
...Kebanyakan manusia mengira mengakhiri hidup adalah keputusan terbaik menyelesaikan masalah. Tidak dengan kenyataan hanya sukma, ruh dan arwah yang berpindah alam. Tergantung pada jalan dan kadar timbangan manusia memilih hidup sebagai khalifah di dunia....
......💀💀💀......
"Adik kecil, siapa nama mu?"
"Ceri jangan pergi jauh-jauh. Maaf tuan, anak saya sedikit nakal."
Seorang wanita muda mengerutkan alis melihatnya saat celana pada bagian dengkul Sandika terkena es krim yang di pegang oleh anak itu. Dia mengambil sapu tangan dari tasnya lalu memberikannya pada Sandika.
"Sudah tidak apa-apa mbak."
Di pertemuan itu, tanpa sepengetahuan keduanya Warid sudah mengatur berbagai rencana berharap Sandika bisa melupakan sosok hantu di perkampungan Telaga berkabut.
Warid berusaha memutuskan rantai ikatan masa lalu yang masih menjadi momok menakutkan di kehidupannya. Seumur hidup Warid menyesal tidak bisa menyelamatkan orang yang dia cintai. Perbincangan singkat Sandika dan Rina, kedua berjabat tangan berpamitan.
"Kakak nanti kita main lagi ya!" teriak Ceri melihat ke arah belakang Sandika.
"Sayang, siapa kakak yang kamu maksud?"
"Kakak berambut panjang yang di dekat om itu mah" jawab Ceri.
Ceri berlari berjongkok di dekat kaki Sandika, dia bercengkrama dengan sesuatu yang tidak terlihat wujudnya.
"Ceri, ayo kita pulang. Mama nggak mau kamu jadi anak yang nakal" ucap Rina berlari meraih putrinya itu.
"Tidak apa-apa mbak namanya juga anak kecil."
Warid turun dari mobilnya, dia memakai stelan baju olahraga. Berlari menghampiri mereka sambil berpura-pura menyeka keringat yang tidak keluar dari lehernya.
"Eh kebetulan sekali, kalian sudah saling kenal?" tanya Warid tersenyum.
"Oh iya tadi saya lupa menanyakan nama mbak. Kenalin saya Sandika."
__ADS_1
"Saya Rina, ini anak saya Cerry."
Mereka berjabat tangan, Cerry juga tidak mau kalah dia mendekat ke Sandika membisikkan ke telinganya.
"Paman, kenal kan Aku juga mau kenalan sama kakak yang selalu mengikuti paman."
......................
Memainkan peran pesuruh sosok ki Gendeng agar mencari mangsa. Dia berdiri menjelma menjadi sosok berparas sangat cantik jelita. Pakaian gaun merah yang seksi, Lina berdiri di pinggir jalan antara lintas perkotaan dan perkampungan.
Para pengendara malam yang terkecoh akan kehadirannya kebanyakan berhenti menepikan kendaraan. Ada yang secara sukarela menawarkannya tumpangan pulang dan ada pula yang memanfaatkan situasi berujung kematiannya sendiri. Lelaki hidung belang berakhir dengan jasad yang tidak utuh. Darah mereka di renggut paksa dan daging di ***** makhluk rakus pemakan daging manusia.
Ilmu di masa hidup merubah diri menjadi manusia yang kufur. Ki Gendeng sudah kenyang di beri santapan manusia dari arwah Lina. Sosok ki Gendeng masih mengincar tubuh manusia yang sesuai dengan kehendaknya. Belum tau pasti jenis manusia macam apa yang dia inginkan. Sampai pada suatu keinginannya mendekati sosok Sandika yang tengah melintas melewati perbatasan tersebut.
"Untuk urusan manusia itu aku tidak sanggup ki. Akibat pria terkutuk diriku berakhir seperti ini. Kau boleh menyiksa ku jika kau mau ki" ucap Lina pasrah.
Ki Gendeng menjalankan aksinya sendiri, menggunakan ilmu setannya menghantam tubuh Sandika. Semula semua serangannya tepat mengenai sasaran, dia keliru akan kehebatan yang dia banggakan itu. Hantu Murga yang telah berubah menjadi ganas membalikkan semua serangan menjatuhkan sampai menghanguskan sebagian badan halusnya.
"Jangan kau ganggu Sandika!" suara Murga memperingatkan sosok tersebut.
Pertempuran terhenti, kehadiran sosok Rambe membuat sosok ki Gendeng ketakutan. Melawan dua makhluk ganas sama saja merelakan tubuh halusnya musnah. Di menghilang menghindar, begitu juga dengan Lina.
"Murga, ingatlah kau harus lebih. berhati-hati jika tidak ingin menyesal seperti ku. Aku akan meneruskan persemedian"
......................
Sandika merasakan tubuhnya begitu panas. Dia meminta pak supir menaikkan AC mobil. Di dalam genggaman tangan sebelah kanan terdapat cincin yang sampai saat ini belum berani dia sematkan di jari Murga.
"Aku kembali dan meminta mu bersama ku selamanya" gumamnya.
Sandika bersama Warid dan kelima ajudan mereka pergi ke kampung Telaga berkabut. Warid sudah tidak sabar melakukan misinya, dia berulang kali mengatakan pada supir untuk menurunkannya di perbatasan perkampungan.
"Memangnya paman ada keperluan apa disana?" tanya Sandika.
__ADS_1
"Paman mau bertemu teman lama sebentar. Kamu nanti duluan saja."
Warid turun di ikuti para ajudan dari belakang bergegas masuk ke hutan. Berpikir tidak tega meninggalkan sang paman begitu saja. Sandika ikut turun berbeda arah berniat menemui Murga.
Setelah perpisahan singkat, dia tetap menunggu si hantu wanita kunang-kunang. Rute jalan masih di ingatnya, dia memainkan pianika di tepi Telaga berkabut.
"Sudah ku duga pasti anak ini tidak bisa. melupakan hantu itu" gumam Warid.
Terik siang bolong tidak menampakkan wujud yang dia tunggu. Sandika memutuskan kembali di malam hari. Siapa yang menyangka di balik Persemedian rambe, mengirim makhluk penghuni tak kasat mata agar menghentikan proyek pembangunannya.
Cuaca ekstrim hari ini bukanlah murni dari alam. Hujan deras berkepanjangan, tidak biasanya perkampungan itu di landa banjir di tambah angin kencang menggulung atap rumah warga.
"Sepertinya kita harus menambah anggaran Pembangunan prasarana pengendali banjir" ucap Sandika.
Posko-posko tenda darurat di dirikan membantu mengevakuasi para warga. Setiap kali para pekerja memulai pekerjaan mereka, pasti selalu di halangi berbagai macam ganggu bahkan penampakan makhluk halus.
"Kampung ini sudah di kutuk, tidak ada harapan untuk memajukannya!" pak Misdi mengusap kepala.
"Pak Sandika, sebaiknya proyek pembangunan ini di batalkan saja. Kami menyadari kampung keramat ini di jaga dan di huni makhluk lain yang sudah di anggap pula sebagai rumah mereka" ucap pak Edi.
Badai dan bencana berlanjut, alih-alih ingin mengubah hidup bahagia malah berubah menderita. Di dalam posko, mereka bermusyawarah panjang hingga menyuarakan pendapat terbanyak memutuskan menunda proyek pembangunan sampai waktu yang di tentukan. Sandika menghela nafas panjang, dia tidak bisa berkata apapun.
Seratus persen membantu kebutuhan warga yang terkena musibah. Sebelum kembali ke kota, di malam hari yang luluh lantak itu Sandika berjalan membawa obor ke Telaga berkabut.
Dia tidak menyadari di belakang sudah di ikuti oleh Warid dan para ajudannya. Pertemuan antara manusia dan hantu itu di saksikan kembali oleh langit yang membentang samar sinar rembulan setelah badai berkepanjangan. Keduanya saling bertatapan, Sandika tersenyum menatap sosok hantu Murga.
"Itu hantunya paman!" bisik Beben.
"Ya, aku sengaja memanggil mu untuk melihat sendiri sosok yang selama ini dekat dengan Sandika" jawab Warid.
Mereka mengepung keduanya, Murga tidak bisa meninggalkan Sandika begitu saja ketika melihat pria itu di ikat. Dari belakang, Warid mengeluarkan paku dan baru lalu menancapkan pada bagian punggung hantu Murga. Sosok itupun menjerit kesakitan, suara menakutkan menggema sangat keras.
"Arrggh! arrggh! "
__ADS_1
"Tidak! Murga! " teriak Sandika.