
Malam yang dingin menunggu janji dari Man dan Kiki. Dia menanti uang yang di janjikan dari mereka untuk mengobati anaknya yang sakit keras. Rito banyak membantu melancarkan aksi jahat kedua pria itu. Namun, telah lama imbalan itu belum sampai ke tangannya juga. Mondar-mandir langkah di depan pintu sesekali mengintip dari sela jendela.
“Bapak! Uhuk, uhuk” suara lirih Neni.
“Apa yang harus kita lakukan pak? Hiks.”
Sumi memeluk Neni, dia tidak berdaya untuk membawa anaknya berobat. Rito hanya terdiam menahan rasa sedih, dia tetap menanti kabar dari Man dan Kiki. Detik jarum jam yang berlalu, kondisi Neni semakin memburuk terlihat dia tidak tahan lagi menahan rasa sakit.
“Neni! Bangun nak!” jerit Sumi.
Anak perempuannya meninggal dengan sepasang bola mata yang masih terbuka. Tangis Sumi mengusap wajah anaknya berkali-kali memanggil namanya berharap dia bernafas kembali.
“Pak Man dan Kiki telah menipuku! Aku tidak akan tinggal diam!” gumam Rito.
Pria yang sudah terbiasa melakukan kejahatan itu mengambil sarung tangan, pisau dan keris lalu berlari mencari keduanya. Dia mengabaikan panggilan Sumi malah berlari keluar dengan mata merah memperlihatkan urat mata menonjol.
Dia mengendap-endap masuk ke dalam rumah Bondan. Rito hafal rute tempat rahasia dan semua seluk beluk di dalamnya. Dia salah satu pesuruh Man dan Kiki yang handal dan sangat cekatan. Tidak sampai hari ini, Rito berbalik arah menyerang dan membunuh.
Man tertidur pulas bermandikan tumpukan uang di atas ranjangnya. Kedatangan Rito perlahan membuka pintu kamar lalu secepat kilat menebas lehernya hingga jeritan yang tidak bisa di keluarkan. Kesakitan nafas terputus-putus memegang lehernya sendiri. Darah membanjiri ranjang bersimbah darah.
“Mati lah kau!” ucap Rito.
Sarung tangan masih dia lengket di tangan pria berdarah dingin itu. Dendamnya masih belum seutuhnya tersalurkan, selanjutnya mencari Kiki yang kini tampak tidak berada di rumah. Rito hafal sekali jam-jam dia kembali, kira-kira satu jam lagi pria itu pulang. Rito bersembunyi di salah satu tempat sambil mempersiapkan diri dengan menggertakkan tubuh agar bisa membunuh pria bertubuh gemuk itu.
__ADS_1
“Man dimana kau? aku bawa minuman bagus nih. Ayo kita mabuk-mabukan malam ini untuk merayakan keberhasilan kita. Ahahah.”
Kiki terkejut hingga terjatuh melihat Man tewas secara mengerikan. Ketika dia akan berteriak minta tolong, dari arah belakang kepalanya di pukul oleh Rito hingga dia tidak sadarkan diri. Menjelang sore hari, dia kembali sadar membalas tatapan Kiki. Pria itu menyiram air es ke wajahnya. Dia di ikat di kursi, mulutnya di tutup kain dengan ikatan yang sangat kuat sampai Kiki merintih kesakitan.
“Bagaimana perasaan anda pak Kiki? Aku seharusnya sadar akan niat busuk kalian yang akan menipu ku secara mentah-mentahan!” bisik Rito.
“Tenang, aku tidak akan membunuh mu! kau harus merasakan penderitaan terlebih dahulu” bisiknya lagi.
Rito sudah seperti kerasukan setan, dia mengambil keris yang dia sembunyikan di balik badannya. Setelah berhasil memasukkan Bondan ke dalam jebakan di hutan, dia bersembunyi menunggu Man dan Kiki pergi. Dia menggali kembali lubang yang sudah mengubur Bondan lalu mengambil keris di dalamnya.
“Kenapa pak Kiki! Kau kaget ya? Aku bisa melakukan hal lebih jahat lagi kali ini.
Ahahah!” tawanya.
Jemari Kiki menolak menandatangi hingga menjatuhkan pulpen ke lantai. Rito pun menjadi marah, dia mulai menganiaya pria itu secara perlahan. Tusukan pertama menggunakan keris, perut sebelah kirinya tertancap benda tajam menimbulkan suara mengerangnya kesakitan. Rito meletakkan kembali pulpen ke tangan Kiki. Pria itu terpaksa menandatangi lembar demi lembar yang di berikan kepadanya.
Setelah selesai, keris yang masih tertancap di perutnya di tarik paksa. Tusukan kedua kini tertuju pada pahanya. Dia seolah memberikan peringatan akan janji Kiki yang di lupakan padanya.
Semua lembar itu di tempatkan di dalam tas hitam. Rito juga mengambil semua uang di dalam brankas dan mengambil barang berharga lainnya. Sarung tangannya masih di pakai untuk membuang jejaknya. Kiki sudah tewas di tangannya, pria itu menuju ke rumah dengan pandangan mengintai lalu mengunci pintu rapat-rapat.
“Kau dari mana saja pak? Anak kita telah meninggal dunia! Kita harus meminta pertolongan warga untuk mengurus jenazahnya, hiks” ucap Sumi.
“Stthh, kecilkan suara mu bu” bisik Rito.
__ADS_1
Dia menunjukkan isi tas hitam membuat Sumi terkejut menghentikan tangisnya. Sumi masih memeluk jasad anaknya Neni. Dia mendorong tas itu lalu menggelengkan kepala.
“Cepat jelaskan pada ku pak. Dari mana kau mendapatkan semua itu? Apakah kau sudah menggadaikan nyawa anak mu ini untuk pesugihan?”
“Tidak, ibu salah paham.”
Rito menjelaskan secara terperinci padanya. Amarah Sumi menggelegar mengetahui uang itu hasil curian dan pembunuhan. Dia mengusir Rito dan meminta agar jangan pernah lagi menemuinya. Rito minta agar Sumi tenang, dia meminta maaf berkali-kali pada istrinya itu. Sisa warga kampung yang membantu mereka saling berbisik melihat Rito.
Selesai mengebumikan anaknya bukan berarti Sumi sudah memaafkan perbuatan Rito. Dia sangat kecewa atas tindakan suaminya. Terlebih lagi melihat keris yang berada di tangannya, Sumi meminta Rito agar membuang benda keramat yang berbahaya itu. Dia merampas keris dari tangannya lalu membuang benda itu keluar jendela. Rito berlari mengambil keris lalu masuk kembali kemudian meletakkannya di tangan Sumi.
“Tanpa benda ini, warga kampung akan terus di kecam rasa ketakutan. Benda ini pembuka jalan meminta ijin di batas wilayah terlarang hutan. Di samping itu bisa memusnahkan para penunggu yang berniat jahat atau mencelakakan warga.”
“Aku tetap tidak setuju!” bentak Sumi.
Tarik menarik keris hingga tanpa sadar ujungnya yang tajam itu menusuk perut Sumi sangat dalam. Rito terkejut menarik keris lalu mencari kain untuk menekan luka di perutnya.
Keris keramat bersimbah darah, seolah benda itu mencari mangsa sebagai persyaratan keampuhannya. Sumi meninggal di tangannya sendiri, penuh rasa penyesalan mendalam pada Rito sampai dia ikut menusukkan keris itu di perutnya. Usaha yang sia-sia, rantai saling membunuh setelah keris itu berpindah tangan.
“Apa ku bilang tadi, si Rito pasti bersekongkol membunuh si juru kuncen. Lihatlah, dia meninggal dengan keris yang tertusuk di perutnya” ucap Kadi.
“Kita belum bisa memberikan pendapat seperti itu karena sampai saat ini si juru kuncen menghilang secara misterius begitu pula Bondan” kata Kam.
Kam masih tinggal di kampung itu agar bisa melenyapkan sosok hantu yang sudah membunuh istrinya secara tragis. Dia secara sembunyi-sembunyi mengambil keris di tangan mayat Rito.
__ADS_1