
“Jangan kau halangi aku untuk membinasakan mereka semua!”
“Kakak! Manusia yang melenyapkan Gumamtong sudah menjadi santapan di dasar air. Gumamtong tidak pernah menghendaki kita menghabisi semua warga kampung.”
“Murga! Cepat pergi dari sini. Aku tidak bisa mengendalikan amarah ku!”
Sosok ganas itu menahan diri sampai bertengkar dengan sosoknya sendiri mengalahkan hasrat membunuh rakus akan darah daging manusia. Semua ini salahnya ******* habis bayi yang ada di dalam kandungan istri Kam.
...----------------...
Kabar Kam, si juru kuncen yang menghilang dari rumahnya. Pak Babat menemukan potongan bajunya yang hangus terbakar. Salah satu ruangan yang terdapat meja ritual itu tampak tersusun berbagai macam sesajian. Kadi memecahkan sebotol toples kaca, dia terkejut melihat ada plasenta bayi bercampur darah hitam.
Mereka terkejut melihat nama Partik dan si jabang bayi. Sebuh gulungan kertas di tulis menggunakan tinta merah. Seolah pria itu ingin membangkitkan keduanya dengan ilmu yang dia miliki. Tapi tidak dengan kabar kehilangannya hari ini, tempat itu berubah menjadi lading hewan melata yang menggeliat memenuhi lantai.
“Ayo kita pergi dari sini pak” ajak pak Kadi.
Pak Babat masih memperhatikan plasenta tersebut, dia meminta Kadi membawanya dan menanam secara baik-baik. Ketika mereka keluar, terdengar suara lalat ramai di sela aroma busuk yang menyengat.
Babat berjalan kea rah belakang rumah, dia sangat terkejut melihat pohon yang tergantung banyak plastic di antara dahan dan rantingnya.
Babat mengambil salah satu dari plastik itu. Alangkah terkejutnya Babat melihat isi di dalamnya. Ari-ari bayi yang sudah membusuk menggeliat cacing dan belatung.
“Hoekk!” Babat tidak tahan mengeluarkan isi di dalam perutnya.
“Apa isi di dalamnya pak?” Tanya Kam.
“Ari-ari bayi yang sudah membusuk.
Astagfirullah Al’adzim, tidak ku sangka pak Kam berbuat seperti ini.”
Mereka memanggil para warga lain untuk membantu mengubur semua ari-ari bayi itu. Hal yang paling mengerikan adalah setelah plastic terakhir yang di ambil, terdengar suara ramai tangisan bayi. Seluruh bulu kuduk merinding, para warga melihat ke atas pohon ada sosok anak kecil yang menangis sambil melepaskan kedua bola matanya.
“Hantu!” teriak para warga.
__ADS_1
“Pak Babat, ayo cepat kita tinggalkan tempat ini!”
Kadi menarik kuat tangannya bersama warga lain berhenti di pinggir jalan yang jaraknya sudah jauh dari rumah Kam. Musyawarah warga kampung membahas kejadian runyam. Rumah Kam yang sudah penuhi hewan melata begitupun pohon yang di dekatnya menjadi wabah penyakit. Belum genap pertengahan hari, aroma busuk itu seolah menebar sejenis penyakit diare hingga beberapa warga kejang-kejang.
“Sebaiknya rumah dan pohon itu di bakar saja pak” ucap Misdi.
“Kita tidak bisa menghakimi pemilik rumah tanpa ijin darinya” jawab Babat.
“Kalau begitu biar aku saja yang membakarnya sendiri. Aku tidak mau keluarga ku terserang penyakit karena ulah Kam. Dari awal aku sudah curiga dengannya!"
Tedi mengajak beberapa warga ikut dengannya. Dia tidak bisa di hentikan oleh Babat, lelaki itu hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan para warga.
Cerita kekacauan warga di kaitkan penampakan sosok hantu Telaga Berkabut dan kematian orang-orang yang tidak wajar.
......................
“Alhamdulilah nenek sudah siuman.”
Ima membantunya memegangi segelas air hangat yang dia teguk secara perlahan. Sudah dua hari dia tidak makan dan minum. Mata bengkak, isak tangis mengingat nasib cucunya. Baru saja dia bermimpi buruk seperti nyata melihat Arya sekilas berdiri di sudut ruangan berdiri melihatnya.
“Sudah nek, kita harus mengikhlaskan Arya.
Nenek yang sabar dan kuat ya, kalau nenek mau nenek bisa tinggal dengan kami disini.”
“Aku mau pulang saja, jika benar cucu ku telah tiada maka aku akan mengadakan doa bersama di rumah.”
“Kami akan mengantar nenek pulang.”
Waktu sudah menunjukkan pertengahan hari, Kadi belum kembali sementara Ima dan nek Ana sudah bersiap-siap menunggu di depan rumah. Wajah nek Ana yang gelisah membuat pikiran Ima ikut bercabang.
“Nek. Ayo ikut kami pulang ke kota” ucap Beben yang tampak kesusahan membawa barang-barangnya.
Sandika perlahan menuntun nek Ana berjalan keluar pintu. Ima tidak bisa mencegah hanya melepaskan kepergian wanita itu dengan pelukan.
__ADS_1
“Maaf saya nek, seharusnya saya dan Kadi yang mengantar nenek pulang” ucap Ima.
“Nenek yang salah sudah merepotkan kalian.”
......................
Sesuai petunjuk Kam bahwa salah satu ari mereka harus memasuki daerah bebatuan raksasa seorang diri. Paijo masuk ke area itu, di dalamnya banyak ular melata hampir mematuknya. Dia menghindari ular-ular itu lalu duduk di salah satu batu besar. Paijo melakukan semedi hingga berhari-hari hingga pada suatu malam tempat itu berubah menjadi tempat yang sangat indah.
Saat dia membuka mata, tanpa dia sadari ular-ular tadi berubah menjadi dayang-dayang cantik jelita. Mereka tersenyum melihat Paijo, salah satunya menggoda dengan tarian ular yang memabukkan. Hampir saja pria itu terlena dan secepatnya tersadar melihat kehadiran sosok berpakaian ratu memakai mahkota duduk di singgah sana.
“Kemari lah, utarakan keinginan mu.”
Dia tersenyum mengibaskan gaunnya yang panjang, ada tongkat berbentuk ular di tangan kanannya. Paijo membungkuk memberi salam sedikit ketakutan berdiri di depannya.
“Ratu, aku ingin kekayaan yang berlimpah ruah” ucapnya dengan lantang.
Seorang dayang di sisi kirinya memberikan sepiring daging segar pada paijo. Dia di minta untuk menghabisi daging mentah itu tanpa tersisa sedikitpun.
“Makan dan habiskan!” perintahnya.
Paijo menuruti perlahan melahap daging di tengah menahan rasa mual. Setelah itu seorang dayang yang di sisi kanan membawa sepiring lagi yang berisi hewan cacing yang menggeliat. Semula Paijo menolak, tapi sosok yang di hadapannya itu melotot dan melontarkan perkataan yang menakutinya.
“Kau sudah sampai tahap sejauh ini. Jika kau tidak bisa menjalaninya maka kau harus mati di tempat ini!”
Paijo pun terpaksa menelan semua cacing tanpa mengunyahnya. Sosok itu tersenyum mengangguk lalu memberikan pesan yang harus dia lakukan ketika sudah sampai di rumahnya.
“Sediakan aku sebuah kamar khusus. Ingat, jangan ada yang masuk selain kau. Sekarang kau bisa kembali dan bawa bungkusan itu.”
Dia melihat isi di dalam bungkusan yang bersulam kain emas dengan mata menyala. Dia tertawa kegirangan, tanpa memperdulikan bekas darah di sekitar mulutnya. Sesampainya di rumah, dia menunjukkannya pada Eni. Wanita yang haus akan harta itu langsung merampas kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
“Bu, buka pintunya! Aku juga mau masuk” ucap Paijo.
“Jangan berisik pak, bapak pergi saja dan bawa lagi harta yang lebih banyak. Ahahah” ucapnya dari dalam.
__ADS_1
Tiba-tiba dia menjerit histeris, isi perhiasan dan uang yang ada di dalam bungkusan itu berubah menjadi seekor ular besar melilit tubuhnya hingga denyut nadinya berhenti berdetak. Sekujur tubuh membiru, Paijo menemukan istrinya itu meninggal dengan mata dan rongga mulut yang terbuka.