
Di bawah pohon yang rimbun mereka basah kuyup. Sandika menyeka pelan kulit Murga, raut kesakitan menahan perih dia sembunyikan memalingkan wajah. Setelah hujan reda, dia mengambil pisau di dalam tas mencari dedaunan berukuran lebar, potongan dahan pohon yang tumban, ranting sebagai gubuk darurat melewati keheningan malam mencekam di hutan. Kehidupan seperti ini mereka jalani di balik rasa bahagia bersama. Tapi Sandika bertekad bulat membawanya ke kota berharap dia bahagia menjalani kehidupan baru.
Siap mendirikan gubuk alakadarnya, Sandika menyusuri hutan berburu hewan. Dia berhasil menangkap seekor anak rusa hutan memotongnya menjadi beberapa bagian, membungkusnya di daun-daun besar yang sudah dia persiapkan. Dia meninggalkan kepala dan kaki rusa, anyir darah semerbak menggema pekikan Rambe dari kejauhan.
Jarak berburu sengaja cukup jauh dari gubuk darurat, Sandika berlari sekencang-kencangnya kembali menuju gubuk. Dia meletakkan benda itu di depan tenda, mengambil garam di dalam tas. Menabur garam berbentuk melingkar di wilayah mengucap lafadz surah pendek dan ayat kursi berharap Rambe tidak bisa mendekat dan melewati pembatas itu.
“Panas, panas sekali!” suara kecil Murga meniup luka dan mengipas tubuhnya dengan telapak tangan.
Sandika menghidupkan bakaran api kecil, menegakkan beberapa ranting. Dia lupa belum membersihkan potongan daging, Sandika membawa beberapa botol berjalan sedikit menjauh menyiram daging lalu mempercepat langkah memasukkan daging ke dalam api. Bekas darah di jilatin makhluk tidak kasat mata, suara terdengar oleh keduanya.
“Jangan toleh sumber suara itu, mereka sedang berpesta menikmati makanan darah dan sisa daging yang engkau sediakan.”
“Murga, aku tidak berniat sedikitpun untuk memberi mereka makan” bantahnya.
Daging panggang aroma menyebar di sekitar hutan, dari kejauhan Rambe melihat keduanya melahap makanan. Dia melotot mengeluarkan kuku tajam menjutai siap merobek organ tubuh pria itu. Tapi hanya bara api yang sangat panas seolah menghalangi.
“Api mereka sudah padam, bara yang tersisa juga sedikit. Apa yang menghalangi ku sehingga tidak bisa menyentuhnya?” ucapnya.
Mengetahui kedatangan saudaranya itu, Rambe berpura-pura tidak melihatnya. Dia memberi suapan ke Sandika, membersihkan tepian bibir pria itu. Begitu pun Sandika membalas menyuapi lembut, botol air minum di teguk secara bergantian. Sandika mengabaikan rasa aneh yang merubah pada minuman, dia tidak memperdulikan rasa itu.
“Terimakasih Sandika.”
“Murga, berulang kali ku katakan ini sudah menjadi tanggung jawab ku.”
Kuku-kuku setan bertebaran di luar garis pembatas tenda. Cahayanya menerangi peristirahatan mereka. Murga berada di dalam sedangkan Sandika di luar tenda, sepanjang malam mata setan Rambe memperhatikan keduanya.
“Kalian tidak akan aku lepaskan!”
Rambe menunggu mereka hingga pagi, melihat penampakan sosok itu tidak mau pergi. Sandika gamang mengurungkan niat membacakan ayat pengusir setan. Sepanjang malam Murga merintih kesakitan, luka melebar menyengat aroma sedikit busuk.
__ADS_1
“Sungguh kasihan engkau Murga” gumam Sandika.
“Sandika, apakah engkau melihat saudara ku Rambe mengintai kita?”
“Ya Murga, aku akan tetap bersama mu sekalipun dia membunuh ku.”
“Kita terjebak disini, dia tidak akan membiarkan kita pergi.”
“Biar aku yang menghadapinya.”
Ransel di pundak, Murga di arah kan berdiri di belakangnya. Sosok Rambe mengulurkan tangan sampai sepanjang dua meter meraih Murga di tepis Sandika membacakan ayat kursi sekuat-kuatnya. Rambe menjauh, samar suara Beben dan lainnya langsung mendekat dan memisahkan keduanya.
“Lepaskan aku paman, kau tidak berhak menentukan hidup ku! Murga adalah calon istri ku! Aku akan menikahinya!”
“Sandika, aku tak mau kau menjadi sarang empuk para penghuni makhluk ganas ini. Sadarlah! Jika kau benar-benar mencintai maka lepaskan dia kembali ke asalnya.”
Salah seorang pria berpakaian hitam membacakan mantra menarik paksa paku yang menancap di pundak Murga. Dia di bantu makhluk halus penjaga tubuhnya mengeluarkan paku pemberian ki Gendeng.
Dia mencabik-cabik tubuh dua algojo, melahap isi organnya. Si dukun menyerang Murga di halangi Rambe menghajar dukun itu sampai dia mengerang kesakitan. Begitu pun Warid yang akan membakarnya di hembus menggunakan kekuatan sihir Rambe melawan kedua pria itu. Sandika secepatnya membawa pergi Murga. Mereka berlari ke bebatuan raksasa, Murga mendorong Sandika sambil menahan darah yang tidak berhenti mengalir deras keluar dari punggungnya.
Dia berubah menjadi wujud menyeramkan, jemari tangan menyerupai Rambe. Gaun kotor, rambut acak-acakan terurai menyapu tanah, wajah menonjolkan urat merah. Tubuh membungkuk menekan punggung, dia menahan hawa nafsu merenggut darah manusia. Setan timbul di tekan kuat melirik denyut nadi Sandika.
“Arghh! Cepat pergi tinggalkan aku! Aku membenci mu.”
“Tidak mungkin! Murga, aku tidak akan meninggalkan mu!”
Sandika memeluk tubuhnya bergetar hebat sangat dingin, aroma busuk menyengat bercampur rintihan. Rambe mendorong kuat sampai terbentur bebatuan.
“Lepaskan aku, cepat selamatkan diri mu sebelum Rambe membunuh mu!”
__ADS_1
“Murga dengar kan aku. Tatap mata ku yang tidak berdusta ini!”
“Sandika ku mohon, jika kau mencintai ku maka lepaskan aku!”
Karena Sandika memaksa tetap ingin tinggal di sisinya, dia menggunakan sisa kekuatan terakhirnya membawa Sandika terbang ke pinggir hutan. Dia mengunci Sandika dari dalam mobil yang terpakir disana.
“Sandika, berbahagialah. Sampai kapan pun aku tetap mencintai mu.”
Suara halus menghilang meninggalkannya, sebelum pergi dia mengecup kening pria itu berisik kata selamat tinggal. Seumur hidup baru kali ini Sandika meneteskan air mata demi sosok setengah manusia siluman. Dia membasuh air mata mendobrak paksa pintu mobil sampai memecahkan kaca menggunakan linggis yang berada di bawah jok kursi.
“Murga jangan pergi! Tunggu aku!” teriaknya.
Setelah membunuh semua manusia yang menghalanginya itu, Rambe mencari Murga. Sosok itu tergeletak lemas tidak berdaya di tepi Telaga. Rambe menutup luka menyihir punggung bolong suara jeritnya kesakitan menggema. Saudaranya kesakitan menimbulkan amarah Rambe tidak akan memaafkan siapapun manusia yang menyengsarakannya.
“Murga dimana kau?” teriak Sandika.
Beben berhasil melarikan diri dari kejaran Rambe. Dia menepuk punggung Sandika memintanya kembali. Wajahnya penuh luka cakaran hantu Rambe, tubuh terjatuh tidak sanggup lagi berdiri.
“Sandika, ku mohon ikhlaskan hantu itu” ucapnya bernada kecil.
Sandika membopong sahabatnya itu menuju mobil, dia terpaksa pergi meninggalkan perkampungan. Murga terbang mengiri kepergiaannya sampai melewati batas kota.
“Jangan kau harapkan lagi dirinya. Dunia kita berbeda, hilangkan perasaan mu itu.”
“Kakak, sampai aku menjadi debu sosok Sandika tidak hilang dari ingatan ku.”
“Aku tidak akan melepaskan semua manusia yang sudah menyakiti mu!”
“Kakak, jika suatu hari kau membunuh Sandika. Aku akan hangus tepat di hadapan mu.”
__ADS_1
“Jangan kau ancam aku!”
Murga terbang masuk ke dasar air Telaga berkabut. Pekat putih merata menutupi wilayah itu.