
Mengambil, mengembalikan, mendapatkan sesuatu atau terkena dari dampak yang di lakukan. Beberapa kata bimbang menekan perihal kejadian kisah karma memasuki area Telaga berkabut.
“Keadaan anak bapak dan ibu baik-baik saja, demamnya juga sudah hilang.”
“Terimakasih banyak dok.”
Perkataan pak dokter yang melegakan hati mereka. Demi anak kesayangannya itu, Sandika memanggil dokter pribadi dari kota untuk mengobati Cerry. Dia masih tertidur, selimut yang hangat membungkus tubuhnya. Pada malam panjang, Sandika menceritakan semua kejadian hidupnya pada Rina. Air mata berderai melihat penderitaan kisah hidup pria yang bersahaja itu.
“Aku semula berpikir kau berselingkuh.”
“Bagaimana aku bisa mendua jika kekasih lama ku belum bisa aku lupakan.”
Ucapan Sandika menyayat perasaannya. Dia berlari menangis keluar rumah, rasa sakit tidak bisa tertahankan. Rina membuang perasaan kacau dan rasa sedih berjalan-jalan mengelilingi rumah. Dia menilai jauh suaminya mencintai sosok hantu hingga saat ini perasaannya tampak tetap sama.
“Ibu!” panggilan Cerry dari atas loteng.
“Ceri awas jatuh! Jangan bergerak dan tetap disitu ya”
Rina berlari naik menangkap Cerry, dia tidak sadarkan diri. Rina menjerit memanggil Sandika, mereka menempatkan Cerry di kamar mereka.
“Ayah, ibu..”
“Kamu gimana sih mas, aku tinggalin Cerry sebentar sama kamu kok dia udah mau melompat dari atas loteng.”
“Dari tadi Cerry bersama ku Rin.”
“Ini buktinya apa?”
“Bu, jangan marahin ayah ya. Ayah dan ibu mau kan menemani Cerry tidur malam ini?”
__ADS_1
“Ya sayang. Ayah dan ibu akan tetap disini.”
Bunyi telpon dering ponsel Sandika membuat Rina membayangkan sewaktu dia kecil melihat pertengkaran keduanya akibat panggilan yang tidak seharusnya dia tau. Wanita lain yang menelepon ayah di saat Rina berusia Sembilan tahun. Layar ponsel ayahnya pecah di banting ibunya lalu menangis membawa Rina dan Lina pergi. Natih tidak mengira bahwa selama ini dia adalah istri kedua. Supar menarik tangan Natih meminta maaf. Wanita itu terpaksa menahan amarahnya mengingat nasib kedua anaknya di samping dia seorang wanita yang pengangguran.
“Bagaimana nasib anak kun anti tanpa seorang ayah? Dengan apa aku menafkahi mereka? Mencari pekerjaaan sangat lah sulit”
Kalimat itu terdengar jelas ketika ibunya Natih memberi penjelasan mengapa dia tetap mau menjadi istri kedua ayahnya. Tapi, tidak dengan hari ini Rina secara waras di sela candaan sedih berandai-andai jika hantu Murga akan menelepon suaminya di tengah malam.
Dia adalah pria yang jujur meski bersikap dingin. Apapun tentang hal bersifat pribadi selalu dia beritahu semua padanya. Panggilan di layar ponsel terbaca nama pak Egen. Dia membuka pesan tersebut.
Pesan whatsapp dari pak Egen.
“Tuan, saya mendapat kabar mengenai tuan Beben sudah kembali dari luar negeri. Kesehatannya sudah membaik, tapi beliau mengalami kelumpuhan.”
...💀💀💀...
Rina beranjak dari kasur, dia membuka pintu sangat pelan tidak ingin membangunkan Cerry dan Sandika. Menuruni tangga, lampu berkedip melihat kursi goyang yang bergerak sendiri. Dia memberanikan diri mendekati kursi menahan gerakan berhenti. Dia pernah menanyakan pada Cerry bagaimana dia bisa bertemu sosok makhluk yang dia sebut sebagai kakak.
Dering ponsel memanggil Natih.
“Assalamu’alaikum bu.”
“Walaikumsalam, ada apa sayang? Tumben jam segini nelpon ibu.”
“Bu, aku kadang menyangkal Cerry bisa melihat sosok makhluk lain di sebut sebagai anak yang mempunyai mata batin. Tapi kenapa dia tidak bisa melihat sosok kak Lina yang masih bergentayangan di rumah kita?”
“Benar juga kata mu, besok ibu akan pergi ke orang pintar untuk bertanya mengenai Cerry. Sekarang kamu tidur dan jaga kesehatan. Besok telpon ibu lagi ya.”
“Ya bu, oh ya___”
__ADS_1
Panggilan terputus karena sangat terkejut merasakan pundaknya di tepuk oleh sesuatu. Di bagian sudut dinding terlihat bayangan semakin besar dan membesar. Rina menjerit. Sandika hadir di belakangnya segera dia peluk. Dia menunjuk ke arah dinding, penampakan yang sama yang di lihat olehnya. Sandika mendekati bayangan yang semakin membesar itu. Aroma kemenyan menyengat di susul jeritan suara Cerry.
“Mas, anak kita!” ucap Rina.
Di dalam tidur belum membuka mata, jeritan lengkingan suara Cerry sangat keras. Sandika membacakan surah An-Nas dan ayat kursi di telinganya. Sayup-sayup dia membuka maka terlihat tatapan wajah yang sangat ketakutan.
“Ayah, ibu, tadi ada kakak-kakak yang mau narik Cerry pergi.”
“Nggak ada siapa-siapa kok. Sudah Cerry tidur lagi ya. Tuh lihat! ayah udah mendengkur.”
Sandika berpura-pura mengeluarkan dengkuran keras lalu menggeliat mendekatkan wajah ke anaknya. Perlahan dia membuka mata berbisik; “Jangan lupa baca do’a kalau mau tidur.”
Cerry memeluk ayahnya membelakangi Rina.
Keluarga yang tampak sangat harmonis itu sebenarnya berselubung duka. Sandika menyelimuti keduanya, memperhatikan raut wajah Rina yang sudah tertidur. Dia iba melihat sikap ketegaran Rina menunggu dia benar-benar mencintainya setulus hati. Walau setelah menikah mereka bertegur sapa sewajarnya.
Menyalakan ponsel melihat pesan dari Egen, keesokan paginya dia mengajak Cerry dan Rina menjenguk di Rumah sakit pusat pertengahan kota. Meja makan sudah tersedia sebuah ceret teh panas, segelas susu di bagian kursi Cerry , asi goreng, bubur, roti, beberapa botol selai dan buah-buahan segar. Selesai masak dan mengurus Cerry, Rina membersihkan diri lalu menuju ke meja makan. Sandika sudah ada di sana tersenyum menunggu mereka berdua.
“Cerry belum turun mas?”
“Belum, kita tunggu sebentar lagi baru makan bersama.”
Cerry masih sibuk bercengkrama dengan Tata. Sosok hantu anak kecil itu berpura-pura tersenyum memperhatikan gaun indah ala tokoh Disney princess yang di kenakan. Dia sangat cemburu melihat kehidupannya yang terlihat sangat bahagia.
“Dulu aku tidak sebahagia seperti dia” gumam sosok hantu Tata.
“Ta, aku udah di tungguin ayah sama ibu di bawah. Kamu mau ikut aku nggak?” tanya Cerry.
Tata mengangguk, mereka menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Kali ini Cerry tidak membawa tas kelinci atau Teddy bear kesayangannya. Dia di temani oleh sahabat hantu bernama Tata. Setelah sarapan pagi, mereka mencari Mang Kurat dan si Mbok yang sedari tadi tidak Nampak. Rina yang tidak terlalu memikirkan tingkah para pekerja mendesak Sandika untuk segera pergi.
__ADS_1
“Kita kunci saja rumahnya. Mungkin si mamang dan mbok lagi keluar ada keperluan mendesak” ucap Rina.
Siapa yang menyangka kedua pekerja rumah mereka bagian dari penghuni ghaib perkampungan telaga berkabut?