
Mati mengenaskan, organ tubuh tidak utuh di atas berterbangan burung gagak pemakan bangkai. Jasad Ki Gendeng tewas tergantung pada ujung batang pohon besar. Jon memanggil polisi dan mobil ambulance untuk mengangkat jenazah. Dia mendatangi instalasi Forensik Rumah Sakit Polri papan Selatan untuk mengurus administrasi pengambilan jenazah Lina. Polisi yang menyelidiki ketidakwajaran pada mayat korban yang di duga akibat korban malpraktik dukun ki Gendeng.
Jon yang menghadapi pemeriksaan polisi harap cemas. Dia mengakui keterlibatan bersama Lina menemui dukun tersebut. Mereka melakukan pemeriksaan identitas Jon sebanyak tiga kali untuk memastikan status kejelasannya sebagai salah satu anggota pekerja Lina.
Terhitung kasus yang di lakukan mereka menewaskan diri dan melukainya, pihak kepolisian melakukan penyelidikan lebih lanjut agar bisa mengetahui siapa pelaku pembunuhan Lina dan ki Gendeng. Mereka tidak percaya bahwa sosok hantu yang membunuhnya. Jon terpaksa membawa dua pengacara untuk secepatnya menuntaskan kasusnya.
Dia membayar mahal agar mayat Lina tidak di otopsi sedangkan mayat ki Gendeng di abaikannya begitu saja. Jenazah Lina di bawa pulang ke kediamannya, karena kondisi tubuh Lina yang tidak utuh dan tidak ingin sang majikan menjadi buah bibir masyarakat maka pria itu mengurus jenazah Lina dengan memanggil pengurus jenazah dari kota lain.
Taburan bunga mawar merah di Taman Pemakaman Umum merebak aroma bunga pandan. Dari kejauhan sosok arwah Lina menangis melihat kuburannya sendiri. Apa yang sudah dia dapat? Harta kekayaan yang dia miliki dia tinggalkan begitu saja. Kini dia gentayangan tanpa menapak kaki di atas bumi. Terakhir kalinya dia menerima sekuntum bunga kantil dari ki Gendeng.
Arwah Lina mulai menampakkan wujudnya di malam hari. Tubuhnya pernah di siram ayam cemani, hal pengundang para jin dan setan mengikutinya di balik sosok nya yang bisa berubah-ubah.
Kesurupan adegan semasa ritual itu membentuk sosok Lina setengah setan haus akan darah. Dia di peralat ki Gendeng yang ikut menjadi sosok arwah ganas mengincar tubuh manusia lain.
“Hei Lina, kalau aku tidak mau membantu mu pada saat itu pasti aku masih hidup!” gema suara ki Gendeng.
“Dukun tidak berguna! Jangan ganggu aku! Pergi!” teriak arwah Lina terbang menghindarinya.
Sosok ganas ki Gendeng menghajar arwah itu hingga dia minta ampun dan menuruti perkataannya. Jadi mulai hari ini sosok itu menjadi pengikut ki Gendeng di alam lain. Di sudut kegelapan dia menangis sesekali melihat kuburannya lagi berkali-kali masuk ke dalam namun jasadnya sudah menjadi bangkai.
Ki Gendeng memanfaatkan Lina yang bisa berubah menjadi wujud hantu cantik untuk memikat manusia. Terkadang orang-orang yang di temuinya mati di habisi darahnya sampai mengering dan menjadi calon penghuni tubuh ki Gendeng yang baru.
“Lina ingat lah, kau harus cari mangsa baru sampai aku menemukan manusia yang tepat.”
__ADS_1
Sosok arwah ganas ki Gendeng mencampakkan tubuh korban yang sudah puas dia renggut darahnya.
......................
Menyadari uang yang tidak halal hasil pesugihan ayahnya, Mera dan Meri bergegas mengemas semua barang mereka menuju kampus. Mereka di antar oleh salah satu penjaga yang bekerja di rumah Paijo. Salah satu orang kepercaraan Ika yang dia bayar khusus untuk menjaga kedua putrinya selama dia tidak berada di rumah itu.
“Pak Tan, agak cepat sedikit ya pak” ucap Mera.
“Bapak masih mengusahakannya non.”
Lalu lintas padat pagi berdesakan saling berkejaran memperebutkan jalur kemudi tujuan mereka. Kekhawatiran Mera di dalam tas yang berisi tumpukan uang itu akan berubah menjadi daun. Dia takut gagal atau berhenti sekolah. Meskipun ibunya dapat membiayai, tapi tetap saja Mera tidak mau menambah beban sang ibu.
“Kakak, kembali kan saja uang itu. Kita bisa bekerja sampingan untuk mencari uang yang halal” bisik Meri.
“Bekerja sampingan apa yang kau maksud? Dengan gaji kecil memangnya bisa mencukupi semua kebutuhan mu dari A sampai Z? Setelah sukses nanti, kita harus kembali ke rumah itu dan mengembalikan posisi ibu seperti semula.”
Mereka adu mulut, hingga pak Tan mengerem mobil secara mendadak. Keduanya menoleh ke depan, terlihat seorang nenek tua membungkuk berdiri di tengah jalan. Pak mengeluarkan kepalanya dari jendela memintanya untuk berjalan ke tepi.
“Tolong jalan ke pinggir nek, nanti nenek bisa di tabrak pengendara lain” ucap pak Tan.
“Kak, dia mirip nenek kita” bisik Meri.
“Hushh, nenek kita sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.”
__ADS_1
...----------------...
Di dalam rumah hasil uang ghaib itu, para wanita penggoda Paijo menghamburkan uangnya di atas ranjang sambil tertawa riang. Bagai hujan uang, durian runtuh atau uang kaget. Mereka tidak henti memberi kepuasan pada pria maniak itu.
“Mas, apakah aku bisa memiliki kamar sendiri?” kata salah satu wanita yang duduk di dekatnya.
“Ya tentu saja boleh. Bukan hanya kau, kalian berempat lainnya bisa memilih dengan bebas kamar yang kalian suka” jawab Paijo.
“Asik! Ayo!” seru kelima wanita tersebut.
Mereka bangkit berlari keluar kamar, piayama seksi memperlihatkan dada setengah terbuka. Para penjaga yang berjaga menoleh bahkan sampai ada yang tidak bisa berhenti menatap mereka.
“Kenapa? Aku cantik kan? Ucap salah satu wanita piyama merah.
Menyadari wanita itu kepunyaan tuan rumah, si penjaga hanya bisa menunduk ketakutan meminta ijin meneruskan pekerjaannya. Di dalam rumah besar itu terdapat lima belas kamar, dua kamar milik Mera dan Meri, tiga kamar bekas peninggalan Cantika, Ika dan Via serta empat kamar milik anak-anak balita dan bayi Paijo dari istri pertamanya yang telah meninggal. Semua kamar itu masih tersusun sedia kala meski tidak pernah di tempati lagi. Kamar kosong lain di tempati para pekerja, yang tersisa tinggal tiga kamar khusus para tamu yang ingin menginap.
Mereka ada berlima sedangkan kamar yang di tunjukkan oleh si mbok hanya ada tiga. Tiga wanita berebutan masuk ke dalam kamar terlihat dua orang berambut pendek saling bertatapan meminta si mbok mengantarkan ke salah satu kamar bekas peninggalan istri Paijo.
“Maaf non, untuk kamar-kamar itu tidak ada yang bisa menempatinya. Terlebih lagi kamar milik almarhumah nyonya besar Cantika” ucap si mbok.
“Bagaimana dengan pilihan kamar ku mbok? Kamar siapa ini?”
“Kalau yang itu kamar milik nyonya Via, beliau meninggalkan pesan untuk saya agar menjaga kamar ini jika sewaktu-waktu kembali."
__ADS_1
“Apa? Mana mungkin mas Paijo memungutnya kembali! Ahahah! Biar aku saja yang menempati kamar ini.”
Si rambut pendek bercat kuning pirang melirik kamar mewah milik Cantika yang berisi berbagai perabot mewah, di atasnya tersusun perhiasan yang menggiurkan matanya. Kamar milik Via bernuansa elegan, wanita itu tidak henti membuka setiap isi lemari milik orang lain hingga mencoba baju dan semua barang-barang itu.