Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Camar jejak hitam


__ADS_3

Kejadian hari ini tidak ada yang bisa menerka karena akibat dari jamur yang di ambil oleh Herman di area batas hutan terlarang. Tumbuhan pemilik sosok lain yang tidak pernah mengering dan layu itu masih tersimpan di dalam laci kamarnya. Di rumah sakit yang hening itu kembali ramai suara teriakan Herman, hanya dia yang melihat penampakan makhluk halus mengganggu.


“Pergi! Ahh!”


“Tuan tenang lah.”


“Tolong tenang.”


Warid menyampaikan pada Harun jika ada seorang dukun yang kemungkinan bisa menyembuhkan penyakit gangguan makhluk halus yang di derita oleh Herman. Akhirnya wanita itu menyadari kenyataan bahwa penyakit yang di derita anaknya adalah seutuhnya dari makhluk halus di Telaga Berkabut. Pada malam itu juga dia di bawa pulang sedangkan Warid pergi menjemput dukun yang sudah dia janjikan.


Menyelesaikan urusan ghaib dengan mencari penyambung pengarah mencari obat dalam bentuk ghaib pula. Tidak semua bisa terselesaikan secara mulus begitu saja walau si dukun terbilang sakti mandra guna sekalipun. Herman sudah sangat lemah, nafasnya hampir terputus. Di balik sosok lain bersemayam berpuluh penghuni hutan yang menuntut padanya.


Dukun yang sudah tiba itu mencekik Herman sambil mengucap mantra. Akan tetapi melihat wajah herman yang sudah membiru membuat Harun khawatir jika anaknya akan mati di tangan pria itu.


Brughh. Praangg.


Lampu meja pecah tepat di kepala si dukun. Pria itu menoleh ke arahnya bergerak akan menampar di tepis oleh Warid. Dia menahan tangan si dukun lalu meminta maaf padanya. Darah hitam keluar dari kepalanya, angin tiba-tiba bertiup kencang membanting benda di sekitar.


“Kau sudah melakukan kesalahan besar dan menambah masalah besar pula!” bentak si dukun.


Dia menghilang tanpa jejak, Warid mengusap wajah dan kepalanya merasa bahwa semua masalah semakin rumit. Harun menangis memeluk Herman, kali ini dia memutuskan untuk pergi ke Telaga berkabut sebagai persembahan yang seharusnya di minta oleh si penghuni Telaga. Berharap agar Herman selamat dari maut. Harun meminta Warid menjaga Herman selama dia pergi.


“Kau mau kemana? Jangan mengambil keputusan sebelum memikirkan akibatnya. Terlebih lagi dukun tadi pasti marah besar. Aku akan mencari dukun lain untuk melindungi mu dan membantu menyembuhkan Herman” ucap Warid.


“Aku tau apa yang di inginkan sosok di masa lalu itu. Jiwa ku yang masih mereka incar sampai sekarang.”


“Tidak! Mereka sudah mengambil Faras."


“Semua ini salah mu Warid! Kau yang menculik ku ke Telaga terkutuk itu! Hikss.”


“Maafkan aku Harun! Sungguh aku tidak tau seperti ini jadinya.”

__ADS_1


Warid berlutut di depan wanita itu, penyesalan dan kata maaf yang keluar seolah tidak berguna karena musibah besar hampir membunuh mereka.


“Aku akan memaafkan mu jika kau mengijinkan ku pergi ke Telaga itu.”


“Tapi, Harun!”


“Jangan halangi aku.”


Mereka menunda waktu kepulangan. Mayat Bondan harus segera di kebumikan dengan meminta bantuan para warga sedangkan pak Edi harus di bawa ke puskesmas. Sisa para warga yang jumlahnya sedikit membuat proses pemakaman berlangsung hingga sore hari.


Pak Babat menawarkan salah satu rumah warga yang kosong kepada para mahasiswa itu. Jarak rumah yang dekat dengan hutan dan Telaga. Beben semula enggan menerima terpaksa menyetujui sambil menghela nafas.


“Tidak ada pilihan lain, memaksakan diri untuk pulang sama saja mencari masalah baru” gumamnya.


“Sandika biar aku saja yang pulang hari ini” ucap Siti.


“Aku tidak bisa menghalangi mu Siti.”


“Apapun yang terjadi aku sudah siap menanggungnya. Di sini aku malah semakin sakit hati, aku tidak mau mengetahui tentang Gama lagi sedikitpun.”


Di pertengahan senja dan petang, mereka mengantar Siti di terminal. Ketika dia sudah naik ke dalam bus, terlihat seorang wanita yang mirip dengan bu Harun menyebrang jalan menuju ke mereka. Beben dan Sandika memperhatikan dengan seksama. Wajah itu ternyata adalah benar bu Harun, ibunya Herman.


“Bu Harun?” tanya Sandika.


“Ya nak Sandika, ini ibu. Kalian mau kemana?”


“Kami baru saja mengantar Siti. Kenapa ibu bisa sampai kesini? Bagaimana keadaan Herman bu?”


Harun kebingungan menjawab pertanyaan dari Sandika. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya terutama berkaitan dengan aib di masa lalu. Dia hanya tersenyum, lalu memberikan sebuah amplop kepada Sandika.


“Terimalah, engkau sudah ku anggap sebagai anak ku sendiri.”

__ADS_1


“Tapi bu, saya tidak bisa menerima ini.”


“Sandika, ibu berharap engkau tidak pernah melawan perkataan ibu angkat mu ini."


“Bu, Herman yang lebih membutuhkannya.”


“Mulai hari ini, ibu minta tolong agar kau menjaga Herman.”


Beben hanya terdiam mendengar percakapan mereka. Bu Harun pergi kembali masuk ke dalam mobil lalu melajukan menuju ke perkampungan.


“Her, apa isi amplop itu? Cepat buka!” tanya Beben penasaran.


Manik mata Beben menyala melihat isi di dalam amplop. Tumpukan uang dan beberapa lembar kertas yang tertulis nama Sandika. Beben menepuk pundak Sandika hingga mengacungkan jempol padanya.


“Selamat, anda menjadi anak angkat orang kaya! Kini kau tak perlu lagi kerja paruh waktu dan berkali-kali cuti kuliah bahkan kredit mata kuliah” ucap Beben.


“Kau pikir aku senang menerima ini secara gratis begitu saja. Di sisi lain Herma sedang sakit keras, aku bukan tipe manusia seperti itu. Aku tidak akan menggunakannya sebelum Herman anak kandungnya mengetahui dan ikhlas memberikan hak yang seharusnya untuknya malah di berikan bu Harun kepada ku.”


Pria baik si idola hantu Murga, sosok itu selalu mengamati, mendengar dan mengetahui segala gerak-gerik Sandika dari kejauhan. Sandika berniat menyusul bu Harun, dia memikirkan perkataan wanita tadi seolah akan melakukan hal di wilayah perkampungan ini.


“Ayo kita cari bu Harun. Pasti beliau tidak jauh dari sini” ucap Sandika.


Beben dan Sandika berkeliling kampung, tampak mobil Harun terparkir di depan pintu masuk hutan. Sandika menyorot senter di ikuti Beben dari belakang. Mereka memasuki hutan langsung di ganggu oleh sosok kuntilanak yang tertawa terbang dari satu pohon ke pohon lainnya.


“San! Aku takut sekali!” bisik Beben.


Sandika bertekad tetap meneruskan langkah, dia membacakan surah pendek meski sekujur buku kuduk merinding tidak tertahankan. Tanpa terasa Beben sudah buang air kecil di celana, kakinya bergetar melihat sosok kuntilanak itu menyeringai melihat mereka. Sandika terus membacakan ayat pendek, langkah mereka memasuki Telaga berkabut terlihat Harun berdiri di tepinya. Herman berlari menarik wanita itu ketika akan menceburkan diri ke dalam air.


“Apa yang ibu lakukan?”


“Lepas Sandika!”

__ADS_1


Wajahnya sudah bergelinang air mata, Harun terkulai lemas hingga tidak sadarkan diri. Sandika dan Beben membawanya keluar hutan menuju rumah warga.


__ADS_2