Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Meringkik


__ADS_3

Ajudan berkepala botak itu tidak kunjung kembali. Beben mondar di depan mobil, malam kembali tiba suasana perkampungan sepi, udara dingin menyelimuti tubuh, suara burung hantu dan ramai suara jangkrik. Merasa sedang di awasi, Beben masuk ke dalam mobil.


“Paman, kampung ini tidak aman. Apakah tidak sebaiknya kita kembali lagi esok hari?”


“Aku malah berniat ikut masuk ke hutan bersama pihak kepolisian.”


“Kalau sekarang paman kesana maka aku angkat tangan. Kepergian Gama, Arya dan Herman sudah menjadi pembelajaran berharga.”


“Ya kau pria penakut. Jadi aku paham tidak memaksa kau ikut.”


“Bukan begitu paman, lagian ini mobil milik Sandika. Aku merasa bersalah mencarinya seperti buronan.”


“Hantu iblis itu sepertinya berhasil menipu Sandika.”


“Paman, aku melihatnya tadi siang bersama wanita cantik. Pakaiannya mengenakan gaun berwarna putih panjang.”


“Tidak salah lagi dia hantu berubah wujud setengah manusia setelah aku tanam paku di pundaknya.”


......................


Lelaki itu menjadi wanita yang dia cinta. Di luar mata aneh menyorot kilatan cahaya merah. Murga membuka penutup tenda melihat Sandika yang mulai menahan kantuk. Kepala menunduk dia tegakkan menatap Murga.


“Banyak nyamuk di luar, tutup saja tendanya”


“Mana belum mengantuk dan masih ingin berlama-lama melihat mu.”


“Murga, waktunya minum obat yang sudah aku sediakan di dalam ransel bagian depan.”


“Ya aku menurutinya.”

__ADS_1


Manusia harfiah alaminya mengalami rasa ngantuk walau hanya memejamkan mata satu dua jam saja dalam satu malam. Dia adalah manusia biasa, Sandika tanpa sadar terlelap. Murga mengusap pelan kening pria itu, dia tetaplah mayat hidup yang di topang dengan sebuah paku. Seharusnya wujudnya mengerikan sampai suatu keajaiban terjadi mengubahnya jadi manusia. Makhluk yang bisa berpijak di bumi tapi tidak seutuhnya dapat tertidur. Hingga pagi hari dia masih menatap Sandika. Luka-luka dengan cepat mengering. Murga menyelimuti tubuh Sandika dengan jaketnya.


Berat mata pria itu terbuka melihat Murga sangat dekat menatapnya. Menahan hal yang tidak di inginkan, dia mengusap lembut kepala wanita itu lalu duduk menatap ke depan.


“Murga tidurlah agar kondisi dan luka-luka segera pulih” ucapnya.


Murga membenamkan wajahnya di punggung pria itu, dia tidak perduli jika wajahnya harus melempuh terbakar seperti tubuhnya. Sandika yang masih terjaga mengangkat ke tenda, dia menutup kembali duduk berjaga di luar.


Suara pekikak keras Rambe keras, secepatnya memasukkan kembali barang-barang kedalam tas kemudian menggendong Murga berlari mencari tempat persembunyian. Tendanya di biarkan begitu saja. Murga terbangun melihat wajah pria itu kesusahan berlari sepanjang hari membawanya menghindari kejaran Rambe maupun para manusia yang mencarinya.


“Sandika turunkan aku, langkah lamban mu ini pasti terkejar Rambe.”


“Tidak Murga, kau masih sakit. Aku masih kuat bisa berlari lebih cepat lagi.”


Memutar jalan terhenti di bebatuan raksasa, dia menurunkan Murga melumuri dirinya dan Murga dengan lumut. Sandika menutup hidung Murga memintanya menahan nafas selagi Rambe terbang di dekat Telaga berkabut yang jaraknya dekat dengan mereka.


......................


Laporan dari pihak kepolisian kewalahan mencari Sandika berujung mendapat teror dari makhluk halus bahkan sampai ada salah seorang polisi yang ikut menghilang.


Pencarian itu di hentikan, begitupun lima ajudan tidak kembali bagai lenyap di telan hutan. Di perjalanan pulang Warid membuka layar ponsel menghubungi para relasi mencari siapa dukun sakti yang bisa membantunya.


Sosok ki Gendeng sudah tiada begitu pula para dukun lain tidak sanggup melawan keganasan penghuni Telaga berkabut. Dia menutup layar ponsel menunggu kabar sampai terlelap.


Mimpi melihat sosok wanita di Telaga berkabut, Wanita berdiri mematung membalas tatapannya. Air keruh dari dalam muncul penampakan makhluk halus.


“Jangan kau dekati lagi Telaga ini, Segera bawa pergi Sandika atau dia tidak akan kembali selamanya.”


“Warid janga kau usik hidup anak ku! Pergi!”

__ADS_1


Warid tidak bisa menjawab dia menghentakkan tubuh tersadar dari mimpi. Panggilan dua suara Harun penampakan dua wujudnya mengerikan. Di benak hanya ingin Sandika kembali menjalani kehidupannya yang normal, terlepas dari sosok yang penghuni Telaga.


“Harun, bahkan setelah engkai tiada pun tetap menyalahkan ku seakan setuju hantu itu bersama Sandika tapi siapa sosok Harun satunya lagi yang tidak setuju?” batinnya.


Keputusan tetap melanjutakan misi menyelamatkan Sandika, keesokan harinya dia kembali lagi kesana. Kali ini dia membawa seorang dukun yang dia paksa dengan bayaran tinggi. Beben dan dua penjaga juga ikut di dalamnya.


......................


Laksana kesakitan luka tidak henti di atasnya di tetesi perasan air jeruk. Laksana pohon tandus terkena hujan api mematikan menjadi debu. Tulang belulang di paksa di hidupkan kembali di saksikan berjuta makhluk lain.


Luka di bagian telapak kaki sudah mengering. Murga dapat berjalan walau terlihat sedikit terhuyung-huyung. Sandika memutuskan niat membantunya, Murga menggapai tangan pria yang sangat dia cintai itu. Dia tidak perduli luka akan kembali parah melebar sampai memperlihatkan isi di dagingnya yang terdalam.


“Murga_"


“Aku tau isi hati mu bertolak belakang. Timbangan di kehidupan kita berat sebelah, maafkan aku memaksa mu sampai berani mencintai pria alim seperti mu.”


“Murga, label kata itu sudah terlepas. Aku lah yang bersalah hadir ke perkampungan Telaga berkabut.”


“Sandika semua ini tetaplah salah ku. Anggap hari ini bak harii perpisahan kita.”


“Mengapa engkau berkata begitu Murga?


“Aku tidak tau_”


Pelukan erat, rasa panas dan dingin bercampur di kedua. Di dalam angan jika terpisah, Murga tetap berat merelakan manusia di depannya itu. Awan hitam membentang, angin membanting daun, dahan dan ranting pohon ringan. Kilatan petir menyambar, suara menggelegar seakan membelah bumi. Salah satu pohon di dekat mereka terkena sambar petir hangus terbakar. Sandika ingat perkataan almarhumah ibunya dahulu.


“Sandika jika kau berada di luar rumah ketika ada kilatan petir menyambar salah satu pohon di dekat mu maka itu pertanda setan atau makhluk lain berada di sana. Segera lah kau mengucapkan do’a Subhanaanalladzii yusabbihur ro’du bihamdihi wal malaaikatu min khifatih. Maha suci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memujiNya karena takut kepada-Nya” pesan Almarhumah ibunya.


“Sandika anak ku, kau adalah seorang pria yang akan menjadi imam di keluarga mu. Tetap lah berpegang teguh iman yang kuat supaya engkau tidak terjerumus dalam kesesatan. Jangan lupa pesan ayah satu lagi, saat kau berada di luar yang di penuhi dengan Guntur maka rebahkan tubuh mu di atas tanah. Perti menyambar benda tertinggi di atas bumi di salah satu area yang sedang bercuaca buruk tersebut dan ucapkan lah istighfar dan suarh pendek penangkal diri” pesan almarhum ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2