Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Gangguan


__ADS_3

Ki Gendeng sangat senang mendapat rumah baru mendiami seorang pria muda. Dia tidak percaya seperti bisa hidup kembali. Semua anggota tubuh lengkap, dia tertawa kesenangan menepuk pundak para pesuruhnya. Sosok Lina ikut tertawa di sudur ruangan, Ki Gendeng mendekatinya lalu membisikkan sesuatu.


“Lina kau tenang saja. Suatu saat aku akan menemukan manusia yang cocok untuk kau tempati.


Menjelang pagi, dua orang petugas penjaga pos pulang melewati sebuah jalan yang terbilang cukup angker. Mereka curiga melihat sebuah becak yang tidak asing berhenti di dekat tumbuhan bunga kantil. Tidak ada yang mengetahui saat malam hari pohon itu berubah menjadi sebuah rumah setan.


“Bud, ini kan becak si Oyok. Kenapa ada disini?”


“Yak kau benar juga, tapi dimana dia?”


Pandangan mereka melingak-linguk mencarinya.


“Jangan-jangan tadi malam dia di makan hantu ganas penghuni Telaga berkabut!” ucap Res berlari.


“Res tunggu aku!” Budi menyusul, mereka berlari tergesa-gesa hingga tersandung batu.


Mereka melaporkan hal itu pada pak Kadi, mereka kembali ke tempat tadi malah melihat Oyok tersenyum di atas sepeda becaknya. Wajah pria itu sangat pucat, baju basah berbau kemenyan. Kadi curiga melihat keanehannya.


“Oyok dari mana saja kau? huffht! Aroma tubuh mu baunya aneh!”


“Yak kami pikir kau menghilang di makan setan. Terus wajah mu kok pucat sekali? Kau sakit ya?” tanya Budi.


“Oyok, ayo ikut bapak ke Surau. Kita sholat duha bersama disana” ajak Kadi.


“Benar yang kalian katakan, aku sedang tidak enak badan. Maaf ya pak Di, aku buru-buru pulang."


Penolakan itu membuat Kadi semakin curiga. Terhitung semalm mereka berjumpa, keesokan harinya bagai mendapatkan harta karun dalam semalam, Oyok melakukan pembangunan rumah berlantai dua di dekat pohon kantil tersebut. Di pos siskamling, para warga membicarakan kemungkinan besar dia memakai pesugihan meminta bantuan pada salah satu penghuni di Hutan terlarang atau Telaga berkabut.


“Apakah kalian tidak berpikir bahwa kekayaannya hampir sama seperti yang di dapat mendiang Paijo?”


“Ya kau benar pak Remi, aku juga berpikir demikian.”


“Tapi Bud, ini lebih sangat tidak wajar. Dia pria muda yang belum menikah, keluargnya jauh di kampung ujung. Bagaimana dia bisa menumbalkan mereka?”


“Kita lihat saja nanti ke depannya.”

__ADS_1


Sebelum rumah yang di bangun itu selesai, Oyok di dalam jiwa pengganti ki Gendeng membeli sebuah rumah di dekat tempat itu untuk tinggal sementara waktu. Tarjo dan seperti sapi yang tusuk hidungnya menuruti semua perintahnya.


Kabar kekayaan Oyok mendadak geger para warga yang ingin melihat kebenaran berpura-pura melintas hingga ikut tinggal di rumah yang beberapa jarak dia tempati.


“Bud, kau yakin menyewa rumah ini demi memata-matai Oyok?”


“Batalkan saja Bud, pikirkan anak istri mu.”


“Kalian gimana sih, kalau aku bisa menangkap basah si Oyok menggunakan pesugihan pasti aku akan menjadi pahlawan kampung dan di beri jabatan oleh pak Kadi!” ucap Oyok membanggakan diri tanpa memikirkan sebab akibatnya.


“Terserah mu saja, jika ada apa-apa jangan mengeluh sama kami!”


Kabar kekayaan Oyok juga terdengar di telinga keluaganya. Di siang hari yang terik, mereka mengetuk pintu rumah di sambut seroang pria menatap pandangan kosong. Kedatangan keluarganya di sambut datar. Oyok terlihat seperti orang asing, bu Iyem menggenggam tangan Oyok memperhatikan sikapnya yang acuh tak acuh.


“Kau kenapa nak? Apakah kau tidak suka kami datang kesini?”


“Oyok, bapak, ibu dan saudara mu jauh-jauh datang kesini malah kau sambut seperti ini. Begini cara mu memperlakukan keluarga mu?"


“Mas Oyok, aku lapar!” Ipa memegang perutnya.


Meri meraih tasnya, dia menarik Ipah dan memaksa orang tuanya untuk ikut pergi. Oyok melemparkan beberapa tumpukan uang di depan pintu. Alangkah kagetnya Iyem melihat kelakuan anaknya yang sangat berbeda secara drastis.


“Kami tidak butuh uang mu. Ayo kita pergi!” ajak Darmo.


Sepanjang jalan pulang Iyem menangis, dia tidak menyangka Oyok menjadi anak yang durhaka.


“Dasar manusia-manusia tidak tau diri. Nama ku Ki Gendeng, bukan Oyok. Kalau saja aku tidak mati maka aku tidak perlu repot-repot menempati tubuh manusia bodoh ini” gumam Ki Gendeng.


Budi mengintip menonton kejadian itu dari dalam rumah. Dia menggeleng kepala melihat kelakuan Oyok. Dia lebih lebar membuka tirai melihat dua pria keluar masuk ke dalam rumahnya. Mereka membawa bungkusan plastic hitam besar dan beberapa ekor ayam mati yang lehernya tempat baru di potong. Tetesan darah itu di teguk oleh keduanya lalu masuk ke dalam rumah.


“Aku tadi nggak salah lihat kan? Dua pria berkelakuan aneh itu doyan darah!” gumamnya.


“Bapak lagi lihat apa? sana beli obat untuk si Bian. Tiba-tiba tubuhnya panas sekali.”


“Ya sebentar bapak ganti baju dulu.”

__ADS_1


Sosok arwah penasaran itu menembus dinding kamar mengganggu ketengangan seisi rumah. Lina menjatuhkan sebuah gelas mengagetkan Tri. Gangguan berikutnya suara jeritan Bram berteriak sekuatnya merasakan ada sebuah tangan yang mencakar punggungnya. Dia baru saja terbangun melepas semua selimut berjalan sambil berpegang pada dinding mencari ibunya.


“Bu! Aku takut! Ada yang mencakar punggung ku, rasanya perih dan sakit sekali.”


“Coba sini ibu lihat.”


Cakaran panjang dari bagian pundak sampai ke pinggang. Tri terkejut menahan rasa rasa takutnya. Dia tidak mau hal lain terjadi pada anaknya. Dia mendudukkan Bram di kursi makan sementara Tri menyiapkan bubur hangat untuknya.


"Astagfirullah, kenapa dengan badan anakku?" gumam Tri.


“Jangan bergerak kemanapun ya nak, kondisi mu belum sembuh total.”


“Ya bu.”


Selesai memasak, Tri menepuk pelan luka dengan menggunakan sejumput kapas yang di atasnya di beri betadin. Bram bergerak meringis kesakitan. Dia menyuapi Bram lalu perlahan membawanya ke kamarnya kembali. Bram masih ketakutan menolak ke kamarnya kembali.


“Malam ini aku tidur sama ibu dan bapak ya.”


“Loh, Bram kan sudah besar. Mana boleh tidur dengan bapak dan ibu.”


“Tapi Bram takut bu. Hanya malam ini saja.”


Budi berjalan melewati pos, salah seorang menyapanya. Dia juga di tarik duduk disitu, mereka memperhatikan kantung mata Budi melingkar hitam.


“Kau dari mana Bud?”


“Aku baru saja membeli obat untuk Bram.”


“Memangnya anak mu sakit apa? Pasti itu karena kalian tinggal di dekat rumah pesugihan!”


“Hussh jangan ngomong gitu. Fisik Bram memang lemah sejak kecil. Ini tidak ada kaitannya dengan rumah si Oyok.”


“Bud! Sekali lagi kami ingatkan sebelum kau menyesal. Jauhi tempat itu!”


Sesampainya di rumah, terdengar suara pecahan piring dan teriakan Tri begitu histeris.

__ADS_1


__ADS_2