsa di dalam kutukan cerita berantai di masa kelam.


Tahun lalu yang terlewati


Murga kehilangan aroma tubuh pria itu, dia tidak bisa mengikutinya sampai ke kota. Bunyi klakson pak supir meminta penumpang agar segera naik. Sandika kembali naik ke dalam bus memasang wajah murung dan nafas yang tersengal-sengal. Hampir saja dia di tinggal oleh Beben, mengingat nek Ana sudah mendesak secepatnya kembali ke kota untuk mengurus segala keperluan sepeninggal Arya. Air matanya masih belum berhenti berderai, Sandika duduk di samping mengusap punggungnya.


“Nek, nenek yang kuat dan sabar ya. Ikhlaskan Arya nek, biar dia tenang di alam sana.”


“Maafkan kami yang tidak bisa menemukan Arya nek.”


Semua sudah kembali ke tempat semula, tanpa dan ada yang mengisi rumah tetap waktu detik berputar berganti siang dan malam. Kali ini di perkotaan yang ramai hingar bingar itu tidak di temukan satupun cahaya kunang-kunang sesuai harapan Sandika.


“Bahkan aku belum sempat menanyakan di mana rumahnya” gumam Sandika.


Pria itu seolah setengah sadar mengamati Murga sebagai setengah hantu dan manusia. Dering bunyi ponsel isi pesan yang membuat dia sangat terkejut.

__ADS_1


Kepada Sandika


Kabar meninggalnya Herman, hari ini dia akan di kebumikan di Taman pemakaman umum pukul 02:00 WIB. Beben.


📩


Dari bu Harun


Telah berpulang ananda kami, Herman.


📩


Mata Sandika berkaca-kaca, “innalillahi wa innailahi rojiun.”


Rumah duka di penuhi para pelayat berpakaian serba hitam. Papan-papan nama ucapan turut berduka cita berjejer di sepanjang depan halaman rumah hingga ke tepi jalan luar. Begitu pula karangan bunga memenuhi setiap tempat. Kini Harun bagai hidup sebatang Kara, semua keluarganya tinggal di luar negeri. Harun tidak bisa kembali kesana dan meninggalkan kenangan indah di rumah itu.


Warid tidak bisa menyelamatkannya meskipun jamur itu sudah kembali ke tempat semula. Sosok Rambe yang ganas terlanjur merenggut jiwa dan hawa murninya. Kesalahan mencuri tumbuhan tanpa permisi dari pemiliknya mengambil nyawanya begitu saja.


Di depan kuburan anaknya, Harun mengusap papan nisan dan memeluk tanah kuburannya. Dia enggan melepaskan atau beranjak dari sana.


Seiring berjalannya waktu, kesendirian di dalam kekosongan jiwa. Harun menjadi sakit-sakitan sehingga seluruh pekerjaan di pegang kendali oleh sekertaris keluarganya.


Di suatu pagi bercuaca mendung, Sandika datang membawa benda yang telah lama ingin dia kembalikan.


Amplop pemberian bu Harun masih utuh, Sandika meminta maaf pada Harun karena tidak bisa menerima pemberiannya.


“Kalau begitu anggap ini sebagai gaji mu untuk bekerja di perusahan ibu” ucap Harun.


“Tapi ini terlalu banyak bu.”


“Sudah jangan membantah lagi, engkau sudah ibu anggap sebagai anak angkat.”


“Terimakasih banyak bu.”


Sandika mencium punggung tangannya. Rintik sedu sedan Harun masih menetes tanpa jeda. Sebelum pamit pulang, Sandika memberikan kata-kata penguat untuknya. Dia memijat kaki Bu Harun. Membawakan segelas air hangat dan menyelimuti kakinya yang terasa dingin.


"Ibu, besok aku akan berkunjung lagi kesini." ucap Sandika dengan sopan.

__ADS_1


"Ya, ibu akan selalu menunggu dan mendoakan mu. Kau adalah anak yang baik."


"Maafkan aku belum bisa membalas budi mu bu."


"Tidak apa-apa. Melihat mu sehat dan bahagia saja sudah lebih dari cukup."


Sandika pun berpamitan pulang, kepergiannya di lepas dengan lambaian tangan. Harun yang merasa waktunya sudah tidak lama lagi. Dia memanggil sekertaris nya untuk menulis surat wasiat yang di dalamnya berisikan sebagai berikut:


Surat Wasiat Warisan


Saya yang bertanda tangan di bawah ini


Harun


Dengan sadar dan tanpa ada unsur paksaan membuat pertanyaan surat wasiat atau hitbah seluruh harta saya, kepada anak angkat saya yaitu:


Sandika


Dengan surat ini saya menyatakan bahwa menyerahkan seluruh harta serta segala aset dan property kepemilikan pada anak yang saya sebutkan tersebut.


Demikian surat wasiat ini saya buta dengan akal sehat dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun.


Kota Barat Daya


Diketahui


Saksi-saksi.


...----------------...


Bekerja sebagai menggantikan posisi bu Harun sebagai manager perusahaan. Kehidupan Sandika berubah secara drastis. Sebelum Harun meninggal, dia menyembunyikan dari Sandika penyakit kanker stadium akhir yang menggerogoti tubuhnya.


Sandika tetap menempatkan foto Harun di ruang kerjanya. Begitu pula pot guci yang berisi karangan bunga tulip merah jambu kesukaan ibu angkatnya itu selalu dia ganti setiap hari.


Selepas pulang kerja dia bersama Beben melakukan pertemuan di sebuah caffee di pusat kota. Mereka terlihat sedikit canggung, terutama Beben yang sempat berpikir melihat Sandika si anak angkat konglomerat pasti sudah enggan berlama-lama mau meluangkan waktu hanya untuk dirinya.


“Jadi kau mengajak ku bernostalgia hanya untuk mendengarkan suara pengunjung caffee ini saja?” tanya Sandika dengan senyumannya yang sangat lebar.

__ADS_1


__ADS_2