Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Tajam


__ADS_3

Keris keramat pemilik asli si juru kuncen


Semula persyaratan pemandian benda mistis itu adalah bunga, perasan air jeruk purut, kemenyan dan darah ayam cemani hitam. Keris penunggu sosok ghaib yang di ambil dari kaki bukit bebatuan raksasa sebagai sarana komunikasi pembuka jalur di wilayah itu. Keris keramat menjadi ganas setelah terkena darah manusia. Sosok yang berada di dalamnya tidak di takhluk kan, benda itu seolah menjadi buronan dan rebutan saja.


“Wahai keris keramat, bagaimana caranya aku menggunakan kekuatan mu ini?” ucap Kam.


Sekeliling hening, tidak ada tanda-tanda pergerakan apapun. Kam berpikir usahanya sia-sia bekala mengingat dia tidak hanya si juru kuncen yang bisa menggunakannya. Tapi, saat dia membuang keris berjalan beberapa langkah terdengar suara aneh memanggilnya.


“Kam. Apa kau siap menjadi tuan ku?”


Kam menoleh melihat sosok hitam tinggi besar memberikan ke tangannya. Aroma kemenyan menyengat, rasa merinding di tahan saat sosok itu semakin mendekat. Kam hanya berani menjawab mengangguk setuju. Sosok itu membisikkan sebuah kamar khusus dan sebuah meja merah serta segala isi yang harus dia persiapkan.


...----------------...


Banyak kejadian aneh di luar batas logika manusia, berbagai pendapat menuai asumsi Telaga berkabut angker. Dunia berlapis alam lain, menghubungkan jarak hitam agar menjadi ikatan kepada jiwa manusia. Bagai mayat hidup, kondisi tubuh Herman kritis seperti hidup segan mati tak mau. Harun memeluk anaknya sambil berbisik agar dia harus bertahan hidup demi dirinya.


Di belakangnya berdiri Warid, tangannya di tarik kembali saat berniat ingin mengusap punggung Harun. Dia paham akan amarah akibat kesalahan fatalnya. Suara jeritan memanggil namanya, jeritan memekik menyadarkan Herman. Gerakan kesakitan bergetar hebat sampai terjatuh dari tempat tidur.


“Herman anak ku! Hiks.”


“Suster, cepat panggil dokter!” perintah Warid yang ikut panik.


Setelah kedatangan dokter, mereka pun di minta menunggu di luar. Harun bersikeras tetap di samping anaknya sampai Warid terpaksa menarik tubuhnya keluar. Wanita itu terpukul tubuhnya terkulai lemas bersandar pada dinding.


“Harun, minum lah air hangat ini walau seteguk saja. Engkau harus menjaga kesehatan demi Herman” kata Warid.


...----------------...


Sinar mentari terik menuntun perjalanan mereka, keringat menetes bercucuran. Sudah tiga jam berjalan kaki, hingga tampak garis area terlarang yang kini di beri tanda garis polisi.


“Sebaiknya kita menghindari tempat ini, aku tidak mau kita mendapat masalah lagi” ucap Beben.

__ADS_1


“Tapi bukan kah kau tau kalau tujuan kita kesini adalah untuk mencari Gama?”


“Siti, kau harus tau bahwa Gama sudah dengan wanita lain, sosok penghuni area hutan ini!” ucap Beben.


“Apa kata mu?”


Beben berlari meninggalkan mereka, Siti masih penasaran dengan perkataannya secepatnya mengejar dengan memanggil namanya. Sandika ikut menyusul, perdebatan panjang tidak bisa terelakkan. Beben mengatakan semuanya hingga tangis Siti sangat keras terisak lalu berlari meninggalkan mereka.


“Siti tunggu!”


Dia masih tidak percaya bahwa Gama tega mengkhianatinya. Pada hari itu juga wanita itu memutuskan untuk pulang ke kota sendiri. Jalan hutan yang membingungkan, suara hewan liar dan kabut putih mulai meratakan tempat itu.


“Hikss! Kenapa kau tega berbuat itu kepada ku!” batin Siti.


Sandika menarik Beben untuk tetap di sampingnya, dia berharap menemukan Siti dengan menyusuri jejak sepatunya.


“Setelah kita bertemu Siti nanti, aku saran kan agar kau tutup mulut. Dia pasti labil dan sedih, jadi kita harus menenangkannya. Arya dan Gama menghilang, aku tidak mau Siti terbawa juga di dalam masalah besar ini.”


“San, aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Sesuai pesan si mbah kalau kita jangan lengah dan tergoda pada penampakan di sini.”


“Siti kau dimana? Jawab panggilan ku!” teriak Beben.


“Siti!” panggil Sandika.


Sosok Rambe terbang mengibarkan kain kafan hitam mendekat, Siti langsung kaget pingsan karena tidak sanggup melihat penampakan hantu wujud Rambe yang mengerikan. Saat dia akan merenggut jiwanya, Gumamtong menghalanginya, dia menerbangkan Siti yang posisinya beberapa jarak dari Sandika.


“Akkhh! Apa yang kau lakukan?”


“Aku hanya tidak mau Telaga ini menjadi rumor jahat yang akan mencelakakan kita semua. Tidak ada kesalahan apapun yang dia perbuat. Tunggu dia lengah,terlena dan terjerumus dengan semua tipuan mu. Maka kau bebas membunuhnya.”


...----------------...

__ADS_1


“Ben, aku menemukan Siti! Cepat kesini!” panggil Sandika.


“Anak muda, kenapa kalian kembali lagi?” pak Babat berdiri di dekat mereka.


“Kami mencari Gama dan kehilangan satu teman lagi pak. Tolong bantu kami sebagai pemandu jalan” jawab Sandika.


“Mmhh, aku sudah memperingatkan kalian agar jangan menantang maut dan jangan pernah kembali lagi kesini. Kehadiran kalian kembali seolah memberikan ku tugas kembali demi mengemban amanah si mbah” ucap pak Babat.


“Maafkan kami pak” jawab Sandika pelan.


“Aku sudah pindah ke kampung seberang, aku tadi hanya menabur bunga yang selalu di amanat kan si mbah setiap tiga bulan sekali. Ini adalah satu persyaratan awal ku yang tidak bisa di hilangkan. Demi si mbah maka hari ini aku akan membantu kalian.”


“Terimakasih banyak pak.”


Wajah Babat masih menunjukkan amarah pada mereka, dia membantu memasang tenda lalu menanyakan wanita yang mereka bawa itu. Sandika dan Beben memberitahu siapa Siti dan kaitan lain mengenai gangguan silih berganti.


“Aku tidak mau menduga lebih dalam. Penghuni tempat ini tidak akan melepaskan jiwa yang mereka kehendaki ketika manusia itu sudah masuk dalam perangkap mereka.”


“Apa maksud bapak itu adalah hantu yang sama mengganggu ku di hutan?” tanya Beben.


“Ya, jika saja aku tidak datang pasti kau juga akan menghilang.”


Malam larut di dalam hutan yang ramai suara burung hantu dan aungan serigala. Tenda yang di didirikan itu sangat dekat Telaga Berkabut. Sandika memainkan pianika di dekat bebatuan raksasa. Suara alat musik merdu, sosok Murga merasa seperti terpanggil mendengarkannya. Dia berdiri di ujung bebatuan lain, Sandika berjalan menujunya berdiri saling berhadapan menatap satu sama lain.


“Murga.”


“Ya, aku adalah Murga yang selalu mencari hadir mu.”


Kedekatan dua makhluk yang berbeda alam itu di saksikan oleh para penghuni yang berada di sekitar. Beben keluar tenda hendak akan buang air kecil, dia mengusap matanya melihat Sandika bersama seorang wanita di dekat bebatuan.


“Sama siapa itu si Sandika?” gumamnya.

__ADS_1


Dia mengendap-endap berjalan perlahan melihat keduanya begitu akrab. Sosok wanita berwajah pucat berambut panjang memakai gaun putih selayar menutupi kakinya. Keduanya menghilang di tutupi kabut putih.


“San! Sandika!” panggil Beben.


__ADS_2