Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Murga berubah mengerikan


__ADS_3

Secangkir kopi, potongan kue ringan di atas meja, udara perkampungan yang sejuk. Semua terasa hambar bagi Kadi dan Ima. Mengingat kembali kenangan bersama anak-anak mereka. Sudah tujuh tahun berlalu, rumah di rundung kelabu terutama serpihan butir-butir rintik hujan setiap hari masih tersisa di sudut mata Ima.


Bekas kamar bayinya masih terjaga, semua barang-barang keperluan tetap tersusun setiap pergantian hari Ima selalu menyambangi kamar itu sambil mencium bekas sisa kehangatan di kasurnya.


“Bapak, sudah waktunya kita memberanikan diri masuk ke hutan garis terlarang untuk menemukan mayat anak kita."


“Bu, kenapa ibu tidak bisa mengikhlaskannya? Bapak percaya dia kembali pada Yang Maha Kuasa.”


“Tapi mana jasadnya? Mana kuburannya? Bahkan para mahasiswa itu pasti menjadi incaran mereka pak. Bapak harus menyelamatkan mereka”


Dari kejauhan Beben berlari menuju mereka, nafas memburu rahang mulutnya terbuka tapi sulit terucap. Kadi menepuk pelan pundaknya menuntunnya duduk.


“Pak_san__" ucap Beben terbata.


“Ada apa Ben? Apa yang terjadi dengan Sandika?” tanya Ima.


“Sabar bu, biar dia tenang dulu.”


“Pak, dari pagi tadi kami menunggu Sandika, tapi sampai saat ini dia belum kembali dari hutan. Para body guard dan aparat kepolisian kini masih mencarinya disana.”


“Ayo sekarang kita ke hutan.”


“Hati-hati, jangan lupa bawa senter dan senjata tajam pak” ucap Ima.


...----------------...


Niat Warid pada waktu itu juga untuk memusnahkan hantu yang mendekati Sandika di urungkan perkataan Don saat menyodorkan beberapa foto. Don dan Hen berhasil mendapatkan informasi letak sarang hantu dan tempat letak pertemuan Sandika dengannya.


“Jadi kita akan berangkat besok siang, mempersiapkan semua jebakan berlanjut pada malam hari menyerang hantu itu” kata Warid memberi penjelas.


“Ya tuan.”


...----------------...

__ADS_1


Pria itu hanya sekilas bersedih melepas Via di Telaga berkabut. Paijo mengemudikan mobil menuju jalur pusat perkotaan. Musik keras, minuman yang memabukkan, para wanita yang menggodanya, Paijo duduk di salah satu tempat yang hanya dia pesan khusus untuknya.


Di sisi kanan, tengah dan kiri dia di serbu lima orang wanita yang berpakaian mini. Pria itu tertawa riang gembira, dia menabur uang nya ke wajah wanita yang tidak henti tersenyum bergerak menggodanya.


“Mas, tidak kah kau menginginkan ku?”


“Pilih saja aku mas."


“Hei, aku yang lebih dahulu bersamanya ketika dia datang.”


“Tidak, aku yang duluan.”


Keributan lima wanita itu di lerai oleh Paijo. Dia menarik membawa kelimanya ke dalam sebuah kamar yang dia pesan. Dalam satu malam dia bersenang-senang menghamburkan uang di atas ranjang sambil tertawa riang gembira.


“Ini lah surga dunia ku! Ahahahh!” ucapnya lantang.


......................


“Kakak, ini sudah larut malam. Mungkin besok ayah baru pulang” ucap Meri.


“Kita tunggu sebentar lagi.”


Jangan berharap pada sosok kepala keluarga yang hanya mementingkan nafsu syahwat dan harta benda. Dia bahkan bisa menari di atas mayat istrinya yang baru saja tiada. Paijo sudah mabuk berat, dia membawa kelima wanita malam itu ke rumahnya.


“Cepat masuk istri-istri ku, ini rumah kita. Ahahah.”


Dia berjalan sempoyongan di sanggah para wanita yang dia ajak. Mata mereka membelalak melihat rumah mewah nan megah. Langkah mereka terhenti, Mera dan Meri melipat kedua tangan menghalangi masuk.


“Mau apa kalian? Pergi!” ucap Mera.


“Penjaga! Bawa ayah kami masuk!” perintah Meri.


Paijo menggelengkan kepala, dia memeluk erat wanita yang berada di sisi kanan dan kirinya. Mera dan Meri mengernyitkan dahi melihat, kancing baju sang ayah yang terbuka. Perilaku dari orang tuanya yang tidak patut di contoh itu menunjukkan sikap yang amoral dan abnormal.

__ADS_1


“Awas kalian anak kecil” kata Paijo melangkah miring mendorong Mera sampai terjatuh.


“Ayah! Kau sudah berani main tangan pada kami?” teriak Meri.


“Ayo Mera, kita pergi saja dari rumah ini.”


Mereka mengemas barang-barang, mengambil semua uang tabungan yang selama ini mereka simpan. Sementara Paijo meneruskan kepuasaan nafsunya kembali di dalam kamar. Kelima wanita itu sangat bahagia mendapatkan bayaran uang berkali lipat di tambah akan di jadikan istrinya. Mera mengendap-endap masuk membuka salah satu brankas, dia mengambil beberapa tumpuk uang di dalamnya.


“Mera, kau tidak boleh mencuri, Ayo kita kembali dan mengembalikannya” ucap Meri.


“Siapa yang mencuri, uang ini untuk membayar uang kuliah kita. Aku tidak menggunakannya untuk kesenangan pribadi. Malam ini kita cari penginapan, besok kita ke pagi kita ke kampus dan siangnya pulang ke rumah ibu.”


......................


Kaki Sandika di robek Lina sedangkan lengannya di gigit oleh Rambe. Sandika menjerit kesakitan, dia berusaha melepaskan namun gigitan dan serangan itu semakin dalam. Murga naik ke atas permukaan, penampilannya berbeda lebih mengerikan. Bentuk makhluk mirip mitologi kuno jaman dulu, sosok itu merampas tubuh Sandika dengan tangannya jemarinya yang sangat panjang.


Sosok arwah Lina menarik tangan Sandika menghentikan Murga. Amarah hantu yang menggelegar itu berapi-api, Murga mencabik-cabik jasad asli Lina. Dia mencabut paksa jantungnya hingga tubuhnya yang tidak berdaya itu terbanting ke atas tanah. Ki Gendeng tidak bisa menyelamatkan atau membantunya. Murga memberi peringatan pada Jon dan Ki Gendeng untuk pergi.


Dukun itu malah merasa tertantang mengadu kekuatannya menyerang Murga. Satu hembusan nafas api sosok Murga menghanguskan tubuh Ki Gendeng. Jon yang menyaksikannya berlari meninggalkan tempat itu membawa mobil Lina pergi.


“Maafkan aku nyonya, aku akan datang setelah mencari bantuan” gumam Jon.


Sosok arwah Lina menangis di sudut tergelap di kehidupan dimensi lain. Dia menyesal mengorbankan diri berharap anak musuh di dunia nyata dapat musnah tapi dirinya lah yang tiada.


Murga membawa Sandika di kamarnya. Saat dia akan terbang menembus dinding, Sandika menahan dengan tatapan sayu setengah sadar menatapnya.


“Ini kah Murga yang selama ini aku puja? Dia kan makhluk paling aku cintai di dunia ini? apakah aku masih mencintainya setelah hari ini?” gumam Sandika.


Tangan makhluk mengerikan itu kasar dari sela rongga kecil mengeluarkan ulat menggeliat berpindah ke tangan Sandika. Jemari tangan kiri Murga mau menepis ulat itu tapi Sandika menahan lagi dengan tangan kanannya.


“Biarkan aku pergi!” ucap suara Murga mencekam.


“Tidak, bagaimana pun wujud asli mu. Engkau tetap lah Murga ku, si wanita berambut panjang pembawa kunang-kunang yang selalu menyelamatkan ku berkali-kali di tempat ini.”

__ADS_1


__ADS_2