
Sandika berlari meninggalkan Murga, dia berjanji akan secepatnya kembali. Sangat berat melepaskannya, Murga memeluk dada bidang pria itu seolah tidak mau melepaskan. Sandika tetap pada pertahanan menjaga setiap hal agar pikirannya tidak rasuki setan.
“Murga tunggu lah sebentar disini” bisik Sandika.
Mendengar suara pria yang lembut itu, perlahan Murga melepaskannya. Dia melihat punggung pria itu berlari hingga menghilang dari pandangan. Sandika mengingat-ingat dimana terakhir kali dia melnyembunyikan mobilnya. Namun, kedatangannya sudah di sambut oleh Warid dan Beben serta para ajudan.
“Kalian yang berpihak pada ku cepat bantu aku mengikat pria itu!” bentak Sandika.
“Dan engkau Beben, sahabat ku yang tidak akan berkhianat pada ku kan?” ucap Sandika kembali.
“Maaf Sandika, untuk urusan perempuan setan itu, aku lebih mementingkan keselamatan mu” kata Beben berlagak bertolak pinggang.
“Kalian para ajudan ku, bantu aku menghindar dari para musuh ini.”
Terdapat sepuluh pria bertubuh besar, lima diantaranya pengikut Warid dan limanya lagi pengikut Sandika. Perkelahian panjang itu tidak terelakkan, Warid dan Beben bekerjasama untuk menghentikan Sandika masuk ke dalam mobilnya. Dia terpakasa memukul wajah Warid dan menedang Beben, akan tetapi kunci mobil itu berhasil di ambil Warid lalu di buang semak-semak. Sandika mengambil dompet dan ransel di dalam mobil. Dia mendorong, melempar keduanya dengan balok kayu kemudian berlari sekencang-kencangnya berharap mereka tidak dapat menemukannya.
Sandika menghafal letak dimana terakhir kali dia meninggalkan Murga. Di sela jejak kaki dan bekas patahan ranting yang dia susun seperti semula agar mereka tidak berhasil mengikuti. Hari mulai petang, suara hewan liar malam memecah keheningan. Dia ingat pesan Murga agar mematikan penerangan ketika berada di tengah hutan yang tampak asing. Suara berisik dari kejauhan semakin terdengar, dia bersembunyi mengintip sosok wanita berambut panjang berbau merah terbang di atasnya.
Dia menahan nafas, mencari lumut di dekat nya lalu melumuri tubuhnya. Beberapa menit berlalu sosok tadi menghilang menerbangkan aroma busuk dan tetesan darah berwarna hitam. Nyaris saja dia menjadi santapan sosok Rambe, hantu pemarah yang sangat membenci manusia.
“Murga!” gema suara sosok tersebut dari kejauhan.
“Mungkinkah dia sosok hantu Rambe yang di katakan Murga?” gumam Sandika perlahan meneruskan langkahnya.
......................
Paijo tidak terlihat hampir satu minggu tapi keempat wanita itu terlihat tidak perduli malah berpesta pora menghambur-hamburkan uang dan berbelanja menghabiskan uang pemberian Paijo. Para pekerja hanya bisa terdiam menuruti segala perintah mereka, sampai pada suatu hari salah satu pekerja itu tanpa sengaja menumpahkan minuman di baju Leni.
“Kau punya mata nggak sih? Gaji mu bertahun-tahun saja tidak cukup untuk membeli baju mahal ku ini!”
__ADS_1
“Maaf nyonya, saya tidak sengaja."
“Apa? Ringan sekali jawaban mu! kau harus di beri pelajaran!”
Leni dengan kasar menjambak rambutnya, dia menyeret wanita itu masuk ke salah salah satu kamar lalu menguncinya dari luar. Para pekerja lain hanya bisa menunduk menyaksikan kekejaman wanita itu sedangkan teman-temannya tertawa memutar gelas yang berisi minuman keras.
“Emangnya mau kau apakan pembantu itu?”
“Sudah lah Len, kau suruh saja dia mencuci baju mu yang terkena minuman itu sampai bersih.”
“Saran ku sih suruh aja dia tidur di luar.”
Ucapan ketiganya hanya menjadi isapan jempol ringan, karena bagi Leni baju mahal branded miliknya sangat berharga dan paling dia sukai. Dia sibuk mengotak atik layar ponsel, wajahnya berubah tersenyum. Dia berdiri di depan pintu seperti sedang menunggu seseorang.
Suara klakson mobil memasuki masuk ke halaman rumah, tiga orang pria memakai setelan celana jeans dan jaket kulit tersenyum berjabat tangan kepada Lina. Mereka di persilahkan masuk, Lina membuka pintu yang di dalamnya seorang pekerja tadi. Suara jeritan ketakutan dan minta tolong sementara ketiga pria itu tertawa kegirangan menutup kembali pintu.
“Ahahah! Itulah akibat dari kecerobohan kalian! Untuk para pekerja lain, ini adalah contoh pembelajaran berharga jika kalian berani melawan ku!” ucap Leni bernada tinggi.
Para pekerja lain tidak ada yang berani membantunya, mereka hanya saling bertatapan lalu menunduk kembali. Jarum jam berbunyi tepat di tengah malam di imbangi suara jeritan seorang pekerja histeris terkejut melihat Tio gantung diri dengan lidah keluar dan mata terbuka.
“Aduh berisik! Kenapa kau berteriak?” tanya Bunga.
“Nyonya, lihatlah Tio gantung diri!”
Manik mata bunga membelalak menyaksikan kematian pekerja yang baru saja di hajar habis-habisan oleh Leni tadi siang. Begitupun Floren dan Keke yang tidak percaya pekerja itu berani mengakhiri hidupnya sendiri. Mereka membangunkan Leni dan memberitahu kabar kematian si wanita yang dia siksa, tapi wanita itu tampak biasa saja malah membungkus tubuhnya yang memakai baju sangat seksi dengan selimut tebal.
“Urus saja mayatnya, ambil uang di kamar mas Paijo! Jangan ganggu aku!” bentak Leni.
......................
__ADS_1
Mimpi Siti
Kabut pekat masih tetap sama membentang di atas permukaan air Telaga. Wanita yang sudah melupakan pria yang pernah dia cintai itu kini hadir di dalam mimpinya. Dia mengganggu pikiran wanita itu di dalam tipuan sosok hantu Rambe. Gama berdiri menggunakan baju hitam melambaikan tangan mengeluarkan air mata darah, tubuhnya mengambang memanggil nama Siti sebanyak dua kali.
“Mas Gama” jawab Siti.
“Siti, datang dan temui lah aku disini!”
Kalimat terakhir Gama masuk kembali ke dalam air. Siti terbangun, melihat waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Suara ketukan jendela, dia beranjak menggeser tirai melihat wajah Gama membusuk mengeluarkan cacing dan belatung. Siti berteriak ketakutan, dia membuka mata lagi terbangun dari mimpi. Untuk meyakinkan bahwa dia masih di dalam mimpi atau tidak maka dia mencubit tangannya sendiri.
“Auw sakit!”
Menyadari dia sudah terbangun dari mimpinya, Siti mencari nomor kontak Beben dan Sandika. Hanya Beben yang menjawab panggilannya.
...💀💀💀...
_Halo Beben, aku baru saja bermimpi Gama. Dia meminta ku untuk menemuinya di Telaga Berkabut_
_Hati-Hati Siti, mungkin saja yang di dalam mimpi mu itu bukan lah Gama_
_Tapi, Gama seperti terlihat kesakitan dan sangat membutuhkan pertolongan_
_Siti nanti aku akan menghubungi mu. Jaga diri mu baik-baik_
...💀💀💀...
Beben mengakhiri pembicaraan. Dia bersama Warid masih sibuk mencari Sandika yang melarikan diri dari mereka. Di dalam hutan, mereka menyalakan penerangan seterang-terangnya, setiap pepohonan di ikat obor dan bakaran nyala api yang besar. Mereka seolah akan membakar seisi hutan, para ajudan di perintahkan untuk berpencar.
“Paman, sudah empat penjaga yang menghilang di telan penghuni hutan ini. Aku jadi mengkhawatirkan Sandika” ucap Beben.
__ADS_1
“Ya, kita harus tetap waspada. Aku akan memanggil para penjaga dan ajudan lain dari kota untuk membantu menyusuri hutan mencarinya.”