Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Kesakitan


__ADS_3

Hawa panas melekat terasa membakar sekujur tubuh Murga. Dia membuka mata memperhatikan pria itu dengan mata berkaca-kaca. Kesedihan mencintai sosok yang terus bertolak belakang dengannya, malam ini dia harus bersiap merelakan tubuh hangus terbakar.


Pandangan Sandika berpindah pada Murga bergetar kesakitan menghembus tangan dan kakinya. Dia menghentikan mengucapkan ayat-ayat surah pendek. Memeluk tubuhnya hanya akan menambah rasa panas sampai seluruh kulit melempuh.


Melihat Murga semakin kesakitan dia melepaskan pelukan membantu meniup luka-luka itu.


"Murga, engkau harus makan setelah itu aku akan meminum kan mu obat antibiotik dan pengering luka" ucap Sandika.


Dia mengeluarkan potongan roti menyuapi hingga habis tiga bungkus mengenyangkan setengah manusia berwujud hantu itu. Belajar meneguk air minum di dalam botol lalu menelan pil obat yang hampir tersangkut di lehernya.


“Terimakasih Sandika.”


“sudah kewajiban ku mengurus mu.”


Sinar terik menyipitkan mata Murga, dia mendongakkan wajah melirik sinar mentari dari sela dedaunan. Wajahnya yang pucat, udara tetap tidak bisa dia rasakan, hempasan angin menembus kulitnya yang dingin. Murga membentang tubuh berdiri menjemur luka-lukanya. Di dalam benar dia berpikir walau luka itu akan bertambah semakin serius tetap mulai hari ini dan seterusnya akan selalu di samping Sandika.


“Murga kita akan meneruskan perjalanan sebelum para ajudan paman Warid dan lainnya menemukan kita.”


“Ayo, kita tinggalkan tempat ini.”


Kaki penuh luka di paksa Murga berjalan.


Sandika ingin membopong atau menggendongnya. Mengingat luka itu tidak akan sembuh jika terkena nya. Kini dia merasa serba salah, melihat Murga berjalan kaki penuh luka atau menggendongnya kembali.


“Murga katakana pada ku jika engkau ingin beristirahat sejenak.”


“Tidak, kita secepatnya harus keluar dari sini.”


Darah Murga tercium oleh Rambe, suara pekikan hantu ganas terdengar. Sandika menarik tangan Murga,dia tersandung batu menghentikan Sandika menoleh darah mengalir deras pada telapak kaki begitupun dengkulnya yang terluka. Sandika menepis ranting dan dedaunan menyatukan tangan mengambil pasir menutup jejak darah yang tertinggal sepanjang perjalanan.


“Sandika, jangan terlalu jauh meninggalkan ku” ucap Murga.

__ADS_1


“Jangan khawatir, aku akan segera kembali.”


Salah satu kuku setan hinggap di daun di dekatnya, Murga mengusap pelan pada bagian atas. Dia memberi tanda dia berada, berharap sinar itu dapat hadir mengikuti perintahnya lagi di malam hari. Jarak Sandika semakin jauh, di balik semak belukar dia melihat sosok Rambe terbang pandangan mengintai seperti mencari sesuatu. Perlahan dia berjalan mundur, berlari sekencang-kencangnya berharap sosok itu tidak mengejar. Dia tidak mengucapkan surah pendek Karena pastia akan membuat kulit Murga jika tersentuh terbakar kembali.


Nafas tersengal-sengal, menoleh memastikan hantu itu menghilang. Suara pekiknya keras, Sandika melepaskan jaketnya menutupi tubuh Murga dan membalut kakinya dengan perban yang baru. Pandangan pria itu masih tampak panik menoleh ke arah belakang lagi.


“Semoga hantu itu tidak menemukan kami” gumamnya.


Dia meraih tubuh Murga menggendong di depan sementara ranselnya yang berat di punggung belakang.


“Ada apa Sandika?” tanya Murga cemas menatap raut wajahnya.


‘Pegang yang erat, tadi aku melihat saudara mu di ujung sana.”


“Apa? Rambe tidak akan melepaskan kita begitu saja. Cepat turun kan aku dan selamat kan diri mu.”


“Tidak, aku akan tetap membawa mu.”


Jalur kanan yang akan di tempuh menjadi berbelok jalan kiri mendengar suara berisik orang-orang di kejauhan. Sandika mencari jalur potongan di hutan yang sudah familiar baginya. Murga menunjuk ke sisi kanan melewati sarang ular yang sedang melingkar di dekatnya.


“Jangan Murga, firasat ku berkata lain. Buka tas itu dan ambil pisau besar di dalamnya. Hati-hati, jangan sampai terkena tangan.”


Ular besar itu mencium aroma tubuh manusia, Sandika siap membunuhnya jika dia menyerang mereka. Suara panggilan Beben dari arah belakang, ular yang menghadang. Tiba-tiba sosok mahkluk halus muncul seolah mengusir hewan itu.


“Sandika, ibu hanya bisa satu kali membantu mu” gema suara Harun di udara.


“Ibu, ibu!” panggilnya.


“Sandika! Apakah itu kau?” teriak suara beben semakin dekat.


Tenaga pria itu melemah tak kala melihat bayangan putih dan suara Harun. Ibu angkat yang sudah tiada itu bahkan selalu mengingat dan berusaha menjaganya meski sudah tiada. Gamang hatinya meninggalkan semua peninggalan wanita yang sangat baik pada pria itu.

__ADS_1


“Sandika” ucap suara Murga pelan.


Sekarang bukan waktunya terpuruk di dalam masalah, dia harus memutuskan jalan mana yang di ambil. Ada Murga yang yang harus dia jaga, paku yang di tancapkan Warid di hantu itu merubah setengah manusia bisa membahayakan Murga jika berada sendirian di hutan belantara.


Sandika berlari sampai pada sebuah persawahan yang luas membentang. Dia perlahan berjalan melewati jalan berlumpur itu. Sawah sedang di aliri saluran irigasi, padi hampir menguning, lambaian nyiur pohon kelapa di dekat persawahan. Murga tersenyum merasakan keindahan alam kembali di pagi hari.


“Sandika, bolehkah aku menyentuh salah satu tumbuhan itu?” tanya Murga.


Dia menurunkannya di joglo yang berada di antara persawahan dan perkebunan. Sandika memetik daun padi, mentimun, kacang tanah, kacang panjang dan semangka. Dia juga memetik sebuah semangka matang berlari mendekati Murga. Sosok itu tersenyum mengamati setiap lekukan pada daun sampai pada buah semangka yang di pegang.


Sandika mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah meletakkan di sudut tempat mereka duduk, menahannya dengan batu kecil agar tidak terbang tertiup angin. Bayaran untuk sebuah semangka yang dia petik. Sandika memotong semangka itu, bagian sedang dia berikan ke Murga. Sosok itu cangkung menerimanya. Dia mencoba menginat cara melahap makanan itu.


“Teima lah.”


“Sandika, tolong potong lagi bagian kecil.”


Pria itu memotong bagian hingga memasukkan potongan ke mulutnya.


“kunyah dengan perlahan” ucap Sandika.


Adengan mesra itu di lihat oleh beben dari kejauhan. Dia mengusap matanya berulang kali memastikan sosok yang sedang bersama sahabatnya itu adalah manusia.


“Apakah mata ku ini tidak salah. Wanita itu terlihat manusia biasa!” gumam Beben.


“Oi Sandika! Pulang! Oi!” teriak Beben.


Murga melotot melihatnya, Sandika meraih ransel dan membawa Murga berlari. Jalur menuju rumah warga melewati rumah-rumah yang sepi kemudian masuk kembali ke hutan. Sangat sulit baginya jika masuk ke area dala perkampungan.Dia tidak ingin satu warga pun melihat mereka sedangkan Beben kewalahan mengejar. Dia kehilangan mereka, Beben bertanya ke warga apakah melihat dua orang berlari kesini.


“Siapa orang yang anda masud? Siapa tau yang lain melihatnya."


“Bukan siapa-siapa pak terimakasih.”

__ADS_1


Beben melingak-linguk meneruskan langkah melihat di hadapan sudah tersusun padat rumah warga dan disisi lain perbatasan hutan.


“Mungkin kah dia kembali kesana?” gumamnya.


__ADS_2