Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Lumuran


__ADS_3

Kelima wanita penghibur itu kegirangan mendapatkan segala fasilitas segala kebutuhan apapun yang di inginkan terpenuhi. Di dalam bekas kamar Cantika, wanita itu kelihatan asyik mencampakkan baju ke atas kasur. Pilihan gaun kuning, di lehernya tergantung lima lapis emas kuning dan sati lapis berlian. Sepuluh jemarinya terpasang cincin yang berukuran tidak pas. Dia tertawa bergerak menari tidak henti melihat semua benda-benda itu.


“Kaya sekali pria ini, istrinya sudah meninggal tapi perhiasannya masih utuh. Aku harus mengambil alih posisi menjadi yang pertama. Ahahah.”


Tanpa dia sadari semua kekayaan itu adalah hasil pemujaan dari makhluk pemakan manusia. Dia melirik sebuah foto yang berukuran sangat besar terpajang di dinding dekat tempat tidur. Jesi berpikir pasti itu adalah istri Paijo. Wajahnya berubah menjadi cemberut, dia keluar kamar menjerit sekuat tenaga.


“Penjaga! Cepat lepas foto besar itu! Kamar ini sudah menjadi milik ku!”


“Dasar wanita rendahan! Kau sudah merampas semuanya! Aku mau lihat apakah kau selanjutnya yang akan menjadi tumbal” gumam si mbok melengos dari balik pintu.


Rumah berantakan semenjak kehadiran kelima wanita itu. Asap rokok elektrik mengepul, sampah kulit kacang dimana-mana dan botol minuman keras di setiap sudut rumah. Para pekerja kewalahan menghadapi sikap mereka yang terlalu rajin mengatur. Permintaan ini itu yang besar, mereka juga mendapatkan perlakuan kasar.


“Para wanita malam itu bahkan belum di nikahi oleh tuan besar tapi memperlakukan kita seperti hewan saja” bisik para pekerja.


...----------------...


Selesai masuk ke ruangan administrasi melunasi uang kuliah, Mera dan Meri memberikan sisa uang di dalam tas kepada pak Tan. Pria itu mengerutkan dahi, menolak sesudah membuka isinya.


“Maaf tapi ini terlalu banyak non.”


“Terima saja pak, semua itu belum cukup karena selama ini bapak menjaga kami dari ibu tiri Via. Kami tidak akan pernah bisa membalas budi kebaikan bapak” ucap Meri.


“Ya benar, sedari kami kecil hingga dewasa bapak selalu membantu dan menjaga kami” kata Meri.


“Terimakasih banyak non. Terimakasih.”

__ADS_1


Perjalan mereka selanjutnya menuju rumah Ika, keduanya sudah tidak sabar kembali ke pelukan hangat sang ibu. Pekarangan rumah dari depan tampak tidak terurus, jalan setapak batako di tutupi tumpukan dedaunan kering. Mera dan Meri berlari mengetuk pintu, kekhawatiran di dalam hati mereka mengingat sudah satu bulan nomor ibunya tidak bisa di hubungi.


Tok, tok, tok.


“Bu.”


Seorang wanita tua membuka pintu sambil memegang sapu ijuk di tangan kanannya. Dia memperhatikan Mera dan Meri dari atas sampai bawah sampai seorang wanita dari belakang ikut keluar menyambut kedatangan mereka.


“Siapa yang tamu yang datang bi?”


“Ibu!” seru Mera dan Meri.


Mereka memeluk erat Ika hingga menangis sejadi-jadinya. Kerinduan belaian kasih sayang kembali mereka rasakan setelah berpisah sekian lamanya. Wajah Ika pucat, tubuh kurus kering, rambutnya di penuhi dengan uban, tubuh bergetar menggiring keduanya masuk ke dalam rumah.


“Ibu, apakah ibu sedang sakit?” tanya Mera.


“Ibu baik-baik saja. Kalian sudah makan belum? Panggil pak Tan masuk ikut makan bersama kita."


Ika memperlakukan pak Tan seperti saudara, dia sudah banyak berjasa membantu menjaga kedua anaknya. Hati Ika was-was setiap hari bahkan ketika pergantian tahun tiba bertanya di dalam hati siapa yang akan menjadi tumbal dari pesugihan mantan suaminya berikutnya. Kini kedua anaknya kembali utuh dengan selamat. Mereka menjelaskan kronologi semua masalah daria wal hingga akhir.


Ika memutuskan agar Mera dan Meri tidak kembali lagi kerumah terkutuk itu. Keduanya mematuhi perkataan Ika sedangkan pak Tan berpamitan lalu mengucapkan selamat tinggal.


......................


“Apa lagi yang akan aku tutupi dan sembunyikan dari mu? kau sudah mengetahui siapa aku sebenarnya.”

__ADS_1


Murga terus memaksa meminta agar Sandika melupakan semua hal tentangnya. Sandika menyeret tubuhnnya menahan kaki dingin dan kasar itu saat akan menghilang. Setengah mati dia menahan semua luka dan sayatan akibat serangan Rambe dan arwah Lina, darah menetes menyala di mata Murga. Sosoknya masih berubah beringas ganas, Murga berusaha menyembunyikan sampai di menggigit tangannya sendiri.


Suara retakan itu mengalihkan pandangan Sandika. Pria itu mendorong tubuh Murga agar berhenti menyakiti dirinya sendiri. Sandika secara sadar mengisap darah hitam Sandika yang keluar lalu membuangnya ke lantai, hingga luka keluar dari sela rongga berhenti keluar. Dia tidak merasa jijik sekalipun, sosok Murga menarik tangannya menangis meninggalkan pria itu.


“Murga! Aku akan mencari mu lagi!” panggilnya.


Luka-lukanya yang parah itu secepatnya di tangani dokter keluarga mendiang ibunya Harun. Sepeninggal Harun, dia sudah menitipkan segala keperluan dan kebutuhan Sandika pada tangan kanannya. Kunjungan pertaman Warid menemui Sandika, dia berdiri di sisi kanannya membawa sekeranjang buah tersenyum mengibarkan kedekatan seolah mereka sudah kenal sangat lama.


“Nak Sandika, kenalkan saya Warid. Sahabat lama almarhumah Harun.”


Sandika membalas senyumannya dann jabatan tangannya. Tubuh lemas, jarum gantung menghalangi gerakannya untuk bangkit. Warid melarangnya duduk atau menyambut kedatangannya. Dia meminta tetap berbaring mendengarkan cerita dan kedekatannya pada Harun di masa lalu.


Warid juga memberitahu kisah tentang Telaga Berkabut. Dia dan penyesalan yang menghantui seumur hidupnya. Mendengar semua itu, Sandika memutar ulang setiap kejadian di balik misteri yang di alaminya. Sempat dia berpikir hantu itu adalah Murga semata yang mengganggu atau beubah menjadi sangat baik membuat dia tergoda atau tertipu seperti nasib sahabat-sahabatnya.


Tapi setelah di selamatkan berulang kali dari maut yang mengintai di hutan maupun Telaga berkabut, Sandika menyadari hantu Murga seutuhnya cinta putih yang selalu tertuju padanya.


......................


Musim panas telah terganti, kedekata Warid dan Sandika akrab hingga pada suatu hari Sandika menceritakan sosok Murga. Warid berpura-pura tidak tahu menahu, dia memperjelas keinginan untuk ikut dengan Sandika menyelesaikan proyek pembangunan perkampungan itu.


Luka-luka Sandika sudah sembuh. Sebelum pergi kesana, dia membeli sebuah cincin sebagai tanda cinta dan ketulusannya menjadikan Murga sebagai istrinya.


“Murga, sekalipun kita tidak bisa bersama di dunia ini. Aku tetap menjadikan mu kekasih halal ku. Aku akan selalu mendoakan mu dan mencari dimana wujud asli mu untuk aku semayam kan” batin Sandika.


Persiapan kepergian kali ini terasa sedikit berbeda. Hatinya sedikit cemas, di sela mimpi-mimpi buruknya yang terbawa sampai dia terbangun. Mimpi Sandika tadi malam di kejar sosok Murga berwajah mengerikan sampai tubuhnya di cabik-cabik, darah daging di ***** habis. Sandika melihat dirinya sendiri meninggal hanyut di dalam Telaga berkabut.

__ADS_1


Panggilan Warid membuyarkan lamunannya, pria itu tersenyum melambaikan tangan mengajak Sandika segera masuk ke dalam mobil.


__ADS_2