
Paijo membawa Via ke perbukitan bebatuan besar, dia mencari pintu masuk dari salah satu yang bisa menembus gua si ratu ular pemuja pesugihannya. Pintu itu menghilang, ular yang menggeliat dan melata di dekatnya hampir mematuknya.
“Ratu! Bantu aku! Ratu!” teriak Paijo.
“Paijo, temui aku di Telaga berkabut.”
Sosok Rambe menjelma menjadi siluman ular, dia menyuruhnya memasukkan Via ke dalam air. Berpikir pria itu akan menyelamatkan Via, dia itu langsung mematuhi ucapannya.
“Paijo sesuai perjanjian, tumbal selanjutnya adalah istri mu. Seharusnya anak mu tidak ikut mati jika istri tidak melihat ku di malam itu.”
“Ratu, tolong kembalikan Via. Aku sangat mencintainya!”
“Ahahahhh!” tawa Rambe mendengar kata cinta.
Ratusan tahun berlalu, dia tenggelam dalam lembah hitam. Tubuh kerangka menderita di dasar air, dia pernah di khianati bahkan di kecewakan. Pembunuhan berantai menewaskan semua anggota keluarga. Telaga berkabut menjadi saksi kejahatan manusia yang menewaskan mereka. Tempat itu di selimuti pekat putih dalam kutukan sumpah serapah yang di saksikan oleh langit. Rambe mengingat bagaimana mereka menghabisi Gumamtong walau sudah berubah menjadi sosok hantu sekalipun.
......................
Satu persatu manusia itu akan mati di dalam godaan ku. Kedua saudara ku telah memperingatkan ku supaya tidak mengganggu mereka tapi satu-persatu saudara ku di musnahkan. Jadi jangan meminta belas kasihan pada ku.
...💀💀💀...
Rasa sakit tidak tertahankan dalam bahagia dan menderita. Rasa bahagia bertemu kembali dengan Sandika, pria itu tetap setia menunggunya. Rasa sakit menahan genggaman sentuhan tangan terbakar api. Dia tidak bisa memungkiri Sandika adalah pria berparas kharisma itu kulitnya selalu basah dengan air suci.
Murga mencelupkan kedua tangannya di dalam air. Telaga berkabut menyerukan suara aneh, menyebar bau busuk pada lukanya. Rambe menarik tangannya melotot masuk ke dalam air, di dasar Telaga dia mendekati tengkorak milik Murga. Dia mengusap telapak tangan tengkorak itu, Rambe menggunakan tenaga dalam yang dia miliki untuk menyembuhkan sang adik agar luka tidak menyebar perlahan dapat melenyapkannya menjadi abu.
Dia dalam air, Murga menarik tangannya tidak mau Rambe mengobati luka sampai sosok hantu itu terpaksa mengikat Murga dengan tumbuhan tali akar Telaga yang sudah dia beri mantra.
“Aku tidak mau kau mengobati luka ini kak, lepaskan aku!”
Rambe mengacuhkannya, dia meninggalkan Murga dengan tubuh terikat. Rame juga menutup permukaan Telaga berkabut dengan akar berduri dan tanaman sejenis encenggondok hidup berukuran besar. Tenaga dalamnya sudah habis, dia luka dalam terbang jauh menyembunyikan sosoknya. Melakukan pertapaan panjang untuk mengembalikan kekuatannya.
...----------------...
__ADS_1
Mentari hadir membawa lembaran baru dalam kenangan lama yang masih terpatri di hari ini. Sandika berpesan agar Beben jangan mengikutinya.
“Sebentar saja, aku mau pamit dengan Murga” ucapnya.
“Apakah dia hantu yang sering di bicarakan Gama dan lainnya?”
“Ben, dia tidak seburuk yang kau kira. Mungkin saja dia bukan sosok yang di katakan. Beri aku waktu dua puluh menit.”
Sandika berlari masuk ke dalam hutan, dia sudah hafal jalan menuju Telaga Berkabut. Dia terkejut di atas air di penuhi akar tajam menjalar di tepi air tumbuh-tumbuhan yang aneh terdapat rahang terbuka lebar.
“Siapa yang meletakkan tumbuhan enceng gondok aneh dan akar ini?” batin Sandika.
Bebatuan besar tempat biasa dia bertemu Sandika berubah di tutupi tumbuhan menjalar menutup rapat. Dia memanggil Murga berulang kali, sampai sosok penampakan hantu berbaju merah tertawa terbang menembus bebatuan raksasa.
“Murga!”
Suara Sandika terdengar sampai di dasar air. Murga cemas akan amarah Rambe yang akan menyakiti Sandika. Kini posisi dia sama seperti Harun pada waktu silam, terjebak di dasar Telaga berkabut dan dia yang memberikan pertolongan pada wanita itu.
Ketika mencium aroma tubuh manusia mendekati Telaga, dia berbalik terbang mengeluarkan gigi taring siap mengigit lehernya.
-
...----------------...
Warid mencoba sekali lagi menemui Ki Gendeng. Dia menanyakan sosok wanita yang di kabarkan sedang dekat dengan Sandika. Semua hal menyangkutnya harus dia selidiki. Dia berharap anak angkat Harun itu terlepas dari kejahatan Lina atau gangguan bersifat ghaib lainnya.
“Tuan Ki Gendeng mengatakan bahwa dia adalah salah satu hantu penghuni Telaga Berkabut” ucap Don.
Mengutus salah satu kaki tangannya yang membawa kabar buruk. Dia mendatangi rumah Ki Gendeng tanpa permisi masuk ke dalam menyodorkan tumpukan lembaran uang di atas mejanya.
“Kenapa kau sampai terburu-buru hingga lupa cara masuk ke rumah orang lain!”
“Maaf Ki, tapi tolong bantu aku melepaskan Sandika dari cengkraman hantu itu.”
__ADS_1
Meski si dukun pernah gagal menyelamatkan Harun, dia mengakui keganasan hantu Telaga berkabut yang tidak bisa di anggap remeh. Saingan kekuatannya kini tidak seganas hantu Gumamtong yang sudah terlalu banyak menelan darah dan daging manusia.
“Kali ini aku bisa menolong mu, tapi kau sendiri yang harus melakukannya. Kau harus menusuk paku ini tepat di punggungnya. Apakah kau berani dan siap?”
Ki Gendeng menyerahkan sebuah batu berukuran sedang dan sebuah paku besar. Warid menerimanya, dia memasukkan benda itu ke dalam kantung lalu berpamitan pergi.
...----------------...
Lina mengambil alih posisi lebih mendekati ki Gendeng, wanita itu melakukan berbagai cara agar mendesak si dukun mengatakan akan keperluan apa Warid menemuinya. Para body guardnya tidak di perbolehkan masuk, dia terus menerus menggoda tapi pria tua itu memberikan sekuntum bunga kantil di tangannya.
“Kenapa kau tidak membalas ku Ki? Untuk apa bunga ini?”
“Aku bukan tipe laki-laki penikmat wanita. Kau sudah salah besar! Makan bunga itu maka kau akan menjadi cantik jelita.”
“Wah, kau tau saja keinginan ku Ki. Terimakasih”
Dalam hitungan lima detik dia mengunyah sampai tidak tersisa. Persyaratan untuk membunuh Sandika di bawa oleh Jon dan di letakkan di bawah pohon belakang rumah si dukun. Beralas daun pisang, tubuh Lina di tutupi kain kafan sampai ke batas leher.
Rumah ki Gendeng tertutup pagai bambu yang tinggi. Dia mengikat setiap bambu dengan tali hitam bandulan kantung berisi berbagai macam benda klenik.
“Nyonya, mohon pikir ulang sekali lagi menempuh jalan putus ini, biar saya saja yang menggantikan anda” ucap Jon.
“Tenang lah, aku tidak akan mati semudah itu” jawabnya penuh keyakinan.
Ki Gendeng menyiram tubuh Lina dengan darah segar ayam cemani hitam. Pupil Lina memutih, dia kesurupan tersenyum menyeringai melotot menggertakkan gigi hingga memutar kepalanya sendiri.
“Mundur!”
Ki Gendeng mendorong Jon saat akan mendekatinya.
“Apa yang terjadi pada nyonya Ki?”
“Jangan berisik! aku sedang meneruskan mantra.”
__ADS_1
Arwahnya keluar dari tubuhnya terbang meninggalkan tubuhnya yang kaku. Dia mencari Sandika, pria itu di serang dua makhluk ganas. Mengetahui Sandika dalam bahaya, Murga terpaksa mengeluarkan sisi hitamnya agar bisa keluar dari dasar air.